6. SEKELUMIT DARI AKHLAK NABI SAW. (II)
- Diantara kesabaran Nabi SAW. ialah beliau di didik dalam hidup sederhana di rumah pamannya Abu Thalib, dan merasa puas dengan apa yang diterimanya, tidak suka berebut makanan dengan teman-temannya. Telah disaksikan sendiri seperti yang oleh pengasuhnya Ummu Aiman. Dan ketika Allah memberinya kekayaan, beliau malah menjauhi kesenangan duniawi dan hanya mengambil sekedar kebutuhan.
Maka Rasulullah tidur di atas selembar tikar yang tiada – sesuatu apa pun di bawahnya. Dengan bantal yang terbuat dari kulit berisi sabut, dan pakaian yang terbuat dari wool yang tebal, dan hanya makan kurma dan gandum. Sering selama sebulan, dua bulan keluarganya tidak menyalakan api. Mereka cukup makan kurma dan air saja. Bahkan beliau terbiasa tidur dalam keadaan lapar dan paginya beliau niati berpuasa.
Untuk menjaga dari lapar, Nabi SAW. mengikat batu pada perutnya dan kalau Rasulullah dibawakan harta yang banyak, beliau tidak menyimpan sedikitpun untuk dirinya. Bahkan sewaktu beliau wafat baju besinya masih tergadai pada seorang Yahudi hanya untuk membeli 30 sha’ gandum. (Ukuran 1 sha’ = 2,5 kg, jadi 30 sha’ = 75 kg).
Seandainya Nabi SAW. ingin bersenang-senang di dunia, niscaya beliau sanggup melakukannya. Akan tetapi beliau lebih-lebih memilih hidup zuhud, (zuhud artinya : meninggalkan kesenangan duniawi dan memilih kesenangan akhirat dan sabar).
- Di antara akhlak Nabi SAW. yang lain adalah rasa malu dan menjaga penglihatan. Rasa malu Rasulullah lebih besar dibanding rasa malunya gadis dalam pingitan sekalipun. Apabila Nabi SAW. tidak menyukai sesuatu, hal itu dapat diketahui pada wajahnya.
Beliau tidak pernah berbicara dengan seseorang tentang sesuatu yang tidak disukainya dan tidak sekali-kali menatap wajah lawan bicaranya. Jika sampai kepadanya tentang ucapan seseorang yang tak disukainya, beliau tidak lalu mengatakan : “kenapa si Fulan mengatakan begitu.” Akan tetapi beliau hanya berkata, “Kenapa orang-orang suka melakukan dan mengatakan begitu ?”
Rasulullah melarang perbuatan-perbuatan itu dan tidak menyebut pelakunya. Beliau pantang dari menyebutkan siapa yang tidak berkata baik.
Rasulullah SAW. juga sangat memelihara kehormatan diri dan qana’ah/merasa cukup. Sehingga tangan beliau tidak pernah menyentuh tangan wanita seorangpun yang bukan ‘ mahramnya. Beliau reta dengan pakaian dan makanan seadanya, “ tidak meminta yang tidak ada, apalagi mencobanya, tetapi bila Rasulullah suka, beliau makan dan jika tidak berkenan cukup ditinggalkannya tanpa menyuruh orang lain membencinya.
Dan akhlak Rasulullah yang lain adalah sifat pemberani, inilah yang merangsang beliau untuk masuk kancah perang karena dekatnya beliau dari musuh.
Disamping itu beliau teguh dalam membela prinsip dalam menunaikan kewajiban serta tidak memperdulikan hambatan-hambatan yang berat dan gangguan-gangguan yang besar.
Dalam membela agama, beliau sering diganggu begitu pula keluarga dan para sahabatnya oleh para musuh sehingga . beliau menyuruh mereka hijrah ke Habasyah. (Ethiopia), sampai dua kali.
Pernah beliau di masukkan oleh kaum kafir Quraisy ke dalam Asy-Syi’ib (perkampungan yang besar) selama 3 tahun. Maka putuslah makanan dan tidak sampai kepada mereka, kecuali secara sembunyi sehingga mereka hanya makan dedaunan.
- Kedermawanan dan kemurahan hati. Nabi SAW. tidak pernah menghardik orang yang meminta sesuatu darinya. Apabila tidak mendapatkan sesuatu untuk diberikan, beliau berjanji untuk memberinya di lain waktu. |
Pernah suatu hari kepadanya dibawakan uang sebanyak 90.000 dirham. Belum sampai beliau duduk uang sudah dibagikannya. Kemudian datang seorang peminta. Maka Nabi SAW. berkata kepadanya, “Berhutanglah, nanti kami yang akan melunasi hutangmu itu.”
Pada suatu hari Nabi SAW. memberikan kambing yang banyak kepada seorang laki-laki sampai jumlahnya menutupi celah antara dua gunung. Kemudian ia pulang kepada kaumnya dan berkata, “Masuklah kalian semua dalam Islam, karena Muhammad memberi suatu pemberian sebagai orang yang tidak takut miskin.”
Nabi SAW. sangat belas kasih dan sayang Kepada: semua makhluk. Sebagaimana firman Allah Ta’ala : “Dan tidaklah Kami mengutusmu, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (Al-Anbiyaa’ : 107).
Di antara kasih sayang Nabi SAW. ialah pada suatu saat ketika beliau sedang shalat dan ia menggendong Umamat di atas pundaknya seorang cucu perempuannya dari putrinya Zainab. Apabila sedang sujud beliau meletakkan sang cucu dan pada waktu berdiri beliau menggendongnya lagi.
Diceritakan Anas bin Malik r.a. Mempunyai seorang saudara laki-laki bernama Abu ‘Umair. Ia mempunyai teman bermain seekor burung kecil berparuh merah. Pada suatu hari burung itu mati Pada saat Nabi SAW. masuk dan melihat anak Itu sedang bersedih.
Beliau bertanya, “Kenapa dia ?” Dikatakan kepada beliau, “Burungnya mati.”
Nabi SAW. berkata, “Hai Aba ‘”Umair, apa yang dilakukan si burung Nughair ?”
- Setia, menepati janji, silaturrahim dan bergaul dengan baik. Apabila Nabi SAW. mendapat hadiah, beliau berkata, “Bawalah itu kepada si Fulanah, karena ia adalah teman Khadijah dan ia mencintai Khadijah.”
Pada suatu hari ketika Nabi SAW. sedang duduk datang ayahnya (suami ibu susunya). Maka beliau gelarkan selembar bajunya dan duduklah sang ayah di atasnya. Kemudian datang pula ibu susunya, maka digelarnya bajunya yang lain pada sisi yang lain, sehingga sang ibu duduk di atasnya. Kemudian datang menyusul kepadanya saudaranya sesusuan. Maka berdirilah Rasulullah SAW. dan mendudukkannya di hadapannya.
Nabi SAW. sangat menghormati pamannya Al-Abbas sebagaimana hormat beliau terhadap ayah dan ibunya sendiri.
Beliau selalu tersenyum kepada para sahabatnya dan menghormati semua teman duduknya. Apabila tidak berjumpa dengan salah seorang sahabatnya selama 3 hari, beliau akan menanyakannya. Jika sedang pergi, beliau mendo’akan keselamatannya. Tapi jika ada di rumah, beliau mengunjunginya. Dan jika sakit beliau menjenguknya.
7. APA KEWAJIBANMU TERHADAP AYAH DAN IBUMU?
Wahai putri tercinta ! telah engkau ketahui betapa – besarnya cinta ayah dan ibumu kepadamu dan bagaimana kepayahan serta penderitaan yang mereka alami dalam mendidikmu dengan sabar dan gembira kedua orang tuamu membesarkanmu. Maka wajib bagimu membalas kebaikan ini dengan kebaikan, engkau kerjakan semua yang dapat engkau lakukan untuk berbakti kepada mereka. Meskipun demikian engkau akan tetap memandang betapa besar jasa mereka juga mengakui betapa engkau tidak dapat menunaikan hak. hak mereka dengan sepenuhnya. Sebab engkau itu harus menunaikan Kewajiban-kewajiban ini :
- Engkau cintai kedua orang tuamu dengan tulus dan menghormati mereka dengan amat sangat. Engkau per. lakukan keduanya dengan sikap yang dapat menggembirakan mereka dan menghindari sikap apa pun yang mengecewakan mereka. Engkau dengarkan nasihat-nasihat keduanya dan sesegera mungkin engkau patuhi perintah-perintah mereka dan memenuhi segala apa yang mereka perlukan serta membiasakan berjabatan tangan dengan mereka setiap pagi dan sore. Hendaknya engkau menghadap kedua orang tuamu dengan wajah tersenyum dengan berdo’a agar mereka panjang umur dalam keadaan baik-baik, sehat dan tercapai segala keinginan mereka. Engkau do’akan pula agar Allah membalas keduanya dengan sebaik-baik balasan atas didikan mereka yang baik.
- Hendaklah engkau sadari bahwa adanya ayah dan ibumu adalah nikmat yang besar, barokah serta rahmat atas dirimu yang telah diberikan oleh Allah kepadamu. Engkau nikmati dengan memandang keduanya dengan pandangan yang menyenangkan, karena hal itu terdapat pahala yang besar.
Sebagaimana diriwayatkan dalam hadits: “Tidaklah seseorang memandang kepada ayah ibunya dengan pandangan kasih sayang, melainkan karena Allah menetapkan baginya pahala haji yang diterima.”
Hendaknya engkau jabat tangan mereka setiap hari dan selalu bermusyawarah dengan keduanya mengenai urusan”urusanmu, engkau masukkan kegembiraan pada mereka dan engkau tunaikan keperluan-keperluan mereka, ayah ibumu akan mendo’akan kebaikan atas dirimu. Betapa besar nikmat nikmat seperti ini ! Dan alangkah banyaknya pahala ini !
Maka seorang anak perempuan benar-benar tidak mengetahui besarnya nikmat dengan adanya ayah ibunya, kecuali bila ia sudah kehilangan mereka (meninggal dunia). Waktu itulah ia rasakan kerugian yang besar dan kesedihan yang sangat mendalam atas perpisahannya dengan mereka.
- Hendaklah ia gunakan tata krama terhadap ayah ibunya dalam setiap waktu. Maka janganlah sampai membelakangi mereka dan jangan memanggil mereka dengan namanya. Jangan tertawa di hadapan ayah ibu bila tidak pada tempatnya atau dengan suara keras. Jangan lihat mereka dengan pandanganmu yang tajam, jangan berdusta kepada mereka, memaki mereka atau berbicara dengan perkataan yang buruk terhadap mereka, dan jangan engkau keraskan suaramu melebihi suara mereka.
Sebab Allah Ta’ala telah berfirman : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya dengan perkataan “Ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka dengan perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu dihadapan mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah do’a: wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil” (Al-iIsraa’ : 23, 24).
- Hendaklah engkau selalu berusaha mendapat ridha ayah ibumu dengan bersungguh-sungguh dalam mempelajari pelajaran-pelajaranmu dan pergi setiap hari ke sekolah serta memelihara buku-buku, pakaian dan semua peralatanmu dengan mengaturnya di tempat-tempatnya, dan janganlah sampai engkau merusakkan atau menghilangkannya. Hendaklah engkau kerjakan pekerjaan rumah dan di luarnya yang dapat menggembirakan mereka berdua. Janganlah engkau suka mengganggu salah seorang saudara laki-lakimu, saudara perempuanmu atau kepada pelayan sekalipun. Janganlah engkau bertengkar dengan anak-anak perempuan tetanggamu atau teman-temanmu di sekolah.
- Apabila engkau minta sesuatu dari ayah ibumu, janganlah memintanya di hadapan orang-orang. Dan jika ia tidak mengabulkan permintaanmu, maka diamlah, karena ia lebih tahu tentang maslahatmu (kebaikanmu).
Janganlah engkau marah atau menggerutu atau bermuka cemberut ataupun mendesak mereka untuk meloloskan permintaanmu. Apabila engkau duduk di depan mereka, maka duduklah dengan sikap yang baik. Janganlah meletakkan kaki yang satu di atas kaki yang lain dan jangan duduk di saat mereka berdiri, juga jangan sampai engkau berjalan mendahului mereka. Apabila salah satu dari keduanya memanggilmu, maka segeralah menjawabnya dan jangan menangguhkan atau berpura-pura seakan-akan tidak mendengarnya atau merasa bosan karena panggilan berulang-ulang dan waspadalah engkau dengan memaki ayah seseorang atau ibunya yang menyebabkan ia memaki ayah ibumu.
Dalam hadits: “Termasuk dosa besar adalah Bila Seseorang memaki ayah ibunya.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ada orang yang memaki ayah ibunya sendiri.”
Nabi SAW. menjawab, “Ya, bila ia memaki ayah seseorang, lalu orang itu membalas memaki ayahnya, dan ia memaki ibu orang itu, lalu orang itu membalas memaki ibunya.”
- Apabila engkau sudah besar, perhatikanlah ayah. Ibumu sedapat mungkin, baik dengan hartamu bila engkau mempunyai harta, atau dengan memenuhi keperluankeperluan mereka dan mengerjakan urusan-urusan rumah, seperti memasak, mencuci pakaian, membersihkan lantai dan lain-lain. Jadikan baktimu.kepada ibumu lebih besar daripada kepada ayahmu, karena dalam mengasuhmu ia lebih besar belas kasihnya dan lebih sengsara daripada ayahmu.
Apabila salah satu atau kedua-duanya meninggal! dunia, wajiblah anak perempuan berbakti kepada mereka dengan berdo’a dan memohonkan ampun, bersedekah untuknya serta membaca Al-Qur’an dan yang hadiah pahalanya peruntukkan ruh mereka.
Dalam hadits : “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW., “Wahai Rasulullah, apakah aku masih bisa berbakti kepada kedua orang tuaku manakala mereka sudah wafat ?
Rasulullah SAW. menjawab, “Ya”, menshalatkan kedua orang tuanya, memohonkan ampun bagi mereka, melaksanakan wasiat mereka, menghormati teman mereka, menyambung kekeluargaan yang hanya bisa melalui jalur kedua orang tua.”
- Apabila engkau berbakti kepada ayah ibumu, maka engkau akan peroleh ridha Allah dan pahala-Nya yang besar sehingga engkau hidup bahagia di dunia dan akhirat.
Dalam hadits dikatakan : “Ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua dan murka Allah adalah akibat murka kedua orang tua.”
Dalam hadits yang lain : “Berbakti kepada ayah ibu lebih utama daripada shalat sunnah, sedekah, puasa, haji dan umrah serta jihad di jalan Allah.”
Dan itu akan menjadikan anak-anakmu akan berbakti kepadamu di masa mendatang. Sebagaimana yang tersebut dalam hadits : “Berbaktilah kamu kepada ayahmu, niscaya anak-anakmu akan berbakti kepadamu.”
Adapun durhaka kepada ayah ibu, maka itu termasuk dosa terbesar. Sabda Nabi SAW.: “Sebesar-besar dosa adalah menyekutukan Allah dan durhaka kepada ayah ibu.”
Sabda Nabi SAW. yang lain: “Takutlah kalian akan mendurhakai kedua orang tua, karena bau surga akan tercium dari jarak 1000 tahun. Demi Allah, anak yang durhaka dan pemutus hubungan kekeluargaan tidak akan dapat mencium bau itu.”
Rasulullah SAW. bersabda pula : “Terkutuklah mereka yang durhaka kepada kedua orang tuanya.”
- Apabila engkau bersalah kepada ayah ibumu, maka segeralah mohon maaf selama keduanya masih hidup. Kalau tidak, maka engkau akan sangat menyesal. Berjanjilah kepada dirimu bahwa engkau tidak akan mengulangi lagi kesalahan itu. Karena hukuman atas kedurhakaan segera dilaksanakan di dunia, terutama setelah kedua orang tua wafat.
Dalam hadits: “Semua dosa Allah menangguhkan hukumannya sesuai kehendak-Nya hingga nanti hari kiamat, kecuali dosa durhaka kepada kedua orang tua. Karena Allah melangsungkannya di saat si pelaku masih hidup dan sebelum ia mati.”
Suatu hari datang seorang laki-laki kepada Rasulullah SAW. minta dibai’at untuk dapat hijrah.
la berkata, “tidaklah aku datang kepadamu, melainkan . Setelah aku membuat kedua orang tuaku menangis.” Maka Nabi SAW. berkata, “Kembalilah kepada mereka dan buatlah mereka tertawa sebagaimana engkau telah membuat mereka -menangis.”
- Tiada sesuatu yang dapat lebih menggembirakan ayah ibu daripada melihat putri mereka yang menyenangkan hati, berbakti, taat, sopan santun dan cerdas. Begitu juga . sebaliknya, tiada sesuatu yang lebih menyedihkan hati mereka daripada melihat putri mereka yang pendurhaka, pembangkang, tidak sopan lagi bebal (bodoh). Maka berusahalah agar engkau menjadi anak perempuan yang menyenangkan hati kedua orang tua dan mintalah do’a dari mereka supaya engkau dapat mencapai puncak cita-citamu.
Dalam hadits dikatakan: “Do’a orang tua kepada anaknya laksana do’a Nabi terhadap umatnya.”









One Comment