2. Kewajiban Seorang Anak Perempuan Terhadap Tuhannya
Wahai anak perempuan yang beradab, Allah ta’ala telah menganugerahkan banyak nikmat untukmu; telah mewujudkanmu setelah tiada, menunjukanmu pada agama islam, yang merupakan nikmat yang paling agung, memberimu pendengaran, penglihatan, lisan, dua tangan dan dua kaki, serta menjadikanmu manusia sempurna, sebagaimana firman Allah: “Yang telah menciptakanmu kemudian menyempurnakanmu”, Allah juga berfirman: “Telah kami ciptakan manusia dengan bentuk yang paling sempurna”, Allah juga telah memberimu kesehatan dan kesejahteraan, meletakkan belas kasih di hati kedua orangtuamu untukmu agar mereka mendidikmu dengan didikan yang sempurna, membuatmu mencintai gurumu sehingga dia mengajarimu sesuatu yang berfaedah bagi agamamu dan duniamu, dan banyak lagi nikmat Allah ta’ala yang tidak terhitung, sebagaimana firman Allah ta’ala: “Dan jika kalian menghitung nikmat Allah maka tidak akan mampu untuk menghitungnya”.
Maka hendaknya kamu bersyukur pada tuhanmu atas semua nikmat-Nya; dengan mentaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan mengagungkan-Nya di dalam hatimu, agar kamu tidak melakukan keburukan meskipun dalam keadaan sendiri. Dalam sebuah hadist disebutkan: “Bertakwalah kepada Allah di manapun kamu berada”. Dan hendaknya kamu lebih mencintai tuhanmu daripada kedua orangtuamu atau dirimu sendiri, dan juga mencintai semua malaikat-Nya, utusan-Nya, para nabi-Nya, serta hamba-hamba-Nya yang sholeh, karena Allah juga mencintai mereka.
Ketahuilah sesungguhnya tuhanmu lebih berbelas kasih kepadamu daripada kedua orang tuamu maupun orang lain. Dalam sebuah hadist: “Dalam sebuah peperangan seorang anak laki-laki berdiri untuk dilelang, pada hari itu merupakan musim panas, kemudian seorang perempuan melihatnya dari sebuah tenda dan menghampirinya, dan sahabat-sahabatnya mengikutinya, kemudian ia mengambil anak laki-laki itu dan mendekapnya, kemudian ia menyandarkan punggungnya di sebuah sungai, dan meletakkan anak laki-laki itu di atas perutnya untuk melindunginya dari panas. Perempuan itu berkata: “anakku, anakku”, orang-orangpun menangis, dan meninggalkan urusannya. Kemudian datanglah Rasulullah Saw, semua orangpun berdiri dan menceritakan kejadian itu pada Rasulullah Saw, beliapun senang atas belas kasih mereka, kemudian beliau memberi kabar gembira, beliau berkata: “Apakah kalian takjub dengan kasih sayang wanita ini kepada anaknya?”, mereka menjawab: “iya”, beliau berkata; “Sesungguhnya Allah Ta’ala lebih belas kasih terhadap kalian semua melebihi belas kasih wanita ini kepada anaknya”, kemudian orang-orang pun pergi dengan perasaan bahagia.
Dan wajib juga bagimu untuk menggantungkan hatimu pada tuhanmu, memohon pertolongan pada-Nya di segala kebutuhanmu, dan pasrah pada-Nya di segala urusanmu, Allah berfirman: “Dan berpasrahlah pada Allah jika kalian adalah orang-orang yang beriman”. Dalam sebuah hadist periwayatan Ibn Abbas disebutkan: Sesungguhnya Nabi berkata padanya: “Wahai pemuda! Akan aku ajarkan padamu beberapa hal: Jagalah (agama) Allah, maka Allah akan menjagamu, jagalah (agama) Allah, maka kam akan mendapati Allah ada di sisimu. Jika kamu meminta, maka memintalah pada Allah, jika kamu meminta pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah! Jika suatu kaum sepakat untuk memberimu suatu kemanfaatan, sesungguhnya mereka tidak akan memberimu apapun kecuali apa yang telah Allah tetapkan untukmu, dan jika mereka sepakat untuk mencelakaimu, maka mereka tidak akan bisa mencelakaimu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Pena telah diangkat, dan lembaran-lembaran itu pun telah kering”.
Ketahuilah! Jika telah tertanam dalam hatimu rasa takut pada Allah, maka akan ada setiap kebaikan darimu, dan kamu pun terjaga dari segala keburukan dan mara bahaya, sehingga kamu tidak akan mampu untuk meninggalkan ketaatan, atau melakukan maksiat, karena kamu selalu diawasi oleh Allah di setiap tempat, sebagaimana kisah yang akan datang tentang seorang guru dan murid, juga semua perbuatanmu merupakan perbuatan shaleh, dan budi pekertimu baik. Sebaliknya, jika rasa takut pada Allah hilang dari hati, maka seseorang akan menjadi lebih hina dan lebih buruk dari hewan, melakukan segala sesuatu yang diinginkan hawa nafsunya, tidak peduli dan tidak malu atas apa yang dilakukan kedua tangannya.
Ketahuilah pula! Bahwa mensyukuri nikmat merupakan sebab bertambahnya nikmat itu, sebagaimana mengingkari nikmat merupakan sebab hilangnya nikmat itu. Allah ta’ala berfirman: “Jika kalian bersyukur maka sungguh akan aku tambah, dan jika kalian kufur, sesungguhnya siksaanku sangatlah pedih”. Seorang penyair berkata:
“Jika kalian dalam sebuah kenikmatan maka jagalah, sesungguhnya maksiat dapat menghilangkan kenikmatan”.
Jika kamu mentaati tuhanmu, dan mensyukuri nikmatnya, maka Allah akan menambah keutamaan dan anugerah-Nya padamu, menjagamu dari semua mara bahaya, memberimu apa yang kamu inginkan, menanamkan rasa cinta kepada tuhanmu, serta membuat para makhluq mencintaimu, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholeh akan Allah tanamkan rasa cinta kepada mereka”, maksutnya, Allah mencintainya, dan manusia pun mencintainya. Dalam sebuah hadist disebutkan: “Bahwa sesungguhnya ketika Allah ta’ala mencintai seorang hamba, Allahakan memanggil malaikat Jibril dan berkata: “Bahwa Alla mencitai si fulan, maka cintailah dia!”, maka malaikat Jibril pun mencintainya, kemudian malaikat Jibril berseru di langit: “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia!”, maka penduduk langit pun turut mencintainya, dan Allah membuatnya diterima oleh penduduk bumi.
3. Kisah-Kisah Yang Sesuai
Nabi Muhammad SAW. adalah orang yang paling bertakwa pada Allah, dan yang paling mampu menegakkan hak Allah ta’ala. Nabi mendirikan sholat malam sampai bengkak kedua kakinya, sayyidah Aisya pun berkata: “Wahai Rasulullah, bukankah dosa-dosamu yang telah lampau dan yang akan datang telah diampuni?”, Rasulullah menjawab: “Bukankan aku seorang hamba yang bersyukur?”. Dalam keadaan sholat, terdengar suara gemuruh hatinya seperti bunyi gemuruh sebuah kendi karena takut pada Allah. Rasulullah selalu mengingat Allah di setiap waktu, dalm sebuah hadist disebutkan: “Sesungguhnya kedua mataku terpejam, tapi hatiku tidak tertidur”. Ketika Rasulullah mendapatkan sesuatu yang disukainya, beliau berucap: “Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmatnya menjadi sempurna amalan-amalan shalih”, dan ketika beliau menghadapi sesuatu yang dibencinya, beliau berkata: “Segala puji bagi Allah di setiap keadaan”. Ketika Rasulullah hendak melakukan sesuatu, beliau berkata: “Ya Allah, tuntunlah, dan pilihkanlah (jalan) untukku”. Ketika Rasulullah makan, beliau berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita makan dan minum, dan telah menjadikan kita termasuk orang Islam”. Ketika Rasulullah minum, beliau berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air ini tawar dan menyegarkan dengan rahmatnya, dan tidak menjadikannya air ini asin dan pahit karena dosa-dosa kita”, dan dzikir-dzikir lain yang selalu beliau baca di setiap keadaannya. Demikian ini menunjukkan kebergantungan hati Rasulullah pada Allah, ketawakkalannya pada Allah, serta keikhlasannya dalam melayani (agama) Allah.
Sayyidah Khodijah, istri Rasulullah, merupakan teladan dalam ketakwaan, dan ketaatan; beliau takut pada Allah, dan tidak maksiat pada-Nya, serta tidak pernah meninggalkan kewajibannya, sehingga Allah ta’ala pun mencintainya. Dalam sebuah hadist disebutkan: Malaikat Jibril datang pada Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah, Khadijah datang dengan membawa wadah berisi lauk pauk, makanan, dan minuman, jika dia mendatangimu katakan sampaikan padanya sebuah salam dari tuhannya, dan dariku, dan berilah kabar gembira tentang rumah di surga yang terbuat dari permata, tidak ada suara gaduh dan kepayahan di dalamnya”. Al-qashab: permata, al-shakhab: suara keras, al-nashab: kelelahan. Sayyidah Khadijah menjawab: “Allah yang maha memberi keselamatan, dari-Nya sebuah salam, dan untuk Jibril sebuah salam”.
Sayyidah Khadijah memiliki akhlaq yang unggul, kesempurnaan ketaatan kepada suaminya, Rasulullah. Dalam melayaninya, beliau membantu Rasulullah menyebarkan agama Islam, meringankan beban yang didapat dari kaumnya, dan sabar dalam menghadapi berbagai cobaan karena Rasulullah, beliau merupakan orang pertama yang masuk Islam dan beriman pada Rasulullah, beliau tinggal bersama Rasulullah selama dua puluh empat tahun dengan tentram, senang, dan bahagia, dan beliau merupakan istri Rasulullah yang paling utama. Dari Sayyidah Aisya berkata: “Ketika Rasulullah teringat pada Sayyidah Khadijah, beliau tidak akan bosan untuk memujinya, dan memintakan ampun untuknya”.
Sayyidah Fathimah memiliki akhlaq yang begitu agung, terdidik di sisi ayahnya dengan didikan yang luhur, tumbuh sebagai seorang wanita salehah, takut pada Allah dalam keadaan sendiri maupun terang-terangan, mengejar ridla Allah sekuat tenaganya, dan mendirikan shalat sampai bengkak kedua kakinya. Karena itu, beliau adalah putri tercinta Rasulullah, dan pemimpin para wanita umat ini, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam sebuah hadist. Beliau merupakan wanita yang lemah lembut dan penuh belas kasih; mencintai orang-orang miskin, membantu orang yang membutuhkan, penuh perhatian dalam mendidik purta-putranya, ikhlas pada suaminya, dan sangat pemalu. Suatu ketika ayahnya, Rasulullah bertanya padanya: “Hal terbaik apa yang dimiliki seorang wanita?”, beliau menjawab: “Tidak melihat seorang lelaki, dan lelaki tidak melihat padanya”, maka Rasulullah pun memeluknya (senang dan bahagia dengan jawaban baiknya) dan berkata: “Sebuah keturunan memiliki sifat mulia sebagaimana nenek moyangnya”. Sayyidah Fathimah adalah anak yang patuh pada ibunya, semasa hidup maupun sepeninggal ibunya. Dalam sebuah hadist: Beliau bertanya pada Rasulullah: “Wahi Rasulullah, di mana ibuku?”, Rasulullah menjawab: “Di sebuah rumah yang terbuat dari permata”, beliau bertanya lagi: “Dari permata ini?”, “Bukan, melainkan dari permata, batu yakut, dan berlian”. Beliau sibuk mengurus kesibukan rumahnya sendiri; menumbuk biji-bijian dengan penumbuk sampai kasar kedua tangannya, menyapu rumah sampai berdebu pakaiannya, menyalakan api di bawah tungku sampai kusam bajunya (agak menghitam), dan memberi minum dengan kendi sampai beliau terkena bahaya kerenanya, akan tetapi beliau sabar, sampai suatu ketika beliau sedang hamil, beliau sangat kelelahan, karena ketika membuat roti, perut beliau terkena ujung tungku. Maka suaminya menyuruhnya untuk pergi ke rumah ayahnya, dan meminta seorang pelayan untuknya, kemudian beliau pergi ke rumah ayahnya, dan melihat sebuah jamaah bersama ayahnya sedang berbincang, beliau pun merasa malu, dan kembali pulang. Rasulullah pun mengetahui bahwa putrinya datang karena suatu kebutuhan, maka beliau pergi menemuinya, ternyata Sayyidah Fathimah sudah berselimut dan hendak tidur. Rasulullah pun bertanya padanya tentang kebutuhannya, maka Sayyidina Ali memberitahukan tentang maskud sayyidah Fathimah, kemudian Rasulullah berkata pada keduannya: “ Maukah aku ajarkan sesuatu yang lebih baik daripada seorang pelayan? Ketika hendak tidur, bertasbihlah tiga puluh tiga kali, dan bertahmidlah tiga puluh tiga kali, dan bertakbirlah tiga puluh empat kali”. Sayyidah Fathimah berkata: “Aku ridla dengan Allah dan Rasulullah” tiga kali.
Kemudian Rasulullah mengirimkan seorang pelayan padanya untuk melayaninya, yang diberi nama Fiddlah. Pada suatu hari, Rasulullah hendak menemui sayyidina Ali, ternyata beliau menemukan sayyidina Ali dan sayyidah Fathimah sedang menumbuk di alat penumbuk, Rasulullah pun bertanya: “Siapa yang lelah di antara kalian berdua?”, sayyidina Ali menjawab: “Fathimah, wahai Rasulullah”, Rasulullah berkata: “Berdirilah, wahai anakku”, beliau pun berdiri, dan Rasulullah duduk di tempatnya bersama sayyidina Ali, dan membantunya menumbuk biji-bijian.
Di antara wanita luhur nan saleha adalah sayyidah Aisya, putri sayyidina Abu Bakr. Beliau banyak melakukan shalat, berpuasa, dan menangis karena takut padda Allah. Beliau juga sering bersedekah, sampai suatu ketika beliau pernah bersedekah tujuh puluh ribu dirham, padahal baju beliau sudah banyak robekan. Suatu ketika beliau pernah mendapatkan uang seratus ribu dirham, maka beliau pun membagikan semua uang itu, yang pada saat itu beliau sedang berpuasa, pelayannya bertanya padanya: “Apakah engkau memiliki sesuatu untuk membeli sedirham daging untukmu berbuka puasa?”, beliau menjawab: “Jika kamu tadi mengingatkanku, maka akan aku lakukan”.
Beliau adalah wanita yang sangat pemalu, dan sederhana. Beliau pernah berkata: “Aku memasuki rumah makam Rasulullah dan makam ayahku dengan tidak berbaju lengkap, kataku: Beliau adalah suami dan ayahku. Namun ketika sayyidina Umar dimakamkan, demi Allah aku tidak pernah memasuki rumah itu kecuali dengan baju yang sangat tertutup, karena malu pada sayyidina Umar”. Maka lihatlah rasa malunya terhadap lelaki lain, meskipun lelaki itu di dalam kubur.
Beliau adalah seorang ahli fikih dan hadist, beliau banyak meriwayatkan hadist, dan merupakan pembesar para sahabat. Para sahabat bertanya kepadanya tentang berbagai permasalahan, kemudian beliau menjawabnya dari balik tabir. Rasulullah sangat mencintainya dan sering memujinya. Dalam suatu hadist disebutkan: “Keutamaan sayyidah Aisya dibanding para perempuan lain itu seperti keutamaan bubur daripada makanan lain”. Dalam hadist juga disebutkan: “Wahai Aisyah! Malaikat membacakan salam untukmu”, beliau pun menjawab: “Waalaihissalam, warahmatullahi, wabarokatuh”.
Ada seorang guru yang lebih mencintai seorang murid daripada teman-temannya, mereka pun heran dan berkata: “Kenapa guru ini lebih mencintai murid ini daripada kita?”, maka guru itu pun ingin menunjukkan kepada mereka sebab dari hal itu, kemudian ia memberi seekor ayam ke setiap muridnya, dan menyuruh mereka untuk pergi sendiri ke suatu tempat untuk menyembelih ayam itu tanpa ada yang melihatnya. Mereka pun melaksanakan perintah guru itu kecuali seorang murid itu, dia malah mengembalikan ayam itu, dan gurunya pun bertanya: “Kenapa kamu tidak menyembelih ayam itu sebagaimana yang dilakukan teman-temanmu?”, dia menjawab: “Karena aku tidak mampu menyendiri di suatu tempat yang tidak terlihat oleh siapa pun, karena Allah melihatku di setiap tempat”, guru itu berkata pada murid-muridnya: “Lihatlah murid ini! Dia takut pada Allah, dan tidak melupakan-Nya di manapun dia berada, oleh karena itu aku lebih mencintainya daripada kalian, dan tidak diragukan bahwa ketika dewasa ia akan menjadi golongan dari orang-orang saleh, yang taat kepada tuhannya di setiap saat.









One Comment