Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Akhlaq Lil Banat Juz 2

4. Kewajiban Seorang Anak Perempuan Terhadap Nabinya

Ketahuilah! Sesungguhnya Nabi Muhammada memiliki hak agung yang harus kamu penuhi, dan haknya merupakan hak yang paling agung setelah hak Allah, dan beradab kepadanya merupakan hal yang paling harus dan wajib dilakukan. Nabi Muhammada adalah nabi yang paling utama, yang datang dengan membawa agama Islam, yang dengan perantaranya kamu bisa mengenal tuhanmu, membedakan antara halal dan haram, dan antara yang baik dan buruk.

Sesungguhnya kamu tidak akan mampu membalas jasa Nabi Muhammad, maka hendaknya kamu sangat mencintainya, dan ahli baitnya, para sahabat, dan seluruh umatnya. Dalam sebuah hadist disebutkan: “ Cintailah Allah yang telah memberimu nikmatnya, dan cintailah aku karena cinta pada Allah, dan cintailah ahli bait karena cinta kepadaku”. Dalam hadist lain disebutkan: “Jagalah para sahabat untukku, jangan jadikan mereka sasaran kalian sepeninggalku. Barang siapa yang mencintai mereka, maka karena cintaku ia mencintai mereka, dan barang siapa yang membenci mereka, maka karena membenciku ia membenci mereka”. Dalam hadist lain disebutkan: “Tidaklah sempurna iman seseorang sampai ia mampu mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”.

Wajib pula bagimu untuk mentaati semua perintahnya, sebagaimana firman Allah: “Apa pun yang dibawa Rasulullah pada kalian ambillah (patuhilah), dan apa yang ia larang jahuilah!”, “Barang siapa yang taat pada Rasulullah maka ia juga taat pada Allah”. Di antara perilaku taat pada Rasulullah adalah dengan menolong agama Islam, baik melalui ucapan maupun perilaku, dan dengan menghidupkan sunnah-sunnahnya, serta meneladani akhlaqnya, dalam sebuah hadist disebutkan: “Barang siapa menghidupkan sunnah-sunnahku, berarti ia mencintaiku, barang siapa mencintnaiku, maka ia akan bersamaku di surga”. Dan juga dengan membaca salawat kepadanya, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat berselawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman berselawatlah dan bacalah salam kepada Nabi” khususnya pada malam dan hari Jumat, sebagaimana dalam hadist: “Perbanyaklah memebaca selawat kepadaku di hari Jumat, dan malam Jumat. Barang siapa yang melakukannya, maka aku akan menjadi saksi dan pemberi syafaat untuknya di hari kiamat”.

Dalam sebuah hadist diceritakan: Bahwa Tsauban, budak yang telah dibebaskan Rasulullah sangan mencintai Rasulullah, dan sangat tidak sabar bertemu Rasulullah, maka suatu hari ia mendatangi Rasulullah, dan wajahnya telah berubah, tampak ia sedang bersedih, maka Rasulullah bertanya padanya: “Apa yang membuatmu begini?”, is menjawab: “Wahai Rasulullah, aku tidak lapar, dan juga tidak sakit, hanya saja jika aku tidak melihatmu, aku sangat menderita sampai aku menemuimu, kemudian aku teringat akhirat, dan aku sangat takut tidak bisa lagi melihatmu, karena engkau akan diangkat bersama para nabi, sedangkan aku, jika pun masuk surga, kedudukanku akan sangat rendah, jauh dari kedudukanmu, adapun jika aku tidak masuk surga, maka aku tidak akan mampu melihatmu selamanya”, maka turunlah firmah Allah: “Barang siapa yang taat pada Allah dan Rasulullah, maka ia akan bersama orang-orang yang Allah beri nikmat; yaitu para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh, mereka adalah sebaik-baik teman”.

5. SEKELUMIT AKHLAK NABI SAW. (I)

  1. Sesungguhnya Nabi SAW. adalah teladan yang baik bagi kaum muslimin, baik perkataan-perkataan beliau, perbuatan-perbuatannya, peri hidup bahkan juga dalam ibadahnya.

Allah Ta’ala telah berfirman : “Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah suri teladan yang baik untuk dirimu” (Al Ahzab : 21).

Maka wajib bagimu untuk meneladani dan mengikuti beliau supaya engkau memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat, dan memperoleh kemuliaan lahir dan batin.

  1. Sesungguhnya termasuk akhlak Nabi SAW. adalah berkata jujur. Nabi SAW. tidak pernah berdusta, baik dalam keadaan sungguh-sungguh maupun pada waktu bersenda gurau.

Sifat ini telah termasyhur pada beliau sejak masa kecilnya dan disaksikan sendiri baik oleh lawan-lawan beliau, lebih-lebih oleh kawannya sendiri. Di awal masa kenabiannya beliau naik di bukit shafa dan mengundang suku-suku kaumnya dengan suara yang lantang. Ketika mereka berkumpul, Nabi.SAW. berseru kepada mereka : “Jika aku beritahu-kalian bahwa ada pasukan berkuda di lembah yang akan menyerang kalian, apakah kalian mempercayai aku ?”

Maka dengan serentak mereka pun menjawab: “Kami tidak pernah mendengar darimu, kecuali perkataan yang benar.”

Nabi SAW. dikenal dengan sifatnya yang bertanggung jawab sehingga tersohor di antara kaumnya dengan gelar Muhammad Al-Amien (yang jujur).

Ketika kaum Quraisy memperbaiki bangunan Ka’bah, mereka berselisih paham tentang siapa yang paling berhak meletakkan Al-Hajarul Aswad di tempat semula, sampai sampai mereka saling mengancam untuk berperang. Sampai akhirnya mereka sepakat bahwa orang yang pertama kali masuk pintu masjid, Itulah yang berhak memutuskan.

Ketika mereka tahu Rasulullah orangnya yang kali pertama masuk pintu masjid, betapa gembira hati mereka dan mereka sama berkata, “Inilah dia orang yang jujur, kita semua rela ia menjadi penengah.” Maka Rasulullah pun lalu meletakkan batu itu di atas selembar kain seraya berkata, “Hendaknya setiap pimpinan Suku memegang ujung masing-masing kain.”

Akhirnya mereka sepakat dengan pendapat Nabi SAW. Nabi yang bersama-sama mereka angkat batu itu, baru kemudian meletakkan Al-Hajarul Aswad di tempat semula dan hilanglah semua perselisihan.

Banyak orang Quraisy menitipkan barang berharga di kediaman Rasulullah. Ketika beliau hendak hijrah ke Madinah,yang paling menjadi fikirannya adalah siapa orang yang mewakilinya untuk mengembalikan semua titipan itu kepada pemiliknya. Maka beliau lalu memerintahkan Sayyidina Ali r.a. untuk melakukannya. Kata Rasulullah kepadanya, “Jangan tinggalkan Makkah hingga engkau selesai melaksanakan tanggung jawab.”

Dalam hadits: “Demi Allah, sesungguhnya akulah orang yang jujur di langit dan di bumi.”

  1. Menepati janji juga menjadi akhlak Rasulullah SAW. Abdullah bin Abil Hamsaa’ berkata, “Pernah aku menjual sesuatu kepada Nabi SAW. sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan masih ada sisa baginya. Maka aku berjanji untuk . membawanya kepada beliau di tempat yang telah ditentukan.

Ternyata aku lupa. Dan baru teringat setelah 3 hari kemudian. Ketika aku datang, ternyata beliau masih berada di tempatnya.”

Maka beliau berkata, “Wahai anak muda, engkau telah. memberatkanku. Aku di sini selama 3 hari menantimu.” Begitu pula sifat tawadhu’ (rendah hati) maka sering Rasulullah duduk bersama para sahabat-sahabatnya dimana pun beliau mendapati majlis itu berada dan berbaur berjalan di antara mereka serta tidak minta tempat khusus diantara sahabatnya.

Maka sewaktu Nabi SAW. memasuki Makkah bersama 10.000 prajuritnya beliau duduk diatas untanya sambil – menundukkan kepala menatap pelana untanya karena. merendahkan diri dan takut kepada Allah.

Dan juga ketika Nabi SAW. menunaikan haji pada Haji Wada’ bersama 100.000 sahabatnya, beliau menaiki unta yang pelananya sudah usang dan di atasnya dilapisi alas yang – harganya cuma 4 dirham, padahal waktu itu beliau sudah menguasai Jazirah Arab.

Pernah diserahkan harta yang banyak kepadanya, tapi beliau nafkahkan semuanya di jalan Allah. Dan waktu berhaji beliau menyembelih 100 ekor unta.

Dalam suatu perjalanan yang panjang, Rasulullah memerintahkan para sabahat. menyiapkan seekor kambing. Seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, aku yang menyembelihnya.” Yang lain berkata, “Aku yang mengulitinya.” Yang lain lagi berkata, “Aku nanti yang memasaknya.”

Jawab Rasulullah SAW., “Aku nanti yang mengumpulkan kayu untuk membakarnya.” Maka para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, biarlah kami yang bekerja mencukupimu.”

Nabi SAW. berkata, “Aku tahu bahwa kalian melayani aku, tapi aku tidak suka diistimewakan oleh kalian. Sesungguhnya Allah SWT. tidak suka bila diantara hambaNya diistimewakan di antara teman-temannya.”

Di antara sifat tawadhu’ Nabi SAW. ialah, apabila melewati anak-anak kecil, beliau memberi salam kepada mereka dan tidak berkenan seseorang berdiri dari duduknya untuk menyambutnya. Beliau menambal bajunya, memperbaiki sandalnya, memerah susu kambingnya, menyapu rumahnya, dan melayani keluarganya.

Nabi SAW. membawa sendiri barang yang dibelinya dari pasar. Melihat hal itu sahabatnya bersimpati, “Berikan barang itu kepadaku biar aku yang membawanya.” Maka jawab beliau, “Pemilik barang lebih berhak untuk membawanya.”

  1. Dan termasuk di antara akhlak Nabi SAW. yang lainnya ialah sifat sabar, tenggang rasa dan pemaaf. Ketika beliau sedang shalat di dekat Ka’bah dan sekelompok orang Quraisy sedang duduk di majelis mereka. Salah seorang dari mereka berkata, “Tidakkah kalian lihat orang yang riya’ (mencari pujian) ini ! siapa di antara kalian yang sanggup ke tempat pembantaian unta si Fulan, ambil kotoran, darah dan isi jerohannya, lalu bawa kemari dan tunggu sampai ia sujud, lalu letakkan ia di antara kedua pundaknya ?” Maka bangkitlah orang yang paling sengsara di antara mereka, Ugbah bin Abi Mu’aith. Ketika Nabi SAW. sujud, dia letakkan kotoran itu di antara kedua pundaknya sehingga Nabi SAW. tetap bertahan sujud. Mereka pun tertawa dengan keras sampai masing masing mereka saling bersandar kepada yang lainnya. Begitu Sayyidatina Fatimah (putri Nabi) yang masih kecil itu tahu tentang kejadian itu, bergegaslah dia ke tempat Nabi SAW. yang tetap sujud, dia mengambil jerohan itu dan dilemparkannya kearah mereka. Dia maki mereka dan dia do’akan mereka agar binasa.

Setelah beliau diangkat menjadi Nabi, beliau tinggal di Makkah selama 13 tahun. Nabi SAW mereka ganggu dengan berbagai macam gangguan. Mereka melempari dengan batu hingga sandalnya berlumuran darah.

Akan tetapi Nabi SAW. masih tetap juga mendo’akan mereka, “Ya Allah, berilah kaumku petunjuk, karena mereka belum tahu.”

Nabi SAW. mereka lempari sampai patah gigi gerahamnya dan mereka lukai mukanya serta mereka jatuhkan.ke dalam lubang. Akan tetapi beliau masih memaafkan mereka dan tidak mendo’akan kebinasaannya.

Begitu pula Nabi SAW. memaafkan wanita Yahudi yang, mencoba menghidangkan: daging kambing beracun supaya ‘peliau memakannya, dan peristiwa lain.

Ketika sukses menaklukkan Makkah, beliau maafkan . penduduknya, sedang mereka sudah menyangka Rasulullah akan membalas atas perlakuan mereka dengan membunuh mereka atau dengan cara lainnya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker