16. KISAH-KISAH NYATA
- Di zaman Rasulullah SAW. ada seorang perempuan yang amat tekun beribadah, siang hari ia berpuasa dan malamnya ia isi dengan shalat, tetapi sayang ia berakhlak buruk. la suka mengganggu semua tetangganya dengan lisannya. Maka orang-orang mengadukan perihal perempuan tersebut kepada Nabi SAW. Kemudian Nabi SAW. bersabda, “Tiada padanya kebaikan. Dan ia termasuk penghuni neraka.”
- Mujahid berkata, “Ketika aku sedang berada di rumah Abdullah bin Umar kulihat sahayanya sedang menguliti seekor kambing.”
Kemudian Abdullah berkata kepada sahayanya itu, “Wahai anak, apabila selesai mengulitinya, mulailah engkau berikan ke tetangga kita yang Yahudi itu.” Ia ucapkan kalimat itu berkali-kali. Maka aku heran dan berkata kepadanya, “Sampai berapa kali engkau katakan itu ?”
Abdullah menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah SAW. selalu mewasiati kami mengenai tetangga, hingga Kami khawatir beliau akan menjadikannya mewarisi kami.”
- Ada seorang mengeluh tentang banyaknya tikus yang ada di rumahnya. Maka dikatakan kepadanya, “Bagaimana seandainya engkau pelihara kucing ?” Orang itu menjawab, “Aku khawatir suara kucing itu membuat tikus-tikus pada lari ke rumah para tetangga, sehingga aku jadi senang musibah mereka sedangkan aku tidak suka hal itu menimpa diriku sendiri.”
- Imam Abu Hanifah rahimahullah mempunyai seorang tetangga yang amat pendengki. Ia suka mengganggu dan menggunjing beliau. Akan tetapi Imam Abu Hanifah tetap sabar menghadapinya. Apabila beliau lewat di depannya, beliau memberi salam kepadanya, walau orang itu tidak sudi membalas salamnya. Maka orang-orang pun menegur beliau yang begitu tabah dan sabar dalam menghadapi tetangganya. Namun beliau hanya berkata, “Sesungguhnya mereka para tetangga itu mempunyai hak.”
17. APA KEWAJIBANMU TERHADAP GURUMU?
Wahai putri yang santun ! sebagaimana hak kedua orang tuamu terhadapmu yang sangat besar yang telah memelihara tubuh dan menjaga dirimu dari api dunia, begitu pula gurumu. la mempunyai jasa yang besar atas dirimu. Ia telah memeliharamu dari api akhirat. Ia mengarahkan jiwamu, mendidik akhlakmu dan menerangi pikiranmu serta mengajarimu ilmu yang berguna. Wahai putri yang setia! oleh sebab itu engkau wajib mencintai dan menghormatinya, menyenangkan hatinya serta memperlakukannya dengan tata krama-tata krama ini :
- Hendaklah engkau Ikuti nasihat-nasihat gurumu, patuh akan segala perintah-perintah yang diberikannya bukan lantaran takut hukuman, tapi demi memenuhi kewajiban dengan hati yang ikhlas, sebagaimana orang sakit yang menyerah pada nasihat sang dokter yang mau berbelas kasih.
Engkau terima pelajaran-pelajaran yang diberikan gurumu kepadamu dengan pengertian yang baik, ucapan terima kasih dan perasaan senang. Hendaklah pula engkau bersikap rendah hati terhadapnya, mencari pahala serta kemuliaan dengan jalan berbakti kepadanya, dan selalu merasa bahwa gurumu amat berjasa kepadamu sedang engkau tidak pernah dan tak akan mampu membalasnya, walau bagaimanapun baktimu kepadanya.
Waspadalah dari sikap yang menentangnya, membantahnya atau pun bersikap sombong kepadanya.
Dalam hadits dikatakan : “Bukanlah termasuk akhlak orang mukmin sikap mencari muka (mencari pujian) kecuali dalam hal menuntut ilmu.”
Sayyidina Ali karromallahu wajhahu pernah berkata, “Aku adalah budak dari orang yang telah mengajariku satu huruf. Jika mau ia boleh menjualnya, boleh pula membebaskannya dan jika minat ia pun boleh memperbudaknya.”
Adapun sifat sombong dan membangkang, keduanya menyebabkan manusia tidak mendapat ilmu. Sebagaimana kata penyair :
Ilmu itu menerangi pemuda yang sombong sebagaimana banjir membinasakan tanah yang tinggi
2, Murid yang sopan dan rendah hati akan mudah mendapatkan ilmu dan memanfaatkannya. Sebaliknya murid yang tidak sopan dan sombong, jika ia mendapat ilmu, maka ia tidak, akan mendapat manfaat darinya baik untuk dirinya maupun bagi orang lain. Bahkan ia bisa membahayakan dirinya menambah kesombongan dan memperburuk prilakunya.
Dalam hadits : “Barangsiapa bertambah ilmunya dan tidak bertambah petunjuk yang diperolehnya, maka ia pun semakin jauh dari Allah.”
Di antara nasihat-nasihat para guru adalah engkau berniat menuntut ilmu untuk mendapat ridha Allah dan kemaslahatan negeri akhirat, menghidupkan agama dan : berguna bagi kaum muslimin.
Engkau berniat demikian sebagai rasa syukurmu atas nikmat akal dan kesehatan badan yang telah diberikan. Janganlah engkau bertujuan belajar hanya untuk mendapat “pujian dan kedudukan di mata orang banyak atau untuk mengumpulkan kekayaan, dunia semata.
Dalam hadits diriwayatkan : “Barangsiapa menuntut ilmu untuk menyaingi orang-orang yang bodoh atau untuk menarik perhatian orang lain kepada dirinya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.”
Di antara nasihat-nasihat para guru yang lain ialah engkau harus berusaha sungguh sungguh dalam menuntut ilmu. Engkau hafalkan semua pelajaranmu dan siap mengulanginya di rumah. Janganlah engkau bermalasan karena pemudi yang malas jauh dari kebaikan. Sebagaimana kata penyair :
Tuntutlah ilmu dan jangan malas betapa jauh jarak kebaikan itu dari orang yang malas.
Janganlah engkau membuang waktu dengan percuma, karena waktu adalah permata berharga yang teramat mahal nilainya, apabila telah lewat, ia tidak akan kembali untuk selama-lamanya. Hendaklah engkau perhatikan kebersihan semua buku dan alat-alatmu yang lain serta mengaturnya di tempatnya. Hendaklah engkau senantiasa datang ke sekolah setiap hari pada jam yang telah ditentukan dan jangan terlambat, kecuali karena alasan yang benar.
Hendaklah engkau mendengarkan pelajaran-pelajaran yang diberikan gurumu dengan hati yang penuh perhatian supaya engkau dapat memahaminya dengan cepat dan tidak lelahkan para gurumu dengan banyak mengulang. Maka lakukanlah nasihat-nasihat yang berguna ini.
- Termasuk tata krama terhadap guru adalah engkau berdiri menyambutnya bila engkau sedang duduk, demi menghormati dan mengagungkan kehadirannya. Janganlah engkau duduk dulu hingga ia mengizinkan engkau untuk duduk. Jika beliau sudah mengizinkan maka duduklah engkau dengan sopan. Janganlah engkau mendahuluinya bicara atau memutuskan pembicaraannya atau juga menyuruh dan melarang kepada seseorang di hadapannya.
Apabila engkau tidak memahami suatu masalah, maka termasuk tata krama adalah engkau ajukan kepadanya pertanyaan dengan lembut dan hormat. Pertama kali engkau angkat jarimu dan jangan bicara sebelum ia izinkan engkau bicara.
Apabila ia bertanya kepadamu tentang sesuatu hal, hendaklah engkau berdiri dan menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang baik. Dan jangan suka mendahului menjawab apabila ia mengajukan pertanyaan kepada orang lain.
- Hendaklah engkau memberi salam kepada gurumu setiap hari di sekolah dan menjabat tangannya serta menghadapinya dengan wajah yang penuh tersenyum. Hendaklah engkau rajin mengunjunginya di rumahnya, terutama pada saat hari raya atau bila ia terkena sakit dengan tidak lupa menanyakan kesehatannya serta mendo’akan agar ia lekas sembuh. Hendaklah engkau bantu dia untuk memenuhi semua keperluannya dan bermusyawarahlah dengannya mengenai urusan-urusanmu dan lakukan apa yang telah disarankannya kepadamu.
Janganlah engkau memanggil gurumu dengan sebutan namanya, tetapi dengan kata ibu guru. Dan jangan berjalan di depannya atau membelakanginya dengan punggungmu. Janganlah engkau duduk di tempatnya atau mengambil bukunya tanpa seizinnya dan jangan pula banyak bicara kepadanya maupun menyebarkan rahasianya.
Jangan engkau menggunjing seseorang di hadapannya dan jangan katakan kepadanya si fulanah mengatakan berbeda dari perkataan sang guru.
- Apabila gurumu bertanya kepadamu tentang suatu masalah, sedang engkau tidak memahaminya, janganlah malu untuk berterus terang kepadanya tentang hal yang sebenarnya, supaya engkau tidak berdosa karena berdusta dan tidak dapat memahami masalah itu karena tidak berterus terang.
Janganlah engkau marah bila ia menegurmu, tetapi diam dan gembiralah atas teguran itu, karena ia tidak menegurmu, melainkan karena besar cintanya padamu supaya engkau laksanakan kewajiban-kewajibanmu dan bila engkau sudah besar nanti engkau pun akan merasakan terima kasih atas tegurannya itu.
Termasuk salah besar apabila engkau menyangka bahwa gurumu membencimu dengan lantaran tegurannya kepadamu. Tidaklah akan berburuk sangka kepada guru, kecuali murid yang tak tahu malu dan tak berilmu.
6. Termasuk kesetiaan kepada gurumu apabila engkau tidak melupakan kebaikan dan jasa-jasanya, walaupun engkau telah keluar atau ia yang keluar dari sekolah. Dan termasuk kesetiaan yang lain adalah setelah sang guru meninggal si murid mendo’akan rahmat dan ampunan baginya, engkau bacakan Al-Qur’an dan engkau sedekahkan harta dengan menghadiahkan pahalanya kepada ruhnya, karena pahalanya akan sampai kepada sang guru yang telah meninggal sebagaimana tersebut dalam hadits.









One Comment