Ulumul Hadits

Terjemah Kitab Qowaidul Asasiyah Fi Musthalah Hadits

SAHABAT

Sahabat adalah orang yang bertemu Rasulullah  dalam keadaan beriman dan mati dalam keadaan beriman. |

Defenisi ini adalah menurut mayoritas ahli hadits. Sedangkan sebagian ahli ushul fiqh mengharuskan syarat lain agar terealisasi Status kesahabatan.

Di antaranya: bergaul dengan Rasulullah dalam jangka waktu lama.

Di antaranya lagi: ikut berperang bersama beliau.

Keadilan Sahabat

Sahabat, seluruhnya adalah ‘adil, yang tua atau yang muda, yang terbawa “fitnah” atau tidak (yaitu ikut hadir dalam peperangan antara sayyidina Ali dan sayyidina Mu’awwiyah atau tidak hadir). Kriteria ini dengan kesepakatan Ahlussunnah, karena berbaik sangka pada mereka (para sahabat), dan memandang kepada keagungan perilaku yang terbentuk pada mereka berupa: kepatuhan pada perintah-perintah Baginda Rasulullah  sepeninggal beliau, penaklukan daerah-daerah, penyampaian AlOuran hadits oleh mereka, pencerahan hidayah pada umat manusia, disiplin shalat dan zakat serta pelbagai macam amal ibadah lain, keberanian, kepandaian, kedermawanan, memprioritaskan orang lain, dan akhlak terpuji lainnya yang tidak dimiliki umat-umat terdahulu.

Dalil-Dalil Keadilan Sahabat dari Al-Qur’an dan Hadits Keadilan Sahabat sudah permanen dan maklum dengan penilaian adil dari Allah Ta’ala, juga pengkabaran dari-Nya akan kesucian dan keterpilihan mereka.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam), umat yang adil, agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian.” (OS. Al-Baqarah: 143).

Allah Ta’ala juga berfirman: “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (O.S. Al-Imran: 110).

Allah Ta’ala juga berfirman: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang pada sesama mereka.” (O.S. Al-Fath: 29).

Sedangkan hadits-hadits yang menerangkan keutamaan sahabat sangat banyak, dan kami akan sebut sebagian:

  1. Hadits riwayat Bukhari Muslim dari Abdullah bin Mas’ud &. Rasulullah 4 bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah -generasikurunku, kemudian generasi -kurunsetelahnya.”
  1. Hadits riwayat Tirmizi dan Ibnu Hibban dalam kitab Sahihnya, dari Abdullah bin Mugaffal. Rasulullah bersabda: “Takutlah kepada Allah, sungguh takutlah kepada Allah, hati-hatilah terhadap para sahabatku, jangan jadikan mereka sasaran cacian sepeninggalku. Barang siapa mencintai mereka, maka -karena berarti mencintaikudia mencintai mereka. Dan barang siapa membenci mereka, maka -karena berarti membencikudia membenci mereka. Barang siapa menyakiti mereka, maka sungguh berarti menyakitiku, barang siapa menyakitiku maka sungguh berarti menyakiti Allah, barang siapa menyakiti Allah, maka nyaris Allah akan menyiksanya.”!
  1. Hadits riwayat Bukhari Muslim dari Abu Hurairah dari Rasulullah beliau bersabda, “Jangan kalian mencaci sahabat-sahabatku. Demi Zat yang jiwaku berada pada kekuasaan-Nya, Seandainya salah satu dari kalian mensedekahkan emas sebesar gunung Uhud, tidaklah bisa menyamai satu mud atau setengah dari sedekah mereka.”?
  1. Hadits riwayat Ahmad, Tirmizi, Ibnu Majah dan lainnya dari Bahz bin Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah bersabda, “Kalian melengkapi tujuh puluh umat terdahulu, kalian adalah yang terbaik dan termulia di sisi Allah .”
  1. Hadits riwayat Bazzar dari Jabir, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah memilih sahabatsahabatku mengalahkan orang sealam semesta, selain para Nabi dan Rasul.”?

Orang Pertama yang Masuk Islam dari Kalangan Sahabat

Ulama’ salaf berbeda pendapat tentang sahabat yang pertama kali masuk Islam. Menurut suatu pendapat, Abu Bakar. Menurut suatu pendapat, Ali bin Abi Talib. Menurut suatu pendapat, Zaid bin HariSah. Menurut suatu pendapat, sayyidah Khadijah. Menurut pendapat lain, Bilal, semoga Allah meridhai semua.

Imam Ibnu Salah berkata, “Sikap yang lebih wira’i adalah pernyataan bahwa orang pertama yang masuk Islam dari kalangan lelaki dewasa yang merdeka adalah Abu Bakar: dari kalangan anakanak atau remaja adalah Ali bin Abi Talib: dari kalangan wanita adalah sayyidah Khadijah: dari kalangan budak merdeka adalah Zaid bin Harisah: dan dari kalangan budak adalah Bilal.

Jumlah Sahabat:

Ketahuilah bahwa menghitung jumlah dan bilangan sahabat dengan tepat itu sulit sekali, karena mereka terpencar-pencar di banyak negeri dan perkampungan. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Sahih-nya bahwa Ka’ab bin Malik berkata dalam kisah kealpaannya dari peperangan Tabuk, “Jumlah sahabat Rasulullah  banyak sekali, tidak bisa terangkum dalam suatu daftar.”

Sahabat yang Paling Utama

Al-Hafiz al-’Iraqi berkata dalam Syarah Alfiyah-nya, “Ulama’ Ahlussunnah wal jama’ah bersepakat bahwa paling utamanya sahabat sepeninggal Rasulullah secara mutlak adalah Abu Bakar lalu Umar bin Khattab.” Salah satu dari ulama’ yang mengisahkan kesepakatan tersebut adalah Abul Abbas al-Ourtubi. Dia berkata, “Tidak seorangpun dari ulama’ salaf (pendahulu) maupun khalaf (penerus) yang berselisih dalam hal ini.” Beliau (Al-Ourtubi) melanjutkan, “Dan tidak perlu diperhatikan pendapat-pendapat yang berasal dari kaum Syi’ah dan ahli bid’ah.”

Imam Syafi’i dan yang lainnya sungguh telah menceritakan kesepakatan para sahabat dan tabi’in akan masalah tersebut. Imam Baihagi berkata dalam kitab Al-I’tiqad, “Saya meriwayatkan dari Abi Saur dari Syafi’i, beliau berkata, “Tidak seorang pun dari kalangan sahabat dan tabi’in berselisih dalam hal mengutamakan Abu Bakar dan Umar serta mendahulukan mereka atas seluruh sahabat. Akan halnya perselisihan orang yang berselisih dari para sahabat, itu hanya dalam masalah Ali dan Utsman.” !

Para Pendahulu yang Mula-mula Masuk Islam

Sebagian sahabat yang memiliki keistimewaan dan kelebihan dibanding yang lain adalah Assadbigiin al-Awwalin, orang-orang yang mula-mula masuk Islam dari kalangan sahabat Muhajirin dan Ansar. Terdapat perselisihan tentang siapakah yang dimaksud dengan Assdbigin al-Awwalin itu menjadi empat pendapat. Menurut suatu pendapat: mereka adalah orang-orang yang ikut Bai’ah ar-Ridwin. Menurut suatu pendapat: mereka adalah orangorang yang mengikuti shalat menghadap dua kiblat. Menurut suatu pendapat: mereka adalah Ahli Badr. Menurut pendapat lain: mereka adalah orang-orang yang masuk Islam sebelum Fathu Makkah. 

Sepuluh Orang yang Diberi Kabar Gembira Masuk Surga

Sebagian sahabat lagi yang mempunyai keistimewaan dan kelebihan dibanding yang lain adalah sepuluh orang yang diberi berita gembira masuk surga. Mereka adalah:

  1. Abu Bakar
  2. Umar bin Khattab
  3. Utsman bin “Affan
  4. ‘Ali bin Abi Thalib
  5. “Abdurrahman bin “Auf
  6. Talhah bin “Ubaidillah
  7. Sa’ad bin Abi Waggas
  8. Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail
  9. Abu “Ubaidah bin al-Jarrah
  10. Zubair bin “Awwam

Keistimewaan mereka adalah bahwa “kabar gembira masuk surga” tersebut diberitakan untuk mereka pada satu tempat dan dalam satu hadits.!

Pemberian berita gembira dengan masuk surga juga terjadi kepada sejumlah sahabat Rasulullah  seperti sahabat-sahabat yang ikut perang Badar dan mereka yang ikut menghadiri perjanjian Hudaibiyyah, juga Bilal, “Ukasyah dan lain-lainnya.

Para Mufti dari Kalangan Sahabat

Sebagian sahabat lagi yang memiliki keistimewaan dan kelebihan dibanding lainnya adalah sahabat-sahabat  yang berfatwa.

Abdullah bin Abbas adalah sahabat yang paling banyak berfatwa, hal ini karena dia pernah didoakan oleh Rasulullah dengan sabda beliau, “Wahai Allah, ajarilah dia Al-Gur’an.”

Menurut pendapat yang masyhur, sahabat-sahabat yang paling banyak memberikan fatwa secara mutlak ada tujuh, yaitu:

  1. Abdullah bin Abbas.
  2. Umar bin Khattab.
  3. Putra Umar, Abdullah bin Umar bin Khattab.
  4. “Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq, ummu al-mu’minin.
  5. Abdullah bin Mas’ud.
  6. Zaid bin Sabit, dan
  7. Ali bin Abi Thalib.

Sahabat yang Paling Akhir Wafatnya

Sahabat yang paling akhir wafatnya secara mutlak adalah Abu Tufail Amir bin Wasilah yang meninggal pada tahun 100 Hijriyah di Makkah.

Para Sahabat yang Memperbanyak Meriwayatkan Hadits

Sebagian sahabat lagi yang memiliki keistimewaan dan kelebihan adalah mereka yang memperbanyak meriwayatkan hadits. Mereka ini berjumlah tujuh orang. Mereka memiliki andil yang besar dalam periwayatan hadits Nabawi. Para ulama’ membuat istilah untuk sahabat yang meriwayatkan lebih dari seribu hadits dengan sebutan “Muksir”. Karena istilah inilah, mereka yang berjumlah tujuh tadi disebut al-muksirin. Mereka adalah:

  1. Abu Hurairah.
  2. Abdullah bin Umar.
  3. Anas bin Malik.
  4. Sayyidah “Aisyah.
  5. Abdullah bin Abbas.
  6. Jabir bin Abdillah, dan
  7. Abu Sa’id al-Khudri.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15Laman berikutnya
Show More

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker