Kitab Tauhid

Terjemahan Syarah Lum’atul I’tiqad

Kaum Mukminin Melihat Rabb Mereka di Hari Kiamat

وَالْمُؤْمِنُونَ يَرَوْنَ رَبَّهُمْ بِأَبْصَارِهِمْ وَيَزُورُونَهُ, وَيُكَلِّمُهُمْ, وَيُكَلِّمُونَهُ, قَالَ اَللَّهُ تَعَالَى: {وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ * إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ} [القيامة: 22 – 23]

Kaum mukminin melihat Rabb mereka di akhirat dengan penglihatan mereka dan mereka mengunjunginya. Allah mengajak berbicara mereka dan mereka berbicara kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman, “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” [75:22-23]

وقال تعالى: {كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ} [المطففين: 15]

Dia juga berfirman, “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka.” [83:15]

فَلَمَّا حَجَبَ أُولَئِكَ فِي حَالِ اَلسُّخْطُ, دَلَّ عَلَى أَنَّ اَلْمُؤْمِنِينَ يَرَوْنَهُ فِي حَالِ اَلرِّضَى, وَإِلَّا لَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمَا فَرْقٌ

Tatkala mereka dihijab dalam keadaan dimurkai, menunjukkan bahwa kaum Mukminin melihat-Nya saat keadaan Dia ridha, jika tidak demikian maka tidak ada perbedaan di antara keduanya.

وَقَالَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: «إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا اَلْقَمَرَ لَا تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ» حَدِيثٌ صَحِيحٌ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian melihat Rabb kalian seperti kalian melihat bulan ini tanpa berdesakan dalam melihat-Nya.” Hadits shahih muttafaqun ‘alaih. [HR. Al-Bukhari no. 554 dan Muslim no. 633]

وَهَذَا تَشْبِيهٌ لِلرُّؤْيَةِ, لَا لِلْمَرْئِيّ, فَإِنَّ اَللَّهَ تَعَالَى لَا شَبِيهَ لَهُ, وَلَا نَظِيرَ.

Penyerupaan ini pada cara melihat bukan satu pihak ke pihak lainnya, karena Allah ta’ala tidak ada yang menyerupai-Nya dan tidak ada bandingan-Nya.

Qadha dan Qadar

وَمِنْ صِفَاتِ اَللَّهِ تَعَالَى أَنَّهُ اَلْفَعَّالُ لِمَا يُرِيدُ لَا يَكُونُ شَيْءٌ إِلَّا بِإِرَادَتِهِ, وَلَا يَخْرُجُ شَيْءٌ عَنْ مَشِيئَتِهِ, وَلَيْسَ فِي اَلْعَالَمِ شَيْءٌ يَخْرُجُ عَنْ تَقْدِيرِهِ, وَلَا يَصْدُرُ إِلَّا عَنْ تَدْبِيرِهِ, وَلَا مَحِيدَ عَنْ اَلْقَدَرِ اَلْمَقْدُورِ, وَلَا يَتَجَاوَزُ مَا خُطَّ فِي اَللَّوْحِ اَلْمَسْطُورِ, أَرَادَ مَا اَلْعَالَمُ فَاعِلُوهُ, وَلَوْ عَصَمَهُمْ لَمَا خَالَفُوهُ, وَلَوْ شَاءَ أَنْ يُطِيعُوهُ جَمِيعًا لَأَطَاعُوهُ, خَلَقَ اَلْخَلْقَ وَأَفْعَالَهُمْ, وَقَدَّرَ أَرْزَاقَهُمْ وَآجَالَهُمْ, يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ بِرَحْمَتِهِ, وَيَضِلُّ مَنْ يَشَاءُ بِحِكْمَتِهِ, قَالَ اَللَّهُ تَعَالَى: {لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ} [الأنبياء: 23]

Di antara sifat Allah ta’ala adalah Dia berbuat sesuai kehendak-Nya. Tidak terjadi apapun kecuali dengan kehendak-Nya. Tidak ada di alam sesuatu pun yang keluar dari takdir-Nya. Tidak bersandar kecuali dari pengaturan-Nya. Tidak ada yang meliputi takdir yang ditakdirkan. Tidak ada yang bisa melampaui apa yang tertulis di Lauhul Mahfuzh. Dia menghendaki bukan alam yang melakukannya: seandainya Dia menjaga mereka tentu mereka tidak menyelisihi-Nya, seandainya Dia menghendaki mereka semua mentaati-Nya tentu mereka akan mentaati-Nya. Dia menciptakan makhluk dan perbuatannya. Dia menentukan rezeki mereka dan ajalnya. Dia beri petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya dengan rahmat-Nya dan Dia menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dengan hikmah-Nya. Allah ta’ala berfirman, “Dia tidak ditanya atas perbuatan-Nya tetapi mereka yang akan ditanya.” [21:23]

قال الله تعالى: {إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ} [القمر: 49]

Allah ta’ala juga befirman, “Sesungguhnya Kami Kami ciptakan segala sesuatu dengan takdir-takdirnya.” [49]

وقال تعالى: {وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا} [الفرقان: 2]

Dia ta’ala juga berfirman, “Dan Dia menciptakan segala sesuatu lalu menentukan takdir-takdirnya.” [25:2]

وقال تعالى: {مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا} [الحديد: 22]

Dia ta’ala juga befirman, “Tidak ada musibah apapun di bumi dan tidak pula di diri kalian melainkan (tercatat) di Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” [22]

وقال تعالى: {فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا} [الأنعام: 125]

Dia ta’ala juga berfirman, “Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit.” [6:125]

رَوَى اِبْنُ عُمَرَ أَنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ اَلسَّلَامُ قَالَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: «مَا اَلْإِيمَانُ؟» قَالَ: «أَنْ تُؤْمِنَ بِاَللَّهِ, وَمَلَائِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ اَلْآخِرِ, وَبِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ» فَقَالَ جِبْرِيلُ: «صَدَقْتَ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Ibnu ‘Umar meriwayatkan bahwa Jibril ‘alaihissalam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apa itu iman?” Jawab beliau, “Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, dan takdir yang baik maupun buruk.” Jibril berkata, “Kamu benar.” Diriwayatkan Muslim [no. 8]

وَقَالَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: «آمَنْتُ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ, وَحُلْوِهِ وَمُرِّهِ»

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk dan yang manis maupun yang pahit.” [HR. Ath-Thabrani dalam az-Zawaid lil Haitsami no. 16111]

وَمِنْ دُعَاءِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم اَلَّذِي عَلَّمَهُ اَلْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ يَدْعُو بِهِ فِي قُنُوتِ اَلْوِتْرِ: «وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ»

Di antara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diajarkan kepada al-Hasan bin ‘Ali dalam qunut witir adalah, “Jagalah aku dari keburukan apa yang Engkau takdirkan.” [HR. Abu Dawud no. 1425 dan dishahihkan Syaikh al-Albani]

وَلَا نَجْعَلُ قَضَاءَ اَللَّهِ وَقَدَرَهُ حُجَّةً لَنَا فِي تَرْكِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيه, بَلْ يَجِبُ أَنْ نُؤْمِنَ وَنَعْلَمَ أَنَّ لِلَّهِ عَلَيْنَا اَلْحُجَّةَ بِإِنْزَالِ اَلْكُتُبِ, وَبِعْثَةِ اَلرُّسُلِ. قَالَ اَللَّهُ تَعَالَى: {لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ} [النساء: 165]

Kita tidak menjadikan qadha dan takdir Allah sebagai hujjah kita untuk meninggalkan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Bahkan wajib kita beriman dan yakin bahwa Allah memiliki hujjah atas kita dengan turunnya al-Kitab dan mengutus para rasul. Allah ta’ala berfirman, “Agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.” [4:165]

وَنَعْلَمَ أَنَّ اَللَّهَ سُبْحَانَهُ مَا أَمَرَ وَنَهَى إِلَّا اَلْمُسْتَطِيعَ لِلْفِعْلِ وَالتَّرْكِ, وَأَنَّهُ لَمْ يُجْبِرْ أَحَدًا عَلَى مَعْصِيَةٍ, وَلَا اِضْطَرَّهُ إِلَى تَرْكِ طَاعَةٍ, قَالَ اَللَّهُ تَعَالَى: {لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا} [البقرة: 286]

Kita yakin bahwa Allah subhanahu wa ta’ala tidak memerintah dan melarang melainkan kepada yang mampu berbuat dan meninggalkan. Dia tidak memaksa siapa pun untuk bermaksiat dan tidak memaksanya meninggalkan ketaatan. Allah ta’ala berfirman, “Allah tidak membebani jiwa melainkan sebatas kesanggupannya.” [2:286]

وقال تعالى: {فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ} [التغابن: 16]

Dia ta’ala juga berfirman, “Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” [16]

وقال تعالى: {الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ} [غافر: 17]

Dia ta’ala berfirman, “Pada hari ini setiap jiwa dibalas atas perbuatannya dan tidak tidak ada kezhaliman pada hari ini.” [40:17]

فَدَلَّ عَلَى أَنَّ لِلْعَبْدِ فِعْلاً وَكَسْبًا, يُجْزَى عَلَى حُسْنِهِ بِالثَّوَابِ, وَعَلَى سَيِّئِهِ بِالْعِقَابِ, وَهُوَ وَاقِعٌ بِقَضَاءِ اَللَّهِ وَقَدَرِهُ.

Ini menunjukkan bahwa hamba memiliki perbuatan dan usaha yang kebaikannya dibalas pahala dan keburukannya dibalas siksa, meskipun semua terjadi dengan qadha dan takdir Allah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9Laman berikutnya
Show More

Related Articles

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker