Kitab Tauhid

Terjemahan Syarah Lum’atul I’tiqad

Pendapat Imam Ahmad Tentang Sifat Allah

قَالَ اَلْإِمَامُ أَبُو عَبْدِ اَللَّهِ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ بْنِ حَنْبَلٍ رضي الله عنه فِي قَوْلِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: «إِنَّ اللهَ يَنْزِلُ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا» أو «إِنَّ اللهَ يُرَى فِي الْقِيَامَةِ» وَمَا أَشْبَهَ هَذِهِ اَلْأَحَادِيثِ: نُؤْمِنُ بِهَا, وَنُصَدِّقُ بِهَا, لَا كَيْفَ, وَلَا مَعْنَى, وَلَا نَرُدُّ شَيْئًا مِنْهَا، وَنَعْلَمُ أَنَّ مَا جَاءَ بِهِ اَلرَّسُولُ حَقٌّ, وَلَا نَرُدُّ عَلَى رَسُولِ اَللَّهِ

وَلَا نَصِفُ اَللَّهَ بِأَكْثَرَ مِمَّا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ, بِلَا حَدٍّ وَلَا غَايَةٍ: {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ} [الشورى: 11] وَنَقُولُ كَمَا قَالَ, وَنَصِفُهُ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ, لَا نَتَعَدَّى ذَلِكَ, وَلَا يَبْلُغُهُ وَصْفُ اَلْوَاصِفِينَ

نُؤْمِنُ بِالْقُرْآنِ كُلِّهُ مُحْكَمِهِ وَمُتَشَابِهِهِ، وَلَا نُزِيلُ عَنْهُ صِفَةً مِنْ صِفَاتِهِ لِشَنَاعَةٍ شُنِّعَتْ, وَلَا نَتَعَدَّى اَلْقُرْآنَ وَالْحَدِيثَ, وَلَا نَعْلَمُ كَيْفَ كُنْهُ ذَلِكَ إِلَّا بِتَصْدِيقِ اَلرَّسُولِ صلى الله عليه وسلم وَتَثْبِيتِ اَلْقُرْآنِ

Imam Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal radhiyallahu ‘anhu tentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia,” atau, “Sesungguhnya Allah dilihat di Hari Kiamat,” atau hadits-hadits yang serupa dengannya, “Kami menimaninya, membenarkannya tanpa takyif dan makna (mempertanyakan hakikatnya dan makna), juga kami tidak menolak sedikitpun. Kami meyakini bahwa kabar dari Rasulullah benar dan kami tidak menolak apapun dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kami tidak mensifati Allah melebihi apa yang Dia sifati diri-Nya sendiri tanpa batas dan ujung, ‘Tidak ada yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.’ [QS. Asy-Syura: 11] Kami berucap seperti firman-Nya dan mensifati-Nya seperti sifat yang diberikan-Nya sendiri. Kami tidak melampaui batas akan itu karena orang yang mensifati-Nya tidak akan mampu melampaui-Nya.

Kami beriman kepada al-Quran seluruhnya baik yang muhkam (ayat yang jelas maknanya) dan mutasyabihat (ayat yang tersamar maknanya). Kami tidak menyimpangkan sifat-Nya dengan sifat-sifat yang dibuat-buat. Kami tidak melampaui al-Quran dan hadits. Kami tidak tahu kaifiyatnya (hakikatnya) seperti apa (hakekatnya) melainkan hanya membenarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menetapkan al-Qur`an.”

Pendapat Imam asy-Syafi’i Tentang Sifat Allah

قَالَ اَلْإِمَامُ أَبُو عَبْدِ اَللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ اَلشَّافِعِيُّ رضي الله عنه: آمَنْتُ بِاَللَّهِ وَبِمَا جَاءَ عَنْ اَللَّهِ عَلَى مُرَادِ اَللَّهُ, وَآمَنْتُ بِرَسُولِ اَللَّهِ, وَبِمَا جَاءَ عَنْ رَسُولِ اَللَّهِ, عَلَى مُرَادِ رَسُولِ اَللَّهِ.

Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku beriman kepada Allah dan apa-apa yang datang dari Allah sesuai yang dikehendaki Allah. Aku beriman kepada Rasulullah dan apa-apa yang datang dari Rasulullah sesuai yang dikehendaki Rasulullah.”
[Pendapat Salaf dan Khalaf Tentang Sifat Allah]

وَعَلَى هَذَا دَرَجَ اَلسَّلَفُ, وَأَئِمَّةُ اَلْخَلَفِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمْ كُلُّهُمْ مُتَّفِقُونَ عَلَى اَلْإِقْرَارِ, وَالْإِمْرَارِ، وَالْإِثْبَاتِ لِمَا وَرَدَ مِنْ اَلصِّفَاتِ فِي كِتَابِ اَللَّهِ, وَسُنَّةِ رَسُولِهِ, مِنْ غَيْرِ تَعَرُّضٍ لِتَأْوِيلِهِ، وَقَدْ أُمِرْنَا بِالِاقْتِفَاءِ لِآثَارِهِمْ, وَالِاهْتِدَاءِ بِمَنَارِهِمْ.

وَحُذِّرْنَا اَلْمُحْدَثَاتِ, وَأُخْبِرْنَا أَنَّهَا مِنْ اَلضَّلَالَاتِ, فَقَالَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: «عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ اَلْخُلَفَاءِ اَلرَّاشِدِينَ اَلْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي, عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ, وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اَلْأُمُورِ, فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

Metode ini dipegang oleh Salaf dan para imam Khalaf (generasi setelah Salaf) radhiyallahu ‘anhum. Mereka semua sepakat mengukuhkan, membiarkan, dan menetapkan sifat-sifat yang terdapat di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya tanpa mempertentangkannya dengan takwil. Kita diperintah untuk meneladani (menapaki) jejak-jejak mereka dan mengambil petunjuk dengan cahaya mereka. Kita juga diperingatkan dari perkara baru yang kita diberitahu bahwa itu termasuk kesesatan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaklah kalian mengikuti Sunnahku dan Sunnah Khulafa Rasyidin yang terbimbing. Pegang teguh ia dan gigitlah ia dengan gigi graham. Waspadalah terhadap perkara yang baru karena setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud no. 4607 dan at-Tirmidzi no. 2676. Dishahihkan Syaikh al-Albani)

Pendapat Ibnu Mas’ud dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz Tentang Sifat Allah

وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: اتَّبِعُوا وَلَا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ.

‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ikutilah dan jangan berbuat bid’ah karena kalian sudah dicukupi.”

وَقَالَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَلَامًا مَعْنَاهُ: قِفْ حَيْثُ وَقَفَ الْقَوْمُ، فَإِنَّهُمْ عَنْ عِلْمٍ وَقَفُوا، وَبِبَصَرٍ نَافِذٍ كَفُّوا، وَهُمْ عَلَى كَشْفِهَا كَانُوا أَقْوَى، وَبِالْفَضْلِ لَوْ كَانَ فِيهَا أَحْرَى،

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata secara makna, “Berhentilah di mana kaum (para shahabat) berhenti karena mereka berhenti di atas ilmu, dengan pandangan terang mereka menahan diri. Mereka lebih kuat untuk membuka dan lebih layak dengan keutamaan andai ada di dalamnya.

فَلَئِنْ قُلْتُمْ حَدَثَ بَعْدَهُمْ، فَمَا أَحْدَثَهُ إِلَّا مَنْ خَالَفَ هَدْيَهُمْ، وَرَغِبَ عَنْ سُنَّتِهِمْ، وَلَقَدْ وَصَفُوا مِنْهُ مَا يَشْفِي، وَتَكَلَّمُوا مِنْهُ بِمَا يَكْفِي، فَمَا فَوْقَهُمْ مُحَسِّرٌ، وَمَا دُونَهُمْ مُقَصِّرٌ، لَقَدْ قَصَّرَ عَنْهُمْ قَوْمٌ فَجَفَوْا، وَتَجَاوَزَهُمْ آخَرُونَ فَغَلَوْا، وَإِنَّهُمْ فِيمَا بَيْنَ ذَلِكَ لَعَلَى هُدًى مُسْتَقِيمٍ.

Jika kalian berkata, ‘Telah terjadi perkara baru sepeninggal mereka.’ Tidak ada perkara baru (yang dibuat seseorang) melainkan orang itu menyelisihi petunjuk mereka dan membenci sunnah mereka. Mereka telah mensifati-Nya dengan apa yang memuaskan dan berbicara tentang-Nya dengan apa yang mencukupi. Apa yang di luar itu hanya kerugian dan apa yang di bawah itu hanya kehinaan. Sungguh kaum tersebut berhenti, tetapi orang-orang justru meremehkan atau melampaui batas sehingga mereka ghuluw (berlebihan). Adapun kaum yang berada di antara hal tersebut benar-benar di atas jalan yang lurus.”

Pendapat al-Auzai Tentang Sifat dan Sanggahan al-Adrami Kepada Ahli Bid’ah

وَقَالَ الْإِمَامُ أَبُو عَمْرٍو الْأَوْزَاعِيُّ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ-: عَلَيْكَ بِآثَارِ مَنْ سَلَفَ وَإِنْ رَفَضَكَ النَّاسُ، وَإِيَّاكَ وَآرَاءَ الرِّجَالِ وَإِنْ زَخْرَفُوهُ لَكَ بِالْقَوْلِ.

Imam Abu ‘Umar al-Auzai radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hendaklah kalian mengambil jejak-jejak kamu Salaf meskipun manusia meninggalkanmu. Waspadalah akan pendapat-pendapat (bid’ah) orang-orang meskipun mereka menghiasai ucapannya kepadamu.”

وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَدْرَمِيُّ لِرَجُلٍ تَكَلَّمَ بِبِدْعَةٍ وَدَعَا النَّاسَ إِلَيْهَا: هَلْ عَلِمَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ، أَوْ لَمْ يَعْلَمُوهَا؟ قَالَ: لَمْ يَعْلَمُوهَا. قَالَ: فَشَيْءٌ لَمْ يَعْلَمْهُ هَؤُلَاءِ عَلِمْتَهُ أَنْتَ؟ قَالَ الرَّجُلُ: فَإِنِّي أَقُولُ قَدْ عَلِمُوهَا. قَالَ: أَفَوَسِعَهُمْ أَلَّا يَتَكَلَّمُوا بِهِ، وَلَا يَدْعُوا النَّاسَ إِلَيْهِ أَمْ لَمْ يَسَعْهُمْ؟ قَالَ: بَلَى وَسِعَهُمْ، قَالَ: فَشَيْءٌ وَسِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَخُلَفَاءَهُ، لَا يَسَعُكَ أَنْتَ؟ فَانْقَطَعَ الرَّجُلُ، فَقَالَ الْخَلِيفَةُ وَكَانَ حَاضِرًا: لَا وَسَّعَ اللَّهُ عَلَى مَنْ لَمْ يَسَعْهُ مَا وَسِعَهُمْ.

Muhammad bin ‘Abdurrahman al-Adrami berkata kepada seseorang yang berbicara bid’ah dan mendakwahkannya kepada manusia, “Apakah hal itu diajarkan Rasulullah, Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali? Atau justru mereka tidak mengetahuinya?” Jawabnya, “Mereka tidak mengetahuinya?” Ia berkata, “Mungkinkah ada sesuatu yang tidak mereka ketahui tetapi diketahui olehmu?” Lelaki itu menjawab, “Aku ralat bahwa mereka mengajarkannya.” Al-Adrami berkata, “Apakah mereka mampu membicarakannya tetapi tidak mendakwahkannya kepada manusia? Atau mereka tidak mampu?” Jawabnya, “Bahkan mereka mampu.” Al-Adrami berkata, “Mungkinkah sesuatu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khalifahnya merasa cukup (dengan syariat yang mereka sampaikan) tetapi justru kamu tidak?” Lelaki itu pun terpatahkan. Khalifah yang hadir di sana berkata, “Allah tidak memberi kecukupan (keluasan) kepada orang yang tidak merasa cukup apa yang membuat mereka cukup.”

وَهَكَذَا مَنْ لَمْ يَسَعْهُ مَا وَسِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ، وَالْأَئِمَّةَ مِنْ بَعْدِهِمْ، وَالرَّاسِخِينَ فِي الْعِلْمِ، مِنْ تِلَاوَةِ آيَاتِ الصِّفَاتِ، وَقِرَاءَةِ أَخْبَارِهَا، وَإِمْرَارِهَا كَمَا جَاءَتْ، فَلَا وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ.

Demikianlah barangsiang yang tidak merasa cukup dengan apa yang mencukupi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabatnya, dan tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik, serta para imam sepeninggal mereka dan orang-orang yang dalam keilmuannya dalam membaca ayat-ayat sifat dan membaca kabar-kabar-Nya dan membiarkannya apa adanya, maka Allah tidak akan memberi kecukupan kepadanya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9Laman berikutnya
Show More

Related Articles

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker