Cabang Keempat: Iman Kepada Para Nabi
Iman kepada para Nabi Allah adalah dengan meyakini, bahwa mereka benar dan jujur dalam segala yang disampaikan dari Allah. Sebagian dari mereka ada beberapa orang yang diutus oleh Allah (Rasul) kepada makhluk-Nya untuk menunjukkan, menyempurnakan kehidupan dan masa depan (akhirat) makhluk-Nya. Allah mengukuhkan mereka dengan beberapa mukjizat (suatu keistimewaan yang mengalahkan semua yang dilakukan dan dibuat manusia) yang menjadi tanda-tanda kejujuran mereka. Mereka menyampaikan risalah dari Allah dan menerangkan kepada semua mukalaf (orang dewasa) segala yang diperintahkan Allah.
Cabang Kelima: Iman Kepada Hancurnya Alam
Iman kepada hancurnya alam adalah yakin akan hancurnya alam dunia, baik yang tinggi maupun yang rendah Juga percaya akan terjadinya hari Akhir (kiamat) dan segala yang berkait kepadanya, yaitu balasan amal, perhitungan amal, timbangan amal, jembatan Siratal Mustagim, Surga dan Neraka.
Cabang Keenam: Iman Kepada Kebangkitan Manusia Dari Kematian
Iman ini adalah percaya bahwa Allah akan membangkitkan orang-orang mati, baik mereka dikubur di tanah, tenggelam di laut ataupun mati dalam lainnya. Yang akan dibangkitkan oleh Allah adalah fisik manusia itu sendiri, bukan sesuatu yang diciptakan sama dengan fisik itu. Hal ini sesuai dengan ijma’ (kesepakatan ulama). Allah berfirman:
Artinya “Orang-orang kafir menyangka, bahwa mereka tidak akan dibangkitkan (setelah mati). Katakanlah (wahai Muhammad): “Ya, Demi Allah kamu pasti, akan dibangkitkan (Setelah mati)” (QS. At-Taqhabun: 7)
Cabang Ketujuh: Iman kepada Takdir
Iman kepada takdir (Qadar) adalah dengan meyakini, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan pengetahuan-Nya (ilmu-Nya) sebelum sesuatu itu ada. Semua perbuatan makhluk sudah ditakdirkan oleh Allah. Maka seyogyanya, manusia merelakan segala yang telah menjadi gadha’ (vonis) Allah.
Dikisahkan dari Syaih Afifuddin Azzahid, bahwa saat ia berada di Mesir, datang Informasi kepadanya peristiwa di Baghdad, yaitu serangan orang kafir pada kaum Muslimin. Kota Baghdad hancur, selama tiga setengah tahun vakum (kosong) dari pemimpin. Mereka mengalungkan mushaf Al-Qur’an di leher-leher anjing dan membuang kitab-kitab para Imam di sungai Dajlah untuk dijadikan jembatan tempat kuda-kuda mereka menyeberang. Syaikh Afifuddin tak dapat memercayai peristiwa tragis itu dan berkata: “Ya, Tuhanku, bagaimana ini bisa terjadi. Di antara warga kota Baghdad itu banyak anak-anak yang tak berdosa”, Setelah itu, ia bermimpi melihat seorang lelaki yang membawa sebuah buku. Diambilnya buku. ternyata di dalamnya terdapat dua bait syair:
Artinya: “tinggalkanlah protesmu, apa urusanmu, Tak ada hukum . yang berlaku bagi
semua yang bergerak dicakrawala ini. “Dan janganlah kau tanyakan pada Allah
mengenai tindakan-Nya. Barang siapa menyelam di tengah samudra, maka binasalah
ia.”









One Comment