Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Qomiut Tughyan

Cabang kesembilan: Iman kepada Surga dan Neraka Jahanam

Iman kepada adanya Surga adalah percaya, bahwa surga merupakan tempat yang abadi bagi orang Muslim, yaitu orang yang meninggal dalam keadaan Islam, meskipun pernah menjadi orang kafir.

Yang termasuk Muslim adalah orang Muslim yang berbuat maksiat (selain syirik), tempat kembali dan tempat abadi baginya adalah surga. Maka apabila ia masuk neraka, tidak akan abadi di dalamnya. Bahkan siksa neraka tidak selalu dirasakannya selama berada di dalamnya, karena sejenak setelah masuk ke dalamnya, ia akan mati (masa sejenak, ini hanya Allah yang mengetahui ukurannya). Ia tidak akan hidup lagi sebelum keluar dari neraka. Yang dimaksud mati di sini adalah, bahwa ia tidak merasa-kan pedihnya neraka, karena ia mengalami kematian yang sesungguhnya dengan Iepas nyawa.

Iman kepada Neraka Jahanam adalah percaya, bahwa Jahanam nama bagi beberapa neraka yang ada, adalah tempat yang abadi bagi orang kafir, yaitu orang yang meninggal dalam keadaan kafir, meskipun sepanjang hidupnya sebelum detik kematiannya ia beriman. Yang termasuk kafir adalah orang yang sudah mampu berpikir (balig) kemudian ia tidak mencari kebenaran (iman dan Islam) dan tidak menjalankan taglid (mengikuti orang lain yang beriman tanpa mengetahui dalil- dalilnya) yang wajib baginya. Anak-anak (yang belum balig) dari orang-orang musyrik tidak termasuk kafir, mereka berada di surga menurut pendapat yang sahih. Kriteria kafir dan Muslim ini tidak berbeda bagi manusia dan jin.

Cabang Kesepuluh: Cinta Kepada Allah

Imam Sahal berpendapat, bahwa tanda kecintaan kepada Allah adalah kecintaan kepada Al-Qur’an. Tanda kecintaan kepada Allah dan al-Qur’an adalah kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw, Tanda kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw. adalah kecintaan kepada  sunah (hadis). Tanda kecintaan kepada  sunah adalah kecintaan kepada akhirat. Tanda kecintaan kepada akhirat kebencian kepada dunia. Dan kebencian kepada dunia adalah tidak mengambil (mencari) dunia kecuali hanya untuk bekal dan sarana menuju akhirat.

Imam Hazim Ibnu Alwan, semoga Allah menyucikan jiwanya, berpendapat, bahwa Orang yang mengakui tiga hal tanpa tiga bukti yang lain, maka ia pembohong besar. Barang siapa mengakui cinta kepada Allah tanpa menjauhi larangan-larangan-Nya

maka ia pembohong besar. Barang siapa mengaku cinta kepada Nabi Muhammad Saw. tanpa kecintaan kepada kemiskinan, maka ia pembohong besar. Barang siapa cinta kepada surga tanpa menginfakkan hartanya (bersedekah), maka ia pembohong besar.

Sebagian orang yang makrifat kepada Allah berpendapat. Apabila iman berada di luar hati, maka ia mencintai Allah dengan kecintaan yang biasa-biasa saja. Bila iman sudah masuk ke dasar hati yang paling dalam, maka ia mencintai Allah dengan kecintaan yang sangat dan meninggalkan maksiat-maksiat.

Dengan demikian pengakuan cinta merupakan sesuatu yang amat penting dan rawan. Karenanya, Imam Fudail berkata: “Apabila seseorang ditanya, apakah ia mencintai Allah, sebaiknya ia diam. Bila ia mengatakan “tidak” berarti ia kafir, sedang bila mengatakan “ya”, sementara silat-sifatnya tidak mencerminkan sifat-sifat orang yang mencinta Allah.”

Cabang Kesebelas: Takut Kepada Siksa Allah

Tingkat terendah takut kepada siksa Allah adalah menghindarkan diri dari larangan- larangan Allah, dan sikap yang demikian ini disebut wara’. Bila rasa takut itu lebih besar, maka ia menghindarkan diri dari hal-hal yang belum diyakini haramnya, dan sikap yang demikian ini disebut takwa. Bila sikap tersebut ditambah dengan sepenuh pelayanan atau pengabdian kepada Allah, hingga ia tidak membangun harta tempat bernaung, tidak mengumpulkan harta yang dimakannya, tidak berpaling kepada dunia, meyakini bahwa ia akan meninggalkannya, tidak memanfaatkan setiap hembusan nafasnya untuk selain Allah, maka sikap ini disebut shidqu dan orangnya disebut shiddiq.

Jadi takwa masuk dalam kriteria shidqu. Wara’ masuk dalam kriteria taqwa. Dan iffah masuk dalam kriteria wara”. Demikianlah yang diterangkan oleh Imam Al-Ghazali di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin.

Cabang Kedua belas: Mengharap Rahmat Allah

Allah berfirman:

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kelewat batas atas diri mereka sendiri, Janganlah kalian sekalian putus asa dari ralunat Allah.“ (QS. Az- fumar: 53)

Rasulullah Saw. bersabda:

Artinya: “Orang jahat (maksiat) yang masih mengharap rahmat Allah, lebih dekat kepada Allah daripada orang yang tekun beribadah yang putus asa (dari rahmat Allah).”

Dikisahkan dari Umar, dari Zaid bin Aslam, bahwa ada seseorang lelaki dari umat- umat terdahulu yang sangat tekun beribadah dan sangat mengekang hawa nafsunya serta memupus harapan manusia dari rahmat Allah. Kemudian orang itu meninggal, bertanyalah orang itu kepada Allah: “Wahai Tuhanku, apa (yang akan Kau berikan) untukku dari sisi-Mu?” Allah menjawab: “(Akan Kuberikan) untukmu neraka.” Orang itu bertanya lagi: “Kemanakah gerangan (pahala) ibadah dan ketekunanku?”. Allah menjawab: “Kamu telah memupus manusia dari harapan rahmat-Ku di dunia. Maka sekarang Aku akan memupusmu dari harapan rahmat-Ku.”

Hakikat harapan (pada rahmat Allah) adalah kelapangan hati untuk menanti sesuatu yang disukainya. Tetapi sesuatu yang dinantinya itu tentu saja akan datang dengan suatu sebab. Bila sebab-sebab itu rusak, maka harapan itu berarti tipuan dan membodolkan.

Bila sebab-sebab yang dapat menimbulkan terwujudnya sesuatu yang dinanti itu tidak jelas ada dan tidaknya, maka harapan tersebut disebut tamanni (harapan kosong/angan-angan kosong). Bila ia muncul di dalam hati sesuatu yang ada pada masa lalu maka disebut tadzakkur (ingat). Bila sesuatu yang bergerak dalam hati itu terwujud pada masa sekarang disebut wujdan (mendapatkan), dzauq (merasakan) atau idrak (memperoleh). Bila terbesit dalam hati sesuatu yang akan terjadi dimasa

yang akan datang, maka disebut dengan intidhar (penantian) dan tawaqqu’ (harapan atau kekhawatiran). Bila sesuatu yang dinantikan itu merupakan sesuatu yang tidak disukai atau dibenci yang akan menimbulkan kepedihan hati disebut Khauf (ketakutan) dan isyfaq (kekhawatiran). Bila yang dinantikan itu merupakan sesuatu yang disukai yang akan menimbulkan rasa nyaman di hati disebut raja” (harapan). Demikian diterangkan di dalam kitab Ihya’ Ulumuddin.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker