Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Qomiut Tughyan

Cabang Ketiga Belas: Tawakkal (Pasrah Kepada Allah)

Allah Berfirman:

Artinya: “Maka tawakallah (pasrah kepada Allah) kamu sekalian orang-orang yang

beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)

Tawakkal dibagi menjadi tiga tingkatan:

Pertama, sikap orang tawakal di dalam hak Allah dan kepercayaan pada tanggungan dan pertolongan-Nya sebagaimana sikapnya kepada orang yang dipercaya sebagai wakil.

Kedua, sikap orang yang tawakal kepada Allah sebagaimana sikap anak kecil dalam naungan ibunya. Ia tidak kenal kepada selain Ibunya, tidak kaget atau tertarik kepada seseorang selain ibunya dan tidak bersandar kecuali pada ibunya. Bila ia melihat ibunya, ia akan langsung bergelayut kepadanya. Bila ia mengalami sesuatu ketika ibunya tidak ada, yang serta merta terucap di mulutnya adalah “oh ibu”, dan yang serta merta muncul di dalam hatinya adalah bayangan ibunya. Anak itu betul-betul telah percaya penuh pada tanggung jawab dan kasih sayang ibunya.

Tingkatan ketiga, adalah segala gerak dan diamnya di depan Allah sebagaimana mayat di depan orang yang memandikannya. Ia lak akan meninggalkan tawakal, kecuali ia melihat dirinya sebagai mayat Yang menggerakkannya adalah kemampuan azali (masa yang tak ada permulaannya) sebagaimana tangan orang yang akan memandikan menggerakkannya. Orang yang tawakal seperti ini adalah orang yang

imannya kuat, bahwa Allah Swt. adalah Zat yang mengatur gerakan itu, Tingkatan ketiga ini adalah tingkatan tertinggi dan tingkatan pertama adalah tingkatan terendah.

Cabang Keempat Belas: Cinta Kepada Nabi Muhammad Saw.

Rasulullah Saw. bersabda:

Artinya: “Seseorang di antara kamu sekalian tidak beriman hingga aku lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, hartanya, anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia.”

Yang dimaksud dengan manusia di atas adalah selain yang disebutkan sebelumnya, yaitu kerabat, para kenalan, tetangga, sahabat dan lain-lain.

Cinta kepada Nabi Saw. berarti cinta kepada Allah. Begitu pula cinta kepada Ulama dan Atqiya (orang-orang yang bertakwa), karena Allah Swt. mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah. Kecintaan-kecintaan kepada Nabi, Ulama dan Atqiya itu semua dikembalikan pada kecintaan yang asal yang sebenarnya dan tidak akan beralih kepada yang lain. Kecintaan yang asal itu adalah kecintaan kepada Allah.

Tidak ada yang dicintai secara hakiki bagi orang yang memiliki mata hati kecuali Allah

Swt. Dan tidak ada yang berhak dicintai selain-Nya.

Cabang Kelima Belas: Mengagungkan Derajat Nabi Muhammad Saw.

Mengagungkan Nabi adalah dengan mengetahui keluhuran derajatnya, menjaga adab dan tata krama ketika menyebutnya, mendengar nama dan hadisnya, memperbanyak salawat kepadanya dan sungguh-sungguh dalam mengikuti sunahnya (ajarannya).

Allah berfirman:

Artinya: “Janganlah kamu sekalian memperkeras suaramu di atas suara Nabi.” (QS.

Al-Ilujurat: 2)

Cabang Keenam Belas: Kikir (Jual Mahal) Dengan Memegang teguh Agama Islam

Kikir dalam hal ini seperti sikap seseorang, bahwa kematian dan masuk dalam lautan api lebih menyenangkan baginya daripada terjerumus dalam kekufuran (keluar dari agama Islam) serta mengaku bahwa agamanya (Islam) lebih luhur baginya dibanding semua anak-anak dan hartanya.

Dikisahkan dari Umar bin Abdul Aziz, pada masa kepemimpinannya pernah mengirim sejumlah orang ke negara Romawi untuk berperang. Dalam peperangan Itu mereka kalah dan sepuluh orang di antara mereka ditawan oleh penguasa Romawi,

Kaisar Romawi meminta salah satu dari mereka agar masuk agama kaisar itu dan menyembah berhala. Ia mengatakan: “Bila kamu mau masuk agamaku dan menyembah berhala, maka aku akan mengangkatmu sebagai penguasa di daerah (wilayah) yang luas, aku akan memberimu pangkat yang tinggi, mahkota, bayaran yang banyak. dan trompet (komando perang). Namun bila kamu tidak bersedia. masuk agamaku, maka aku akan membunuhmu, memenggal lehermu dengan pedang.”

Tawanan Itu menjawab: “Aku tidak akan menjual agamaku dengan harta dunia.”

Kaisar itu lalu memerintahkan untuk membunuh tawanan itu. Kemudian ia dibunuh di alun-alun, Kepala tawanan itu menggelinding dan berputar-putar dialun-alun itu sambil membaca ayat:

Artinya: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kamu kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai. Masuklah ke dalam jamaah hamba-Ku dan masuklah ke dalam Surga-Ku. (QS. Al-Fajr: 27-30)

Kaisar itu marah dan mengambil tawanan yang kedua ia berkata: “Masuklah kamu ke dalam agamaku, aku akan menjadikanmu pemimpin di kota anu. Bila kamu menolak, maka akan terpenggal lehermu seperti aku memenggal leher temanmu itu.”

Tawanan itu menjawab: “Aku tidak akan menjual agamaku dengan harta dunia. Bila kamu memiliki kekuasaan untuk memenggal kepala maka kamu tidak memiliki kekuasaan untuk memenggal iman.”

Kaisar  Pun memerintahkan  untuk memenggal  leher tawanan  kedua  itu. Setelah dipenggal, kepalanya menggelinding dan berputar-putar seperti tawanan yang pertama serta membaca ayat:

Artinya: “Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhal, dalam surga yang

tinggi yang buah-buahnya sangat rendah (untuk dipetik). ” (QS. Al-Haqqah: 21-23) Kepala itu berhenti di sebelah kepala yang pertama.

Kaisar menjadi marah besar dan memerintahkan untuk mengambil tawanan yang ketiga. Kaisar itu berkata kepadanya: “Apa yang akan engkau katakan, apakah kamu mau masuk agamaku dan aku akan menjadikanmu pemimpin?” Orang ketiga ini celaka dan berkata: “Aku akan masuk agamamu dan aku pilih harta dunia daripada akhirat.” Mendengar jawaban itu kaisar berkata kepada pembantunya, catat untuknya imbalan dan berikan padanya mahkota, gaji yang banyak serta pangkat yang tinggi. “Pembantu itu menyanggah, Wahai raja, bagaimana aku memberi tanpa mengujinya, katakan kepadanya: “Bila ucapanmu jujur, bunuhlah seorang lelaki dari teman- temanmu. Kami akan mempercayaimu.”

Tawanan yang ketiga yang dilaknat itu kemudian mengambil salah seorang teman dan membunuhnya. Kaisar pun senang dan memerintahkan pembantunya untuk mencatat imbalannya. Tetapi pembantunya menyanggah dan berkata kepada kaisar: “Tidak masuk di akal, bahwa engkau mempercayainya. Orang ini tidak menjaga hak saudaranya sendiri yang dilahirkan dan tumbuh bersamanya. Bagaimana ia bisa menjaga hak kita.”

Kaisar membenarkan pembantunya dan memerintahkan untuk membunuh tawanan malang itu. Dipenggallah kepalanya dan menggelinding berputar-putar di alun-alun tiga kali sambil membaca ayat:

Artinya: “Apakah (kamu hendak mengubah nasib) orang-orang yang telah pasti ketentuan azabnya? Apakah kamu akan menyelamatkan orang-orang yang berada di neraka?” (OS. Az-Zumar: 19)

Kepala itu berhenti di pojok alun-alun dan tidak menyatu dengan dua kepala sebelumnya. Jadilah kepala itu menuju siksa Allah.

Kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal yang terjadi pada orang yang malang itu dan kesesatan.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker