Terjemahankitab.com | Terjemahan Kitab Qomiut Tughyan PENDAHULUAN Segala puji bagi Allah yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan. Salawat dan salam semoga diberikan atas penghulu kita, Nabi Muhammad Saw. yang dikukuhkan oleh Allah dengan beberapa mukjizat, juga diberikan kepada keluarga dan sahabat- sahabat beliau yang banyak berbuat kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. Sesudah itu saya, Muhammad Nawawi bin Umar mengharap ampunan Allah atas dosa-dosa dan pemenuhan Allah pada hajat-hajat saya. Sudah lama saya berpikir untuk mengkaji nazham-nazham (syair-syair) karya syaikh Zainuddin bin Ali bin Ahmad dalam kitabnya yang terkenal, yaitu Syu'abul Iman. Kitab ini merupakan terjemahan bahasa Arab dari kitab yang berjudul sama dalam bahasa Parsi (Iran) karya Sayyid Nuruddin Al-ljiy. Syair-syair itu dirangkai dalam 26 bait dengan bahar (irama) Kamil. Setelah hati saya tergerak saya menulis kitab syarah (penjabaran) atas kitab tersebut. Saya berharap kitab syarah itu bermanfaat untuk saya sendiri dan anak cucu saya yang menginginkan kebahagiaan. Kitab 'syarah ini saya beri nama Qamiuth-Thughyan “'Ala Manzhumati Su'abul Iman. Saya memohon kepada Allah, semoga Dia memberikan manfaat dengan anugerah- Nya pada kitab ini. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu yang dikehendaki-Nya dan Zat paling layak mengabulkan segala permohonan. Perlu saya kemukakan, bahwa Syaikh Zainuddin bin Ali bin Ahmad Asy-Syatii Al- Kusyini Al-fanani Al-Malibari dilahirkan di daerah Kusyin Malabar pada Siang hari Kamis tanggal 12 Sya'ban 812 H. Tetapi sejak usia kanak-kanak ja pindah ke daerah Kanan bersama pamannya, Qodhi Zainuddin bin Ahmad Ia banyak menulis kitab, antara lain Hidayatul Adzkiya, Tuhfatul Ahya dan Irsyadut Yashidin yang merupakan ringkasan kitab Minhajut Abidin karya Imam Al-Ghazali. membenarkan dengan yakin Pokok dasar iman tidak bisa berkurang. Sebab bila pokok dasar iman itu berkurang nilainya, maka akan berubah menjadi keraguan. Padahal iman tidak sah bila disertai dengan keraguan Sesungguhnya perilaku-perilaku yang menjadi cabang iman ada 77 macam sebagaimana sabda Rasulullah Saw.: “Iman itu (cabangnya) ada tujuh puluh lebih. Cabang paling utama الله هلا لا (tiada Tuhan selain Allah) dan yang paling rendah adalah menyingkirkan penghalang yang mengganggu dari jalan umum. Rasa malu merupakan cabang dari aman (TR, Ahli- ahli hadis) Berikut ini akan diterangkan satu persatu 77 cabang iman itu Bila semuanya bisa dijelaskan, maka Allah akan memberikan mahligai iman yang indah Di akhirat nanti Allah tidak akan mengingkari janji-Nya kepada orang-orang .yang beriman dan beramal saleh untuk memberikan surga-Nya yang dipenuhi mahligai-mahligai yang indahnya tak terbayangkan. Cabang Pertama: Iman Kepada Allah Iman kepada Allah, artinya percaya bahwa Allah Swt. Maha Esa, tak ada sekutu bagi- Nya, Maha Tunggal. tak ada yang menyamai-Nya dan menjadi tempat bergantung bagi hamba-Nya, tak ada yang membandinginya. Eksistensi Allah adalah Azali (masa yang tak ada permulaannya), berdiri sendiri, Maha Abadi. Tak ada permulaan bagi wujud-Nya dan tak ada akhir bagi keabadian-Nya. Allah Maha Eksis, waktu tak akan merusak atau mengubah-Nya. karena Allah Maha Awal, Maha Akhir, Maha Jelas, Maha Samar. Allah terlepas dari sifat-sifat fisik dan tak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya. Cabang Kedua: Iman Kepada Malaikat Iman kepada Malaikat adalah membenarkan, bahwa mereka ada. Mereka adalah makhluk dan hamba Allah yang dimuliakan: Mereka tak pernah membantah atau meninggalkan segala yang diperintahkan-Nya. Malaikat adalah makhluk yang memiliki fisik yang lembut dan memiliki roh. Allah memberikan kemampuan kepada mereka untuk menjelmakan diri dengan segala bentuk fisik yang bagus. Cabang Ketiga: Iman Kepada Kitab-kitab Allah Iman kepada Kitab-kitab Allah adalah membenarkan bahwa sesuatu yang diturunkan oleh Allah kepada para Nabi dalam bentuk kitab-kitab adalah wahyu dari Allah. Kitab- kitab itu mengandung beberapa hukum dan warta Allah. Cabang Keempat: Iman Kepada Para Nabi Iman kepada para Nabi Allah adalah dengan meyakini, bahwa mereka benar dan jujur dalam segala yang disampaikan dari Allah. Sebagian dari mereka ada beberapa orang yang diutus oleh Allah (Rasul) kepada makhluk-Nya untuk menunjukkan, menyempurnakan kehidupan dan masa depan (akhirat) makhluk-Nya. Allah mengukuhkan mereka dengan beberapa mukjizat (suatu keistimewaan yang mengalahkan semua yang dilakukan dan dibuat manusia) yang menjadi tanda-tanda kejujuran mereka. Mereka menyampaikan risalah dari Allah dan menerangkan kepada semua mukalaf (orang dewasa) segala yang diperintahkan Allah. Cabang Kelima: Iman Kepada Hancurnya Alam Iman kepada hancurnya alam adalah yakin akan hancurnya alam dunia, baik yang tinggi maupun yang rendah Juga percaya akan terjadinya hari Akhir (kiamat) dan segala yang berkait kepadanya, yaitu balasan amal, perhitungan amal, timbangan amal, jembatan Siratal Mustagim, Surga dan Neraka. Cabang Keenam: Iman Kepada Kebangkitan Manusia Dari Kematian Iman ini adalah percaya bahwa Allah akan membangkitkan orang-orang mati, baik mereka dikubur di tanah, tenggelam di laut ataupun mati dalam lainnya. Yang akan dibangkitkan oleh Allah adalah fisik manusia itu sendiri, bukan sesuatu yang diciptakan sama dengan fisik itu. Hal ini sesuai dengan ijma' (kesepakatan ulama). Allah berfirman: Artinya “Orang-orang kafir menyangka, bahwa mereka tidak akan dibangkitkan (setelah mati). Katakanlah (wahai Muhammad): “Ya, Demi Allah kamu pasti, akan dibangkitkan (Setelah mati)” (QS. At-Taqhabun: 7) Cabang Ketujuh: Iman kepada Takdir Iman kepada takdir (Qadar) adalah dengan meyakini, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan pengetahuan-Nya (ilmu-Nya) sebelum sesuatu itu ada. Semua perbuatan makhluk sudah ditakdirkan oleh Allah. Maka seyogyanya, manusia merelakan segala yang telah menjadi gadha' (vonis) Allah. Dikisahkan dari Syaih Afifuddin Azzahid, bahwa saat ia berada di Mesir, datang Informasi kepadanya peristiwa di Baghdad, yaitu serangan orang kafir pada kaum Muslimin. Kota Baghdad hancur, selama tiga setengah tahun vakum (kosong) dari pemimpin. Mereka mengalungkan mushaf Al-Qur’an di leher-leher anjing dan membuang kitab-kitab para Imam di sungai Dajlah untuk dijadikan jembatan tempat kuda-kuda mereka menyeberang. Syaikh Afifuddin tak dapat memercayai peristiwa tragis itu dan berkata: “Ya, Tuhanku, bagaimana ini bisa terjadi. Di antara warga kota Baghdad itu banyak anak-anak yang tak berdosa”, Setelah itu, ia bermimpi melihat seorang lelaki yang membawa sebuah buku. Diambilnya buku. ternyata di dalamnya terdapat dua bait syair: Artinya: “tinggalkanlah protesmu, apa urusanmu, Tak ada hukum . yang berlaku bagi semua yang bergerak dicakrawala ini. “Dan janganlah kau tanyakan pada Allah mengenai tindakan-Nya. Barang siapa menyelam di tengah samudra, maka binasalah ia.” Cabang Kedelapan: Iman Kepada Hasyr (Dikumpulkannya Makhluk di Mahsyar) Iman kepada hasyr adalah meyakini bahwa semua makhluk setelah dibangkitkan dari kubur dan dikumpulkan akan digiring ke Mahsyar, yaitu suatu tempat berkumpul, berupa padang putih yang. luas, rata dan lurus, tak ada kelokan dan gundukan. Tak ada bukit . yang dapat digunakan manusia untuk bersembunyi atau jurang untuk berlindung dari pandangan mata. Mahsyar adalah satu tanjakan yang membentang, tanpa naik turun. Mereka akan digiring ke sana secara berbondong-bondong. Tingkatan manusia dalam iring-iringan menuju Mahsyar ini berbeda-beda sesuai dengan amal perbuatan mereka di dunia. Ada yang menaiki kendaraan, yaitu orang- orang yang bertakwa. Ada yang jalan dengan kakinya, yaitu orang-orang Islam yang kurang beramal (sedikit amal baiknya). Ada yang berjalan dengan wajahnya (kepalanya) atau jungkir, yaitu orang-orang kafir. Dari tempat berkumpul itu kemudian mereka diarahkan ke surga atau neraka. Setelah itu mereka akan melewati jembatan (Sirat). Dalam hal ini umat Muhammad terbagi menjadi tujuh macam golongan, yaitu: 1. Shiddiquun ( قيدصلا ) yaitu orang-orang yang suka pada kebenaran atau sangat Membenarkan ajaran Nabi. Mereka berjalan melintasi Sirat dengan kecepatan tinggi bagaikan petir yang menyambar. 2, 'Alimun ( نولاعلا ), yaitu orang-orang yang alim. Mereka berjalan melintasi Shiraf bagaikan angin yang bertiup kencang. 3. Budala'( ءلادبلا ), yaitu para wali Abdal (mulya). Mereka berjalan melintasi Sirat bagaikan burung yang terbang dalam waktu yang singkat. 4. Syuhada ( ءادهشلا ), yaitu orang-orang yang mati syahid. Mereka berjalan melintasi Sirat bagaikan kuda balap dalam waktu setengah hari. 5. Hujjaj ( جاجحلا ), yaitu orang-orang yang telah menunaikan ibadah haji dengan baik. Mereka berjalan melintasi Sirat dalam waktu sehari penuh. 6. Muthi 'uun ( نوعيطملا ), yaitu orang-orang yang taat beribadah kepada Allah. Mereka berjalan melintasi Sirat dalam waktu sebulan. - 7. 'Ashun ( نوصاعلا ), yaitu orang-orang yang durhaka (berbuat maksiat), tetapi masih memiliki iman. Mereka meletakkan telapak kaki pada Sirat, sementara dosa-dosanya ada di punggung mereka. Ketika mereka berjalan melintasinya, api neraka Jahanam akan menjilat mereka. Tetapi saat itu api Jahanam melihat sinar iman di dalam hati mereka, maka berkatalah ia: “Selamatlah kau wahai orang yang beriman. Sesungguhnya sinarmu memadamkan baraku.” Keterangan ini sebagaimana dikemukakan oleh Imam Muhammad Al-Hamdani. Di padang Mahsyar semua, makhluk merasa malu ketika dihadapkan kepada Tuhan Yang Maha Perkasa. Masing-masing sibuk dengan dirinya sendiri, bertebaran bagaikan laron. Teman-teman dekat bertemu, saling melihat dan saling mengenal, tetapi mereka tidak saling menyapa. Mereka dalam keadaan telanjang kaki, telanjang bulat dan berjalan kaki. Rasulullah Saw, bersabda: Artinya: “Manusia dibangkitkan dalam keadaan telanjang kaki, telanjang bulat dan belum dikhitan. Mereka akan dikendalikan oleh keringat yang mencapai daun telinga." Cabang kesembilan: Iman kepada Surga dan Neraka Jahanam Iman kepada adanya Surga adalah percaya, bahwa surga merupakan tempat yang abadi bagi orang Muslim, yaitu orang yang meninggal dalam keadaan Islam, meskipun pernah menjadi orang kafir. Yang termasuk Muslim adalah orang Muslim yang berbuat maksiat (selain syirik), tempat kembali dan tempat abadi baginya adalah surga. Maka apabila ia masuk neraka, tidak akan abadi di dalamnya. Bahkan siksa neraka tidak selalu dirasakannya selama berada di dalamnya, karena sejenak setelah masuk ke dalamnya, ia akan mati (masa sejenak, ini hanya Allah yang mengetahui ukurannya). Ia tidak akan hidup lagi sebelum keluar dari neraka. Yang dimaksud mati di sini adalah, bahwa ia tidak merasa-kan pedihnya neraka, karena ia mengalami kematian yang sesungguhnya dengan Iepas nyawa. Iman kepada Neraka Jahanam adalah percaya, bahwa Jahanam nama bagi beberapa neraka yang ada, adalah tempat yang abadi bagi orang kafir, yaitu orang yang meninggal dalam keadaan kafir, meskipun sepanjang hidupnya sebelum detik kematiannya ia beriman. Yang termasuk kafir adalah orang yang sudah mampu berpikir (balig) kemudian ia tidak mencari kebenaran (iman dan Islam) dan tidak menjalankan taglid (mengikuti orang lain yang beriman tanpa mengetahui dalil- dalilnya) yang wajib baginya. Anak-anak (yang belum balig) dari orang-orang musyrik tidak termasuk kafir, mereka berada di surga menurut pendapat yang sahih. Kriteria kafir dan Muslim ini tidak berbeda bagi manusia dan jin. Cabang Kesepuluh: Cinta Kepada Allah Imam Sahal berpendapat, bahwa tanda kecintaan kepada Allah adalah kecintaan kepada Al-Qur’an. Tanda kecintaan kepada Allah dan al-Qur'an adalah kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw, Tanda kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw. adalah kecintaan kepada sunah (hadis). Tanda kecintaan kepada sunah adalah kecintaan kepada akhirat. Tanda kecintaan kepada akhirat kebencian kepada dunia. Dan kebencian kepada dunia adalah tidak mengambil (mencari) dunia kecuali hanya untuk bekal dan sarana menuju akhirat. Imam Hazim Ibnu Alwan, semoga Allah menyucikan jiwanya, berpendapat, bahwa Orang yang mengakui tiga hal tanpa tiga bukti yang lain, maka ia pembohong besar. Barang siapa mengakui cinta kepada Allah tanpa menjauhi larangan-larangan-Nya maka ia pembohong besar. Barang siapa mengaku cinta kepada Nabi Muhammad Saw. tanpa kecintaan kepada kemiskinan, maka ia pembohong besar. Barang siapa cinta kepada surga tanpa menginfakkan hartanya (bersedekah), maka ia pembohong besar. Sebagian orang yang makrifat kepada Allah berpendapat. Apabila iman berada di luar hati, maka ia mencintai Allah dengan kecintaan yang biasa-biasa saja. Bila iman sudah masuk ke dasar hati yang paling dalam, maka ia mencintai Allah dengan kecintaan yang sangat dan meninggalkan maksiat-maksiat. Dengan demikian pengakuan cinta merupakan sesuatu yang amat penting dan rawan. Karenanya, Imam Fudail berkata: “Apabila seseorang ditanya, apakah ia mencintai Allah, sebaiknya ia diam. Bila ia mengatakan “tidak” berarti ia kafir, sedang bila mengatakan "ya", sementara silat-sifatnya tidak mencerminkan sifat-sifat orang yang mencinta Allah.” Cabang Kesebelas: Takut Kepada Siksa Allah Tingkat terendah takut kepada siksa Allah adalah menghindarkan diri dari larangan- larangan Allah, dan sikap yang demikian ini disebut wara'. Bila rasa takut itu lebih besar, maka ia menghindarkan diri dari hal-hal yang belum diyakini haramnya, dan sikap yang demikian ini disebut takwa. Bila sikap tersebut ditambah dengan sepenuh pelayanan atau pengabdian kepada Allah, hingga ia tidak membangun harta tempat bernaung, tidak mengumpulkan harta yang dimakannya, tidak berpaling kepada dunia, meyakini bahwa ia akan meninggalkannya, tidak memanfaatkan setiap hembusan nafasnya untuk selain Allah, maka sikap ini disebut shidqu dan orangnya disebut shiddiq. Jadi takwa masuk dalam kriteria shidqu. Wara' masuk dalam kriteria taqwa. Dan iffah masuk dalam kriteria wara". Demikianlah yang diterangkan oleh Imam Al-Ghazali di dalam kitab Ihya' Ulumuddin. Cabang Kedua belas: Mengharap Rahmat Allah Allah berfirman: Artinya: “Katakanlah (Muhammad), wahai orang-orang yang kelewat batas atas diri mereka sendiri, Janganlah kalian sekalian putus asa dari ralunat Allah.“ (QS. Az- fumar: 53) Rasulullah Saw. bersabda: Artinya: "Orang jahat (maksiat) yang masih mengharap rahmat Allah, lebih dekat kepada Allah daripada orang yang tekun beribadah yang putus asa (dari rahmat Allah)." Dikisahkan dari Umar, dari Zaid bin Aslam, bahwa ada seseorang lelaki dari umat- umat terdahulu yang sangat tekun beribadah dan sangat mengekang hawa nafsunya serta memupus harapan manusia dari rahmat Allah. Kemudian orang itu meninggal, bertanyalah orang itu kepada Allah: “Wahai Tuhanku, apa (yang akan Kau berikan) untukku dari sisi-Mu?” Allah menjawab: “(Akan Kuberikan) untukmu neraka.” Orang itu bertanya lagi: “Kemanakah gerangan (pahala) ibadah dan ketekunanku?”. Allah menjawab: “Kamu telah memupus manusia dari harapan rahmat-Ku di dunia. Maka sekarang Aku akan memupusmu dari harapan rahmat-Ku.” Hakikat harapan (pada rahmat Allah) adalah kelapangan hati untuk menanti sesuatu yang disukainya. Tetapi sesuatu yang dinantinya itu tentu saja akan datang dengan suatu sebab. Bila sebab-sebab itu rusak, maka harapan itu berarti tipuan dan membodolkan. Bila sebab-sebab yang dapat menimbulkan terwujudnya sesuatu yang dinanti itu tidak jelas ada dan tidaknya, maka harapan tersebut disebut tamanni (harapan kosong/angan-angan kosong). Bila ia muncul di dalam hati sesuatu yang ada pada masa lalu maka disebut tadzakkur (ingat). Bila sesuatu yang bergerak dalam hati itu terwujud pada masa sekarang disebut wujdan (mendapatkan), dzauq (merasakan) atau idrak (memperoleh). Bila terbesit dalam hati sesuatu yang akan terjadi dimasa yang akan datang, maka disebut dengan intidhar (penantian) dan tawaqqu' (harapan atau kekhawatiran). Bila sesuatu yang dinantikan itu merupakan sesuatu yang tidak disukai atau dibenci yang akan menimbulkan kepedihan hati disebut Khauf (ketakutan) dan isyfaq (kekhawatiran). Bila yang dinantikan itu merupakan sesuatu yang disukai yang akan menimbulkan rasa nyaman di hati disebut raja” (harapan). Demikian diterangkan di dalam kitab Ihya' Ulumuddin. Cabang Ketiga Belas: Tawakkal (Pasrah Kepada Allah) Allah Berfirman: Artinya: “Maka tawakallah (pasrah kepada Allah) kamu sekalian orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23) Tawakkal dibagi menjadi tiga tingkatan: Pertama, sikap orang tawakal di dalam hak Allah dan kepercayaan pada tanggungan dan pertolongan-Nya sebagaimana sikapnya kepada orang yang dipercaya sebagai wakil. Kedua, sikap orang yang tawakal kepada Allah sebagaimana sikap anak kecil dalam naungan ibunya. Ia tidak kenal kepada selain Ibunya, tidak kaget atau tertarik kepada seseorang selain ibunya dan tidak bersandar kecuali pada ibunya. Bila ia melihat ibunya, ia akan langsung bergelayut kepadanya. Bila ia mengalami sesuatu ketika ibunya tidak ada, yang serta merta terucap di mulutnya adalah “oh ibu”, dan yang serta merta muncul di dalam hatinya adalah bayangan ibunya. Anak itu betul-betul telah percaya penuh pada tanggung jawab dan kasih sayang ibunya. Tingkatan ketiga, adalah segala gerak dan diamnya di depan Allah sebagaimana mayat di depan orang yang memandikannya. Ia lak akan meninggalkan tawakal, kecuali ia melihat dirinya sebagai mayat Yang menggerakkannya adalah kemampuan azali (masa yang tak ada permulaannya) sebagaimana tangan orang yang akan memandikan menggerakkannya. Orang yang tawakal seperti ini adalah orang yang imannya kuat, bahwa Allah Swt. adalah Zat yang mengatur gerakan itu, Tingkatan ketiga ini adalah tingkatan tertinggi dan tingkatan pertama adalah tingkatan terendah. Cabang Keempat Belas: Cinta Kepada Nabi Muhammad Saw. Rasulullah Saw. bersabda: Artinya: “Seseorang di antara kamu sekalian tidak beriman hingga aku lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, hartanya, anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia.” Yang dimaksud dengan manusia di atas adalah selain yang disebutkan sebelumnya, yaitu kerabat, para kenalan, tetangga, sahabat dan lain-lain. Cinta kepada Nabi Saw. berarti cinta kepada Allah. Begitu pula cinta kepada Ulama dan Atqiya (orang-orang yang bertakwa), karena Allah Swt. mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah. Kecintaan-kecintaan kepada Nabi, Ulama dan Atqiya itu semua dikembalikan pada kecintaan yang asal yang sebenarnya dan tidak akan beralih kepada yang lain. Kecintaan yang asal itu adalah kecintaan kepada Allah. Tidak ada yang dicintai secara hakiki bagi orang yang memiliki mata hati kecuali Allah Swt. Dan tidak ada yang berhak dicintai selain-Nya. Cabang Kelima Belas: Mengagungkan Derajat Nabi Muhammad Saw. Mengagungkan Nabi adalah dengan mengetahui keluhuran derajatnya, menjaga adab dan tata krama ketika menyebutnya, mendengar nama dan hadisnya, memperbanyak salawat kepadanya dan sungguh-sungguh dalam mengikuti sunahnya (ajarannya). Allah berfirman: Artinya: “Janganlah kamu sekalian memperkeras suaramu di atas suara Nabi.” (QS. Al-Ilujurat: 2) Cabang Keenam Belas: Kikir (Jual Mahal) Dengan Memegang teguh Agama Islam Kikir dalam hal ini seperti sikap seseorang, bahwa kematian dan masuk dalam lautan api lebih menyenangkan baginya daripada terjerumus dalam kekufuran (keluar dari agama Islam) serta mengaku bahwa agamanya (Islam) lebih luhur baginya dibanding semua anak-anak dan hartanya. Dikisahkan dari Umar bin Abdul Aziz, pada masa kepemimpinannya pernah mengirim sejumlah orang ke negara Romawi untuk berperang. Dalam peperangan Itu mereka kalah dan sepuluh orang di antara mereka ditawan oleh penguasa Romawi, Kaisar Romawi meminta salah satu dari mereka agar masuk agama kaisar itu dan menyembah berhala. Ia mengatakan: “Bila kamu mau masuk agamaku dan menyembah berhala, maka aku akan mengangkatmu sebagai penguasa di daerah (wilayah) yang luas, aku akan memberimu pangkat yang tinggi, mahkota, bayaran yang banyak. dan trompet (komando perang). Namun bila kamu tidak bersedia. masuk agamaku, maka aku akan membunuhmu, memenggal lehermu dengan pedang.” Tawanan Itu menjawab: “Aku tidak akan menjual agamaku dengan harta dunia.” Kaisar itu lalu memerintahkan untuk membunuh tawanan itu. Kemudian ia dibunuh di alun-alun, Kepala tawanan itu menggelinding dan berputar-putar dialun-alun itu sambil membaca ayat: Artinya: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kamu kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai. Masuklah ke dalam jamaah hamba-Ku dan masuklah ke dalam Surga-Ku. (QS. Al-Fajr: 27-30) Kaisar itu marah dan mengambil tawanan yang kedua ia berkata: “Masuklah kamu ke dalam agamaku, aku akan menjadikanmu pemimpin di kota anu. Bila kamu menolak, maka akan terpenggal lehermu seperti aku memenggal leher temanmu itu.” Tawanan itu menjawab: “Aku tidak akan menjual agamaku dengan harta dunia. Bila kamu memiliki kekuasaan untuk memenggal kepala maka kamu tidak memiliki kekuasaan untuk memenggal iman.” Kaisar Pun memerintahkan untuk memenggal leher tawanan kedua itu. Setelah dipenggal, kepalanya menggelinding dan berputar-putar seperti tawanan yang pertama serta membaca ayat: Artinya: “Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhal, dalam surga yang tinggi yang buah-buahnya sangat rendah (untuk dipetik). " (QS. Al-Haqqah: 21-23) Kepala itu berhenti di sebelah kepala yang pertama. Kaisar menjadi marah besar dan memerintahkan untuk mengambil tawanan yang ketiga. Kaisar itu berkata kepadanya: “Apa yang akan engkau katakan, apakah kamu mau masuk agamaku dan aku akan menjadikanmu pemimpin?” Orang ketiga ini celaka dan berkata: “Aku akan masuk agamamu dan aku pilih harta dunia daripada akhirat.” Mendengar jawaban itu kaisar berkata kepada pembantunya, catat untuknya imbalan dan berikan padanya mahkota, gaji yang banyak serta pangkat yang tinggi. “Pembantu itu menyanggah, Wahai raja, bagaimana aku memberi tanpa mengujinya, katakan kepadanya: “Bila ucapanmu jujur, bunuhlah seorang lelaki dari teman- temanmu. Kami akan mempercayaimu.” Tawanan yang ketiga yang dilaknat itu kemudian mengambil salah seorang teman dan membunuhnya. Kaisar pun senang dan memerintahkan pembantunya untuk mencatat imbalannya. Tetapi pembantunya menyanggah dan berkata kepada kaisar: “Tidak masuk di akal, bahwa engkau mempercayainya. Orang ini tidak menjaga hak saudaranya sendiri yang dilahirkan dan tumbuh bersamanya. Bagaimana ia bisa menjaga hak kita.” Kaisar membenarkan pembantunya dan memerintahkan untuk membunuh tawanan malang itu. Dipenggallah kepalanya dan menggelinding berputar-putar di alun-alun tiga kali sambil membaca ayat: Artinya: "Apakah (kamu hendak mengubah nasib) orang-orang yang telah pasti ketentuan azabnya? Apakah kamu akan menyelamatkan orang-orang yang berada di neraka?” (OS. Az-Zumar: 19) Kepala itu berhenti di pojok alun-alun dan tidak menyatu dengan dua kepala sebelumnya. Jadilah kepala itu menuju siksa Allah. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari hal yang terjadi pada orang yang malang itu dan kesesatan. Cabang Ketujuh Belas: Mencari Ilmu Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, ia berkata, bahwa Rasulullah bersabda: Artinya: . “Barang siapa mempelajari satu bab ilmu yang berguna bagi masalah akhirat dan masalah dunianya, maka satu bab ilmu itu lebih baik daripada umur dunia selama tujuh ribu tahun di mana ia berpuasa pada siang hari dan mendirikan ibadah di malam hari dengan ibadah yang diterima.” Diriwayatkan dari Mu'adz bin Jabbal, ia berkata, bahwa Rasulullah Saw. bersabda: Artinya: “Pelajarilah ilmu, karena mempelajari ilmu karena Allah itu amal baik, mengulangi pelajaran adalah tasbih (menyucikan Allah), membahas ilmu adalah jihad (perjuangan), mencarimu adalah ibadah, mengajarkan ilmu adalah sedekah, menyerahkan ilmu kepada ahlinya adalah gurbah (adah sunat). Berpikir tentang ilmu sebanding dengan ibadah puasa dan membahas ilmu sebanding dengan ibadah pada malam hari.” Rasulullah juga bersabda: Artinya: “Carilah Ilmu, meskipun antara kamu dan ilmu itu terbentang lautan api." Rasulullah bersabda lagi: Artinya: “Carilah ilmu sejak kamu masih ada di ayunan (bayi) hingga kamu ke liang lahat (mati).” Maksudnya menuntut ilmu wajib di segala waktu dan keadaan Seorang Ulama salaf (kuno) mengatakan: “Ilmu itu ada empat, yaitu Fiqh untuk urusan agama, kedokteran untuk urusan badan, astronomi untuk urusan perputaran waktu (zaman) dan ilmu Nahwu untuk urusan lisan (bahasa).” Cara mendapatkan ilmu itu ada dua macam, yaitu kasby dan sama 'iy. Ilmu kasby adalah ilmu yang dicapai dengan ketekunan belajar dan membaca di depan guru. Sedang ilmu sama 'iy adalah ilmu yang dicapai dengan cara mendengarkan uraian para ulama mengenai masalah-masalah agama maupun dunia, Dan ini tidak akan tercapai tanpa adanya kecintaan kepada ulama, bergaul dengan mereka, berkumpul dengan mereka dan bertanya kepada mereka. Untuk mendapatkan ilmu, Seorang pelajar, santri atau mahasiswa harus berniat mencari ridha Allah, tempat yang baik di akhirat, menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri dan dari orang-orang bodoh yang lain, menghidupkan agama dan menegakkan Islam dengan ilmu. la juga wajib berniat mensyukuri nikmat, karunia, akal dan kesehatan badan, Ia tidak boleh berniat mendapat perhatian dari manusia, mencari harta dunia, kehormatan di mata penguasa dan lain sebagainya. Cabang Kedelapan Belas: Menyebarluaskan Ilmu Syariat Sabda Nabi Saw: Artinya: “Sebaiknya orang yang hadir di sini menyampaikan kepada orang yang tidak hadir. Maksudnya, wajib bagi orang yang mendengarkan ucapanku untuk menyampaikannya kepada “orang yang tidak mendengarkannya.” Hadis ini merupakan khotbah atau petuah untuk para sahabat dan orang-orang sesudah mereka hingga hari kiamat. Maka menyampaikan ilmu merupakan kewajiban bagi orang yang memilikinya. Setiap orang yang mempelajari suatu masalah, berarti ia memiliki ilmu tentang masalah itu, seperti orang awam yang mengetahui syarat- syarat salat, ia wajib memberitahukan kepada orang lain yang belum mengetahuinya. Bila ia tidak melakukannya, (di mana orang lain itu berdosa karena tidak dapat memenuhi syarat-syarat salat karena ketidaktahuannya), ia pun berdosa karenanya. Di setiap mesjid dan di setiap daerah dari suatu negara harus ada seorang ahli Fiqh yang mengajarkan ilmunya kepada masyarakat kita membuat mereka memahaminya. Setiap ahli Fiqh yang telah selesai menjalankan kewajiban individualnya (fardu ain) wajib secara kolektif (fardu kifayah) untuk pergi ke desa atau daerah lain yang terdekat untuk mengajarkan kepada masyarakat daerah itu mengenai ajaran agama mereka dan kewajiban-kewajiban syariat mereka. Ia harus membawa bekal makanan sendiri dan tidak boleh meminta makanan dari mereka. Bila kewajiban kolektif (fardu kifayah) itu sudah dijalankan oleh seorang saja, maka dosanya sudah gugur dari yang lain. Tetapi bila tidak ada seorang pun yang menjalankan kewajiban individualnya (Fardu ain) wajib secara kolektif (fardu kifayah) untuk pergi ke desa atau daerah lain yang terdekat untuk mengajarkan kepada masyarakat daerah itu mengenai ajaran agama mereka dan kewajiban-kewajiban syariat mereka. Ia harus membawa bekal makanan sendiri dan tidak boleh meminta makanan dari mereka. Bila kewajiban kolektif (fardu kifayah) itu sudah dijalankan oleh seorang saja, maka dosanya sudah gugur dari yang lain. Tetapi bila tidak ada seorang pun yang menjalankannya, maka dosanya ditimpakan kepada semua orang, baik yang berilmu maupun yang bodoh. Adapun dosa bagi orang yang berilmu itu dikarenakan keengganannya pergi ke tempat atau daerah itu. sedangkan dosa bagi orang yang bodoh dikarenakan keengganannya untuk mempelajari ilmu syariat atau berguru kepada orang yang berilmu, Demikian Imam Ahmad Suhaimi mengutip pendapat Imam Al-Ghazali. Ketahuilah, bahwasanya orang yang 'alim (berilmu) akhirat itu mempunyai tanda- tanda, yaitu: 1. Ia mencari rezeki dunia dengan ilmu yang dimilikinya. 2. la menyibukkan diri dengan ilmunya dengan tujuan mendapatkan kebahagian akhirat. Dengan demikian ia lebih mementingkan ilmu batin (tasawuf, akhlak, akidah) untuk menyiasati hatinya sendiri 3. Ia berpegang teguh dengan ilmunya untuk mengikuti orang yang memiliki ilmu syariat dalam segala ucapan dan tindakannya. Tanda-tanda orang yang mencari ilmu bukan untuk tujuan duniawi ada lima, yaitu: 1. Ucapannya sesuai dengan perbuatannya. Maka ta akan menjadi pelopor untuk menjalankan perintah-perintah agama dan meninggalkan larangan-larangannya. 2. Ia berupaya mendapatkan ilmu secara optimal sesuai dengan kemampuannya, senang menjalankan ketaatan kepada Allah, dan menghindari ilmu yang lebih banyak menuntut perdebatan. 3. Ia menghindari kemewahan dalam hal makanan, rumah tempat tinggal, perabot rumah tangga dan pakaian. 4. Ia menahan diri dari kedekatan dengan penguasa kecuali untuk memberikan nasehat, mencegah kesewenang-wenangan atau menolongnya dalam mencapai ridha Allah Swt. 5. Ia tidak segera memberikan fatwa, tetapi berhati-hati dan menyarankan kepada orang lai untuk bertanya kepada orang yang lebih ahli dalam berfatwa. Ia juga tidak melakukan ijtihad, kecuali ijtihad itu fardu 'ain (kewajiban individual) baginya. Tetapi ia mengatakan tidak tahu, bila ijtihad itu sulit baginya. Cabang Kesembilan Belas: Mengagungkan Dan Memuliakan Al-Qur’an Mengagungkan dan memuliakan Al-Qur’an dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain: 1. Membacanya dalam keadaan suci, baik dari najis maupun hadas. 2.Tidak menyentuhnya, kecuali dalam keadaan suci. 3. Menyikat dan membersihkan gigi serta mulut ketika akan membacanya. 4. Membacanya dengan duduk dalam sikap sempurna bila dibaca di luar salat. Tidak duduk dalam sikap malas atau sembarangan. 5. Memakai pakaian yang rapi, karena membacanya berarti berbisik kepada Allah. 6. Menghadap kiblat. 7. Berkumur setiap kali di mulutnya ada dahak atau mendehan. 8. Menghentikan bacaannya setiap kali menguap. 9. Membacanya dengan pelan dan tartil. 10. Memberikan hak setiap huruf , yaitu dengan membacanya, jangan sampai ada huruf yang terlewatkan. 11. Tidak membiarkannya terbuka ketika meletakkannya sesudah 12. Selesai membaca. Tidak meletakkan sesuatu pun di atasnya, termasuk kitab-kitab lain. 13. Meletakkannya di atas pangkuan atau di tempat lain, seperti meja yang ada di depan orang yang membacanya. Tidak meletakkan di tanah atau di lantai. 14. Bila ayat Al-Qur’an ditulis di papan, maka tulisan itu tidak boleh dihapus dengan air ludah, tetapi dicuci dengan air. 15. Tidak meraihnya bila tangannya basah atau menjadikan sebagai penyangga kitab- kitab lain. Karena tindakan itu merupakan suatu pembangkangan yang besar. 16. Tidak membacanya di pasar, tempat-tempat ramai, tempat-tempat hiburan dan tempat berkumpulnya orang-orang bodoh yang tidak mengerti keagungan Al-Qur’an. 17. Bila tulisan ayat-ayat Al-Qur’an dicelupkan pada air yang digunakan untuk mengobati suatu penyakit, maka air itu tidak dibuang di tempat sampah, tempat yang najis dan tempat yang diinjak-injak. Tetapi air itu harus dibuang di tempat yang tidak diinjak-injak orang, tempat galian yang suci atau dibuang di sungai yang besar di mana air itu bercampur dengan air sungai dan mengalir. 18, Setiap kali akan menulis ayat Al-Qur’an atau meminum air yang telah dicelup tulisan ayat-ayatnya, sebaiknya membaca basmalah pada setiap nafas atau tegukan. 19. Mengagungkan niat pada saat akan menulis atau minum Karena Allah akan memberi pahala kepada seseorang sesuai dengan niatnya. Cabang Kedua Puluh: Bersuci Allah Swt. berfirman: Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu sekalian, akan mendirikan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu hingga siku dan usaplah kepalamu dan basuhlah kakimu hingga kedua mata kaki. Bila kamu dalam keadaan junub (berhadas besar), maka bersucilah. Bila kamu sakit, bepergian, buang air atau menyentuh wanita dan kamu tidak menemukan untuk bersuci, maka bertayamumlah dengan debu yang suci. Kemudian usaplah wajahmu dan tanganmu dengan debu tersebut.” (QS. Al- Maidah: 6) Rasulullah Saw. bersabda: Artinya: "Bersuci adalah sebagian dari Iman," Imam Suhaimi berpendapat, batalnya wudu lahir dan batin adalah setengah dari iman bila dilihat dari segi pahalanya. Imam Hatim menyarankan kepada Imam Aslum ibnu Yusuf bila telah tiba Waktu salat agar berwudu dengan dua wudu, yaitu wudu lahir dan Wudu batin. Wudu lahir adalah wudu yang telah kita ketahui itu, Adapun wudu batin adalah bertobat, menyesali dosa, tidak mendendam, menipu, ragu-ragu, sombong dan tidak mencintai urusan duniawi, sanjungan makhluk dan tidak mencintai kekuasaan. Bersuci dapat melindungi seseorang dari bahaya, sebagaimana kata Umar bin Khatthab ra.: Artinya: “Wudu yang baik dapat menghindarkan dari setan." Selengkapnya baca versi PDF dibawah ini:
One Comment