Syaikh Imam Asy-Sya’roni berkata dalam kitab al-Uhud al-Muhammadiyyah: “Nabi saw. mengambil janyi kepada kita secara umum, Yaitu bahwa kita mau menjelaskan kepada orang-orang yang tidak shalat dari kalangan petani, orang awam dan orang bodoh lainnya. Bahwa kita menjelaskan hadits atau ayat yang berisi fadlilah shalat lima waktu dan fadlilah orang yang mengerjakannya dengan jama’ah. Penjelasan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, seperti Allah dan Nabi saw. bersungguhsungguh menjelaskannya.
Lazimnya kaum sufi dan para santri saat ini tidak mengindahkan perintah di atas. Mereka mau berbaur dengan orang yang tidak shalat, baik itu anak, pembantu, kawan maupun lainnya. Mereka mau makan bersamanya dan tertawa dengannya. Bahkan mereka mau mengangkatnya sebagai pekerja di toko mereka, sebagai merbot masjid dan lainnya. Mereka tidak mau menjelaskan dosa orang yang tidak shalat dan pahala orang yang melakukan shalat.
Tidak mau menjelaskan atau tidak mau memberikan nasehat, termasuk perbuatan yang merobohkan Islam atau melemahkan agama Islam.
Karena itu, wahai saudaraku sesama muslim, lelaki maupun wanita, hendaknya kamu mau menjelaskan atau memberikan pengertian kepada orang-orang bodoh mengenai kewajiban agama Islam yang tidak dilakukannya. Jika tidak, maka kamu adalah orang yang pertama kali dibakar dengan neraka bersama orang yang tidak shalat (seperti yang dituturkan dalam hadits sahih di atas).
Kamu termasuk orang yang memiliki ilmu atau sudah tahu, namun tidak mau mengamalkan ilmunya. Karena setiap orang yang tahu sesuatu dari hukum syariat Islam, namun tidak mau mengamalkannya dan tidak mau mengajarkannya kepada orang lain, dia termasuk orang yang tidak mau mengamalkan ilmunya ”
Saudara sesama muslim dan muslimat, sesungguhnyamengerjakan shalat jama’ah dengan jama’ah secara rutin, menyebabkan tercapainya banyak kebajikan, keberkahan, menaikkan derajat, mengusir keburukan dan menyirnakan prahara serta musibah.
Shalat merupakan dasar bagi takwa dan takwa adalah pondasi segala kesempurnaan. Jika seseorang mampu rutin jama’ah shalat lima waktu, maka dia meraih ketakwaan dan segala kebajikan, seperti menjauhi maksiat dan perbuatan keji serta dosa.
Allah swt. berfirman:
mengerjakannya dengan jama’ah. Penjelasan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh, seperti Allah dan Nabi saw. bersungguhsungguh menjelaskannya.
Lazimnya kaum sufi dan para santri saat ini tidak mengindahkan perintah di atas. Mereka mau berbaur dengan orang yang tidak shalat, baik itu anak, pembantu, kawan maupun lainnya. Mereka mau makan bersamanya dan tertawa dengannya. Bahkan mereka mau mengangkatnya sebagai pekerja di toko mereka, sebagai merbot masjid dan lainnya. Mereka tidak mau menjelaskan dosa orang yang tidak shalat dan pahala orang yang melakukan shalat.
Tidak mau menjelaskan atau tidak mau memberikan nasehat, termasuk perbuatan yang merobohkan Islam atau melemahkan agama Islam.
Karena itu, wahai saudaraku sesama muslim, lelaki maupun wanita, hendaknya kamu mau menjelaskan atau memberikan pengertian kepada orang-orang bodoh mengenai kewajiban agama Islam yang tidak dilakukannya. Jika tidak, maka kamu adalah orang yang pertama kali dibakar dengan neraka bersama orang yang tidak shalat (seperti yang dituturkan dalam hadits sahih di atas).
Kamu termasuk orang yang memiliki ilmu atau sudah tahu namun tidak mau mengamalkan ilmunya. Karena setiap orang yang tahu sesuatu dari hukum syariat Islam, namun tidak mau mengamalkannya dan tidak mau mengajarkannya kepada orang lain, dia termasuk orang yang tidak mau mengamalkan ilmunya.“
Saudara sesama muslim dan muslimat, sesungguhnya mengerjakan shalat jama’ah dengan jama’ah secara rutin, menyebabkan tercapainya banyak kebajikan, keberkahan, menaikkan derajat, mengusir keburukan dan menyirnakan prahara serta musibah.
Shalat merupakan dasar bagi takwa dan takwa adalah pondasi segala kesempumaan. Jika seseorang mampu rutin jama’ah shalat lima waktu, maka dia meraih ketakwaan dan segala kebajikan, seperti menjauhi maksiat dan perbuatan keji serta dosa.
Allah swt. berfirman:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. al-A’raf: 96)
Yakni adanya iman dan takwa menyebabkan terbukanya pintu rezeki dari langit, seperti hujan. Dan rezeki dari bumi, seperti tumbuhan dan hasil bumi.
“Allah swt berfirman:
“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (Al Gur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka”. (QS. alMaidah: 66)
Dari atas mereka yakni langit dan dari bawah mereka yakni bumi,
Allah juga berfirman:
“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)”. (QS. al-Jin: 14)
Sesungguhnya musibah pasti sirna dari tempat yang penduduknya mengerjakan shalat. Sebaliknya musibah turun di tempat yang penduduknya tidak menjalankan shalat.
Janganlah kamu memungkiri terjadinya gempa bumi, tanah longsor dan petir di tempat yang penduduknya tidak mau shalat.
Janganlah kamu berkata atau berpendapat: “Aku sudah shalat. Aku tak peduli orang lain yang tidak mau shalat. Yang penting aku tidak termasuk kelompok yang meninggalkan shalat”.
Jangan berkata demikian, sebab musibah jika turun, mengena orang yang baik dan orang yang buruk. Yang baik tidak mau amar makruf nahi mungkar terhadap orang yang buruk, yakni tidak mau shalat. Allah Maha Tahu atas setiap sesuatu.
Suatu hari, Nabi saw, bersabda kepada para sahabat:
“Hendaknya kalian ucapkan: “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan di antara kami orang yang celaka lagi terhalang” Lalu beliau bersabda: “Tahukah kalian, siapa orang celaka yang terhalang?” Para sahabat menjawab: “Siapa orang celaka itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang yang tidak shalat”.
Dalam hadits kisah Isra’ Mi’raj dituturkan, ketika Nabi saw.
Isra’-beliau melihat sekelompok orang yang kepalanya dipukul sampai hancur dengan batu. Begitu hancur luluh, kepala mereka kembali seperti sedia kala. Hal itu terjadi berulang-ulang tanpa henti. Nabi saw. bertanya: “Hai Jibril, apa salah orang-orang itu?”
Jibril menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang kepalanya berat untuk shalat”. Allah swt. berfirman:
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya”. (QS. Al-Ma’un: 4-5)
Sebagian ulama tafsir berkata: “Yang dimaksudkan adalah orang-orang yang menyia-nyiakan shalatnya dan mengeluarkannya dari waktunya. Wail adalah sebuah jurang di dalam neraka Jahannam. Seandainya gunung-gunung dunia dijalankan di sana, maka hancur lebur karena sangat panasnya. Wail itulah tempat orang yang meremehkan shalatnya, kecuali jika dia bertobat kepada Allah dan menyesali kesalahannya.”
Shalat adalah pembeda antara orang yang mukmin dan orang kafir Nabi saw bersabda:
“Barangsiapa menjaga shalat lima waktu dengan jama’ah, maka Allah akan memuliakannya dengan lima hal:
Pertama dan kedua, disirnakan sempitnya kubur dan siksa kubur.
Ketiga, diberi buku amal perbuatan dengan tangan kanan.
Keempat, melewati sirath mustagim bagaikan kilat.
Kelima, masuk surga tanpa hisab.
Dan barangsiapa meremehkan shalatnya, maka Allah menyiksanya dengan lima belas macam siksa. Enam macam di dunia, tiga macam ketika akan mati, tiga macam ketika masuk kubur dan tiga macam ketika bertemu dengan Tuhan, yaitu di padang hari kiamat.
Adapun enam macam di dunia:
Pertama, dicabut berkah umurnya.
Kedua, akan dihapus tanda kesalehan dari mukanya:
Ketiga, seluruh amal perbuatannya tidak akan’diberi pahala.
Keempat, doanya tidak sampai kepada Allah.
Kelima, tidak mendapat bagian dari doa orang-orang saleh.
Keenam, ruh dicabut dari jasadnya tanpa iman. Semoga Allah melindungi kata.
Adapun tiga siksaakan mati:
Pertama, mati dalam keadaan hina.
Kedua, mati dalam keadaan lapar.
Ketiga, sangat haus. Seadainya seluruh air lut dunia diinumkan, dia belum segar. Yakni tidak hilang hausnya.
Adapun tiga yang terjadi di dalam kubur:
Pertama, disempitkan kuburnya dengan dijepit, sehingga tulang rusuknya bertubrukan.
Kedua, kuburnya menyala api, sehingga dia bergulung-gulung dalam api. Hal itu terjadi siang dan malam .
Ketiga, seekor ular besar yang buta menguasainya di dalam kubur Binatang itu menyiksanya karena ia menyia-nyiakan shalat. Siksaannya sesuai dengan waktunya shalat.









One Comment