Kitab Tauhid

Terjemahan Kitab Arbau Rosail

Hal-Hal Yang Berkaitan Dengan Perbuatan Hati

  1. Membayangkan Kekhusyu’an Salafus Shalih Saat Mereka Shalat

Hal ini dapat memacu kekhusyu’an serta mendorong untuk meneladani mereka. Sekiranya anda melihat salah seorang di antara mereka sedang berdiri untuk shalat, ketika ia berdiri dalam mihrabnya kemudian memulai dengan membaca kalam Tuhannya (Allah), maka dalam hatinya terdetik bahwa Magam (shalat) tersebut adalah magam di mana sekalian manusia menghadap Tuhan sekalian alam. Dengan begitu hatinya seakan terlepas dan akalnya tercenung.”

Mujahid ra. berkata: “Jika salah seorang di antara mereka (kaum salaf) melakukan shalat ia takut kepada Allah yang Maha Rahman dan takut pandangannya melirik kepada sesuatu, atau menoleh, atau membolak-balik kerikil, atau memainkan sesuatu atau membisiki jiwanya tentang urusan dunia, kecuali ia lupa bahwa ia dalam shalatnya.”

Adalah Ibnu Zubair, ketika ia sedang shalat, ia laksana tongkat yang berdiri karena kekhusyu’annya. Kemudian ia sujud. Maka diletakknlah manjanig (alat pelempar batu untuk peperangan padajaman – dulu) padanya. Maka sekelompok orang mengambilnya dari bajunya ketika ia sedang shalat, ia sama sekali tidak mengangkat kepalanya.

Adalah Maslamah Bin Basyar, ia sedang shalat disuatu masjid, mendadak sebagian temboknya roboh. Manusia pada berdiri, sementara Maslamah, beliau tidak merasa karena khusyu’nya.

Terdapat kisah yang sampai kepada kita, bahwa ketika sedang shalat sebagian mereka seperti pakaian yang tergeletak. Sebagian mereka mengenyam perasaannya dan wajahnya berubah pucat karena ja merasa menghadap Tuhan-nya. sebagian mereka ketika dalam shalat, tidak mengetahui siapa yang berada di kanan ataupun kirinya. Sebagian mereka wajahnya menguning ketika berwudlu untuk melaksanakan shalat, maka dikatakan kepadanya: “Ketika Anda berwudlu kami melihat keadaan anda berubah.” Beliau berkata: “Sungguh saya mengetahui di hadapan siapa saya hendak berdiri menghadap.”

Adalah Ali Bin Abi Thalib ketika shalat, jiwanya goncang dan wajahnya berubah pucat. Maka dikatakan kepadanya: “Apa yang terjadi padamu?” Ia berkata: “Demi Allah telah datang waktu dipikulkannya amanah di mana Allah menawarkannya kepada langit dan bumi dan juga gunung-gunung untuk membawanya akan tetapi mereka menolaknya sedangkan sekarang aku mau memikulnya.”

Adalah Sa’di At-Tanukhi, ketika sedang shalat, air matanya tidak putus-putusnya mengalir di kedua pipinya hingga membasahi jenggotnya.

Terdapat kisah yang sampai kepada kami, bahwa sebagian tabi’in ketika ja sedang shalat wajah dan ihwalnya berubah. Dan ia berkata: “Tahukah kalian, dihadapan siapa aku menghadap dan bermunajat?. “Siapakah di antara kalian yang di dalam hatinya terdapat rasa takut seperti yang demikian ketika menghadap Allah?”

Orang-orang bertanya kepada Amir Bin Abdul Oais: “Apakah terbetik sesuatu di benakmu ketika shalat?” Ia menjawab: “Adakah sesuatu yang lebih aku cintai daripada shalat sehingga terdetik sesuatu tersebut kepada diriku?” Mereka berkata: “Sungguh telah terdedik sesuatu pada diri kami ketika shalat.” Ia berkata: “Apakah tentang syurga serta bidadari-bidadarinya dan sebagainya?” Mereka menjawab, “Tidak, akan tetapi kami terdetik tentang keluarga dan harta-harta kami.” Maka ia berkata: “Sungguh banyak luka pada diriku karena tombak lebih aku sukai daripada terdetik perkara dunia ketika shalat.”

Sa’ad bin Mu’adz berkata: “Pada diriku terdapat tiga perkara, yang sekiranya dalam setiap keadaan aku berada di dalamnya tentu aku akan menjadi diriku sendiri yaitu jika aku sedang shalat, aku tidak berbicara dengan diriku kecuali dengan sesuatu yang aku beradadi dalamnya, jika aku mendengar sebuah hadits dari Rasul saw. dalam hatiku tidak terdetik suatu keraguanpun akan kebenarannya. Jika aku berada di dekat jenazah, maka aku tidak berbicara dengan diriku selain apa yang dikatakan mayit dan apa yang tengah dikatakan terhadapnya.”

Imam Hatim ra. berkata: “Aku berdiri karena melaksanakan perintah-Nya, berjalan dengan rasa takut, masuk dengan niat, membaca takbir dengan penuh pengagungan, membaca Al Qur’an dengan tertil dan tafakkur, ruku’ dengan khusyu’, sujud dengan tawadhu’, duduk tasyahud dengan sempurna, mengucap salam dengan niat, menyudahi shalat dengan ikhlash karena Allah, dan aku kembali kepada diriku dengan perasaan takut, jika Allah tidak menerimanya dariku, dan aku menjaganya dengan penuh kesungguhan hingga ajal tiba.”

Abu Bakar Ashidiqhi berkata: “Saya mengetahui dua imam, yang kebetulan saya belum diperkenankan untuk bisa mendengar ilmu dari keduanya, yaitu: Abu Hatim Ar-Razi dan Muhammad bin Nashr AlMarwaz1. Adapun Ibnu Nashr, saya tidak melihat seseorang yang lebih baik shalatnya darinya. Ada cerita yang sampai kepada saya bahwa suatu ketika lalat kerbau hinggap di dahinya, lalu mengalirlah darah ke wajahnya sementara ia tidak bergerak sama sekali (ketika shalat). Muhammad bin Ya’qub Al-Akram berkata: “Saya tidak melihat seseorang yang lebih baik shalatnya dari Muhammad bin Nashr. Ada lalat hinggap di telinganya, maka ia tidak berupaya mengusir darinya. Kami kagum dan merasa heran atas kebagusan shalatnya, kekhusyu’annya serta rasa hormatnya terhadap shalat. Ia meletakkan dagunya di atas dadanya, ia laksana kayu yang dipancangkan.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker