Kitab Tauhid

Terjemahan Kitab Arbau Rosail

HIKMAH SHALAT

Shalat adalah tiang agama, cahaya keyakinan, pengobat hati, dan sendi semua perkara. Karena shalat dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar serta menjauhkan nafsu yang selalu mendorong untuk berbuat kejahatan dari perilaku-perilaku buruk yang secara alamiah nafsu selalu cenderung padanya.

Seperti telah kami jelaskan pada bagian sebelumnya bahwa mandi dan wudhu mempunyai manfaat yang besar dan agung. Karena mandi dan wudhu merupakan sarana untuk dapat melakukan shalat. Lalu bagaimana dengan manfaat shalat sendiri yang merupakan tujuan sesungguhnya dan merupakan satu-satunya sasaran yang hendak dicapai dalam wudhu dan bersuci.

Seorang manusia diperintahkan untuk berdiri di hadapan Tuhannya dalam sehari semalam sebanyak lima waktu dengan tunduk, khusyu’, merasa hina di hadapan kemuliaan ketuhanan, dan melepaskan hawa nafsunya di bawah kakinya. Karena semua itu secara menyeluruh telah diarahkan untuk menghadap Tuhan Yang Hakiki dimana tidak ada tuhan lannya yang layak untuk disembah melainkan Dia. Semua itu dilakukan, hingga ia dapat melihat keagungan, kebesaran, dan kemuliaan Allah sepanjang harinya.

Ia diperintahkan menunaikan shalat Shubuh di waktu dimana ruh dalam keadaan suci bersih dan jiwa dalam keadaan tenang. Di samping kemudahan watak manusia akan tampak jelas dan berkilau ketika bintang-bintang mulai condong ke arah barat dan ketika matahari diizinkan untuk terbit.

Pada saat kami hendak menjelaskan bagaimana terhapusnya dosa-dosa kecil dari catatan amal seorang manusia yang melakukan shalat, maka tidak ada lagi sesuatu yang lebih fasih daripada menyerupakan seorang yang shalat dan dia dalam keadaan berdiri setelah bertakbiratul ihram untuk melakukan shalat dengan seorang lelaki yang di atas kepalanya terdapat beban dosa yang amat berat. Begitu ia menundukkan kepalanya untuk melakukan ruku’, lalu duduk meletakkan jidatnya saat sujud, ia lalu mengulang sujudnya, ruku’nya, berdirinya, dan duduknya, maka beban yang berat itu akan jatuh dari bagian paling atas dari kepalanya.

Atau dengan ungkapan yang sedikit berbeda, kami hendak menyerukannya dengan seorang lelaki dimana baju dan badannya kotor. Lelaki ini memakai jubah kotor berlumur dosa-dosa dan noda-noda maksiat yang dilakukannya. Maka wudhu dan shalatnya yang mencakup ucapan-ucapan dan perilaku-perilaku tertentu berfungsi untuk membasuh kotoran dan noda-noda itu. Karenanya, Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan shalat lima waktu adalah seperti sebuah sungai tawar airnya yang berada di depan pintu rumah salah seorang di antara kalian dimana ia selalu mandi dari air sungai itu setiap harinya sebanyak lima waktu, maka tidak akan ada lagi kotoran yang tersisa padanya.”

Di antara hikmah-hikmah shalat adalah diperolehnya ketenangan dalam hati. Ia tidak akan bersedih meski musibah datang silih berganti. Ketenangan seperti itu juga tidak akan menghalangi kebaikan yang merupakan bagiannya. Karena bersedih akan menafikan kesabaran yang merupakan penyebab utama memperoleh kebahagiaan. Sedang menghalangi kebaikan dari orang lain adalah suatu bahaya yang besar. Sikap demikian itu merupakan petunjuk tidak adanya rasa percaya kepada Sang Pencipta, Pemeberi rezegi, dan Yang Mengganti segala yang telah diinfagkan oleh seorang pada jalan kebaikan. Allah swt telah berfirman:

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ja mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.”(QS. Al Ma’aarij : 19-22).

Memulai shalat dengan membaca basmalah merupakan isyarat bahwa seorang yang melakukan shalat sedang meminta pertolongan dengan menyebut Dzat Yang memberi kemampuan untuk melakukan kewajiban ini dan segala sesuatu yang dilakukannya, Dzat Yang telah meridhainya, mendekatkan dengan rahmat-Nya, dan menjauhkan dari siksa-Nya. Selanjutnya ia memuji kepada Allah yang telah memberinya taufig untuk dapat menjalankan . kewajiban itu, Dzat yang menjadi Tuhan bagi semua makhluk di alam wujud ini, dan Dzat Yang telah memberi kenikmatan dengan kenikmatan-kenikmatan, baik yang besar maupun yang kecil.

Juga karena Allah swt adalah Tuhan dunia dan akhirat serta Pemilik hari pembalasan yang pada hari itu tidak akan ada manfaat sedikit pun bagi seorang ayah dari anaknya dan juga tidak manfaat bagi seorang anak dari ayahnya. Jika demikian, maka kita tidak akan menyembah kecuali kepada-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Kita meminta pertolongan kepada-Nya dalam setiap urusan kita, karena daya, kekuatan, dan kekuasaan semuanya ada pada-Nya.

Anda pasti mengetahui bahwa petunjuk hidayah adalah petujukNya. Seseorang yang tersesat, maka tidak ada lagi yang dapat menunjukkan selain Dia. Karena itu pula, kita meminta kepada-Nya untuk memberi kenikmatan petujuk kepada kita untuk selalu berjalan di jalan yang lurus yang tidak ada bengkok sedikitpun. Jalan itu adalah jalan yang Allah berikan nikmat kepada orang-orang yang tidak dimurkai-Nya dan bukan jalan orang-orang yang sesat. Kita juga meminta kepada-Nya agar mengabulkan permintaan kita.

Ada sebuah hadits qudsi dari Nabi Muhammad saw dari Allah swt.

bahwa Allah berfirman:” Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Maka ketika seorang hamba mengatakan: “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, maka Allah akan mengatakan: “Hamba-Ku sedang memuji-Ku.” Ketika hamba itu mengatakan: “Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang.” Maka Allah akan mengatakan:: “Hamba-Ku sedang memberikan pujian untuk-Ku.” Ketika hamba itu mengatakan: “Yang menguasai hari pembalasan.” Maka Allah akan mengatakan: “Hamba-Ku sedag memuliakan Aku.” Ketika hamba itu berkata: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” Maka Allah akan mengatakan: “Ini adalah antara Aku dan hamba-Ku ada dua bagian. Dan hamba-Ku berhak memperoleh apa yang dimintanya.” (HR. Muslim) Dalam kitab Al Bada’i’ ada penjelasan sebagaimana berikut ini: “Kewajiban shalat telah ditetapkan dalam Al Qur’an, sunnah, kesepakatan para ulama, dan dalil rasional.

Dalil yang dapat ditemukan dalam Al Qur’an, berikut firman Allah swt di beberapa ayat:

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.”(QS. Al Baqarah: 43)

Juga firman Allah:

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardlu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisaa’: 103) |

Juga firman Allah:

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS. Al Bagarah: 238).

Penyebutan kata shalat selalu dimaksudkan untuk shalat-shalat yang telah ditetapkan waktunya, yaitu shalat yang dilakukan lima kali dalam sehari semalam. Allah berfirman:

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Huud: 114)

Ayat ini mengumpulkan semua waktu-waktu shalat. Shalat Shubuh sendiri dikerjakan pada salah satu dari dua tepi siang, sedang shalat Zhuhur dan Ashar dikerjakan pada tepi yang lain.

Waktu siang terbagi menjadi dua bagian: pagi dan petang. Pagi merupakan sebutan untuk awal waktu siang hingga tengah hari, sedang waktu-waktu setelahnya disebut dengan petang. Hingga jika ada orang yang bersumpah tidak akan makan pada petang hari, lalu ia makan setelah tengah hari, maka ia telah melanggar sumpahnya. Ada juga shalat yang diekerjakan pada dua tepi siang. Sedang shalat yang masuk dalam maksud firman Allah:

“Dan pada bahagian permulaan daripada malam.” (QS. Huud: 114)

Adalah shalat Maghrib dan Isya’, karena keduanya dikerjakan pada bagian permulaan dari malam, yaitu pada waktu-waktu malam.

Firman Allah swt:

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya Shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al Israa’: 78

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker