Fasal
Hendaknya kau wahai murid menjadi orang yang berprasangka baik kepada Tuhanmu bahwasanya Dia itu memperhatikanmu, mencukupimu, menjagamu, melindungimu dan tidak akan menyerahkannmu pada nafsumu serta tidak pula menyerahkan kepada satupun makhluk. Karena Allah subhanaahu telah memberitahukan mengenai : diri-Nya bahwa Ia berada dalam sangkaan hamba-Nya. Keluarkanlah dari hatimu ketakutan akan kefakiran dan mengharapkan (tercukupi) kebutuhannya dari sesama makhluk.
Perhatikanlah dengan benar-benar (jangan sampai) kau mementingkan Urusan rezeki. Percayalah dengan janji Tuhanmu dan dengan jaminan-Nya kepadamu. Dimana Allah ta ala telah berfirman: “tidak ada satupun makhluk yang melata di bumi melainkan Allah menjamin rezekinya” (Q.S: Huud: 6)
Dan kau itu termasuk dari dawaab (makhluk yang hidup di permukaan bumi). Untuk itu, sibukkanlah kau dengan apa yang telah Ia perintahkan kepadamu yakni beramal ibadah kepada-Nya, tidak tersibukkan dengan apa yang sudah dijaminkan kepadamu yakni urusan rezeki. Karena Tuanmu tidak akan melupakanmu. Telah diberitahukan kepadamu bahwa rezekimu itu di sisiNya. Dan la telah memerintahmu dengan tuntutan beribadah kepadaNya.
Allah ta’ala telah berfirman: “Maka mintalah rezeki di sisi Allah, sembahlah Dia dan bersyukurlah kalian kepada, Nya” (Q.S: al Ankabuut: 17) Apa kau tidak melihat bahwa Allah ta’ala memberi rezeki para kafiriin yakni orangorang yang menyembah pada selain Allah? Apakah kau kira kalau Allah tidak memberi para mu’miniin yakni orang-orang yang menyembah hanya kepada Allah dan (malah) memberi rezeki kepada orang-orang yang durhaka dan menentang perintah-Nya?
Atau apakah Allah tidak memberi rezeki kepada orang-orang yang mentaatiNya, orang-orang yang banyak dzikir dan syukurnya? Ketahuilah, bahwasanya tidak ada dosa sedikitpun bagimu dalam hal kau mencari rezeki dengan gerakan-gerakan (usaha) nyata dengan cara yang dilegalkan oleh syariat. Bahaya dan dosa hanya terjadi dalam kondisi tidak adanya ketenangan hati, mementingkan urusan rezeki, mencemaskannya dan mengikuti sangkaan lemahnya.
Termasuk indikasi yang menunjukkan kerusakan hati manusia adalah memprioritaskan dan mementingkan perkara yang dibutuhkan di waktu yang belum menjadi nyata Seperti hari besok dan bulan depan. Dan (termasuk dari indikasi hatinya rusak adalah) ucapannya berupa: “Ketika ini sudah habis, darimana (lagi) datangnya (rezeki yang lain)? Ketika rezeki tidak datang dari cara ini, dari jalan mana lagi rezeki datang?”
Adapun tajarrud ‘an al asbaab dan melakukan asbab keduanya merupakan dua magaam (kedudukan) yang telah ditentukan oleh Allah kepada siapapun dari hamba-hamba-Nya yang Ia kehendaki.Untuk itu, siapapun yang ditempatkan pada magaam tajarrud maka harus baginya menguatkan keyakinannya, lapang dada dan terus-menerus melakukan ibadah.
Dan siapapaun yang ditempatkan dalam magaam asbaabi maka ia harus bertakwa kepada Allah dalam sababsababnya, berpegang teguh hanya kepada Allah dan berhati-hatilah jangan sampai tersibukkan dengan sebab-sebab dan menjauhi ketaatan kepada Tuhannya.Terkadang kekhawatiran terlintas mendatangi si murid mengenai urusan rezeki, ingin dilihat oleh orang lain dan lain sebagainya. Hal tersebut bukanlah hal yang tercela dan tidak dosa dengan catatan ketika ia membenci kekhawatiran tersebut dan berusaha menghilangkan dari hatinya.
Fasal
Hendaknya kau wahai murid memiliki perhatian penuh dengan bersahabat dengan orang-orang baik dan mendatangi majlis orang-orang sholih. Jadilah kau orang yang benar-benar menginginkan mencari syaikh (guru) yang sholih, bisa memberi petunjuk dan nasehat, mengetahui hukum syariat, menempuh jalan tharigah, telah mencapai hakikat, sempurna akal, lapang dada (sabar), memiliki strategi yang baik dan mengetahui tingkatan manusia serta mampu membedakan antara tabiat, naluri dan kondisikondisi mereka.
Apabila kau telah mendapatkannya serahkanlah dirimu padanya, jadikanlah beliau pemberi keputusan seluruh urusanmu, rujuklah pendapat beliau dan berdiskusi kepadanya mengenai semua keadaan perilakumu. Ikutilah beliau dalam semua perbuatan dan perkataannya kecuali hal-hal khusus yang berkaitan dengan derajat beliau sebagai syaikh. Seperti bergaul dengan orang lain, bersama-sama mereka, berdakwah pada orang yang dekat dan jauh mengajak menuju Allah dan lain sebagainya. Untuk itu, hendaknya kau tidak mengingkarinya. jangan kau menentang semua keadaan dan kondisinya baik itu secara tampak luar (lahir) dan dalamnya (batin). Apabila di dalam hatimu terbersit pikiran yang meragukan (kekahawatiran) mengenai beliau maka berusahalah menghilangkannya dengan sungguh-sungguh. Apabila pikiran tersebut ternyata tidak hilang, ceritakanlah kepada syaikh–mu supaya beliau memberitahumu jalan terlepas dari pikiran seperti Itu. Begitu juga, kau selalu memberitahukan apapun yang kau alami kepada beliau, lebih-lebih masalah yang berhubungan dengan thariqah.
Berhati-hatilah, jangan Sampai kau mentaati syaikh secara tampak luar saja dimana kau tau bahwa beliau sedang melihatmu dan kau mendurhakainya dalam keadaan tidak diketahui oleh syaikh. Maka apabila seperti kau akan jatuh dalam kerusakan.
Janganlah kau berkumpul dengan salah satu dari syaikh-syaikh yang terkenal dengan suluknya kecuali telah mendapatkan izin dari syaikh-mu. Kemudian apabila beliau memberimu ijin jagalah hatimu dan berkumpulah dengan siapapun yang kau inginkan. Dan apabila beliau tidak mengijinkan maka ketahuilah bahwa beliau telah memilihkan yang lebih baik untukmu, jangan kau mencurigainya dan menyangka beliau telah berbuat dengki dan cemburu. Hanya dengan perlindungan Allah ketika hal tersebut muncul dari Ahlullah dan orang istimewa-Nya.
Berhati-hatilah, jangan kau meminta syaikh dengan karamah-karamahnya dan menyingkap rahasia hatimu. Karena hal yang ghaib tidak ada yang bisa mengetahui kecuali hanya Allah. Puncak dari wali adalah Allah memperlihatkan kepadanya sebagian hal-hal yang ghaib di waktu-waktu tertentu.Kadang-kadang murid mendatangi syaikh untuk meminta menyingkap rahasia hatinya kemudian beliau tidak memenuhinya sementara beliau sebenarnya mengetahuinya dan mampu menyingkapnya. Hal tersebut beliau lakukan karena menjaga rahasia dan menutupi kondisi dan keadaannya. Karena mereka para syaikh –radhiya Allahu ‘anhum– manusia yang paling ingin menyembunyikan rahasiarahasia dan orang yang paling menjauhi dari menampakkan karamah dan hal yang luar biasa (keajaiban) walaupun mereka dimungkinkan memiliki dan bisa menggunakannya.
Mayoritas karamah yang muncul dari para wali itu terjadi tanpa kehendaknya sendiri. Apabila karamahkaramah mereka muncul, mereka akan berpesan kepada orang yang melihatnya untuk tidak menceritakannya sampai mereka meninggal dunia. Terkadang mereka menampakkan karamah mereka dengan kehendak sendiri karena adanya kemaslahatan tersendiri daripada menutupinya.
Ketahuilah, bahwa syaikh yang sempurna adalah orang yang memberi kemanfaatan dengan semangatnya, perbuatannya dan perkataannya serta beliau selalu menjaga murid-nya saat beliau berada di depannya ataupun saat beliau tidak bersamanya. Apabila si murid berada jauh dari syaikh-nya dalam sisi tempatnya hendaknya si murid mencari isyaratisyarat dari syaikh-nya secara menyeluruh dalam urusan yang akan ia lakukan atau ia tinggalkan.Sesuatu yang paling berbahaya bagi murid adalah perubahan hati syaikh-nya terhadap dirinya. Ketika sudah seperti itu, walaupun seluruh syaikh di belahan bumi Timur dan Barat berkumpul untuk memperbaiki keadaan si murid, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali syaikh-nya memberikan ridhanya kepada Si murid.
Ketahuilah bahwa seyogyanya bagi murid yang mencari seorang syaikh tidak mengukuhkan dan memasrahkan dirinya pada setiap orang yang disebut dengan guru (syaikh) dan (terkenal) bisa menunjukkan jalan para murid menuju Allah sampai Si murid mengetahui keahlian Sang Syaikh dan hati Si murid menerimanya. Begitu juga, tidak seharusnya bagi Syaikh ketika seorang murid datang untuk berthariqah memberi toleransii kepada si murid tersebut sebelum ia menguji kesungguhan si murid dalam pencariannya dan kesungguhan membutuhkannya kepada orang yang menunjukkanny ada Tuhannya.
Semua penjelasan Ini, seluruhnya dalam mencari syaikh tahkiim. Para ulama mensyaratkan kepada murid yaitu ketika bersama dengan syaikh tahkiim ia seperti mayat di hadapan beliau yang sedang memandikan dan seperti anak kecil yang diasuh oleh ibunya. Hal ini tidak berlaku dalam kaitannya dengan syaikh tabarruk. Ketika tujuan seorang murid untuk tabarruk bukan tahkiim maka semakin sering mendatangi, mengunjungi dan mencari keberkahan syaikh-syaikh tabarruk tersebut adalah lebih baik.
Ketika seorang murid tidak menemukan seorang syaikh pun maka ja harus terusmenerus bersungguhsungguh dan sangat tekun berusaha meminta perlindungan Allah dan merasa sangat membutuhkan-Nya untuk mendatangkan seseorang yang memberikan petunjuk pada dirinya. Dengan seperti itu Dzat yang selalu , memberikan jawaban kepada orang yang terdesak akan mengabulkannya dan Ia akan membawakan untuknya hamba-hambaNya yang akan menuntunnya.
Terkadang sebagian para murid menganggap bahwa dirinya tidak memiliki satu orang pun syaikh. Kau akan mendapatinya, mereka terus mencari seorang syaikh padahal mereka sebenarnya memiliki syaikh yang tidak mereka lihat. Beliau mendidik dengan pandangannya, beliau menjagannya dengan perhatiannya sementara itu mereka tidak merasakan. Dalam sisi keadilan tentu tidak akan mencari seorang Syaikh kecuali orang yang bersungguh-sungguh. Apabila bukan karena keadilan para syaikh al muhaqqiqun pasti akan diperlihatkan (dimunculkan). Akan tetapi Maha Suci Dzat yang tidak menjadikan sesuatu yang menunjukkan (bukti) yang mengarah kepada para walinya kecuali dari sisi dimana buktinya adalah menuju-Nya. Dan Allah tidak akan mengantarkan kepada mereka kecuali orang yang Ia kehendaki untuk sampai kepada-Nya.









One Comment