Fasal
Ingatlah Wahai murid jangan sekali-kali meninggalkan shalat Jum’at dan shalat berjama’ah. Karena hal tersebut yakni meninggalkan shalat jum’at dan jama’ah termasuk kebiasaan orang-orang sesat dan tanda-tanda orang orang yang memiliki kebodohan.
Jagalah shalat-shalat rawatib yang disyariatkan sebelum dan setelah shalat fardhu. Dan biasakanlah melakukan shalat witir, dhuha dan mengisi dengan ibadah waktu Antara maghrib dan isya’.
Jadilah kau wahai murid orang yang sangat menyukai mengisi dengan peribadahan apapun pada waktu setelah subuh sampai terbitnya matahari dan di waktu setelah shalat ashar sampai terbenam matahari. Dua waktu yang mulia ini Allah melimpahkan pertolonganpertolongannya kepada hamba-hamba yang menghadap-Nya.
Dan dalam mempergunakan waktu setelah subuh terdapat keistimewaan yang potensial dalam memperoleh rejeki yang bersifat jasmani dan di dalam mempergunakan waktu setelah Ashar terdapat keistimewaan yang potensial untuk memperoleh pemberian-pemberian (rejeki) yang bersifat hati (ruhani). Hal tersebut sudah dipraktikkan oleh orangorang yang memiliki mata hati yang tajam yakni para orang-orang ‘arif yang agung. Di dalam hadits (menyebutkan):
“Sesungguhnya orang yang duduk di tempat sholatnya seraya berdzikir kepada Allah setelah waktu sholat subuh itu lebih mempecepat dalam mendapatkan rejeki daripada orang yang bekerja dalam berbagai daerah (orang yang merantau).” Maksudnya orang yang bepergian ke suatu tempat untuk mencari rejeki,
Fasal
Sesuatu yang harus dijadikan pegangan dalam menempuh jalan menuju Allah setelah melakukan semua perintah-Nya dan mejauhi laranganlarangan-Nya adalah tetap selalu ber-dzikir pada Allah. Untuk itu, tetap dan teruslah berdzikir wahai murid ‘ dalam setiap keadaan, waktu dan tempat dengan hati dan lisan.
Dzikir yang mencakup seluruh makna berbagai macam dzikir dan buahnya secara batin dan lahir adalah ucapan: laa ilaha illallah tidak ada tuhan selain Allah.
Ini merupakan dzikir yang diperintahkan untuk terus menerus dilakukan oleh orang yang baru memulai (menapaki jalan Allah). Dan orang yang telah mencapai puncak (makrifat) pun kembali pada dzikir tersebut.
Barang siapa yang ingin diberi kesenangan dengan (mampu) merasakan sesuatu dari rahasia-rahasia menempuh jalan menuju Allah dan tersingkap berbagai macam hakikat, maka hendaknya ia terusmenerus berdzikir kepada Allah dengan hati yang hudhur (konsentrasi dan merasa hadir bersama-sama Allah), tata karma (adab) yang sempurna, mendekatiNya dengan tulus dan menghadap-Nya dengan cara yang tidak seperti biasanya (terkhusus). Maka (dengan melakukan dzikir dengan cara tersebut) pengertian-pengertian ini tidak akan terkumpul kecuali ia akan dibukakan alam malakut yang paling tinggi, ruhnya akan mengetahui hakikat alam al ashfa (alam yang suci) dan mata hati terdalamnya akan menyaksikan al jamal al aqdas al asmaa (secara bahasa artinya: keindahan yang suci dan luhur).
Dan hendaknya kau wahai murid memperbanyak tafakkur (perenungan). Hal ini ada tiga macam, yakni:
(pertama) memikirkan dan merenungkan dalam keajaiban kekuasaan-Nya, keindahan kerajaan langit dan bumi. Buah dari memikirkan ini semua adalah marifat billah (makrifat pada Allah).
(kedua) memikirkan dan merenungkan dalam kenikmatan-kenikmatan dan pemberian-Nya. Hasil akhir dari bagian ini adalah mahabbah lilllah (mencintai Allah).
(ketiga) memikirkan dan merenungkan dalam perkara yang ada di dunia, akhirat serta keadaan para makhluk di dalamnya. Manfaatnya adalah berpaling dari dunia dan akan mendatangi (mendekati) akhirat.
Aku telah memberi keterangan dan penjelasan bagian pembahasan mengenai “alur/kecenderungan berfikir dan hasilnya” di kitab Risalah al mu’awanah. Carilah di kitab tersebut bagi yang menginginkannya.









One Comment