Fasal
Ketika kau memperhatikan dirimu sendiri -wahai murid- sedang merasakan malas untuk melaksanakan ketaatan-ketaatan (ibadah) dan merasa berat melakukan kebaikan. Maka tuntunlah dirimu dengan tali raja (harapan-harapan kepada Allah), yaitu kau mengingat-ingat akan apa yang sudah Allah janjikan kepada seluruh makhluk sebab mentaati-Nya, yakni kemenangan yang besar, nikmat yang tidak pudar, kasih sayang, keridhaanNya, keabadian di surga yang luas, kemuliaan, keluhuran, kehormatan dan kedudukan di sisi Allah yang Maha Suci dan di samping hamba-hamba-Nya (yang dimuliakan).
Dan ketika kau merasa dirimu cenderung bertolak belakang atau lebih tertarik melakukan keburukan maka ajaklah dirimu sendiri kembali dengan cambuk khauf (takut dengan balasan Allah), yaitu kau mengingatingat dan memberi nasehat pada diri sendiri dengan apa yang menjadi Ancaman Allah kepada orang-orang yang mendurhakai-Nya, yakni berupa kehinanaan, malapetaka, terendahkan, disiksa, tidak terima, terhalangi (dari rahmat), diremehkan dan kerugian.
Berhatilah-hatilah, jangan sampai kau terjerumus pada perkara yang dialami oleh sebagian syathihiini, yakni meremehkan masalah surga dan neraka. Agungkanlah apa saja yang telah diagungkan oleh Allah dan Rasul-Nya.Beramallah karena Allah, karena Ia adalah Tuhanmu sementara kau adalah hambanya. Mintalah kepada-Nya untuk memasukkanmu ke SurgaNya dan mintalah supaya kau dilindungi dari nerakaNya dengan anugerah dan yahmat-Nya.
Apabila syetan -semoga Allah melaknatinyaberkata padamu: “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala tidak membutuhkanmu dan tidak butuh amalmu, ketaatanmu tidak akan bermanfaat pada-Nya dan kemaksiatan-Mu tidak akan mencelakakan-Nya.” Maka katakanlah pada syetan, “kau memang benar, tapi aku adalah orang yang membutuhkan anugerah Allah dan pada amal sholih. Ketaatan bermanfaat untukku dan perbuatan dosa akan mencelakakanku, dengan hal itulah Tuhanku memberitahuku di kitab-Nya yang mulia dan melalui lisan utusan-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Kemudian apabila syetan berkata padamu: “Apabila kau beruntung di sisi Allah maka kau secara pasti akan masuk surga, tidak peduli kau orang yang taat ataupun orang yang durhaka. Dan apabila kau adalah orang yang celaka di sisi-Nya, maka kau akan masuk neraka walaupun kau orang yang taat.”
kau janganlah terpancing dengan perkataannya. Penolakan ini (harus dilakukan) karena urusan yang sudah ditetapkan dahulu itu bersifat ghaib yang tidak bisa diketahui kecuali oleh Allah. Dan tidak ada bagian sedikitpun (mengetahui hal ini) bagi satu makhluk pun.
Ketaatan merupakan indikator yang paling menunjukkan pada ketetapan terhulu yakni berupa kebahagiaan dan keberuntungan. Tidak ada diantara orang yang taat dan surga kecuai ia mati dengan keadaan ketaatannya.
Dan berbuat dosa (kemaksiatan) merupakan indikator yang paling menunjukkan pada ketetapan terdahulu yang berupa kesengsaraan. Tidak ada diantara pendosa dan neraka kecuali ia mati pada kemaksiatannya.
Fasal
Ketahuilah, wahai murid bahwa permulaan jalan menuju Allah adalah sabar dan akhirnya adalah syukur. Permulaannya lagi adalah usaha keras akhirnya kebahagiaan, permulaannya melelahkan dan kesulitan akhirnya kemenangan, terbukanya rahasia dan wushul (sampai) menuju titik akhir cita-cita yaitu ma’rifatullah, sampai padaNya, beramah tamah dijamu oleh-Nya dan menempati dalam kemuliaan di hadapan-Nya bererta malaikat yang berada di depannya.
Dan barang siapa mendasari semua urusannya berlandaskan kesabaran yang sungguh-sungguh maka ja akan memperoleh seluruh kebaikan dan akan sampai pada semua yang dicita-citakan serta mendapatkan segala yang ia inginkan.
Dan ketahuilah, bahwa nafsu itu pada awalnya disebut ammarah yang selalu memerintahkan berbuat keburukan dan mencegah berbuat kebaikan. Kemudian jika manusia memeranginya dan sabar untuk melawan keinginan nafsunya maka nafsu ammarah akan menjadi lawwamah yang berubah (memiliki dua sisi) satu sisi cenderung ke muthmainnah dan sisi yang lain masih cenderung pada ammarah. Nafsu ini (yakni nafsu lawwamah) satu keadaan mengajak kebaikan pada keadaan lain menyuruh melakukan keburukan.
Kemudian apabila manusia memperlakukan lemah lembut dan mengajak nafsu lawwamah ini serta menuntunnnya dengan tali kecintaan pada apa saja yang ada di sisi Allah (yakni yang diridhai Allah), maka nafsu ini menjadi muthmainnah yang selalu memerintahkan kebaikan, merasakan kenikmatan berbuat baik dan menyukai kebaikan, serta akan mencegah berbuat buruk, membencinya dan menghindarinya.
Orang yang memiliki nafsu muthmainnah itu akan sangat heran pada sebagian manusia yang berpaling dari ketaatan-ketaatan, padahal di dalam ketaatan terdapat ketenangan, kesenangan dan kenikmatan. Dan ia (orang yang memiliki nafsu muthmainnah juga sangat heran pada sebagian manusia yakni) dalam mendatangi kemaksiatankemaksiatan dan syahwat kesenangan duniawi. Padahal di dalamnya terdapat kegundahan, kegelisahan dan kegetiran hidup. Ia menganggap bahwa mereka akan menemukan dan merasakan dua hal ini seperti yang ia temukan dan rasakan.
Kemudian ia akan mengembalikan (pengalaman ini) pada dirinya sendiri. Ia akan mengingat apa yang akan ia dapatkan -sebelum memiliki nafsu muthmainnahdalam menuruti syahwatsyahwatnya yakni mendapatkan kenikmatan dan dalam melakukan ketaatan menemukan rasa pahit. Kemudian ia akan tahu bahwa ia tidak akan mencapai pada keadaan yang sekarang ini kecuali dengan perjuangan yang sangat lama dan pertolongan yang besar dari Allah.
Sekarang kau telah mengerti bahwa sabar dari menjauhi kemaksiatan dan syahwat serta sabar terus menerus melakukan ketaatan bisa mengantarkan pada seluruh kebaikan dan akan menyampaikanmu pada semua kedudukan yang mulia dan status yang luhur.
Bagaimana tidak? Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman: “Wahai orangorang yang beriman berimanlah kalian semua, bersabarlah kalian semua, dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung” QS. Ali Imron: 200
Dan Allah ta’ala berfirman: “Dan telah sempurnalah firman Tuhanmu yang baik itu (sebagai janji) untuk bani Israil disebabkan kesabaran mereka.” QS. Al A’raaf: 137
Dan Allah Jalla Sya’nuhu berfirman: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS: As Sajdah: 24)
Dan di dalam (mengatakan): “Sebagian dari paling sedikitnya perkara yang diberikan kepada kalian semua adalah keyakinan dan kuatnya kesabaran. Dan barang siapa diberikan bagian dari keduanya maka ia tidak akan mempedulikan apapun yang membuatnya terlewatkan melakukan ibadah di malam hari dan puasa di siang hari.”









One Comment