Fasal
Ketahuilah bahwa awal jalan adalah sebuah pendorong yang kuat yang diletakkan dalam hati seorang hamba, menngaketkan dan menggoncankan dan mendorongnya untuk menghadap kepada Allah dan rumah akhirat, dan utnuk menghidar dari dunia dan dari manusia, dengan tersibukkan memperbaiki dunia dan mengumpulkan dunia, dan senang senang dengan syahwat dunia, dan tertipu dari gemerlap dunia.
Pendorong ini termasuk tentara Allah yang batin, itu dari tiapun pertolongan dan tanda petunjuk, dan kebanyakan dibukakan terhadap seorang hamba ketika ditakuti (siksa) atau di senangkan (pahala) dan di rindukan, dan ketika melihat kepada ahlullah dan dilihat mereka, dan terkadang terjadi tanpa sebab.
Menampakkan pada tiupan itu diperintahkan dan diharapkan, dan menanti dan mencari tanpa menampakkan dan menetapi pintu adalah kebodohan, bagaimana tidak sedangkan rasulullah saw. bersabda: sesungguhnya tuhan kalian memiliki tiupan di hari-hari mu, maka menampakkaklah.
Barang siapa yang di beri Allah dengan pendorong yang mulia ini maka hendaknya tahu akan derajatnya yang baik, dan kendaknya ia tahu bahwa hal tersebut termasuk dari nikmat Allah yang agung, yang tidak dapat di kira-kirakan besarnya, dan tidak di gapai syukurnya, dan hendaknya ia menyagatkan dalam menyukurinya atas yang Allah beri, dan Allah hususkan dari sepadannya dan teman-temannya. berapa banyak seorang muslim yang umurnya mencapai delapan puluh tahun dan lebih tapi tidak menemukan pendorong ini. dan tidak datang seharipun dalam setahun.
Wajib bagi murid bersungguh sungguh menguatkannya, menjaganya, dan memenuhinya -maksudnya pendorong ini- menguatkannya dengan ingat kepada Allah , dan memikirkan apa yang di sisi Allah, dan duduk bersama Ahli Allah, dan menjaganya da dengan menjauh dari duduk bersama orang-orang yang terhalang, dan menghindar dari godaan setan, dan memenuhinya dengan cepat-cepat kembali kepada Allah, dan benar benar dalam menghadap kepada Allah, dan tidak kendor, dan tidak menunda, dan tidak lambat, dan tidak mengakhirkan, dan jika ada kesempatan maka hendaknya langusng ia ambil, dan dika dibuka pintu maka hendaknya ia langsung masuk, dan jika ada yang mengajak maka hendaknya cepat-cepat, dan hendaknya menjauh dari besok setelah besok, karena hal tersebut temasuk amal setan, dan hendaknya menghadap dan tidak menetap, dan tidak beralasan dengan tidak adanya kesempatan dan kelayakan.
Abu robi’ berkata: berjalanlah kepada Allah dengan naik dan pecah, dan jangan menanti sehat, karena menanti sehat adalah pemalas. Ibn Atho’illah berkata dalam kitab hikam: menantimu amal atas adanya kesempatan temasuk kebodohan jiwa.
Fasal
Langkah awal yang dimulai oleh seorang murid dalam menuju Allah adalah membenarkan dalam bertaubat kepada Allah ta’ala dari seluruh dosadosanya. Apabila ia memiliki suatu beban seperti pernah mendzalimi (berbuat sewenang-wenang, aniaya dan lain-lain) pada salah satu orang maka hendaknya ia bergegas melunasinya pada pemilik hak tersebut, jika hal itu memungkinkan. Apabila tidak memungkinkan, hendaknya ia meminta kehalalan (minta keikhlasan) dari mereka. Karena orang yang tanggungannnya masih tergadaikan dengan hal-hak sesama manusia itu menjadikan mustahil menuju pada Allah Dzat Yang Haq.
Syarat sah taubat adalah benar-benar menyesal atas dosa-dosanya serta sungguh-sungguh bertekad untuk tidak mengulanginya lagi seumur hidup. Barang siapa yang bertaubat dari dosa-dosanya sementara ia masih terus-menerus melakukan dosa atau ia masih bertekad – mengulangi dosanya maka tidak ada taubat sedikit pun baginya.
Hendaknya seorang murid terus-menerus benar-benar mengakui kelalaian dan kealpaannya dalam melaksanakan apa yang diwajibkan baginya dari notabene sebagai Hak Tuhannya (untuk disembah). Di saat ia merasa susah karena kelalaiannya dan hatinya menjadi hancur (sangat sedih) karena Allah maka hendaknya ia tau bahwa Allah berada di sisinya. Karena Dia Yang Maha Suci telah berfirman: “Aku berada di sisi orang yang remuk hatinya (sangat susah dan sedih) karena-Ku”.
Keharusan bagi murid adalah menjaga dirinya dari dosa-dosa kecil, apalagi dosa besar harus lebih keras menghindarinya daripada mengkonsumsi racun yang mematikan. Dan kekhawatirannya apabila melakukan dosa besar itu (harus) lebih besar daripada ketakutan memakan racun. Hal tersebut dikarenakan perbuatan-perbuatan dosa berimbas pada hati sebagaimana racun yang menginfeksi tubuh.
Hati merupakan hal yang lebih muliah -unggulbagi orang yang beriman daripada jasadnya. Bahkan hati adalah modal pokok bagi murid adalah menjaga hati dan menghiasinya. Sedangkan jasad adalah sasaran dari malapetaka dan bahaya serta jasad tidak lama akan hancur sebab kematian. Hilangnya jasad hanyalah berpisah dari dunia yang sedikit dan menyusahkan.
Adapun hati apabila rusak maka akhirat pun hancur. Karena sesungguhnya tidak akan selamat dari kemarahan Allah dan tidak akan beruntung dengan mendapat ridha dan pahala-Nya kecuali orang yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang selamat.









One Comment