Fasal
Seyogyanya seorang murid menjadi orang yang paling menjauhi kemaksiatankemaksiatan dan hal-hal yang diharamkan, paling menjaga perkara-perkara yang diwajibkan dan diperintahkan, paling gemar melakukan perbuatanperbuatan yang mendekatkan kepada Allah dan paling cepat menuju kebaikan.
Karena seorang murid itu tidak akan mengungguli manusia lain kecuali dengan memprioritaskan Allah dan ketaatan kepada-Nya serta dengan mengganti semua hal yang menyibukkan dirinya untuk beribadah kepada Allah.
Hendaknya seorang murid menjadi orang yang kikir terhadap nafasnya dan pelit dengan waktunya. Jangan digunakan (nafas dan Waktunya tersebut) baik itu sedikit ataupun banyak kecuali dalam perkara yang mendekatkan dirinya pada Tuhannya (Allah SWT) dan dalam hal yang kemanfaatannya kembali ke tempat pulangnya kelak (yakni akhirat).
Sebaiknya seorang murid memilik satu wirid dari berbagai ibadah-ibadahnya yang dilakukan secara terusmenerus (menjadi kebiasaan). Jangan mentolerir diri dengan meninggalkan sedikitpun wirid tersebut baik itu dalam kondisi sulit ataupun kondisi longgar.
Hendaknya murid memperbanyak membaca Al Quran al ‘Adzim disertai merenungkan maknanya dan membaca tartil lafadlafadnya. Disamping itu hendaknya murid memenuhi dirinya sendiri dengan keagungan Dzat yang berfirman saat membaca Kalam-Nya. Jangan membaca seperti orang-orang yang lalai yakni mereka yang membaca Al Qur’an dengan lidah/bahasa yang fasih, Suara yang tinggi/merdu dan hati yang jauh dari khusyu’ dan tidak ada Pengagungan kepada Allah. Mereka membaca Al Qur’an seperti apa yang diturunkan yakni dari awal sampai akhir sementara mereka tidak tahu maknanya. Dan mereka (juga) tidak mengetahui untuk kepentingan apa Al Qur’an diturunkan. Apabila mereka mengerti pasti mereka akan mengamalkan. Karena ilmu adalah sesuatu yang bermanfaat.
Barang siapa yang telah mengetahui (berilmu) sementara ja tidak menerapkannya maka antara dia dan orang bodoh tidak ada bedanya, kecuali dari sisi bahwa: “Hujjah (bukti) Allah akan mencelakakannya (yakni orang berilmu tapi tidak mengamalkannya) lebih ditekankan.” Berdasarkan hal ini orang bodoh lebih baik keadaannya dari orang yang berilmu tapi tidak mengamalkannya. Oleh karena itu dikatakan (sebuah pepatah): Setiap ilmu yang kemanfaatannya tidak kembali padamu maka kebodohan lebih (cepat) pulang padamu daripada ilmu tersebut.
Jadikanlah bagimu -wahai muridsatu bagian waktu untuk bertahajjud. Karena malam hari adalah waktu khalwat (berbincang-bincang secara intim) seorang hamba beserta Tuannya (Allah SWT). Untuk itu, perbanyaklah merendahkan diri dan meminta ampunan di malam hari. Bermunajatlah kepada Tuhanmu dengan bahasa yang merendah dan sangat membutuhkan-Nya. Semua itu dilakukan dengan hati yang menyatakan diri sangat lemah dan (berada) di puncak kesusahan.
Waspadalah, jangan sampai kau meninggalkan beribadah di malam hari. Jangan sampai waktu sahur mendatangimu kecuali kau sudah bangun dan berdzikir kepada Allah SWT.
Fasal
Wahai murid hendaknya kau terus-menerus bersungguhsungguh dalam memperhatikan pelaksanaan shalat lima waktu, yakni dengan menyempurnakan kondisi berdirinya, bacaanbacaannya, kekhusyu’annya, rukuknya, sujudnya dan memperhatikan kesempurnaan rukun-rukun yang lain serta sunah sunahnya.
Sebelum memasuki shalat buatlah hatimu merasakan kebesaran Dzat yang akan kau tuju dihadapan-Nya yakni Dzat Yang Maha Agung dan Maha Luhur.
Ingatlah! Jangan sekalikali kau bermunajat pada Raja seluruh raja, Penguasa dari seluruh penguasa dengan hati lalai yang terlepas di dalam jurang kealpaan dan godaan syetan serta hati yang berkelana di wilayah angan-angan dan pikiran keduniawian. Karena hal itu menimbulkan kemarahan dari Allah dan akan ditolak dari pintu Allah.
Rasulullah ‘alaihi asshalatu wassalam telah bersabda: “Ketika seorang hamba mendirikan shalat maka Allah (juga) mendatanginya dengan Dzat-Nya sendiri. kemudian ketika hamba tadi menengok ke belakang Allah ta’ala berkata: “dia (hamba tersebut) adalah keturunan Adam yang telah menoleh kepada orang yang lebih baik daripada-Ku.” Kemudian apabila ia menoleh untuk yang kedua kalinya, Allah akan berkata yang sama. Kemudian jika si hamba tadi menoleh untuk yang ketiga kalinya, Allah akan berpaling darinya.”
Ketika orang yang menoleh dengan wajah fisiknya saja Allah berpaling darinya, bagaimana keadaan seseorang yang di dalam shalatnya menoleh dengan hati ke bagian-bagian dan perhiasan dunia (yang menipu)? Allah subhanahu wa ta’ala tidak melihat — pada jasmani dan sisi lahir, Ia melihat hanya ada hati dan yang terdalam di dalamnya.
Ketika orang yang menoleh dengan wajah fisiknya saja Allah berpaling darinya, bagaimana keadaan seseorang yang di dalam shalatnya menoleh dengan hati ke bagian-bagian dan perhiasan dunia (yang menipu)? Allah subhanahu wa ta’ala tidak melihat pada jasmani dan sisi lahir, Ia melihat hanya ada hati dan yang terdalam di dalamnya. Analogi dari orang yang tidak hudhur bersama Allah dalam ibadahnya adalah seperti orang yang memberi hadiah pada penguasa yang tinggi sebuah — dayang perempuan yang telah mati atau sebuah peti kosong. Bukankah ia sangat pantas mendapatkan hukuman dan tidak mendapat balasan (ganjaran).









One Comment