Fasal
Seorang murid terkadang diuji dengan kefakiran, kemelaratan dan kesempitan ekonomi. Maka sebaiknya Ia bersyukur kepada Allah atas hal tersebut dan menganggap hal tersebut termasuk dari nikmat yang paling agung Karena dunia adalah musuh Allah maka Dia datangkan (uga) kepada musuhmusuh-Nya dan memalingkan dari kekasihkekasih-Nya.
Oleh karena itu, hendaknya si murid memuji/bersyukur kepada Allah yang telah menyerupakannya dengan nabi-nabi-Nya, para waliNya dan hamba-hamba-Nya yang sholih.Dulu Pemimpin para Rasul, makhluk yang paling baik yakni Muhammad Saw mengikatkan batu pada perutnya karena lapar.
Kadang dua bulan atau lebih berlalu di rumah beliau tidak ada nyala api untuk memasak makanan dan yang lainnya. Beliau hanya memakan kurma dan air. Dan seorang tamu datang, kemudian beliau mengirimkan (mengajak) dia menuju 9 rumahnya. Namun di seluruh rumah itu tidak ditemukan apapun yang bisa apapun untuk dimakan.
Di hari saat beliau wafat baju perangnya masih digadaikan pada salah satu orang yahudi untuk beberapa takar gandum. Dan di rumahnya tidak ada sesuatu yang bisa dimakan (yang layak) untuk orang yang kesusahan kecuai hanya segenggam gandum.
Jadikanlah tujuanmu -wahai murid dan harapanmu dari keduniawian ini sekedar sehelai kain yang menutupi auratmu dan hanya satu suapan makanan halal yang menahan laparmu.
Berhati-hatilah dengan racun yang membunuh, yaitu berupa keinginanmu merasakan kenikmatan dunia, rasa sukamu menikmati kesenangan nafsu dunia dan kau merasa iri dengan orang-orang yang mendapatkan kenikmatan dunia. Karena mereka akan ditanya mengenai hal tersebut dan mereka akan dihisab berdasarkan apa yang mereka peroleh serta apa yang ia kerjakan karena menuruti syahwatnya.
Apabila kau mengerti hal-hal yang sulit terus mereka upayakan, sumbatansumbatan yang membuat tersedak di tenggorokan yang tetap mereka usahakan untuk ditelan, kecemasan dan kegundahan yang berada di hati dalam mencari dunia, kegemaran menumpuk-numpuknya dan mementingkannya dengan menjaga serta menyimpannya. Maka kau akan melihat kecemasan dan kegundahan tersebut akan bertambah berkali lipat berdasarkan kenikmatan dunia yang mereka peroleh. Hal tersebut apabila (memang benar-benar) terdapat kenikmatan (yang sebenarnya).
Sudah cukup bagimu sebagai penyegah dari mencintai dunia dan sebagai penjauh dari dunia yaitu Firman Allah ta’ala: “Dan sekiranya bukan karena menghindarkan manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), pastilah sudah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada (Allah) Yang Maha Pengasih, loteng-loteng rumah mereka dari perak, demikian pula tangga-tangga yang mereka naiki dan (Kami buatkan pula) pintupintu (perak) bagi rumahrumah mereka, dan (begitu pula) dipan-dipan tempat mereka bersandar dan (Kami buatkan pula) perhiasan dari emas. Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, sedangkan kehidupan akhirat di sisi Tuhanmu disediakan bagi orang-orang yang bertakwa”
Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir”. Apabila di Sisi Allah dunia sebanding dengan sayap nyamuk maka Allah tidak akan membagikan dari dunia tersebut kepada orang kafir satu teguk pun air. Dan sesungguhnya Allah Dengan Ke-Maha Sucian-Nya sejak menciptakan dunia, Dia tidak pernah melihatnya.
Dan ketahuilah, bahwa rezeki itu hal yang sudah ditentukan dan dibagikan. Sebagian hamba ada yang rezekinya mudah dan lapang. Sebagiannya lagi ada yang disempitkan dan tidak mencukupi (hal tersebut) merupakan kebijaksanaan dari Allah
Apabila kau -wahai murid- termasuk orang yang diberi rezeki yang terbatas maka kau harus bersabar, ridha dan menerima dengan apa yang sudah dibagikan oleh Tuhanmu Dan apabila kau termasuk orang yang dilapangkan rezekinya, maka gunakanlah sesuai kecukupanmu dan ambilah sesuai kebutuhanmu. Belanjakanlah sisanya pada jalan kebajikan dan kebaikan.
Dan ketahuilah bahwasanya: tidak harus bagi seseorang ketika Ia Ingin memasuki jalan menuju Allah untuk mengeluarkan hartanya, apabila ia memiliki harta, ataupun meninggalkan profesinya, perniagaannya apabila ia seorang pekerja atau pedagang
Bahkan yang diharuskan baginya adalah bertakwa kepada Allah dalam keadaannya saat itu. Dan harus bertindak secara wajar sekiranya tidak meninggalkan suatu ibadah fardhu dan sunnah. Dan tidak terjatuh pada perkara yang diharamkan dan berlebihlebihan yang tidak layak dijadikan sebagai pertolongan dalam menempuh jalan menuju Allah.
Kemudian apabila si murid telah yakin secara pasti bahwa hatinya tidak akan istiqamah dan agamanya tidak akan selamat kecuali dengan menjauhkan diri dari harta kekayaan, maka ia harus melakukan hal tersebut. Kemudian apabila ia memiliki istri-istri atau anak-anak yang wajib dibiayai dan dinafkahi, maka ia wajib melakukan hal tersebut dan mengupayakannya. Lalu, jika ia benar-benar tidak mampu menafkahi yang dimaafkan secara syariat, maka ia terlepas dari kesalahan dan dosa.
Dan ketahuilah wahai murid bahwa kau tidak akan mampu terusmenerus melakukan ketaatan, menjauhi syahwat dan berpaling dari keduniawian kecuali dengan pemahaman di dalam dirimu bahwa masa hidupmu di dunia itu waktunya sebentar dan dalam waktu dekat kau akan mati. Kemudian (yang membuatmu bisa terus-menerus melakukan ketaatan lagi) adalah dengan menempatkan ajalmu di depan matamu, kesiapanmu menghadapi kematian dan penganggapanmu kematian akan datang padamu setiap saat.
Berhati-hatilah terhadap thulul amal (harapan, asa dan angan-angan yang berkepanjangan). Karena hal tersebut bisa membuatmu cinta pada dunia, membuatmu berat terus-menerus melakukan ketaatan, ibadah dan fokus pada jalan akhirat. Di dalam penganggapan kematiannya (sudah) dekat dan waktunya (umurnya) pendek terdapat kebaikan yang menyeluruh. Untuk itu, kerjankanlah! Semoga Allah memberi pertolongan padaku dan padamu.
Fasal
Kadang-kadang masyarakat mendominasi sebagian murid-murid dengan berbuat menyakiti, antipati dan mencela. Apabila kau diuji dengan hal tersebut, maka kau harus bersabar dan tidak usah membalas mereka disertai dengan hati yang bersih dari membenci dan menyimpan keburukan (dendam). Janganlah kau mendoaka orang yang menyakitimu dan jangan (pula) kau katakan ketika suatu musibah menimpa mereka, “Hal ini terjadi disebabkan ia menyakitiku”.
Yang lebih utama dari bersabar terhadap perbuatan yang menyakitkan adalah memberi maaf kepada pelakunya dan mendoakannya. Hal tersebut merupakan sebagian dari akhlak orang-orang Shiddiqiin.
Anggaplah berpalingnya orang-orang darimu sebagai nikmat dari Tuhanmu yang diberikan kepadamu. Karena apabila mereka mendatangi dan mendekatimu terkadang mengalihkan dari beribadah kepada-Nya. Kemudian apabila kau diberi cobaan dengan didekati mereka, diagungkan, dipuja-puja dan mereka sering berkunjung padamu, berhati-hatilah dari fitnah mereka. Bersyukurlah kepada Allah yang telah menutupimu keburukankeburukanmu dari mereka.
Kemudian, jika kau khawatir dengan dirimu sendiri berbuat dengan kepurapuraan, menghiasi diri (berdandan) untuk mereka dan takut akan menjauh dari Allah yang semua itu disebabkan bergaul dengan mereka, maka jauhilah mereka (uzlah), kuncilah pintu rumahmu, jika masih belum bisa tinggalkanlah tempat yang biasa kau gunakan sehingga mereka tahu kalau mencarimu ke tempat yang tidak diketahui mereka tidak tahu.
Jadikan dirimu seorang yang memilih untuk menyembunyikan diri dan menjauhi ketenaran dan terkenal. Karena dalam hal ini terdapat fitnah dan malapetaka.
Sebagian orang terdahulu (ulama’ salaf) berkata: “Demi Allah, seorang hamba tidaklah berlaku dengan benar kepada Allah kecuali ia menyukai kedudukannya tidak diketahui”. Sebagian yang lain mengatakan: “Tidak pernah aku mengenal seseorang yang mencintai dikenal oleh masyarakat umum kecuali agamanya telah hilang dan aibnya menjadi tersebar.









One Comment