Zalim Atau Aniaya
Zalim ialah tindakan yang melewati batas kebenaran atau melanggar hukum. Zalim ini mencakup pelanggaran semua perbuatan maksiat dan perbuatan-perbuatan yang hina. Orang yang zalim itu adakalanya zalim terhadap dirnya sendiri dan adakalanya zalim terhadap orang lain.
Zalim terhadap diri sendiri, berarti teledor dalam menjalankan ketaatan kepada Allah atau tidak beriman.
Zalim terhadap orang lain, berarti tidak bersungguh-sungguh dalam memenuhi haknya, sebagaimana sikap menyakitkan tetangga, meremehkan tamu, berbuat kebohongan, ghibah dan mengadu domba.
Rasulullah saw. bersabda :
“Zalim (berbuat aniaya) itu menyebabkan kegelapan-kegelapan di hari kiamat.”
Dalam hadi Qudsi disebutkan :
“Hai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan berbuat aniaya pada diri-Ku sendiri dan Aku jadikan zalim (berbuat aniaya) haram di antara kalian semua. Maka, janganlah kamu semua berbuat zalim (aniaya).”
Keadilan
Adil ialah sikap sederhana dalam semua persoalan dan menjalankan sesuai dengan syariat (hukum). Adil ada dua macam :
Pertama : Adil terhadap diri sendiri, yaitu bertindak sesuai dengan kebenaran (agama).
Kedua : Adil terhadap orang lain.
Adil terhadap orang lain itu terbagi menjadi tiga, yaitu :
- Keadilan penguasa (atasan) terhadap rakyat (bawahan), dnegan cara memberikan kemudahan kepada rakyat dan memberikan hak-hak mereka.
- Keadilan rakyat (bawahan) terhadap penguasa (atasan), murid terhadap guru dan anak terhadap orang tua, dengan cara taat secara tulus.
- Keadilan manusia terhadap sesamanya, dengan cara tidak menyombongkan diri di hadapan mereka dan menjauhkan gangguan dari mereka.
Allah swt. befirman :
“Sesungguhnya Allah telah memerintahkan berbuat adil dan ihsan.”
Itulah arti adil, sebagaimana diterangkan di atas. Sedangkan yang dimaksud ihsan, sebagaimana tersebut dalam hadis Nabi.
“(Ihsan) ialah menjalankan ibadah kepada Allah dengan mantap, sehingga seakan-akan engkau melihat-Nya.”
Jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka engkau harus yakin, bahwa Allah memperhatikanmu.
Demikian inilah yang disebut kesempurnaan iman dan puncak ketaatan.
Penutup
Penyusun kitab akhlak, Taisirul Khollaq menyampaikan penjelasan, bahwa revisi kitab ini telah selesai pada sore hari Jumat yang penuh barokah, tanggal 26 Jumadil Ula 1339 H.
Wahai, penuntut ilmu akhlak! Inilah buku yang kandungannya amat cemerlang, yang disusun dengan tujuan mulia.
Ketahuilah, bahwa seseorang tidak akan mendapatkan sesuatu pun dalam kehidupannya, tanpa kitab Taisir Al-Khollaq.









One Comment