Al-‘Iffah
Iffah adalah sikap menjaga diri dari sesuatu yang haram dan yang tidak terpuji. Ia termasuk sifat dan perangai yang amat mulia. Dari sifat inilah timbul banyak sifat mulia, misalnya sabar, hidup sederhana, suka memberi, cinta damai, takwa, tenang berwibawa, sayang kepada orang lain dan malu. “Iffah ibarat gudang orang yang tidak mempunyai harta dan mahkota orang yang tidak mempunyai jabatan.
Hal yang dapat membantu seseorang memiliki sifat ‘iffah ialah menjauhkan diri dari ketamakan (kerakusan), meninggalkan kesukaan mencari harta kekayaan dan hidup apa adanya.
Allah swt. Berfirman :
“Orang yang tahu menyangka mereka orang kaya, karena memelihara diri dari meminta-minta.”
Rasulullah saw. bersabda :
“Sangat beruntung orang yang mendapat hidayah hingga memluk Islam dan hidupnya pas-pasan serta menerima apa adanya.”
Al-Muru’ah
Muru’ah ialah sifat yang mendorong untuk berpegang pada akhlak mulia dan kebiasaan yang baik. Hal yang menyebabkan timbul muru’ah, ialah cita-cita yang tinggi dan kemuliaan jiwa.
Sesungguhnya orang yang memiliki cita-cita dan mulia jiwanya itu, pasti mempunyai tujuan mencapai kemuliaan, mendapatkan kelebihan-kelebihan, membangun kemuliaan-kemuliaan, membagi-bagi kesenangan dan berusaha menyingkirkan gangguan-gangguan.
Muru’ah merupakan tanda ‘iffah. Orang yang mempunyai sifat muru’ah, pertanda orang itu bisa menjaga diri dari sesuatu yang haram dan tidak baik, serta dirinya bersih dan terpelihara. Oleh karena itu, orang yang memiliki sifat muru’ah, pasti orang yang takwa, tidak suka kesenangan-kesenangan, rela menerima pemberian Allah kepadanya dan tanpa melihat kekayaan milik orang lain.
Dalil yang menunjukkan keterpujian sifat muru’ah, ialah sabda Nabi saw. :
“Sesungguhnya Allah swt. Menyukai perkara-perkara yang luhur dan mulia.”
Kesabaran
Sabar ialah sifat yang mendorong seseorang untuk meninggalkan dendam terhadap orang yang menjengkelkannya, meskipun orang tersebut mampu membalasnya. Hal-hal yang menyebabkan seseorang dapat sabar, ialah : Sayang kepada orang yang bodoh. Menghindari pertengkaran (permusuhan). Merasa malu atau risih untuk membalas. Ingin berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadanya. Memelihara nikmat yang dirasakan, dan menunggu kesempatan yang tepat.
Sesungguhnya menghindari permusuhan dengan seseorang merupaka jiwa yang mulia dan cita-cita luhur. Sedangkan malu merupakan bagian dari usaha menyelamatkan diri dan tanda kesempurnaan harga diri. Sedangkan upaya memelihara nikmat, merupakan bukti kesetiaan. Adapun rekayasa dan mengharapkan kesempatan merupakan bagian daripada kelicikan. Sebab, orang yang meluap-luap amarahnya itu sedikit muslihatnya.
Nabi Muhammad memuji-muji orang-orang yang sabar, sebagaimana dalam hadisnya :
“Sesunggguhnya Allah swt. mencintai orang-orang yang mempunyai rasa malu dan orang-orang yang sabar. Dan Dia benci kepada orang yang jahat dan kasar.”









One Comment