Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Minahus Saniyyah

BAB 1: TAUBAT

Taubat menurut pengertian bahasa ialah kembali. Sedang menurut pengertian syara’ (agama) Ialah berhenti dari melakukan segala perbuatan yang tercela menurut syara kepada perbuatan yang terpuji.
Abu Ishaq Ibrahim Al matbuli berwasiat:”wahai saudaraku wajib atas dirimu selalu bersikap lurus dan bertaubat.”
Taubat ada permulaan dan ada kesudahan nya. Permulaan Taubat ialah bertaubat dari dosa-dosa besar, dari dosa-dosa kecil, dari perkara yang makruh (dibenci), dari perkara yang menyalahi keutamaan dari prasangka baik terhadap diri sendiri, dari prasangka bahwa dirinya sebagai kekasih Allah SWT dan prasangka bahwa dirinya benar-benar telah bertaubat, dan akhirnya nya bertaubat dari kehendak hati yang tidak diridhoi Allah SWT.
Sedang kesudahan (puncak) bertaubat ialah kembali Allah SWT sewaktu-waktu lupa mengingat-Nya, sekalipun Hanya Sekejap mata titik ulama ahli tahqiq (orang yang mendalam pengetahuan agamanya) memberikan keterangan, bahwa orang yang mengakui serta menyesali perbuatan maksiat yang dilakukannya, berarti dia telah bertaubat dengan sebenarnya.
Sebab Allah SWT tidak menerangkan kepada kita perihal Taubat Nabi Adam AS kecuali hanya pengakuan dan penyesalannya. seandainya ada perkara lain di samping pengakuan dan penyesalan, Sudah barang tentu Allah SWT akan menceritakannya kepada kita. Pengakuan dan penyesalan Nabi Adam AS terlihat jelas dalam firman Allah SWT:

Artinya: “Keduanya (Adam dan Hawa) berkata: Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Dan jika Engkau tidak mengampuni kami serta tidak memberi rahmat kepada kami. niscaya kami termasuk golongan orang-orang yang merugi)” (Qs. Al-A’raf ayat: 23)
Ketika Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Adam as dan Siti Hawa sebagai sepasang suami istri penghuni surga yang bebas menikmati buah-buahan dan keluarganya di dalamnya kecuali syajarah ( pohon buah khuldi), setan membisikkan pikiran jahat kepadanya untuk menampakan apa yang tertutup dari mereka (aurat).
Setan merayu mereka dengan mengatakan: “Allah SWT melarang mu memakan buah khuldi, tidak lain adalah agar engkau tidak menjadi malaikat. Atau Agar engkau tidak kekal di dalam surga”.
Bahkan setan bersumpah, bahwa dirinya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada Adam dan Hawa. Akhirnya Adam dan Hawa tertipu oleh bujuk rayu setan, hingga memakan buah yang dilarang tersebut akhirnya aurat mereka terbuka dan diusir dari surga. Pada saat itu pula Allah SWT mengingatkan kepadanya, bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi umat manusia. Baru Adam dan Hawa sadar.
Lalu mengakui serta menyesali perbuatannya. Yakni dengan membaca doa sebagaimana termaktub pada ayat diatas. Dan Allah SWT pun kemudian menerima taubat Nabi Adam AS dan Siti Hawa, lantaran pengakuan serta penyesalan yang diikrarkannya sebab pengakuan serta penyesalan terhadap perilaku maksiat adalah hakikat yang sebenarnya.
Adapun perkataan ulama, bahkan sebagian dari syarat bertaubat ialah meninggalkan perbuatan maksiat yang telah dilakukan serta berkeinginan kuat untuk tidak mengulangi lagi perbuatan dosa tersebut. Pendapat yang demikian hanya bersumber dari istinbath (menetapkan hukum melalui ijtihad) mereka.
Sebab orang yang mengakui serta menyesali perbuatan maksiat yang dilakukan, Sudah barang tentu akan meninggalkan kemaksiatan itu serta berkeinginan untuk tidak melakukan kembali. Dengan bertaubat, seseorang akan mendapat Pengampunan Dosa atas pelanggaran yang dilakukannya terhadap hak-hak Allah SWT.
Demikian pula kezaliman (kemaksiatan) yang terlanjur dilakukan secara gegabah, tetap akan mendapat pengampunan kecuali menyekutukan Allah SWT (syirik) dan merampas hak-hak sesama manusia. Seperti merampas harta kekayaan dan kehormatan orang lain.
Taubat diangkat sebagai pendahuluan dalam tulisan ini, merupakan dasar bagi setiap maqam yang didaki oleh seorang hamba sampai ia meninggal dunia titik sebagaimana orang yang tidak mempunyai rumah, begitu pula orang yang tidak bertaubat tak akan mempunyai ‘hal’ atau Maqam.
Ini merupakan suatu proses pemikiran terhadap dosa-dosa yang telah dilakukan sehingga timbul di dalam hati perasaan susah dan prihatin atas perbuatan tersebut. Oleh sebab itu kemudian timbul hasrat untuk bertaubat titik Apabila hasrat itu direalisasikan dalam bentuk amal nyata, berarti dia telah mendapatkan maqam (kedudukan). Sebab kadang-kadang hasrat itu kandas di tengah jalan karena pengaruh kebendaan dan keduniaan.
Sebagian ulama ada yang menegaskan:
Artinya: “Barang siapa memperkuat kedudukan taubatnya, pasti dia dijaga oleh Allah dari segala sesuatu yang mencampuri keikhlasan dalam amal-amalnya.”

Orang yang memperkuat kedudukan taubatnya akan selalu ikhlas dalam beramal. Tanpa pamrih apapun, kecuali mengharap keridhaan Allah SWT. Taubat yang bisa membuahkan keikhlasan itu berarti telah mencapai kepada tingkatan zuhud dalam kebendaan dan keduniaan. Sifat zuhud itulah yang dapat menjaga seseorang dari Setiap perkara yang menjadi penghalang dalam hati untuk mengingat Allah SWT.
Zuhud ialah menghilangkan kecintaan hati terhadap kebendaan dan keduniaan. Karena pikirannya selalu dicurahkan untuk mencari keridhaan Allah SWT semata, dalam kaitannya memikirkan nasib kehidupan akhirat nanti.
Al-ghazali mengetengahkan tentang pengertian zuhud, bahwa: artinya zuhud ialah meninggalkan keduniaan karena adanya pengertian bahwa dunia itu sangat hina apabila dibanding dengan keindahan akhirat. Zuhud, bukan berarti meninggalkan keduniaan serta membelanjakan harta dengan tanpa perhitungan buka (sangat pemurah).
Dan karena kedongkolan hati serta karena tamak (mengharapkan imbalan lebih banyak dari orang lain). Karena semua itu hanya merupakan perbuatan perbuatan baik menurut adat, namun tidak bisa dikategorikan ke dalam ibadah. “
Apabila seseorang telah menyimpang dari taubatnya, maka penyimpangan itu akan menarik setiap maqam (kedudukan) yang sesudahnya. Akibatnya kedudukan itu menjadi ringkih. Yakni ibarat seseorang yang membangun pagar rumah dengan batu merah kering tanpa menggunakan semen.
Muhammad bin Inan memberikan keterangan:
Artinya: ” barangsiapa Istiqomah (lurus) dalam bertaubat dari perbuatan perbuatan maksiat, maka berarti dia dapat meningkatkan taubatnya, hingga bisa meninggalkan Setiap perkara yang tiada guna. Barang siapa tidak bisa istiqomah dalam bertaubat, maka dia tidak akan bisa merasakan arti dari perbuatan maksiat.
Dan Taubat yang demikian, adalah omong kosong belaka. Dia tidak akan bisa memelihara hasrat main hati untuk selama-lamanya. Bahkan akan tenggelam ke dalam hasrat maksiat titik hingga dalam ibadah salat nya pun demikian.”
Allah SWT telah memerintahkan kepada Rasulullah SAW agar selalu istiqomah dalam bertaubat. Perintah ini diberikan kepada Rasulullah dan seluruh umatnya. Yakni sebagaimana tersurat dalam firman Allah SWT:
Artinya: ” maka tetaplah lurus (dalam bertaubat) sebagaimana kamu telah diperintahkan dan orang orang yang bertaubat bersamamu.” (QS. Hud:112).

Artinya:”barangsiapa beristiqomah (lurus) dalam bertaubat dan Zuhud dalam keduniaan, maka tercerminlah semua kedudukan dan perilaku yang baik pada dirinya.”
Taubat merupakan kewajiban bagi setiap orang yang beriman. Dengan bertaubat dia akan mendapatkan ampunan dari segala kemaksiatan yang telah dilakukannya. Perintah Allah SWT dalam Al Qur’an :
Artinya : “wahai orang orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah SWT dengan taubat yang semurni murninya. Mudah mudahan tuhanmu akan menutupi kesalahan kesalahanmu dan memasukkan kamu kedalam surga yang mengalir dibawahnya sungai sungai.
Yakni pada hari ketika Allah SWT tidak menghinakan nabi dan orang yang beriman bersamanya, sedang cahaya mereka memancarkan dihadapan dan disebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. At-tahriim:8).

Abdillah bin Mas’ud memberikan keterangan, bahwa Rasulullah Saw telah menegaskan: Barangsiapa bertaubat tetapi tidak belajar ilmu pengetahuan, berarti dia belum bertaubat. Barangsiapa bertaubat tetapi tidak meningkatkan pengabdiannya kepada Allah SWT, berarti dia belum bertaubat.
Barangsiapa bertaubat tetapi belum Ridha terhadap lawan sengketanya, berarti dia belum bertaubat. Barang siapa bertaubat tetapi tidak mengganti pakaian dan perhiasannya (yang menyebabkan dirinya sombong melakukan maksiat), berarti dia belum bertaubat.
Barangsiapa bertaubat tetapi tidak meninggalkan teman maksiatnya, berarti dia belum bertaubat. Barangsiapa bertaubat tetapi tidak merubah akhlaqnya, berarti dia belum bertaubat. Barangsiapa bertaubat tetapi tidak meninggalkan kesombongan dan kecongkakannya, berarti dia belum bertaubat.
Barangsiapa bertaubat tetapi belum mau menyedekahkan kelebihan harta kekayaannya dalam kehidupannya, berarti dia belum bertaubat. Apabila seseorang telah bisa merubah sikap sikap tersebut, berarti dia telah melakukan hakikat bertaubat.
Bertaubat dengan segera setelah melakukan kemaksiatan, adalah merupakan keharusan bagi setiap orang beriman. Allah SWT telah berfirman:
Artinya:” Sesungguhnya taubat disisi Allah hanyalah taubat bagi orang orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan (kebodohan), yang kemudian mereka bertaubat dengan segera. Maka mereka itulah yang diterima Allah SWT taubatnya. Dan Allah SWT Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-nisa’ ayat:17)

Bagi orang yang melakukan kemaksiatan terus menerus, sesekali dia bertaubat pada kesempatan lain masih juga melakukan maksiat, maka taubatnya tidak akan diterima oleh Allah SWT. Hal mana telah ditegaskan dalam firman-Nya:
Artinya:”Dan tidaklah taubat itu diterima Allah SWT dari orang orang yang mengerjakan kejahatan yang hingga apabila datang kepada seseorang diantara mereka, barulah ia mengatakan: ‘Sesungguhnya saya bertaubat sekarang’. Dan tidak pula diterima taubat orang orang yang mati, sedang mereka berada didalam kekafiran. Bagi orang orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.” (QS. An-nisa’ : 18)

Pada suatu hari ketika Sayyidina Umar bin Khattab datang menghadap Rasulullah Saw sambil menangis. Rasulullah menyambut kedatangannya dan menanyakan apa yang menjadi penyebab hingga dia menangis. Jawab Sayyidina Umar : ‘Ya Rasulullah, telah datang kepadaku pemuda yang tangisnya memilukan hati’. Lalu Rasulullah Saw memerintahkan agar pemuda itu dibawa datang menghadap kepada beliau Saw.
Setelah pemuda itu menghadap, Rasulullah menanyakan tentang apa yang menjadi penyebab hingga dia menangis. Jawabnya: ‘ Ya Rasulullah, dosa yang melimpah dalam diriku yang menyebabkan aku menangis. Hingga aku merasa takut terhadap kemurkaan Allah SWT’. Kemudian Rasulullah Saw bertanya kepada pemuda itu: ‘Adakah kamu menyekutukan Allah SWT?’ Jawabnya: ‘Tidak’. Rasulullah bertanya lagi: ‘Adakah kamu membunuh orang?’ Jawabnya: ‘Tidak’.
Maka selanjutnya Rasulullah Saw bersabda: ‘Allah SWT akan memberikan ampunan atas dosa dosamu, sekalipun dosamu memenuhi tujuh langit dan tujuh bumi’. Pemuda itu lalu berkata: ‘Ya Rasulullah. Dosaku lebih besar daripada tujuh langit dan tujuh bumi, gunung gunung, dan tetumbuhan’. Lalu Rasulullah Saw bertanya: ‘Adakah dosa dosamu melebihi kursi (kekuasaan) Allah SWT ?’ Jawabnya: ‘Dosakuebih besar dari itu’.
Kemudian Rasulullah Saw bersabda: ‘Adakah dosamu lebih besar dari ‘Arsy Allah?’ Jawabnya: ‘Dosaku lebih besar dari itu’. Rasulullah Saw bertanya lagi: ‘Lebih besar manakah antara dosamu dari ampunan serta Rahmat Allah SWT?’ Jawabnya: ‘Dosaku lebih besar dari semua’. Maka kemudian Rasulullah Saw mempersilahkan pemuda itu untuk menceritakan perbuatan dosa yang pernah dilakukan. Dan pemuda itupun kemudian berkata: ‘Aku malu kepadamu, ya Rasulullah’. Sabda Rasulullah Saw: ‘Janganlah kamu malu kepadaku’.
Maka pemuda itu lalu menceritakan perbuatan maksiat yang pernah dilakukannya. Dia berkata: ‘Ya Rasulullah sejak tujuh tahun terakhir ini pekerjaanku adalah menggali kubur orang orang yang sudah meninggal untuk kemudian saya ambil kafannya. Yang terakhir aku menggali kubur seorang perempuan keturunan sahabat Anshar. Anak perempuan itu saya keluarkan dari kubur dan aku ambil kain kafannya, kemudian aku setubuhi”.
Lalu anak itu berkata kepadaku: ‘Adakah kamu tidak malu terhadap catatan Allah SWT dihari perhitungan amal nanti, dimana pada hari itu orang yang dianiaya akan menuntut balas terhadap orang yang menganiaya?’ Maka kemudian aku tinggalkan perempuan itu dalan keadaan telanjang l dipekuburan. Aku pergi dalam keadaan junub. Rasulullah Saw langsung meloncat ketika mendengar penuturan pemuda itu.
Lalu beliau bersabda: ‘Wahai orang fasik, keluarlah kau dari rumahku ini. Tidak ada balasan buatmu kecuali amuk api neraka’. Pemuda itupun keluar sambil menangis sejadi jadinya. Lalu dia mogok. Tidak makan, minum serta tidur selama tujuh hari tujuh malam. Sehingga hilang segala kekuatannya. Dan akhirnya diapun terjatuh.
Dia menelungkup kan wajah ke bumi sambil bersujud, seraya memanjatkan do’a: ‘ Ya Rabbi, aku adalah hamba-Mu yang berdosa dan bersalah. Aku datang menghadap utusan-Mu untuk mendapatkan syafa’at (pertolongan). Ketika utusan-Mu mendengar dosa yang aku lakukan, malah mengusirku. Pada hari ini aku datang menghadap kepada-Mu agar Engkau berkenan memberikan syafa’at kepadaku terhadap kekasih-Mu.

Sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengasih kepada setiap hamba. Dan tiada lagi pengharapan untuk mendapatkan ampunan melainkan kepada-Mu. Sekiranya Engkau tiada berkenan mengampuni dosa dosaku, maka kirimkan lah api yang membakar diriku didunia ini sebelum aku Engkau masukkan kedalam amuk api neraka-Mu diakhirat nanti.’
Lantaran do’a yang dipanjatkan pemuda itu, lalu Malaikat Jibril datang kepada Rasulullah Saw, seraya berkata: ‘Ya Rasulullah, Allah menyampaikan salam buatmu’. Jawab Rasulullah Saw: ‘Dia Maha Selamat, dari-Nya keselamatan, dan kepada-Nya keselamatan akan kembali’. Malaikat Jibril selanjutnya berkata: ‘Ya Rasulullah, Allah SWT berfirman kepadamu: Adakah kamu yang menciptakan hamba hamba Ku?’ Jawab Rasulullah: ‘Dia yang menciptakan aku dan seluruh hamba’.
Malaikat Jibril berkata: ‘Ya Rasulullah, Allah SWT berfirman kepadamu: ‘Adakah kamu yang memberi rezeki kepadaku dan kepada mereka?’ Jawab Rasulullah: ‘Dia yang memberi rezeki kepadaku dan kepada mereka’. Malaikat Jibril berkata: ‘Ya Rasulullah, Allah SWT berfirman kepadamu: Adakah kamu yang menerima taubat mereka?’ Jawab Rasulullah: ‘Tidak, Dia yang menerima taubat umat manusia dan mengampuni segala kejelekan nya’.
Malaikat Jibril berkata: ‘Ya Rasulullah, Allah SWT berfirman kepadamu: ‘Aku mengutus seorang hamba menghadap kepadamu, setelah hamba itu mengemukakan dosa yang diperbuatnya, kamu merasa benci sekali terhadap dosa itu. Padahal itu baru satu perbuatan doasan saja. Terus bagaimana keadaan orang orang yang bersimbah dosa apabila nanti mereka datang menghadap kepadamu untuk meminta syafa’at? Maka ampunilah kesalahan (dosa) hamba-Ku itu’.
Maka Rasulullah Saw segera mengutus beberapa orang sahabat agar mencari (melacak) pemuda Yang pernah datang menghadap Rasulullah Saw itu. Setelah bertemu, mereka menyampaikan kabar gembira, bahwa dia telah mendapat ampunan dosa. Kemudian pemuda itu diajak menghadap Rasulullah Saw.
Ketika mereka menghadap, Rasulullah Saw sedang melaksanakan salat Maghrib. Dan mereka segera melaksanakan shalat, bermakmum kepada Rasulullah Saw. Setelah membaca surat Al Fatihah, Rasulullah Saw melanjutkan bacaannya dengan membaca surat at takatsur. Ketika melantunkan bacaan ayat:
Artinya: “Bermegah megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk kedalam kubur.” (QS. At takatsur 1-2).
Maka pemuda itu berteriak sangat keras. Setelah selesai melakukan salat, mereka menemukan pemuda itu terbujur kaku. Ternyata ia telah meninggalkan dunia fana, dengan siraman ampunan dan Rahmat Allah SWT. Dan kemudian Rasulullah Saw bersabda:
Artinya: “Apabila seorang pemuda yang bertaubat meninggal, maka Allah SWT mengangkat siksa perkuburan kaum muslimin selama empat puluh tahun karena kemuliaannya disisi Allah SWT”.
Bagi kawula muda, bertaubat merupakan amal yang sangat tinggi nilainya disisi Allah SWT. Sebab ditengah tengah kehidupannya yang diselimuti limbah dosa, mereka masih sadar untuk menegakkan kewajiban terhadap Tuhannya. Dan, itulah yang mengantar Allah SWT hingga berkenan mencurahkan anugrah serta kasih sayang kepada para pemuda.
Pada suatu ketika Sayyidina Umar bin Khattab berjalan jalan dilorong kota Madinah. Dia bertemu dengan seorang pemuda yang membawa sesuatu dibalik bajunya. Sayyidina Umar menanyakan kepada pemuda itu, apakah yang berada dibalik bajunya. Ternyata yang berada dibalik bajunya adalah minuman keras. Tapi, pemuda itu merasa malu untuk mengatakan yang sebenarnya.
Didalam hati, dia berkata: ‘Tuhanku, janganlah Engkau membuka rahasiaku. Dan janganlah Engkau mempermalukan diriku dihadapan Sayyidina Umar bin Khattab. Tutuplah semua itu. Dan aku berjanji, tidak akan minum minuman keras lagi selama lamanya’. Kemudian pemuda itu menjawab: ‘Ya Amiral Mukminin, aku membawa cuka.’
Lalu Sayyidina Umar bin Khattab Ra berkata: ‘Bukalah, hingga aku mengetahui apa sebenarnya yang berada dibalik bajumu’. Maka Umar menyaksikan, bahwa khamr (minuman keras) itu telah menjadi cuka yang nikmat dan segar.
Dari kisah nyata diatas dapat diambil i’tibar (contoh teladan) oleh setiap manusia, bahwa pemuda yang takut kepada Sayyidina Umar saja, Allah SWT berkenan menggantikan khamr menjadi cuka. Karena takut kepada Allah SWT.
Sudah barang tentu Allah SWT akan mengganti khamr kejahatannya dengan cuka ketaatan. Allah SWT akan memberikan ampunan dari segala kejahatan yang telah dilakukan. Hal ini bukanlah sesuatu yang aneh. Dan bukan pula hal yang menakjubkan. Sebab Allah SWT telah berfirman:
Artinya: “Kecuali orang orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh. Maka mereka itu kejahatannya akan diganti Allah SWT dengan kebajikan. Dia adahal Allah SWT Maha Penganpun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat serta mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah SWT dengan taubat yang sebenar benarnya”. (QS. Al Furqan:70-71).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker