Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Minahus Saniyyah

BAB 3: MENINGGALKAN PERKARA MUBAH

Tidak benar seorang murid berkehendak untuk mencapai suatu kedudukan yang lebih tinggi tanpa meninggalkan perbuatan yang mubah (dibolehkan agama) , kemudian menggantinya dengan perkara sunnah atau dengan perkara yang lebih utama. Seharusnya ia menjauhi perkara mubah dan menyadari hal itu, seakan-akan memang larangan.
Melakukan perkara mubah, memang tidak dilarang agama titik seperti menghirup udara di pagi hari, berekreasi dan lainnya. Tapi, bagi seseorang yang menginginkan kedudukan tinggi di sisi Allah SWT waktu yang mubah itu lebih baik digunakan untuk melakukan amal sunnah, atau perkara yang lebih utama. Misalnya, digunakan untuk Tadarus AlQuran, salat Dhuha, bersilaturahmi dan amalan lain yang mengantar kepada Allah SWT.
Abu Ishaq Ibrahim Al matbuli menegaskan:
Artinya:” Tinggalkanlah perkara perkara mubah, Agar dapat mencapai tingkat kedudukan yang lebih tinggi.”
Ahli tarekat sepakat bahwa setiap orang yang menjalankan kemurahan kemurahan (rukshah) agama dengan meninggalkan hasrat yang lebih kuat, maka orang itu tidak akan menghasilkan sesuatu di dalam menelusuri jalan thoriqot. Maksudnya kedudukan yang telah dicapai tidak akan meningkat kepada tingkatan yang diatasnya lagi.
Ali Al khawas menerangkan:
Artinya:” Allah SWT tidak menjadikan perkara mubah (perkara yang bila dilakukan tidak ada sangsi dosa, dan juga tidak mendapatkan pahala) kecuali hanya untuk memberi kesempatan istirahat bagi anak turun Adam dari rasa lelah melakukan beban kewajiban titik sebab Allah SWT telah mengisi rasa bosan kedalam jiwa anak turun Adam dari menjalankan perintah agama.
Seandainya Allah SWT tidak mengisi rasa bosan didalam jiwa anak turun Adam, pasti Allah SWT tidak syariat kan hukum mubah kepada mereka sebagaimana para malaikat. Mereka tidak merasa bosan melakukan ibadah kepada Allah SWT selalu Bertasbih sepanjang siang dan malam tanpa henti hentinya.”
Perkara mubah disyariatkan Allah SWT semata-mata hanya untuk memberi kesempatan beristirahat bagi umat manusia agar tidak merasa bosan dalam menjalankan perintah Allah SWT yang rasa kebosanan itu tidak dimiliki oleh para malaikat.
Di sinilah perbedaan hakiki antara manusia dengan malaikat titik malaikat tidak memiliki hati yang dapat digunakan untuk berpikir dan tidak memiliki rasa bosan melakukan perintah Allah SWT sedangkan manusia memiliki hati yang bisa digunakan untuk berpikir (yang kadang kadang dipengaruhi oleh nafsu jahatnya) dan memiliki rasa bosan dalam melaksanakan perintah Allah SWT.
Tentang keadaan malaikat telah ditegaskan dalam firman Allah SWT:
Artinya:” dan Milik-Nya lah segala yang di langit dan di bumi dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya Dan Tiada pula merasa letih. Mereka selalu Bertasbih malam dan siang Tiada henti-hentinya.” (QS. Al Anbiya’ : 19-20)
Waktu istirahat bagi umat manusia sangatlah baik apabila digunakan untuk berdzikir kepada Allah SWT sebagai pengabdian dan syukur atas rahmat nikmat, serta anugerah yang telah diberikan. Bertiga setiap waktu juga diperintahkan oleh Allah SWT baik dalam kondisi dan situasi seperti apapun. Di dalam Alquran ditegaskan:
Artinya:” Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah Dengan menyebut nama Allah SWT, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi Rahmat kepadamu dan Malaikat-Nya memohonkan ampunan untukmu agar Dia mengeluarkan mu dari kegelapan cahaya yang terang dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (QS. Al Ahzab: 41-43)
Dalam ayat-Nya yang lain, Allah SWT berfirman:

Artinya:” maka apabila engkau telah menyelesaikan salat mu, Ingatlah Allah diwaktu berdiri, diwaktu duduk dan diwaktu berbaring.” (QS. An Nisa’ :103)
Sudah menjadi kebiasaan guru-guru thoriqot selalu mengerjakan yang kuat dengan meninggalkan perkara yang mudah dalam rangka mencari derajat kedudukan yang lebih tinggi disisi Allah SWT.
Oleh sebab itu mereka menuntut kepada murid-muridnya untuk menekan sesedikit mungkin melakukan perkara mubah dengan amalan sunah, maka dalam melakukan perkara mubah tersebut hendaknya disertai dengan niat yang baik titik misalnya makan dengan niat agar dalam beribadah mendapat kekuatan.
Berbincang-bincang dengan maksud (niat) beramah-tamah dengan sesama dan untuk menghilangkan kemasaman muka agar terjalin Persaudaraan yang lebih mesra. Dengan cara demikian maka makan dan berbincang-bincang yaitu mendapat pahala, sekalipun hal tersebut pada dasarnya Muba titik lantaran niat yang baik Itulah maka amalan tersebut menjadi amalan yang ada pahalanya di sisi Allah SWT.
Niat, merupakan faktor terpenting dalam segala perbuatan titik oleh karena itu para ulama menempatkan niat sebagai rukun yang pertama dalam segala perbuatan maupun ibadah titik perbuatan sehari-hari bisa mendapat pahala apabila disertai niat yang baik. Sebaliknya, ibadah dapat rusak (tidak mendapat pahala) lantaran rusaknya niat.
Misalnya ibadah salat yang disertai niat riya’ (pamer), maka salat itu sama sekali tidak ada pahalanya. Sayyidina Umar Bin Khattab Ra mendengar Rasulullah SAW bersabda:
Artinya:” Sesungguhnya setiap amal perbuatan harus disertai niat dan setiap sesuatu itu sangat tergantung pada niatnya. ” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ulama ahli tarekat menuntut kepada murid-muridnya agar tidak tidur kecuali benar-benar membutuhkan Tidur. tidak boleh makan kecuali benar-benar lapar, Tidak boleh berbincang-bincang kecuali sangat mendesak, tidak boleh bergaul dengan masyarakat kecuali memang keadaan memaksa. Hal mana dikarenakan para guru tarekat menghendaki agar murid-muridnya mendapat pahala sempurna dalam segala perilaku.
Sebagaimana mereka mendapat pahala melakukan kewajiban titik jadi murid itu baru diperbolehkan makan apabila makan tersebut telah diwajibkan kepadanya. Maksudnya Makan itu menjadi wajib lantaran kalau tidak makan nyawa melayang. Dalam keadaan yang kritis seperti ini makan telah menjadi kewajiban baginya. Demikian juga berbicara, dibolehkan dalam keadaan memaksa.
Seandainya turun dari tingkatan itu, maka jangan sampai lebih rendah dari tingkatan sunnah. Maksudnya murid diperbolehkan makan maupun berbicara kalau kondisi makan dan berbicara itu telah disunnahkan. Setelah dalam kondisi dia disunahkan makan maupun berbicara, barulah melakukannya.
Para guru tarekat menuntut murid-muridnya jangan sampai melupakan berzikir kepada Allah SWT, mimpi keluar sperma atau menjulurkan kaki pada waktu siang maupun malam kecuali dalam keadaan yang memaksa. Demikian pula Hasrat Hati yang tidak baik apabila belum dilaksanakan hendaklah dibatalkan.
Makan sesuatu yang disenangi oleh syahwat, menurut guru tarekat juga dilarang, sekalipun hal itu dibolehkan oleh ajaran agama Titiek sebab hal-hal yang demikian itu dapat menjadi penghalang untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi lagi dalam ber makrifah kepada Allah SWT.
Di dalam Kitab Zabur, Allah SWT telah berfirman kepada Nabi Daud AS:
Artinya: “wahai Dawud, berilah peringatan kaummu dari makan sesuatu yang disenangi. Sesungguhnya hati orang yang suka makan sesuatu yang disenangi (digemari) oleh hawa nafsu akan terhalang bermakrifat kepada-Ku.”
Makan sesuatu yang menjadi kehendak syahwat (nafsu) itu merupakan akhlak yang rendah dalam pandangan Allah SWT yang hal itu tidak akan bisa menolak kemungkaran-Nya. Sekiranya bisa menolak, tentu tidak ada larangan.
Selanjutnya Ali Khawwash memberikan keterangan:
Artinya:” seorang murid tidak akan mencapai tingkatan Sidiq (benar), sehingga dia mau menambah dalam mengagungkan perintah Allah SWT serta menjauhi larangan-Nya. Dia mengerjakan perkara sunnah seakan-akan melaksanakan barang wajib dan menjauhi barang makruh (dibenci) sebagaimana menjauhi barang haram serta menjauhi barang haram sebagaimana menjauhi kekufuran.”
Seorang murid seharusnya berniat yang baik dalam melakukan perkara mubah agar mendapat pahala dari sisi Allah SWT. Oleh karena yang demikian, maka dikala dia qailulah (tidur siang sebentar) hendaklah berniat untuk memperkuat melakukan sholat malam, makan sesuatu yang diinginkan dengan niat untuk mengobati kehendak nafsu agar tidak selalu mengajak lari dari beribadah kepada Allah SWT.
Sebab nafsu setiap saat dalam hati umat manusia dengan mengucapkan:”Jadilah kamu seorang yang dapat memenuhi sebagian kehendakku. Kalau tidak, tentu akan aku kalahkan dirimu.” Memakai pakaian yang indah bagi seorang murid hendaknya disertai niat melahirkan nikmat Allah SWT, bukan hanya memperturutkan kehendak nafsu. Demikian pula di kala makan atau minum lebih dari kebiasaan hendaklah disertai niat mensyukuri nikmat allah yang telah diberikan kepada anggota badan.
Abul Hasan Asy Syadzali pada suatu ketika pernah berkata kepada murid-muridnya: Makanlah kamu dari sebaik-baik makanan. Minumlah dari minuman yang paling segar. Tidurlah di atas kasur yang empuk, dan berpakaian lah dengan sebaik-baik pakaian. Apabila salah seorang diantara kamu melakukan hal itu, Dan kemudian bersyukur dengan membaca alhamdulillah maka seluruh anggota badan ikut pula bersyukur kepada Allah SWT.
Berbeda sekali dengan orang yang memakan makanan yang tidak enak, minum-minuman yang kurang segar, memakai pakaian yang kasar, tidur di lantai kemudian mengucapkan Alhamdulillah yang dikala mengucapkannya disertai hati yang menggerutu dan terdapat kebencian terhadap Allah SWT. Seandainya ia bersedia melihat dengan mata hati.
Pasti dia akan menemukan bahwa menggerutu dan membenci Allah SWT yang dilakukan itu rasanya lebih besar daripada orang yang bersenang-senang dengan kebendaan dan kemewahan dunia. Sebab orang-orang yang bersenang-senang dengan kebendaan sebagaimana diatas Masih pada batas yang dibolehkan oleh Allah SWT. Padahal barangsiapa yang di dalam hatinya terdapat perasaan menggerutu dan benci terhadap ketentuan Allah SWT, maka dia benar-benar telah melakukan suatu perkara yang diharamkan Allah SWT.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker