BAB 7: SIFAT MALU KARNA TABI’AT
Sifat malu yang ditimbulkan oleh tabiat (watak) sangat berbahaya karena termasuk dalam kategori sifat sombong. Contohnya ialah orang yang merasa malu berpikir kepada Allah SWT dengan mengeraskan volume suara di hadapan orang banyak.
Kebanyakan orang yang meninggalkan dzikir kepada Allah SWT di hadapan orang banyak adalah orang-orang yang mempunyai Ambisi untuk meraih kedudukan yang tinggi, seperti para qadhi, tokoh dan guru tarekat.
Apabila mereka ini diajak berpikir bersama-sama orang banyak, maka timbullah perasaan malu, seakan-akan dia melakukan perbuatan maksiat. Orang seperti ini malahan wajib berdzikir dengan mengeraskan volume suara agar mereka terlepas dari sifat sombong.
Umar bin Farid memberikan isyarat dalam syairnya:
Artinya: “peganglah tali cinta kepada Allah SWT, uang lah malu lu yang timbul karena tabiat, biarkan Jalan para ahli ibadah, sekalipun tinggi kedudukan dan derajat. “
Syekh Muhammad memerintahkan kepada murid-muridnya, agar berdzikir dengan suara yang lantang di pasar-pasar, di jalan-jalan dan di tempat-tempat yang sepi. Hal mana dimaksudkan agar mereka bisa terhindar dari sifat sombong dalam beribadah kepada Allah SWT.
Dalam hal ini, Syekh Muhammad menegaskan:
Artinya: “berdzikirlah kepada Allah SWT di mana saja sehingga kelak di Hari Kiamat tempat-tempat yang digunakan untuk berdzikir itu menjadi saksi bagimu. Dan terobos razia watak-watak nafsu. Sebab kamu akan terhalang selama tidak mau menerobos watak-watak nafsu itu. “
Orang-orang yang merasa mempunyai kedudukan terhormat, kebanyakan merasa enggan diajak berpikir kepada Allah SWT bersama orang banyak. Keengganan ini dikarenakan perasaan malu yang ditimbul dari watak (tabiat) kesombongan. Dengan demikian para ahli tarekat berpendapat, bahwa orang-orang yang bersifat seperti ini diwajibkan untuk berdzikir dengan suara keras bersama-sama orang banyak, agar mereka terlepas dari sifat kesombongan.
Rasa malu yang diakibatkan oleh tabiat kesombongan adalah dilarang oleh ajaran syariat Islam. Karena hanya akan merusak sifat keikhlasan yang berada di dalam hati. Sifat gengsi itulah yang mengantarkan mereka berbangga diri. Namun demikian, sifat malu kepada Allah SWT (merasa malu melakukan larangan Allah SWT) adalah termasuk sebagian dari cabang Iman titik artinya, lalu yang seperti ini dianjurkan oleh ajaran syariat Islam.
Rasulullah SAW telah bersabda:
Artinya: “merasa malu lah kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya malu. Para sahabat berkata: wahai Rasulullah, kami telah merasa malu. Lalu Rasulullah bersabda: bukan itu yang aku maksudkan. Tetapi barangsiapa merasa malu kepada Allah SWT dengan sebenar-benar malu, maka hendaklah dia menjaga diri dan apa yang ada padanya, perut dan isinya, kemaluan, kedua tangan, kedua kaki.
Dan hendaklah dia selalu ingat akan kematian dan segala kebinasaan. Barang siapa menghendaki kehidupan akhirat maka dia harus meninggalkan kemewahan dunia dan memprioritaskan segala amalnya untuk akhirat. Barangsiapa yang dapat mengamalkan hal itu, berarti dia benar-benar malu kepada Allah SWT. “
Sifat malu yang diperintahkan agama Islam ialah malu mengerjakan larangan-larangan Allah SWT lari kepada tunduk dan patuh melaksanakan perintah-perintah-Nya. Sedangkan malu yang hanya karena gengsi-gengsian, seperti malu melakukan ibadah bersama-sama orang banyak, adalah malu yang penuh kesombongan. Hal itu wajib dihindari oleh murid, agar tercapai maksud dan tujuan yang diinginkan.





One Comment