Balaghah

Terjemah Kitab Jauharul Maknun

“Dan badi’ iththirod, yaitu mendatangkan nama beberapa bapak (anak) bagi seseorang dengan berturut-turut secara mutlak.”

“Kalau mereka akan membunuhmu, maka sesungguhnya kamu telah menghancurkan singgasana mereka dengan Utaibah bin Harits bin Syihab.”

“Dari sebagian badi’ lafzhi ialah badi’ jinas, yaitu memiliki kesempurnaan serta sama huruf dan susunannya, dan dinamakan mutamatstsil kalau sama macamnya dan disebut; mustaufi kalau berbeda. Seperti: Orang yang menyendiri tidak akan mengetahui, kecuali kepada Dzat Yang Esa dan keluarlah kamu dari keadaan makhluk, Jadilah kamu orang yang bermusyahadah.”

“Tidak ada yang lenyap dari anggur tempo dulu, maka sesungguhnya anggur yang lenyap (mati) itu hidup di samping Yahya bin Abdillah.”

“Dari badi’ jinas taam ada yang tersusun (murokkab), yang serupa tulisannya, dan yang tidak serupa disebut mafruq.”

“Apabila ia -seseorang memiliki sesuatu, ia tidak suka memberi. Maka tinggalkanlah dia, kekuasaannya pasti hilang.”

“Masing-masing kamu telah mengambil bejana arak, dan tidak ada bejana arak bagi kita. Apakah yang memberi mudarat bagi orang mengelilingkan bejana itu, kalau ia berbuat baik kepada kita.”

“Kalau berbeda keadaan hurufnya, para ulama menamakannya dengan muharrof.”

“Kedua, badi’ naqish, dengan syarat berbeda bilangan huruf dan macamnya, tetapi cukup dengan berbeda sehuruf saja. Dan bersama dengan susunan yang berdekatan sebagai mudhari’ dan berjauhan disifati dengan laahig.”

“Sesungguhnya menangis itu obat dari panas hati di antara tulang-tulang rusuk.”

“Badi’ jinas naqish, jika sekiranya berbeda tertibnya dan mengidhafahkan pada semuanya dan kepada sebagiannya adalah dinamakan jinas qolab.” –

“Disebut jinas qolab mujannah, bila dua lafal itu terbagi dalam satu bait, yang satu pada permulaan bait dan yang satu lainnya pada akhirnya. Dan apabila berurut-turut ujungnya menurut adat, adalah disebut jinas qolab muzdawwaj. Dan semua badi’ jinas yang disusun saling bersesuaian (munasabah) pada dua lafal itu pada mustaqnya dan yang menyerupainya, yang demikian itu disebut jinas mutlak.”

“Telah tampak cahaya petunjuk itu dari telapak tangannya pada setiap keadaan.” “Dan datang badi’ jinas dengan isyarah, yang tidak disebut dalam ibaratnya.”

“Dari sebagian badi’ jinas lafal ada lagi badi’’ yang kembali ke ujung lafal

permulaannya yang jelas pada bentuk natsar dengan farqoh (susunan kalam), sambil melingkupi (mengepung) dan dalam nazham. Lafal pertama didahulukan, lalu ada lafal yang terbaca sebelum akhir mishro’ kedua (yakni: diselang lafal lain). Lafal

itu datang sambil diulang-ulang, sejenis dan semulhag, seperti:   (dan kamu takut

kepada manusia, padahal Allah jualah yang berhak untuk kamu takuti).”

“Dia cepat-cepat mendatangi anak paman (saudara sepupu) sambil menampar mukanya, dan dia tidak cepat-cepat memenuhi panggilan kepada si pemurah hati (supaya mencapai derajat yang tinggi).”

“Bersamaan (bersesuaian) dua fashilah (Kalimat akhir) dari bentuk natsar atas satu huruf.”

“Adapun sajak dalam fashilah (kalimat akhir) dalam bentuk natsar itu sebagai bentuk

penyerupaan gofiyah dalam suatu syi’iran.” (Pada wazan, ‘huruf atau qofiyahnya).

“Adapun macam-macamnya ada tiga macam dalam fan int, yaitu:

1. Muthorrof dengan perbedaan wazan (namun huruf akhirnya sama);

2. Muroshsho’ kalau lafal pada faqroh kedua atau kebanyakannya sesuai dengan faqroh yang pertama. Adapun yang selain itu, ketahuilah, ialah:

3. Mutawazi, seperti: ” ” dalam Alqur-an.” ,

“Dia itu mengikuti sajak dengan kebaikan ucapannya dan ) mengetuk pendengaran dengan larangan nasihatnya.”

“Sajak yang paling balaghah (terbaik) ialah yang sama faqrohnya, lalu kau lihat faqroh yang akhir dari kedua faqroh itu lebih banyak (panjang). Adapun sebaliknya, yaitu faqroh pertama lebih panjang dari faqroh kedua, tidak baik dan kamu boleh menyukunkan (mematikan) ujung garinah dengan mutlak (sama i’rab kalimatnya maupun tidak).”

“Alangkah jauhnya perkara yang telah berlalu dan alangkah dekatnya perkara yang akan datang.”

“Jelas karenanya itu kepintaranku dan menjadi banyak, karenanya kesukaanku dan karenanya melimpah ruah hartaku dan karenanya pula berapi kayu apiku.”

“Adapun menjadikan sajak pada setiap syathor bait selain yang terakhir dinamakan sajak tasythir demikian menurut ulama. Dan sajak tasythir itu ialah menjadikan dua syathor bait sebagai sajak yang berbeda dengan syathor bait lainnya.”

“Pemikiran orang yang berpegang kepada Allah sebagai bentuk penyiksaan diri untuk Allah, yang mencintai Allah, yang menunggu pahala-Nya.”

“Kemudian badi’ jinas muwazanah itu sama kedua fashilahnya dalam wazannya, tetapi tidak sama dalam gofiyahnya (ujung kalimatnya). Dan ada pula badi’ mumatsalah jika ternyata sama wazan lafal farqohnya, amalkanlah olehmu! Dan badi’ qolab, tasyri’ dan iltizam, yaitu mendatangkan lafal yang tidak mesti sebelum huruf rowi (huruf berbentuk fashilah).”

“Adapun syair yang mengambil perkataan dari syi’iran orang lain yang mendahuluinya, itulah yang ulama namakan dengan badi’ sarigoh.”

“Setiap sesuatu (syi’iran) yang ditetapkan dengan akal atau adat, tidak termasuk sariqah ini.” (Boleh jadi hanya karena adanya persamaan dalam pemrkirannya atau salah satunya yang lebih dari pemikiran yang lainnya).

“Menurut ulama, badi’ sariqah itu ada dua bagian, yaitu yang samar dan yang jelas. Adapun yang kedua, yaitu lafal yang menyimpan makna lafal yang terdahulu secara keseluruhannya dengan mutlak (dengan lafalnya secara keseluruhan atau sebagiannya dan atau maknanya saja).

Adapun yang terendah, ialah menurut lafal yang dinukil dengan semua tingkahnya. Ulama mengikutkan lafal yang taraduf pada badi’ sariqoh intihal (menjiplak atau menyalin).

Lafal yang datang menyalahi susunan. lafal terdahulu, disebut: Sariqoh ighoroh

(karena menggubah kalimat asal atau mengambil sebagiannya saja). Sekiranya syi’iran yang kedua lebih baik dari yang terdahulu, adalah mendapatkan pujian.”

“Adapun jika mengambil maknanya saja, adalah disebut: salakh dan ilmam

(menanggalkan atau melebur). Kamu harus memelihara pembagian itu.” –

“Bila kamu tidak dapat meninggalkan saudaramu, tentu dia menjauhimu, kalau dia mengerti dan mampu mengendalikan ketajaman pedang (yakni, menanggung penderitaan dari kezalimanmu kepadanya. Bila dia tidak menjauhi mata pedang/penderitaan).”

“Demi perjalanan hidupmu, aku tidak tahu dan sesungguhnya aku paling takut, kepada kami mengejar kematian itu permulaannya.”

“Barangsiapa yang mengintip-intip manusia, dia tidak

akan mendapat keberuntungan dengan tercapainya kebutuhannya itu dan berbahagialah dengan kebaikan-kebaikan —berupa keberanian berperang membunuh musuh.”

“Barangsiapa yang mengintai manusia, niscaya ia mati dalam kerusakan, dan berbahagialah orang yang berani mendapatkan keenakan.”

“Kalau orang yang mencari mati merasa kebingungan, ia tidak akan menemukannya, kecuali petunjuk-Nya, yaitu berpisahnya roh dari jasad.”

“Jauh sekali. Zaman itu tidak akan mendatangkan peristiwa seperti yang pernah terjadi, sebab zaman itu kikir sekali untuk mendatangkan peristiwa yang sudah- sudah.”

“Yang paling dimusuhi oleh zaman itu, ialah kedermawanannya, lalu zaman itu dermawan dan kadang-kadang keadaan zaman itu kikir.”

“Badi’ sariqoh selain yang jali (jelas), ada pula yang mengubah makna dengan cara yang halus dan dipandang baik, sebab memindahkan atau mencampurkan atau mencakup keduanya (pada kalam terdahulu) dan qolab (yang kedua kebalikan yang pertama) atau kedua-duanya serupa maknanya. Adapun derajat (tingkatan) badi’ sariqoh ini (baik atau tidaknya) adalah dengan memperhitungkan kesamarannya. Saling lebih-melebihi pada kebaikan dan pujiannya.”

“Mereka merampas pakaian para musuhnya dan darah mengalir kepada mereka,

seolah-olah mereka tidak dirampas.” .

“Menjadi kering darah yang kehitam-hitaman melekat pada pedangnya yang lepas dari sarungnya, seolah-olah ‘ pedang itu bersarung.” .

“Dengan penglihatan mata engkau melihat seekor burung di atas bendera kita, karena beranggapan bahwa burung itu akan memakan (daging mereka yang gugur).”

“Benderanya yang tampak seolah-olah burung rajawali telah dibayang-bayangi pada waktu dhuha oleh burung rajawali yang segar. Burung rajawali itu telah berdiri di

atas bendera, sehingga seolah-olah burung itu penaka suatu pasukan, hanya saja ia tidak ikut berperang.”

“Bila bani Tamim marah kepadamu, maka kamu mendapatkan semua manusia pun ikut marah.”

“Karena kecintaanku padamu sebagai suatu kesenangan, karenanya aku dapati celaan orang terhadapku, karena cinta menyebut namamu. Maka silahkan mencemoohkan orang-orang yang mencemooh kepadaku.”

“Apakah aku mencintainya dan mencintai cemoohan sebab dia? Sesungguhnya

cemoohan itu termasuk musuh musuhnya.”

“Maka tidak usah menghalangimu dari kebutuhan mereka, sama saja yang

berserban.atau yang berkerudung.”

“Dan orang-orang yang pada telapak tangannya daripada mereka terdapat tombak, seperti orang-orang yang pada telapak tangannya daripada mereka terdapat inai”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker