Balaghah

Terjemah Kitab Jauharul Maknun

“Dan badi’ yang sebaliknya (akas), tas-him (berbeda coraknya), musyakalah (serupa bentuknya), tazawuj (percampuran), rujuk (kembali), atau mugabalah (berlawanan).”

“Bila kamu tidak mampu mengerjakan suatu pekerjaan, tinggalkanlah dan

lampauilah (kerjakanlah) untuk mengerjakan sesuatu yang kamu mampu.”

“Mereka berkata: Mintalah sesuatu! Niscaya kami berbuat baik masakannya buatmu.

Kataku: Jahitkanlah oleh kamu sekalian jubah dan gamis buatku.”

“Apabila mencegah orang yang mencegah —dari mengasihinya-, maka telah dapat memastikan keinginan kepadaku. Ia mendengarkan si tukang fitnah, maka pasti karenanya ia dijauhinya.”

“Berhentilah kamu pada kampung-kampung yang belum tercemar oleh telapak kaki (masih utuh). Tidak demikian, namun kampung-kampung ‘itu telah rusak oleh terpaan angin dan hujan.”

“Alangkah baiknya jika agama dan dunia berpadu, dan betapa jelek nian —jika kekufuran dan kepailitan —terjadi pada seorang laki-laki.”

“Adapun badi’ tauriyah disebut —juga badi’iham, sebab makna yang dimaksudkan jauh dari kedua maknanya. Dan – badi’ yang disertai sesuatu yang mengisyaratkan

pada makna dekat dan terdapat yang dikosongkan, karena tidak adanya sesuatu itu.

Maka kamu adalah orang yang kembali kepada Tuhanmu.”

“Dan badi’ jamak, tafriq, taqsim dan tafriq jamak serta taqsim jamak juga tiba.” “Adapun yang ini adalah lawar, sedap diminumnya, dan yang lain asin lagi pahit.” “Tidak akan tegak atas suatu kezaliman yang memang dikehendakinya, kecuali

kehinaan, adapun keledai dan tali sebagai ikatan baginya, merupakan kehinaan yang rapuh dan melukai, tidak ada seorangpun yang mengasihinya.”

“Mukamu laksana api dalam pancaran cahayanya, sedangkan hatiku tak ubahnya api dalam pijar panasnya.”

“Sehingga ia menetap di sekitar kota Khurosan, karenanya menjadi rusak kota Romawi itu, gambar-gambar salib, begitu juga sesembahan bangsa Romawi itu. Mereka tidak bisa kawin sebab ditawan, tidak pula beranak sebab dibunuh, tidak bisa mengumpulkan hartanya sebab dirampas dan tidak bisa bercocok tanam karena dibakar.”

“Mereka adalah suatu kaum, bilamana mereka menyerang, mereka menyiksa musuh-musuhnya, atau berpaling pada keuntungan bagi pengikut-pengikutnya. Tabiat mereka itu bukan perkara baru, sesungguhnya —ialah perangai perangai mereka itu. Ketahuilah! Perkara yang paling jelek ialah pengada-adaan (bid’ah).”

“Dan badi’ laf, nasyr, istikhdam dan tajrid, yang memiliki bagian-bagian.”

“Mereka berkata: Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi dan Nasara (ijmal).” “Apabila turun hujan pada tanah suatu kaum, tentu saja kami akan mengembalakan

pada —rumput-nya, walaupun mereka marah-marah.”

“Kalau kamu tetap tinggal, pasti aku akan pergi berperang. Engkau kumpulkan ghanimah-ghanimah, kecuali kalau gugur orang yang pemurah (yakni diri mutakallim).”

“Tiada kuda padamu untuk kamu hadiahkan dan tiada pula harta. Berbahagialah dengan pembicaraan, kalau tidak bahagia dengan kekayaan”

“Kemudian badi’ mubalaghah, yaitu menguku adanya suatu sifat yang sampai pada ukuran yang dipandang tercegah atas mustahil adanya (pada suatu kehebatan atau terlalu lemahnya), atau jauh akan dapat dibuktikan. Badi’ mubalaghah itu terbagi atas beberapa macam, yaitu: tabligh, ighrok dan ghuluw (kelebihan itu) datang.”

“Kuda itu berpaling terus-menerus antara banteng jantan dan banteng betina berturut-turut, maka sebelum dipercik dengan air terus dimandikan.”

“Kami akan memuliakan tetangga kami selama ia berada pada kami, dan sekiranya ia pergi, kami akan kirimkan kehormatan.” (Hal ini tidak mungkin menurut adat).

“Aku mempertakuti orang musyrik, sehingga sesungguhnya pasti menakuti kepadamu air mani yang belum dibuat pun.”

“Badi’ ghuluw itu ada yang dapat diterima dan ada pula yang ditolak. Adapun badi’ tafri’ dan husnut ta’lil itu bermacam-macam.”

“Aku kemarin mabuk, kalau aku bertekad minum arak esok hari. Sungguh

mengherankan keadaan yang demikian itu.”

“Akalmu menjadi obat bagi penyakit bodoh, seperti darahmu menjadi obat dari penyakit anjing.”

“Pemberianmu tidak akan dapat menyerupai pemberian awan, dan sesungguhnya awan itu ’ dipanasi oleh pemberianmu, maka curahan awan itu menjadi basah (hujan).”

“Bukanlah dia membunuh musuh-musuhnya sebab takut atau marah, melainkan dia menjaga agar jangan sampai menyalahi harapan macan-macan itu.”

“Wahai, tukang fitnah! Menurut kami baik sekali membusukkan tukang fitnah itu. Dengan mempertakuti kamu kepada tukang itnah, maka selamatlah orang-orang: (kemanusiaan) dari ketenggelaman dalam air mata.”

“Kalau tidak ada niat dari Al-Jauza’ meladeni dia, tentu aku tidak akan melihat dia mengikat sabuk.”

“Para ulama telah membentangkan tentang badi’madzahibil kalam dengan beberapa alasan, seperti perjalanan ahli kalam. Dan ulama badi’ telah menguatkan (mentaukidi) pujian, seperti halnya celaan, seperti sebaliknya juga (yakni: mencela seperti memuji). Adapun badi’ idmaji termasuk dalam ilmu ini juga.”

“Pada mereka itu tidak ada kekecewaan (keaiban), kecuali pedang-pedangnya yang rompak dan sebab —bekas saling bacok dengan musuh.”

“Aku membalik-balikkan kelopak mataku pada malam itu, seakan-akan aku menghitung dosa-dosaku dengan kelopak mataku itu sepanjang masa.”

“Dan datang lagi badi’ istiba’ dan badi’ taujih, yaitu yang menurut ulama mengandung dua jalan.”

“Engkau telah merenggut nyawa-nyawa musuh, yang kalau sekiranya engkau merasa prihatin terhadapnya, niscaya tenanglah dunia ini. Sesungguhnya engkau adalah Kholid.”

“Dari sebagian badi’ ada yang bermaksud bersungguh-sungguh —namun dinyatakan dengan perkataan main-main, seperti memuji orang yang merasa megah dengan —pernyataan yang sebaliknya dari tujuan.”

“Bila golongan Tamimi mendatangimu dengan berbagai kemegahan, katakanlah kepada mereka: Hitunglah barang ini! Bagaimana cara kamu memakan daging biawak?”

“Merangkai (menyusun) perkataan yang maklum pada rangkaian perkataan yang majhul (tidak diketahui), karena mengandung faedah pura-pura bodoh. Itulah yang dinukil dari ulama ahli badi’.”

“Apakah yang berkilau itu kilat atau cahaya lampu atau senyum kekasih, dengan

penglihatan yang jelas.”

“Dan qaul bil-mujab, katakanlah! Adalah dua macam, semuanya dimaklumi dalam fannya.”

“Kataku: Berat bebanku bila kamu sering datang, kata dia. Sungguh berat pundakku dengan pemberian yang bermacam-macam.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker