Balaghah

Terjemah Kitab Jauharul Maknun

“Dan tetapkanlah hukum bagi ma’mul-ma’mul —lainnya-, sesuai dengan yang telah diterangkan, sedangkan rahasia di dalam menertibkan ma’mul-ma’mul itu sudah termasyhur.

“Pentakhsisan (penentuan) suatu perkara secara mutlak bagi perkara lainnya (yakni: Menentukan sifat bagi maushif atau musnad bagi musnad ilaih dan sebaliknya), ialah yang mereka sebutkan qashar.”

“Adalah qashar itu berada dalam maushuf (yang disifati) dan sifat, ialah yang disebut qashar haqiqi, seperti halnya qashar idhafi. Sedangkan tujuan qashar, ialah untuk .

membalikkan (qolab) pendapat pendengar, menentukan (ta’yin) atau memencilkan (ifrod), seperti: ‘Bahwasanya bisa naik derajat dengan persiapan yang sungguh- sungguh’.”

“Dan adapun alat-alat qashar itu -ada beberapa macam-, ialah:   —dan sebagainya-,

‘athaf —dengan atau  , dan taqdim —mendahulukan lafal yang biasanya di belakang, sebagaimana yang telah dikemukakan dahulu (dalam musnad ilaih dan musnad).”

“Suatu susunan kalimat yang tidak mengandung arti benar atau dusta.”

“Adapun thalab itu —ialah-: mengundang (mencari) terjadinya suatu perkara yang belum berhasil —dicapai(ketika dicarinya), dan pembagiannya banyak, sebagaimana yang akan diutarakan nanti, yaitu: Amar, nahi, doa, tamanni dan istifham, tentu kamu diberi hidayah.”

“Para ulama ma’ani mempergunakan kalimat-kalimat  (alat-alat) seperti:   dan huruf tahdhiidh (teguran) —untuk tamanni-. Adapun istifham,  lafal:  dan -hamzah telah dimaklumi.”

“Adapun hamzah —adalah untuk tashdiq dan tashawwur dan makna hamzah pantas bagi lafal yung berikutnya. “

“Dan adapun adalah-untuk tashdiq, sebagai kebalikan dari yang telah lalu Dan adakalanya lafal istifham dii’tibarkan untuk perintah (amar), kelambanan (istibtha’), penetapan (taqriir), kekagetan (ta’ajjub), memperolok-olokkan (tahakkum), menghinakan (tahqiir), peringatan (tanbiih), menganggap jauh (istib’ad), mempertakuti (tarhib), mencela dengan hardikan (inkar dzii taubiih) dan pendustaan (takdziib).”

pogg

“Adakalanya amar, nahi dan nida’ itu datang bukan dengan makna yang seharusnya, ialah karena ada maksud lain. Dan shighat (bentukan) khabariyah itu kadang-kadang datang untuk maksud thalab, karena berharap berkah atau

menampakkan keinginan, mengharapkan lawan bicara (mukhathab) supaya membenarkan pihak pembicara (mutakallim) dan karena adab.”

“Fashol adalah meninggalkan hubungan jumlah yang datang sesudah jumlah yang lainnya, sebagai bentuk kebalikan dari washal yang benar-benar telah tetap.”

“Pisahkanlah olehmu ketika dihadapkan pada taukid dan ibdal, karena berfaedah dan berniat pada pertanyaan; tidak ada perserikatan —antara kalimat yang pertama dengan kedua dalam hukum yang berlaku, atau berbeda antara kedua jumlah itu yakni: antara kalam tholab (insya’) dan kalam khabar. Dan —di antara dua jumlah itu terlepas dari jihad jami’ dan dengan adanya athaf dapat menimbulkan makna selain yang dimaksudkan dalam kalam itu.”

“Si Salma menyangka, bahwa sesungguhnya aku mencarinya sebagai pengganti.

Aku menyangka dia berada dalam kesesatan lagi dalam kesusahan.”

“Washalkanlah olehmu ketika -terjadi kemusytarakan (kesamaan) pada: i’rabnya, bermaksud menghilangkan — kekeliruan dalam jawaban, kedua-duanya berkesesuaian serta bersambung (berjihat jami’), baik menurut akal atau waham dan maupun khayal.”

“Washal itu dipandang baik ketika terdapat penyesuaian (munasabah) dalam jumlah ismiyah dan fi’liyahnya, dan tidak ada penghalangnya.”

“Penunaian makna dengan ucapan menurut kadarnya (yakni: tidak bertele-tele dan tidak terlalu singkat), ialah yang dimaksudkan dengan-: musaawat, seperti: Berjalanlah kamu dengan -senantiasaingat kepadaNya (Allah). Dan dengan menyedikitkan ucapan diketahui namanya itu —dengan sebutan-: ijaz, dan ijaz itu dibagi pada: qashar dan hadzf (yakni: membuang sebagian), seperti: Jauhilah dari tempat-tempat duduk kefasikan kefasikan! Dan janganlah kamu bersahabat orang fasik, niscaya kamu menjadi rusak.”

“Dan kebalikan ijaz diketahui dengan ithnab, seperti: Tetaplah kamu, semoga Allah memeliharamu, akan mengetuk pintu (ke hadirat Allah). Datangnya ithnab itu

dengan menjelaskan sesudah terjadi kekeliruan, karena Kerinduan dan atau supaya memberikan kemantapan dalam jiwa.”

“Dan ithnab itu datang dengan membawakan ighol, tadzyiil, takriir, i’tirodh atau takmiil, yang disebutkan dengan ihtiros dan tatmim dan mengikutkan kepada yang memiliki kekhususan kepada yang umum.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker