Balaghah

Terjemah Kitab Jauharul Maknun

“Badi’ iqtibas ialah kalam yang tersimpan Alqur-an atau hadis Penghulu seluruh makhluk.”

“Menurut ulama, badi’ iqtibas ada dua bagian, yaitu: Muhawwal (diubah lafalnya), dan Tsabitul Ma‘ani (tetap maknanya). Dan boleh diubah sedikit lafalnya sebab kebutuhan wazan atau lainnya, namun tidak boleh mengubah maknanya.”

“Kalau kau bermaksud meninggalkan kami tanpa dosa, maka kesabaran baik sekali bagi kami. Dan kalau kau bermaksud mencari pengganti selain kami, maka Allah jualah yang mencukupi kami dan sebaik-baik wakil.”

“Kalau aku salah dalam memujimu, maka aku tidak salah dalam menahan nafsuku. Sungguh engkau telah menempatkan kebutuhanku pada lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhannya.”

“Sungguh telah terbukti apa yang kau takuti. Sesungguhnya kami semua kembali kepada Allah.”

“Mengambil syi’iran orang lain dengan menisbatkan/ mengingatkan syi’iran itu dengan samar (kepada syi’iran asalnya), itulah yang dimaksudkan dengan tadhmin, demikian menurut ulama. Adapun syi’iran (baru) yang melampaui atau melebihi (syi’iran lain) karena ada gunanya, itulah yang terbaik. Dan adapun syi’iran yang kelihatan diambil satu bait saja, adalah disebut ida’ yang disusun.” .

“Sesungguhnya pada hari penjualan diriku, kuingin mendendangkan_ suara hatikukepada orang-orang yang menyia-nyiakan diriku itu, kepada pemuda manakah mereka menyia-nyiakan?”

“Mereka itu tidak mempedulikan aku lagi, pemuda manakah yang mereka sia-siakan pada hari penuh kebencian (waktu peperangan) dan pada ketika terjadi penghalang rasa ketakutan.”

“Bila bayangan bibir merah merekah, sang kekasih dan dadanya menampakkan padaku, kuferbayang kemilau sudut bibirnya dan gusinya itu sepertinya mengingatkan aku akan senyumnya yang mengulum. Air mataku mengalir deras laksana kuda pacu yang berkejar-kejaran.”

“Adapun badi’ aqod, ialah menazhamkan natsar, bukan dengan cara igtibas, dan badi’ hill ialah menatsarkan nazham, ketahuilah akan kias. Dan para ulama telah mensyaratkan harus masyhur kalamnya. Adapun adanya cegahan, yang demikian itu datang dari mazhab Imam Maliki.”

“Apakah itu perbuatan seseorang yang asalnya air mani? Akhirnya menjadi bangkai, perbuatannya sombong.”

“Apakah gerangan yang dimaksudkan oleh anak Adam itu berlagak sombong, padahal asalnya dari air mani dan akhirnya menjadi bangkai.”

“Bila pekerjaan orang itu jelek, menjadi jelek pula sangkaannya dan membenarkan kebiasaannya yang datang dari khayalan.”

““Adapun isyarat (pengindikasian) pada suatu kisah atau syl’iran atau contoh dengan tidak menerangkan asalnya, maka yang demikian itulah yang dinamakan talmih, sempurnakanlah!”

“Demi Allah, aku tidak tahu, apakah itu sebuah impian orang yang tidur, yang menyakiti kami ataukah Yusya‘ ada pada rombongan itu.”

“Demi Amar (orang terkenal kuat lebih kejam) dibanding dengan tanah panas (yang dapat menghanguskan telapak kaki) dan api yang menyala itu lebih sayang dan lebih halus dari kamu pada saat susah.”

“Orang yang berlindung kepada Amar ketika susah, tak ubahnya orang yang berlindung dari tanah panas pada api yang menyala.” (Maksudnya: Tidak menemukan manfaat, bahkan justru membahayakan).

“Dan sebagian nama-nama fan badi’ ialah: badi’ tausyi’; tardid,; tartib, ikhtiro’ atau

ta’did, seperti:

“Badi’ tahtriz; tadbij; isisyad; idhoh; i’tilaf dan istithrod.”

“Jatuh pakaian mati rupanya berwarna merah (berlumuran darah), maka tiada perkara yang didatangkan oleh malam kecuali dari sutera tipis yang hijau.”

“Persoalan besar yang positif telah ada-padaku dan telah jatuh padanya macam- macam bala. Maka melemahkan pada kejadian itu merupakan percobaan zaman dan berulangnya kembali kesulitan. Batu yang keras tidak kekal, sebab terkena pukulan martil.”

“Diperingatkan kepadamu kebaikan dan kejelekan itu semuanya, dan diucapkan perkataan yang buruk, kepintaran, kesabaran dan kebodohan. Maka ia telah menjatuhkan kamu bersth dari kejelekan dan menjatuhkan kamu kepada pujian dan bagimu keutamaan.”

“Pada kepalanya tampak seperti gelap malam, pada mukanya tak ubahnya sinar waktu subuh, pada dadanya ada untaian yang dihiaskan bagi kampung suatu kaum.”

“Bagi mereka mempunyai beberapa nama yang luhur-luhur, yang tidak samar, dari sebab beberapa nama yang masyhur itu, maka disebutlah nama itu dengan alam.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker