باب التمييز
Definisi tamyiz ialah yang dinashabkan yang menjelaskan nisbat atau jenis tertentu.
باب الاستثناء
Keluarkanlah/kecualikanlah dari kalam dengan huruf istitsna’ yang keluar dari hukum yang masuk dalam lafazhnya. Istitsna’ ialah isim yang berada sesudah illa atau salah satu saudaranya.
Adapun lafazh istitsna’ yang meliputi kepadanya ialah: 1. Illa, 2. Ghairu, 3. Siwan, 4. Suwan, 5. Sawa-a, 6. Khala, 7. ‘Adaa, dan 8. Haasya. Maka setiap lafazh yang diistisyna’ dengan illa harus dinashabkan, bila kalamnya berupa kalam tamm mujab (yakni tidak didahului nafi dan hahi dan serupanya).
Contohnya seperti lafadz:
Kalau ada istitsna’ itu dari kalam tamm yang menerima nafi, maka harus dijadikan badal dan nashabnya karena istitsna’ itu dianggap dla’if.
Begitu itu apabila kamu membuat istitsna’ dari jenisnya mustasyna’ minhu (istitsna’ muttashil) dan lainnya istitsna’ mungathi’ yaitu satu jenis maka hukumnya sebaliknya, yaitu nashab alal istitsna’. Contohnya seperti:
Kalau ada istitsna’ dari kalam nagish (yang tidak ada mustatsna minhunya), maka lafazh illaa diilgha’kan (tidak beramal). Adapun amilnya dipencilkan (yakni harus beramal pada mustatsna). Contohnya seperti lafazh:
Adapun khafadInya mustatsna’ sesudah lafazh istitsna’ yang tujuh lagi (yakni: khalaa, haasyaa, ‘adaa, siwaa, suwan, sawaa dan ghairu), secara muthlag boleh.
Mustatsna’ itu boleh juga dibaca nashab oleh lafazh khalaa, maa ‘adaa dan maa haasyaa. Contohnya seperti lafazh:
باب لا العملة عمل إن
Adapun hukumnya Laa itu seperti hukumnya Inna dalam amalnya. Maka nashabkan dengan Laa, isim nakirah yang bersanding dengannya. Baik itu berupa isim mudlaf atau serupanya mudlaf.
Tapi. bila Laaitu diulang-ulang maka.Laa boleh beramal seperti Inna dan boleh diilgha’kan (yakni tidak difungsikan).
Dan jika isimnya Laa berupa isim mufrad, maka harus dimabnikan atau dirafa’kan dengan tanwin.
Dan jika kamu mema’rifatkan Laa atau memisahkan (antara Laa dan isimnya) maka rafa’kanlah dengan mentanwinkan dan mengulang-ngulangi Laa. Contohnya seperti:








One Comment