MAJELIS KEDUA HADIS KE-2
Dari Sayyidina Umar bin Khattab. Ia berkata:
Artinya:
Pada suatu hari, ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah &, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya hitam sekali. Tidak kelihatan pada dirinya bekas dari perjalanan jauh, sedang kami tidak ada yang mengenalnya. Kemudian laki-laki itu duduk di hadapan Nabi sambil menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di kedua pahanya, lalu bertanya: “Ya Muhammad, beritahukanlah kepada saya tentang agama Islam? “Rasulullah menjawab: “Agama Islam itu adalah engkau harus bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah: mendirikan salat, menunaikan zakat: berpuasa di bulan Ramadan, dan naik haji ke Baitullah jika engkau mampu pergi ke sana.” Laki-laki itu berkata: “Tuan benar.” Kami merusa heran kepada orang itu, dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkan. Kemudian laki-laki itu bertanya kembali: “Beritahukanlah kepadaku tentang iman?” Beliau menjawab: “Iman itu adalah engkau harus percaya kepada Allah, malaikat- malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan kepada hari kiamat, serta engkau harus percaya kepada (adanya) takdir baik dan buruk.” Orang itu berkata: “Tuan benar.”
Kemudian laki-laki itu bertanya pula: “Beritahukanlah kepadaku tentang ihsan?” Beliau menjawab: “Hendaklah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, sebab sekalipun engkau tidak melihat-Nya, Dia melihatmu.”
Kemudian laki-laki itu bertanya kembali: “Sekarang, beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat?” Rasulullah menjawab: “Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.” “Beritahukanlah kepadaku tentang tanda-tandanya saja?” Tanya laki-laki itu pula. Beliau menjawab: “Apabila ada seorang budak wanita melahirkan tuannya, dan apabila ada seorang yang asalnya hidup melarat, berpakaian compang-camping dan tanpa mengenakan alas kaki, sebagai penggembala kambing, kemudian menjadi kaya raya hingga berlomba-lomba dalam membangun rumah mewah.” Kemudian laki-laki itu pergi. Nabi diam sejenak, lalu Nabi bertanya kepadaku: “Hai Umar, tahukah engkau siapakah yang bertanya tadi?” Saya menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau lalu menjelaskan: “Itulah Jibril, yang datang kepada kalian untuk mengajarkan kalian tentang agama kalian.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.
PENJELASAN:
Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah memberi taufik kepadaku dan kepada kalian supaya dapat berbuat taat kepada-Nya, bahwa hadis ini adalah hadis yang agung, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan lafaz di atas, dan oleh Imam Bukhari dari sahabat Abu Hurairah r.a. dengan maknanya. Di dalamnya tercakup seluruh peribadatan baik yang lahir maupun yang batin.
(Bainamaa nahnu juluusun ‘inda rasuulullaahi && dzaata yaumin idz thala’a ‘alainaa rajulun syadiidu bayaadhits tsiyaabi syadiidu sawaadisy sya’rilaa yuraa alaihi atsarus safari, wa laa ya’rifuhu minnaa ahadun) Dari penampilan laki-laki yang datang dengan rupa yang baik itu dapat ditarik kesimpulan sunnahnya berpenampilan yang baik dalam menuntut ilmu dan menemui orang lain. Nabi bersabda, yang artinya: Sebaik-baik pakaian yang kalian kenakan untuk berziarah kepada Allah di kuburan kalian dan masjid-masjid kalian adalah yang berwarna putih.” Dan Ibnu Abdissalam berkata: “Tidak mengapa mengenakan pakaian yang menjadi ciri seorang ulama, supaya dikenal orang dan ditanyai. Karena saya dahulu sewaktu sedang melaksanakan ihram, saya pernah menegur sekelompok orang yang tidak kenal pada saya, yang juga sedang ihram, karena kesalahan mereka dalam adab tawaf, namun mereka tidak memedulikan teguran saya tersebut. Kemudian ketika saya mengenakan pakaian fukaha, saya kembali menegur mereka, dan ternyata mereka mau mendengarkan dan menuruti saya.” Apabila seseorang mengenakan pakaian tersebut untuk hal seperti itu, maka dia akan
memperoleh pahala. Karena dia menjadi sebab diturutinya perintah Allah dan dijauhinya larangan-Nya.
Ulama berkata: “Dimakruhkan mengenakan pakaian yang kasar tanpa ada tujuan yang dibolehkan oleh syariat.” Konon Alhasan pernah mencopot pakaian yang dikenakan oleh Farqad, seraya berkata kepadanya: “Hei Farqad, bakti itu bukan dengan mengenakan pakaian seperti ini, tetapi apa yang ada di dalam dada dan dibuktikan oleh amal perbuatan.”
(Hattaa jalasa) maksudnya, ia datang lalu duduk di dekat Nabi .
(Ilan Nabiyyi ) adapun sebab tidak dikatakan baina yadaihi adalah konon karena keadaannya menunjukkan bahwa dia datang bukan untuk belajar, melainkan untuk mengajar.
(Fa asnada rukbataihi ilaa rukbataihi) Jelasnya, ia duduk di hadapan Nabi , sebab kalau ia duduk di samping Baginda Nabi tentu ia tidak mungkin dapat menyandarkan kedua lututnya ke lutut Baginda Nabi. Namun ini bukan duduk seperti duduknya seorang murid di hadapan gurunya untuk belajar. Jibril melakukan itu hanyalah untuk memperingatkan apa yang seharusnya dimiliki oleh seorang penanya berupa kekuatan batin dan tidak malu dalam mengajukan pertanyaan sekalipun orang yang ditanyanya itu adalah orang yang dihormati dan diseganinya. Juga sikap apa yang harus dimiliki oleh orang yang ditanya berupa sifat rendah hati dan pemaaf terhadap si penanya sekalipun si penanya kurang memperhatikan sikap hormat dan etika dalam mengajukan pertanyaan.
(Wa wadha’a kaffaihi ‘alaa fakhidzaihi) maksudnya, laki-laki itu meletakkan kedua tangannya di kedua paha Nabi . Dia melakukan itu adalah untuk menunjukkan keakraban, karena pada prinsipnya antara keduanya telah terjalin hubungan yang erat pada saat disampaikannya wahyu. Hal ini telah dinyatakan dengan jelas dalam hadis yang diriwayatkan oleh An Nasaai dari sahabat Abu Hurairah dan Abu Dzarr , yang artinya: hingga dia meletakkan kedua tangannya di atas lutut Nabi .
(Wa gaala yaa Muhammad) Di sini Jibril memanggil Baginda dengan menyebutkan namanya saja sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang-orang Baduwi (orang Arab pedalaman) padahal ini hukumnya haram. Itu tidak lain adalah karena keadaannya menunjukkan kepada keakraban, dia datang bukan untuk belajar namun untuk mengajar,
seperti yang telah kami kemukakan di muka, atau boleh jadi itu dilakukan sebelum adanya pengharaman.
(Akhbirnii Qanil islaam) yakni tentang hakikatnya. (Faqaala rasulullah ) menjawab pertanyaan tersebut.
(Al Islaamu an tasyhada al-laa ilaaha illallaah) yakni, engkau tahu bahwa tidak ada Tuhan yang pantas untuk disembah dengan benar di dalam alam ini selain hanya Allah yang wajib ada-Nya.
(wa anna muhammadar rasuulullaah) yakni, dan engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan engkau membenarkan yang demikian itu.
(wa tuqiimash shalaata) yakni, engkau dirikan salat itu dengan melengkapi rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, dan engkau lakukan secara teratur pada waktu-waktunya.
(wa tu’tiyaz zakaata) yakni, engkau tunaikan sesuai dengan apa yang disyariatkan.
(wa tashuumu ramadhaana) dinamakan ramadhaana karena udara pada saat itu sangat panas. Dari sabda Beliau yang hanya menyebutkan ramadhaana tanpa didahului oleh kata syahru dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak makruh menyebutkan ramadhaan saja tanpa syahru.
(wa tahujjul baita) yakni, pergi ke Baitullah untuk melaksanakan manasik haji dengan cara- cara yang tertentu.
(inis-tatha’ta ilaihi sabiilaa) yang dimaksud dengan mampu di sini adalah adanya bekal dan kendaraan serta lain-lain yang diperlukan dalam perjalanan haji tersebut. Adapun sebab hanya ibadat haji saja yang dikaitkan dengan kemampuan, sedang ibadatibadat lain sebelumnya tidak disyaratkan yang demikian itu, padahal ibadat-ibadat lain juga disyaratkan dalam haji adalah karena terdapatnya kesulitan yang besar di dalamnya yang tidak dijumpai dalam ibadat-ibadat yang lain.
Peringatan:
Lahir hadis ini menunjukkan bahwa seseorang disebut sebagai orang Islam adalah jika ia mengucapkan dua kalimat syahadat hingga kalau dia menyingkat hanya mengucapkan satu kalimat saja, itu masih belum cukup. Dan sebab mengucapkan dua kalimat syahadat ini disebut lebih dahulu dari yang lain adalah karena dengan keduanya itu dapat diperoleh iman, yang merupakan pokok. Semua ibadat dibangun di atasnya dan disyaratkan harus beriman, serta dengan iman pula akan diperoleh keselamatan dunia akhirat. Kemudian salat, karena ia merupakan tiang agama, dan juga salat itu menjadi pembeda antara seorang mukmin dan kafir, dan karena salat itu sangat dibutuhkan, serta karena salat itu dikerjakan berulang-ulang lima kali dalam sehari. Kemudian zakat, karena ia merupakan pasangan salat di dalam kebanyakan ayat Alquran, dan karena kewajiban zakat itu pada harta orang yang mukallaf dan lainnya menurut sebagian besar ulama. Kemudian puasa di bulan Ramadan, karena berulang-ulang dalam setiap tahunnya serta banyaknya orang yang melakukannya, berbeda dengan ibadat haji. Kemudian ibadat haji, karena adanya ancaman terhadap orang mampu yang tidak melakukannya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah
yang artinya: Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. 3: 97) Dan seperti sabda Nabi , yang artinya: Maka ia boleh memilih mati sebagai orang Yahudi atau sebagai orang Nasrani. Hal ini akan kita bahas lagi secara lebih luas setelah ini.
(Qaala) yakni, orang yang bertanya kepada Nabi itu berkata.
(Shadaqta) yakni, jawaban yang Tuan berikan itu adalah benar. Sayyidina Umar berkata: (fa ‘ajabna minhu yas-aluhu wa yushaddiquhu) yakni, kami heran karena pembenarannya itu, sebab itu menunjukkan bahwa ia telah mengetahui jawaban atas pertanyaan yang diajukannya itu. Padahal ia tidak tahu kecuali dari penjelasan yang diberikan oleh Nabi tersebut. Atau bisa juga dikatakan bahwa, pertanyaannya itu menunjukkan bahwa dia tidak tahu, sedangkan pembenarannya itu menunjukkan bahwa dia sudah tahu. Yang jelas keadaannya itu adalah bahwa sebelumnya memang dia sudah tahu, bukan dari sebab mendengarkan penjelasan Nabi terebut. Keheranan para sahabat tadi akhirnya lenyap setelah diberitahu oleh Nabi bahwa lelaki itu sebenarnya adalah Jibril yang hendak mengajarkan ajaran agama mereka kepada mereka. Dengan demikian jelas, bahwa dia adalah seorang alim yang menyamar sebagai pelajar untuk mengajar dan mengingatkan mereka.
(Qaala fa akhbirnii anil iimaani, gaala an tu’minu billaahi) yakni, supaya engkau mempercayai wujud dan sifat-Nya yang tidak sempurna ketuhanan itu kecuali dengannya. Para ulama berkata: “Iman kepada Allah Jalla Jalaaluh itu mengandung dua makna (1) iman kepada Dzat-Nya dan (2) iman kepada wahdaniyah (keesaan)-Nya. Adapun iman kepada Dzat-Nya yang mulia itu adalah bahwa Anda harus tahu dengan yakin bahwa Dzat Allah itu tidak sama dengan dzat-dzat makhluk sebagaimana sifat-Nya juga tidak sama dengan sifat-sifat makhluk. Apa saja yang Anda bayangkan tentang Allah dalam benak Anda maka Allah berbeda dengan semuanya itu. Karena Anda adalah makhluk, dan semua yang Anda bayangkan itu juga adalah makhluk seperti Anda. Sebab Allah Mahasuci dari menyusup pada makhluk atau makhluk menyusup pada-Nya. Anda adalah jisim dan materi sedangkan Allah bukan. Anda memiliki jenis dan bentuk, sedangkan Allah tidak Adapun iman kepada wahdaniyah (keesaan) Allah itu adalah Anda harus tahu dengan yakin bahwa Dia tunggal dalam kekuasaan dan perencanaan, satu dalam Dzat-Nya, satu dalam sifat-Nya, satu dalam perbuatan-Nys dan satu dalam firman- Nya.
(Wa malaaikatuhu) malaikat adalah kata jamak dari malak, yaitu makhluk halus yang dapat berganti rupa sesuai dengan kehendaknya. Adapun iman kepada malaikat itu artinya adalah membenarkan keberadaan mercka dan bahwa mereka itu adalah seperti yang digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya,
(malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. (QS. 21: 26).
(Wa kutubihi) makna iman kepada kitab-kitab adalah membenarkan bahwa Kitab-Kitab tersebut merupakan Kalam Allah yang diturunkan kepada rasul-rasul-Nya alaihimus salaatu wassalam dan seluruh isinya adalah benar belaka.
(Wa rusulihi) makna iman kepada para rasul itu adalah membenarkan apa yang dibawa oleh para rasul tersebut adalah dari Allah.
(Wal yaumil aakhiri) yaitu hari kiamat. Makna iman kepada hari akhir adalah membenarkan akan adanya hari kiamat dengan segala hal yang berkaitan dengannya. Ia disebut hari akhir sebab ia merupakan hari terakhir dari hari-hari dunia dan akhir dari masa yang terbatas.
(Wa tu’minu bil qadari khairihi wa syarrihi) makna iman kepada qada dan qadar ini adalah meyakini bahwa Allah telah menakdirkan baik dan buruk sebelum penciptaan makhluk, dan bahwa seluruh alam semesta ini terwujud dengan gada dan qadar-Nya, dan Dia berkehendak untuknya. Keyakinan yang mantap terhadap hal ini telah cukup tanpa harus disertai dengan bukti. Adapun arti takdir baik dan buruk itu adalah bahwa, perbuatan taat dan semua amal salih itu merupakan takdir baik, sedangkan kufur dan seluruh perbuatan maksiat itu merupakan takdir buruk. Ada pula riwayat yang mengatakan bahwa, takdir baik itu adalah semua yang menyenangkan jiwa seperti, makan minum yang enak, badan yang sehat, kawin dan lain-lain. Sedangkan takdir buruk itu adalah semua yang tidak menyenangkan jiwa, seperti penyakit, lapar, dahaga, takut dan lain-lain.
(Qaala shadata) maksudnya telah disebutkan di muka. (Qaala fa akhbirnii nil ihsaan) yakni ikhlas.
(Qaala an ta’budallaaha ka annaka taroohu fa in lam takun taroohu fa innahu yarooka) ini merupakan kesempurnaan ucapan nabi , karena mencakup maqam musyahadah dan maqam muraqabah. Penjelasannya adalah, bahwa seorang hamba dalam ibadatnya itu mempunyai tiga maqam: (1) ja melakukan ibadat itu dari segi menggugurkan kewajiban yaitu dengan memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukunnya, (2) selain memenuhi syarat dan rukun tadi, ia juga tenggelam dalam lautan mukasyafat hingga seolah-olah ia melihat Allah. Ini merupakan maqam Nabi , seperti sabda Beliau yang artinya: Dan dijadikan salat itu sebagai kesenanganku. (3) ia melaksanakan salat seperti tadi, memenuhi syarat dan rukunnya, kemudian ia dikuasai oleh perasaan bahwa Allah menyaksikan salatnya itu. Ini merupakan maqam muraqabah. Sabda beliau sekalipun engkau tidak melihat-Nya turun dari maqam mukasyafat (seolah-olah engkau melihat-Nya) ke maqam muraqabah (sekalipun engkau tidak melihat-Nya, Dia melihatmu), yakni sekalipun engkau menyembah-Nya tidak seperti ahli rukyah (yang merasa melihat-Nya), maka sembahlah Dia dengan keyakinan seolah-olah Dia melihatmu. Ketiga maqam ini semuanya dinamakan ihsan. Karena ihsan yang menjadi syarat sahnya ibadat itu adalah maqam yang pertama, sedangkan kedua maqam yang lainnya itu merupakan sifat orang-orang khas yang kebanyakan orang sulit melakukannya.
(Fa akhbirnii “anis saa’ah) yakni tentang waktu kiamat. Dinamakan kiamat karena cepat qiyumnya. Dan dinamakan saa’ah karena di sisi Allah terjadinya itu hanya seperti satu saat saja. Pertanyaan ini sengaja diberikan untuk memberitahukan bahwa kepastian tentang kapan terjadinya hari kiamat itu hanya diketahui oleh Allah, dengan demikian orang-orang tidak akan bertanya-tanya lagi. Sebab pertanyaan tentang kiamat ini sering diajukan orang, seperti firman Allah,
yang artinya: (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kiamat, bilakah terjadinya? (QS. 79: 42). Setelah adanya jawaban bahwa yang tahu tentang hari kiamat itu hanya Allah, maka orang-orang pun akhirnya tidak bertanya-tanya lagi.
(Mal mas-uulu ‘anhaa ) yakni tentang waktu kiamat itu.
(Bi a’lama minas saa-ili) yakni engkau tidak mengetahuinya dan aku pun tidak mengetahuinya. Maksud persamaan tidak lebih mengetahui antara keduanya adalah menafikan pengetahuan tentang kapan terjadinya hari kiamat, dan bukan sama-sama mengetahuinya.
(Qaala fa akhbirnii an amaaratihaa) yakni tentang tanda-tandanya. Yang dimaksudkan di sini adalah tanda-tanda yang mendahului terjadinya hari kiamat itu, bukan tanda-tanda yang menyertai datangnya hari kiamat, seperti terbit matahari dari barat, dan keluarnya binatang dari perut bumi.
(Qaala an talidal amatu robbatahaa) dalam riwayat lain robbahaa, ada beberapa perbedaan pendapat mengenai artinya, yang paling sahih adalah bahwa hadis ini memberitahukan akan banyaknya sahaya-sahaya wanita dan anak-anaknya. Anak yang diperoleh seorang sahaya wanita dari tuannya akhirnya akan menjadi tuannya pula. Sebab harta seseorang itu akan menjadi milik anaknya.
Ulama lain mengatakan bahwa, karena banyaknya negeri-negeri orang kafir yang berhasil ditaklukkan kaum muslimin, maka bertambah banyak pula sahaya-sahaya wanita. Dan anak yang diperoleh para sahaya wanita tersebut dari tuannya akhirnya menjadi tuannya pula, karena kemuliaan bapaknya.
(Wa an tarol hufaata) yakni orang yang tidak mengenakan sandal di kakinya.
(Al “Uraata) yakni orang yang tidak mengenakan pakaian apa pun di badannya. (Al Aalata) yakni orang yang sangat melarat.
(ri’aa-asy syaa-i) yakni penggembala kambing.
(Yatathaawaluuna fil bun-yaan) yakni, mereka berlomba-lomba membangun rumah mewah. Tujuan dari hadis ini adalah untuk memberitahukan bahwa akan terjadi perubahan yang sangat mencolok di mana orang-orang yang asalnya hina dan melarat akan berhasil menguasai kekayaan yang berlimpah sehingga mereka berlomba-lomba untuk membangun gedung-gedung dan rumah-rumah mewah. Hal ini sesuai pula dengan bunyi hadis lain yang artinya: Kiamat belum akan terjadi sampai tiba suatu masa di mana orang yang paling senang hidupnya di dunia ini adalah lukak bin lukak (orang yang hina dan rendah). Kondisi seperti yang disebutkan dalam hadis ini sekarang sudah menjadi kenyataan.
(Tsumman-thalaqo) yakni laki-laki yang bertanya tadi.
(Falabitstu) yakni untuk beberapa lama Nabi diam tidak membicarakan masalah ini. (Maliyyan) yakni waktu yang lama. Lama di sini menurut riwayat Abu Daud dan Tirmidzi
adalah lebih dari tiga. Dalam riwayat lain, kata labitsa mendapat tambahan ta fail sehingga menjadi labits-tu maka artinya, Umar sendirilah yang memberitahukan tentang hal itu.
(Qaala yaa “umaru atadrii manis-saail? Qultu Allaahu wa rasuuluhu a’lamu, qaala fainnahu Jibriilu ataakum ywallimukum diinakum) yakni pokok-pokok agama kamu. Di dalam hadis ini terdapat petunjuk bahwa agama itu mencakup tiga nama: Islam, Iman dan Ihsan.
PENUTUP:
Ketahuilah bahwa, Jibril adalah malaikat perantara antara Allah dan rasul-Nya. Jibril berasal dari bahasa Suryani artinya Abdullah. Di dalam khabar disebutkan bahwa Allah membentuk rupa para malaikat menurut apa yang dikehendaki-Nya. Jibril pernah datang menemui Nabi. dalam rupa Dahyah Alkalabi. Dan dalam salah satu riwayat disebutkan, yang artinya: Tidaklah Jibril datang kepadaku dalam rupa yang tidak aku kenal, melainkan pada kali ini.
Ibnu Adil rahimahullah berkata: “Diriwayatkan bahwa Jibril. turun kepada Adam sebanyak dua belas kali, kepada Idris empat kali, kepada Nuh lima kali, kepada Ibrahim empat puluh dua kali, kepada Musa empat ratus kali, kepada Isa sepuluh kali, dan kepada Nabi Muhammad seribu dua puluh empat kali. “
Malaikat Jibril merupakan sosok makhluk yang sangat kuat. Kekuatannya yang sangat besar itu dibuktikannya ketika ia mengangkat negeri kaum Luth ke langit dengan sayapnya, kemudian dibalikkannya. Juga ketika ia memekik terhadap kaum Tsamud, sehingga mereka semuanya mati terkapar. Dan naik turunnya menemui para nabi hanya dalam tempo sekejap mata. Ia juga dinamakan An Naamus, sebagaimana disebutkan dalam hadis Bukhari dan Muslim.
Sebagian ulama menceritakan dalam karangannya, bahwa Allah mewahyukan kepada malaikat Jibril supaya turun ke negeri anu dan balikkan atasnya ke bawah dan bawahnya ke atas, karena, firman Allah, Aku sudah sangat murka kepada mereka. Jibril bertanya: “Mahasuci Engkau Ya Rabb, apa dosa yang telah mereka perbuat?” Allah menjawab: “Pada malam ini telah terjadi tujuh puluh ribu perzinaan.” Maka pergilah Jibril ke negeri itu, di sana terdapat tujuh kota. Kemudian diangkatnya negeri itu seluruhnya dengan sayapnya hingga ke langit, dan hendak dibalikkannya kembali ke bumi. Pada saat itu ada seorang perempuan sedang memasak adonan makanan buat bayinya. Ketika ia sedang memasak, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayinya karena terjatuh dari ayunannya. Perempuan itu menjadi bingung hingga tak terasa tangannya menyentuh api tungku hingga terbakar, lalu ia berkata kepada bayinya: “Hai anakku, Tuhanku di antara kemurahan-Nya adalah Dia Maha Penyantun, Dia tidak akan menyegerakan azab kepada orang yang durhaka kepada-Nya.” Ketika perempuan itu mengatakan hal itu, maka menjadi redalah kemurkaan Allah, lalu Dia berfirman kepada Jibril: “Letakkan kembali negeri itu di tempatnya, sebab kemurkaan-Ku telah hilang karena perkataan perempuan itu kepada anaknya. Aku Maha Penyantun, dan tidak akan menyegerakan siksa kepada orang yang durhaka kepada-Ku.” Maka bayi itu menjadi sebab syafaat bagi orang-orang yang sudah sepantasnya mendapatkan azab, sedang mereka tidak mengetahuinya.
Ya Allah, ridailah kami dan janganlah Engkau murka kepada kami. Amin…amin Ya Arhamar raahimiin. Walhamdu lillaahi rabbil “aalamun. Wa shallallaahu alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin.









One Comment