Terjemahan Kitab Kuning | Terjemahan Kitab Majalisus Saniyyah Daftar IsishowPEMBUKAANKEUTAMAAN BASMALAHMAJELIS PERTAMA HADIS KE-1PENJELASAN:HIKAYAT:HIKAYAT:HIKAYAT:PENUTUP:MAJELIS KEDUA HADIS KE-2PENJELASAN:Peringatan:PENUTUP:MAJELIS KETIGA HADIS KE-3PENJELASAN:PENUTUP:MAJELIS KEEMPAT HADIS KE-4PENJELASAN:Catatan:PENUTUP:MAJELIS KELIMA HADIS KE-5PENJELASAN:HIKAYAT:PENUTUP:MAJELIS KEENAM - HADIS KE-6PENJELASANTANBIHPENUTUPMAJELIS KETUJUH HADIS KE-7PENJELASANCATATANPENUTUP PEMBUKAAN Segala puji bagi Allah yang menunjukkan kirab untuk melaksanakan ibadah yang paling mulia, dan memberhentikan kita kepada tata cara kemuliaan yang paling sempurna. Dan saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, maha esa Allah, tiada sekutu baginya, Tuhan seluruh bumi dan langit. Dan saya bersaksi bahwa junjungan kita Muhammad itu hamba Allah yang dikuatkan dengan bukti kebesaran Allah dan mukjizat yang paling utama. Semoga Allah memberi rahmat dan bagi keluarganya dan para sahabatnya seiring bergantinya waktu dan masa Setelah itu, lalu berkata seorang hamba yang butuh kepada rahmat tuhannya yang kaya yaitu Ahmad ibnu Hijazi Al Fasyni semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, dan menutup di dua alam cacat-cacatnya. Ini adalah Kitab al-Majalis al-Saniyah tentang penjelasan kitab Arbain nawawiyah, aku tulis agar sebagai pengingat diriku dan orang-orang yang kurang sepertiku yang dari anak bangsaku. Seraya menambahkan faedah yang bagus dan ceramah yang mulia dan faedah yang lembut. Dan keanehan dan cerita berupa sesuatu yang di inginkan orang-orang yang menyukai. Seraya mengakhiri dengan sesuatu yang dibutuhkan pengembara hari kebangkitan, dan yang dirindukan mata , dan dirindukan hati. Berupa majelis yang sesuai dengan akhir, agar menjadi kecukupan bagi penceramah dalam tasawuf dan nasehat. Dan aku berharap kepada Allah agar ikhlas untuk dzat-Nya yang mulia dan sebab memperoleh kenikmatan yang selamanya dan menetap. Karena Allah kepada sesuatu yang ia kehendaki itu maha kuasa, dan layak untuk memenuhi. amin KEUTAMAAN BASMALAH Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah menunjuki aku dan kalian untuk taat kepada-Nya, bahwa bismillaahirrahmaanirrahiim itu adalah kalimat yang jika seseorang meyakininya niscaya ia akan memperoleh pahala yang besar, dan jika ia menyebutnya niscaya akan memperoleh seluruh cita-citanya. Itulah kalimat yang pada zaman dahulu, Nabi Nuh telah bertawassul dengannya. Dan telah berkata Ratu Balgis: “Wahai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu dari Sulaiman dan sesungguhnya (isinya) "dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Dan tidaklah Nabi Sulaiman membacanya, melainkan tunduklah segala sesuatu kepadanya. An Nasafi telah mengatakan di dalam kitab tafsirnya bahwa, kitabkitab yang diturunkan dari langit ke bumi ada seratus empat buah. Nabi Syits mendapat enam puluh suhuf, Nabi Ibrahim mendapat tiga puluh suhuf, Nabi Musa (sebelum Taurat) mendapat sepuluh suhuf, kemudian Taurat, Zabur, Injil dan Furgan (Alquran). Semua makna kitab tersebut terkumpul dalam Alquran, dan semua makna Alquran terkumpul di dalam surah Alfatihah, dan makna Alfatihah terkumpul di dalam basmalah, dan makna basmalah terkumpul di dalam huruf ba-nya, yang maknanya “Karena Akulah semua yang sudah ada dan yang akan ada”. Dan sebagian ulama menambahkan, bahwa makna ba terkumpul pada titiknya, yang menunjukkan kepada tunggal dan tiada berbilang. Dialah Yang Esa, tiada bandingan-Nya. Dan jumlah huruf basmalah itu ada sembilan belas huruf, sedangkan Jumlah malaikat penjaga neraka pun ada sembilan belas malaikat, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran, “Neraka itu dijaga oleh sembilan belas malaikat.” (QS. 74: 30) Ibnu Mas'ud ra. berkata: “BBarang siapa ingin diselamatkan oleh Allah dari malaikat zabaniyah (penjaga neraka) tersebut maka hendaklah ia membacanya, supaya setiap satu hurufnya dapat menjadi perisainya dan melindunginya dari satu malaikat zabaniyah tersebut.” Dan Abubakar Al Warraq rahimahullah berkata: “Bismillaahirrahmaanirrahiim merupakan satu taman dari taman-taman surga. Dan setiap hurufnya mempunyai tafsir tersendiri.” At Tabrani meriwayatkan bahwa, orang tidak akan masuk ke surga kecuali dengan paspor (surat jalan) yang berbunyi: “Bismillaahirrahmaanirrahiim Ini surat dari Allah untuk fulan bin fulan, masukkanlah ia oleh kalian ke dalam surga yang tinggi yang pohon buah-buahannya mudah dipetik.” Dan diriwayatkan bahwa apabila ahli surga telah masuk ke dalam surga, mereka mengatakan: “Bismillaahirrahmaanirrahiim, segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah memberi kepada kami tempat ini sedang kami diperkenankan menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki, maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.” Dan apabila ahli neraka telah masuk ke dalam neraka, mereka mengatakan: “Bismillaahirrahmaanirrhiim, Tuhan kami tidak menganiaya kami tetapi kami sendirilah yang telah menganiaya diri kami.” Di dalam akhbar diceritakan bahwa, Nabi bersabda, yang artinya: “Ketika aku di-isra-kan ke langit, maka diperlihatkan kepadaku seluruh surga. Di dalamnya, aku lihat ada empat macam sungai. Satu sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, satu sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, satu sungai dari arak yang lezat diminum dan satu sungai dari madu yang jernih. (Sebagaimana disebutkan dalam Alquran: ".. yang di dalamnya ada sungai-sungai air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari arak yang lesat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring (QS. 47:15) Kemudian aku bertanya kepada Jibril: “Dari mana sungai-sungai ini datang dan ke mana perginya?” Jibril menjawab: “Perginya ke telaga Kautsar, dan saya tidak tahu dari mana datangnya. Mohonlah kepada Allah supaya Dia memperlihatkannya kepadamu.” Maka Beliau pun lalu berdoa kepada Tuhannya. Lalu datang satu malaikat seraya memberi salam kepada Beliau, kemudian ia berkata: “Ya Muhammad, pejamkan matamu.” Rasulullah bersabda: “Maka aku pun lalu memejamkan mataku. Kemudian malaikat itu berkata pula, “Sekarang, bukalah matamu.' Maka aku pun lalu membukakan mataku kembali. Ternyata aku telah berada di sebuah pohon yang besar. Dan aku lihat ada sebuah kubah terbuat dari mutiara putih. Kubah itu mempunyai daun pintu yang terbuat dari emas kuning, dalam riwayat lain dari zamrud hijau, yang seandainya seluruh manusia dan jin yang ada di dunia berdiri di atas kubah tersebut, maka mereka itu hanya seperti seekor burung yang bertengger di atas sebuah gunung, atau seperti sebuah bola yang dilemparkan ke lautan. Aku lihat keempat anak sungai tadi mengalir dari bawah kubah itu. Ketika aku hendak berbalik kembali, malaikat yang membawaku tadi berkata: “Mengapa Tuan tidak masuk ke dalam kubah itu?' Aku menjawab: “Bagaimana saya masuk ke dalamnya sedangkan di pintu itu ada gembok terbuat dari emas, dan saya tidak tahu cara membukanya?” Malaikat itu berkata: “Kuncinya ada di tangan Tuan.' Aku bertanya: “Mana kuncinya? Malaikat itu menjawab: “Kuncinya adalah bismillaahirrahmaanirrahiim. Setelah aku mendekati gembok itu, maka aku ucapkan: bismillaahirrahmaanirrahiim. Maka terbukalah gembok itu lalu aku pun masuk ke dalam kubah tersebut. Aku lihat keempat anak sungai tersebut mengalir dari bawah keempat tiang kubah itu. Ketika aku hendak keluar kembali, malaikat tadi berkata: “Apakah sudah Tuan lihat, Ya Muhammad.?' Aku jawab: “Sudah sayalihat.” Malaikat itu berkata kembali: “Coba lihat sekali lagi.” Ketika aku lihat kembali, ternyata pada keempat tiang itu tertulis kalimat bismillaahirrahmaanirrahiim. Aku lihat sungai air mengalir dari huruf mim bismi sungai susu mengalir dari huruf ha Allah, sungai arak keluar dari huruf mim arrahmaan, dan sungai madu mengalir dari huruf mim arrahiim. Maka tahulah aku sekarang bahwa keempat sungai tersebut berasal dari kalimat basmalah. Allah berfirman: “Ya Muhammad, bBarang siapa di antara umatmu menyebut-Ku dengan asma ini, dan mengucapkan dengan hati yang tulus bismillahirrahmaa-nirrahiim, niscaya Aku beri ia minum dari keempat sungai ini.” MAJELIS PERTAMA HADIS KE-1 Dari Amirilmukminin Abu Hafs Umar bin Khattab , ia berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah bersabda: Artinya: Sesungguhnya semua amal itu tergantung pada niat. Dan sesungguhnya masing-masing orang akan memperoleh menurut apa yang ia niatkan. Maka bBarang siapa yang (niat) hijrahnya itu menuju kepada (keridaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu adalah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan bBarang siapa yang (niat) hijrahnya itu menuju kepada (keinginan) dunia yang hendak diperolehnya atau wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu hanya sebatas apa yang ia niatkan itu saja. Hadis ini diriwayatkan oleh dua imam ahli hadis, yaitu Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah, Al Bukhari, dan Abul Husein Muslim bin Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi Annaisaburi, di dalam kitab hadis mereka yang sahih, yang keduanya merupakan kitab hadis yang paling sahih di antara seluruh kitab hadis yang pernah disusun orang. PENJELASAN: Sebagian ulama mengatakan bahwa poros agama Islam itu adalah pada hadis innamal a'maal bin niyyaat dan hadis al halaalu bayyinun wal haraamu bayyinun dan hadis man 'amila “amalan laisa “alaihi amrunaa fahuwa raddun dan hadis min husni islaamil mar-i tarkuhu maa laa ya'niihi, masing-masing hadis tersebut merupakan seperempat Islam. Ulama lainnya mengatakan: “Seandainya saya menyusun seratus kitab, tentu setiap kitab itu akan saya mulai dengan hadis innamal a'maal bin niyyaat. Ia merupakan hadis agung. Dahulu para salaf yang salih suka membuka tulisan mereka dengan hadis ini untuk memperingatkan kepada para pelajar supaya memperhatikan niat yang baik. Karena niat itu merupakan amal hati yang paling besar. Sedangkan perbuatan taat pun tergantung kepadanya dan pada niatlah porosnya.” Dan Abu Ubaidah berkata: “Tidak ada akhbar Nabi yang lebih sempurna, lebih mencukupi, lebih banyak faedah dan lebih menyampaikan daripada hadis ini. (Innamal a'maal bin niyyaat) Jumhur ulama mengatakan bahwa kata innamaa digunakan untuk “membatasi' terhadap apa yang disebutkan saja, dan meniadakan yang selainnya. Jadi maksud hadis ini adalah bahwa amal itu akan diperhitungkan kalau disertai dengan niat dan tidak akan diperhitungkan kalau tidak disertai dengan niat. Jadi, tidak ada amal tanpa niat. Dengan demikian maksud dari sabda Nabi innamal amaal itu adalah bahwa syariat yang berkaitan dengan badan, baik berupa perbuatan maupun ucapan, yang keluar dari seorang yang mukmin, haruslah disertai dengan niat. Niat menurut bahasa artinya gashdun (bermaksud), sedangkan menurut syariat artinya: bermaksud mengerjakan sesuatu yang disertai dengan mengerjakannya. Jika tidak langsung dikerjakan maka ia disebut “azman. Pembicaraan mengenai niat ini telah dikupas secara panjang lebar di dalam ilmu fikih. Perlu diketahui bahwa kata innamaa yang berfungsi untuk membatasi tadi maksudnya tidak secara keseluruhan (kulli) tetapi kebanyakan saja (aktsari), sebab adakalanya ada amal yang tetap sah tanpa niat, seperti azan dan membaca Alquran. Begitu pula sah meninggalkan sesuatu perbuatan tanpa disertai niat, seperti meninggalkan perbuatan zina. Dalam kaitan ini para ulama telah membahasnya secara panjang lebar. (Wa innama likullim-ri-in maa nawaa) maksudnya adalah ganjarannya. Jika perbuatan tersebut dilandasi oleh niat yang baik maka baik pula ganjarannya dan jika buruk maka buruk pula ganjarannya. Dengan demikian niat seseorang mukmin itu lebih baik daripada amalnya. Niat yang ikhlas semata-mata karena Allah itu selalu disyariatkan secara umum kepada umat- umat sebelum kita. Allah berfirman, Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh. (QS. 42: 13) Abul “Aliyah berkata: “Allah telah mewasiatkan kepada mereka agar beribadat dengan ikhlas semata-mata karcna Allah , tidak ada sekutu bagi-Nya.” Scyogianya bagi scscorang yang hendak melakukan suatu perbuatan taat agar dia menghadirkan niat lebih dahulu. Dia harus berniat dengan ikhlas semata-mata untuk Allah . Niat merupakan pokok amal seluruhnya, dan ia adalah asas, di atas asas itulah tiang-tiang bangunan dipancangkan. Barang siapa membukakan bagi dirinya satu pintu kebaikan, maka Allah akan membukakan baginya tujuh puluh pintu kepada taufik, dan barang siapa membukakan bagi dirinya satu pintu keburukan, maka Allah akan membukakan baginya tujuh puluh pintu kepada kehinaan. Pintu kebaikan itu berasal dari niat yang baik, dan pintu keburukan itu berasal dari niat yang buruk pula. Apabila seseorang hamba berniat untuk melakukan sesuatu kebaikan, ia akan diberi pahala sekalipun tidak sampai dikerjakannya. Sebagaimana disebutkan dalam Musnad Abi Ya'la, bahwa Rasulullah bersabda yang artinya: "Pada hari kiamat, Allah berfirman kepada malaikat hafazhah “Tuliskanlah buat hamba-Ku sekian-sekian pahala,” mereka menjawab, “Oh Tuhan kami, kami tidak mengingatnya dan juga tidak tertulis di lembaran amalnya?' Allah berfirman: “Dia telah berniat untuk melakukannya.'” HIKAYAT: Ada dua orang bersaudara, yang satu abid yang lain fasik. Si abid tadi berangan-angan ingin melihat Iblis. Maka pada suatu hari, Iblis benar-benar menampakkan diri kepadanya. Iblis berkata kepadanya: “Sungguh sayang, engkau telah membuang-buang waktumu selama empat puluh tahun dengan mengekang dirimu dan memayahkan badanmu. Umurmu masih tersisa seperti yang sudah terbuang itu, maka pergunakanlah untuk bersenang-senang mengikuti keinginan nafsumu.” Si abid lalu berkata dalam hatinya: “Saya akan turun menemui saudaraku di bawah rumah untuk menemaninya makan minum dan bersenang-senang selama dua puluh tahun, kemudian saya akan bertobat dan kembali beribadat kepada Allah selama dua puluh tahun sisa umurku tersebut.” Maka ia pun lalu beranjak turun dengan niat demikian itu. Sedangkan saudaranya si fasik, baru saja tersadar dari mabuknya. Didapatinya dirinya dalam keadaan yang sangat buruk, ia telah mengencingi pakaiannya dan tubuhnya terkapar di atas tanah dalam kegelapan. Maka berkatalah ia dalam hatinya: “Aku telah menghabiskan umurku dalam perbuatan maksiat, sedangkan saudaraku bersenang-senang dalam perbuatan taat kepada Allah dan bermunajat kepada-Nya. Maka kelak ia akan masuk ke dalam surga dengan berkat taatnya kepada Tuhannya, sedangkan aku dengan perbuatan maksiat yang telah kulakukan akan masuk ke dalam neraka.” Kemudian ia bertekad untuk bertobat dan berniat untuk melakukan kebaikan dan ibadat kepada Allah. Maka ia pun naik menuju ke tempat saudaranya untuk mengerjakan ibadat bersama-sama saudaranya itu. Si fasik naik dengan niat ibadat sedangkan si abid turun dengan niat maksiat. Ketika sedang turun itu, si abid tergelincir hingga jatuh menimpa saudaranya yang sedang naik. Karena ajal sudah sampai, keduanya akhirnya meninggal dunia. Si abid kelak pada hari kiamat dibangkitkan dalam keadaan berniat untuk melakukan maksiat, sedangkan si fasik dibangkitkan dalam keadaan berniat untuk melakukan perbuatan taat. Karenanya, hendaklah setiap orang senantiasa berniat yang baik-baik saja. HIKAYAT: Pada hari kiamat kelak, seorang hamba dibawa menghadap ke hadirat Allah sambil membawa amal baiknya yang banyaknya laksana sebuah gunung. Kemudian diserukan: “Barang siapa mempunyai hak pada si fulan maka hendaklah 1a datang kepadanya dan mengambil haknya itu.” Maka berdatanganlah orang-orang menemui si hamba tadi lalu mengambil kebaikan- kebaikannya yang seperti gunung tadi hingga habis tidak tersisa sama sekali. Orang itu menjadi kebingungan, lantas Allah berfirman kepadanya: “Hai hamba-Ku, engkau masih memiliki perbendaharaan di sisi-Ku yang tidak terlihat oleh seorang pun dari makhluk-Ku.” Si hamba bertanya: “Apakah itu, wahai Tuhanku?” Allah menjawab: “Niatmu, yang dahulu engkau pernah berniat untuk melakukan kebaikan. Aku catatkan pahalanya di sisi-Ku tujuh puluh kali lipat.” HIKAYAT: Pada hari kiamat kelak seorang hamba dihadapkan ke hadirat Allah, lalu diserahkan kitab amalnya kepadanya, yang diambilnya dengan tangan kanannya. Si hamba tadi melihat di dalam catatan amalnya itu pahala haji, jihad dan sedekah yang belum pernah dilakukannya. Maka ia pun berkata: “Oh Tuhanku, ini bukan catatan amalku, karena dahulu aku tidak pernah melakukan itu semua.” Allah menjawab: “Itu adalah benar-benar catatan amalmu. Dahulu engkau hidup panjang umur, dan engkau sering berniat baik. Engkau berkata, “Kalau aku punya uang aku akan naik haji, kalau aku ada uang aku akan bersedekah,” Maka Aku ketahui niatmu yang tulus itu, lalu Aku beri engkau pahala atas niatmu tersebut.” Wahai saudaraku, dari kisah-kisah tadi jelas, bahwa orang yang berniat melakukan sesuatu kebaikan dia akan memperoleh ganjarannya. Dalam hadis, Nabi pernah bersabda yang artinya: “Niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya.” Konon, sebab disabdakannya hadis tersebut adalah bahwa, Nabi pernah menjanjikan pahala bagi orang yang mau menggali sebuah sumur. Maka Utsman berniat akan menggalinya. Namun ia didahului oleh seorang kafir, orang kafir inilah yang menggalinya. Maka Nabi bersabda: Niat seorang mukmin (maksudnya Utsman) lebih baik daripada amalnya (yakni si kafir). Dan konon, niat semata-mata dari seorang mukmin adalah lebih baik daripada amalnya yang tidak disertai niat. Sebagian ulama mengatakan bahwa, niat seorang mukmin dapat mencapai apa yang tidak bisa dicapai oleh amal. Karena niatnya akan beribadat kepada Allah andai kata umurnya sampai seribu tahun, sedangkan amalnya tidak bisa mencapai umur demikian itu. Hadis ini diriwayatkan oleh At Tabrani di dalam Al Mu'jam. (Faman kaanat hijratuhu ilallaahi wa rasuulihi) yaitu niat dan tujuannya. (Fahijratuhu ilallaahi wa rasuulihi) yaitu menurut hukum dan syariatnya. (Waman kaanat hijratuhu lidunyaa) Dunia adalah tempat yang kita diami sekarang. Ia dinamakan dunia karena hinanya dan karena lebih dahulu daripada akhirat. Dunia adalah tempat kesusahan, kesedihan, kekeruhan, kepayahan dan kelelahan. Ia juga mengangkat derajat orang yang bodoh dan merendahkan orang yang berilmu. Seperti kata penyair: Aku cela dunia karena teluh memuliakan orang bodoh dan merendahkan orang alim, lalu ia menjawab "Maaf, orang-orang bodoh itu adalah anak-anakku maka aku muliakan mereka dan orang-orang takwa itu anak-anak maduku yang lain Maka aku pun pantas aku biarkan anak- anakku mati secara sia-sia dan aku menyusui anak-anak maduku yang lain?” (Yushiibuhaa) yakni yang akan diperolehnya. Seluruh keinginan duniawi yang hendak diraihnya dengan hijrah tersebut. (Awim-ra-atin yankihuhaa) atau wanita yang akan dinikahinya, sebagaimana disebutkan dalam salah satu riwayat. Wanita khusus disebutkan di sini padahal ia sudah termasuk bagian dari dunia, karena ia merupakan fitnah yang maha besar. Dalam hadis disebutkan bahwa, Nabi bersabda, yang artinya: “Tidaklah aku tinggalkan setelaku suatu fitnah yang lebih banyak membawa bencana kepada kaum lelaki melebihi fitnah yang datangnya dari perempuan.” Di samping itu, ada kejadian lain, yaitu ada seorang laki-laki yang melakukan hijrah ke Madinah karena ingin menikahi seorang wanita bernama Ummu Qais. Karena itulah ia disebut Muhajir Ummi Qais (orang yang hijrah karena Ummu Qais). Pada lahirnya ia tampak melakukan hijrah, tetapi pada batinnya ia berniat untuk menikahi seorang wanita. Karena ia memendam tujuan lain yang berbeda dengan apa yang ia tampakkan, maka ia pantas untuk dicela, dan dijadikan perumpamaan bagi orang yang melakukan hal yang serupa dengan apa yang dilakukannya itu. (Fahijratuhu ilaa maa haajara ilaihi) scbagai jawab dari kata man. Hijrah adalah suatu perbuatan yang berasal dari kata hajara, yang artinya menurut bahasa adalah meninggalkan. Sedangkan yang dimaksudkan di sini adalah meninggalkan negeri asal pindah ke negeri lain. Sebab tujuan hijrah yang mula-mula adalah hijrah dari Mekkah ke Madinah. Secara umum hukum hijrah dari negeri kafir ke negeri Islam tetap berlaku sampai kapan pun sebagaimana diuraikan dalam kitab-kitab fikih secara rinci. Adakalanya hijrah juga diartikan meninggalkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah, seperti yang disebutkan dalam salah satu hadis yang artinya: Mujahid (pejuang yang sebenarnya) adalah orang yang berjuang melawan hawa nafsunya, dan muhajir (orang yang berhijrah yang sebenarnya) adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah atasnya. Maka seseorang bisa dikategorikan juga sebagai orang yang hijrah apabila ia meninggalkan negeri yang penduduknya sudah terbiasa makan haram, atau hijrah meninggalkan negeri yang di situ para ulama dan orang-orang salihnya dicaci maki. PENUTUP: Wahai saudaraku, orang yang berakal dan tahu bahwa dia akan mati, tentu akan rela dengan dunia ala kadarnya saja, sebaliknya dia akan giat beramal untuk akhiratnya. Sebab akhirat itu adalah tempat kediaman yang abadi, sedangkan dunia adalah tempat kediaman sementara. Imam Ali bin Abithalib Karamallaahu wajhah berkata: “Dunia telah berada di belakang sedang akhirat menyongsong di hadapan, maka jadilah kalian sebagai anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia. Karena sekarang hanya ada amal dan tidak ada hisab, sedangkan esok hanya ada hisab dan tidak ada amal.” Diriwayatkan, bahwa ketika Nabi sedang duduk-duduk di dalam masjid, tiba-tiba masuk seorang laki-laki yang berkulit putih, bagus rambutnya dan berpakaian warna putih. Laki-laki itu memberi salam kepada Nabi, dan Beliau membalas salamnya. Kemudian laki-laki itu bertanya kepada Beliau tentang dunia, lalu dijawab oleh Baginda: “Dunia itu seperti mimpi yang dialami oleh orang yang sedang tidur, dan penghuninya akan diberi pahala atau disiksa.” Kemudian laki-laki itu bertanya pula: “Dan apakah akhirat itu?” Nabi menjawab sambil menyitir firman Allah: yang artinya: Sekelompok masuk surga dan Sekelompok masuk neraka. (QS. 42:7) Kemudian laki-laki itu bertanya pula: “Ya Rasulullah, apakah yang harus dilakukan untuk memperoleh surga itu?” Nabi menjawab: “Hendaklah engkau tinggalkan dunia guna memperoleh kenikmatan surga yang abadi.” Tanya: “Siapakah orang yang terbaik dari umat ini?” Jawab: “Ialah orang yang berbuat taat kepada Allah.” Tanya: “Bagaimana keadaan orang di dalamnya?” Jawab: “Bersungguh-sungguh seperti orang yang mencari kafilah.” Tanya: “Berapa yang tinggal di dalamnya?” Jawab: “Seperti yang ketinggalan kafilah.” Tanya: “Berapa jarak antara dunia dan akhirat?” Jawab: “Sekejap mata.” Kemudian laki-laki itu pergi, dan tidak ada seorang pun yang melihatnya lagi. Lalu Rasulullah berkata: “Tadi itu adalah Jibril yang datang untuk menjadikan kalian supaya sujud terhadap dunia.” Ibnu Abbas berkata: “Pada hari kiamat kelak, dunia akan ditampilkan dalam rupa seorang perempuan tua yang renta dan jelek, yang taring-taringnya menjulur keluar. Tidak ada yang melihatnya, melainkan ia akan membencinya. Lalu ditanyakan kepada khalayak: “Tahukah kalian siapakah ini?” Mereka menjawab: “Kami berlindung kepada Allah dari orang ini!” Kemudian dijelaskan: “Inilah dunia yang dahulu kalian bangga-banggakan dan berbunuh- bunuhan di atasnya.” Dan di dalam kitab Al Manhiyyaat disebutkan: “Janganlah kalian mencintai dunia, karena ia bukan tempat kaum mukminin. Jangan bersahabat dengan setan, karena ia bukan teman kaum mukminin. Jangan menyakiti hati orang, karena ia bukan pekerjaan kaum mukminin. Wahai orang yang di hadapannya ada huru-hara hisab dan sirat. Wahai orang yang kurang setia. Wahai orang yang banyak tipu dan bersuka ria. Wahai orang yang malas berbuat taat kepada Tuhannya, dan rajin mengikuti hawa nafsunya. Wahai orang yang menantang Tuhannya dengan perbuatan maksiat, engkau telah melampaui batas dalam melakukan pelanggaran. Angkatlah kedua belah tanganmu bersamaku dan marilah berdoa: “Ilaahi, berkat kemurahan- Mu mudahkanlah kami untuk berbuat taat kepada-Mu, dan tunjukilah kami kepada apa yang Engkau sukai dan Engkau ridai dalam setiap waktu. Ampunilah segala dosa kami dengan berkat kemurahan-Mu wahai Tuhan Yang Maha Pemurah. Bangunkanlah kami dengan berkat kedudukan Nabi-Mu Muhammad dari lelapnya kelalaian. Anugerahilah kami kesadaran terhadap apa yang tersisa, dan ingatkanlah kami terhadap apa yang sudah luput. Dan selamatkanlah kami di dunia dan di akhirat dari segala bencana. Amin...amin...amin. Walhamdu lillaahi rabbil aalamiin. MAJELIS KEDUA HADIS KE-2 Dari Sayyidina Umar bin Khattab. Ia berkata: Artinya: Pada suatu hari, ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah &, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya hitam sekali. Tidak kelihatan pada dirinya bekas dari perjalanan jauh, sedang kami tidak ada yang mengenalnya. Kemudian laki-laki itu duduk di hadapan Nabi sambil menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di kedua pahanya, lalu bertanya: “Ya Muhammad, beritahukanlah kepada saya tentang agama Islam? “Rasulullah menjawab: “Agama Islam itu adalah engkau harus bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah: mendirikan salat, menunaikan zakat: berpuasa di bulan Ramadan, dan naik haji ke Baitullah jika engkau mampu pergi ke sana.” Laki-laki itu berkata: “Tuan benar.” Kami merusa heran kepada orang itu, dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkan. Kemudian laki-laki itu bertanya kembali: “Beritahukanlah kepadaku tentang iman?” Beliau menjawab: “Iman itu adalah engkau harus percaya kepada Allah, malaikat- malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan kepada hari kiamat, serta engkau harus percaya kepada (adanya) takdir baik dan buruk.” Orang itu berkata: “Tuan benar.” Kemudian laki-laki itu bertanya pula: “Beritahukanlah kepadaku tentang ihsan?” Beliau menjawab: “Hendaklah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, sebab sekalipun engkau tidak melihat-Nya, Dia melihatmu.” Kemudian laki-laki itu bertanya kembali: “Sekarang, beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat?” Rasulullah menjawab: “Orang yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.” “Beritahukanlah kepadaku tentang tanda-tandanya saja?” Tanya laki-laki itu pula. Beliau menjawab: “Apabila ada seorang budak wanita melahirkan tuannya, dan apabila ada seorang yang asalnya hidup melarat, berpakaian compang-camping dan tanpa mengenakan alas kaki, sebagai penggembala kambing, kemudian menjadi kaya raya hingga berlomba-lomba dalam membangun rumah mewah.” Kemudian laki-laki itu pergi. Nabi diam sejenak, lalu Nabi bertanya kepadaku: “Hai Umar, tahukah engkau siapakah yang bertanya tadi?” Saya menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau lalu menjelaskan: “Itulah Jibril, yang datang kepada kalian untuk mengajarkan kalian tentang agama kalian.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim. PENJELASAN: Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah memberi taufik kepadaku dan kepada kalian supaya dapat berbuat taat kepada-Nya, bahwa hadis ini adalah hadis yang agung, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan lafaz di atas, dan oleh Imam Bukhari dari sahabat Abu Hurairah r.a. dengan maknanya. Di dalamnya tercakup seluruh peribadatan baik yang lahir maupun yang batin. (Bainamaa nahnu juluusun 'inda rasuulullaahi && dzaata yaumin idz thala'a 'alainaa rajulun syadiidu bayaadhits tsiyaabi syadiidu sawaadisy sya'rilaa yuraa alaihi atsarus safari, wa laa ya'rifuhu minnaa ahadun) Dari penampilan laki-laki yang datang dengan rupa yang baik itu dapat ditarik kesimpulan sunnahnya berpenampilan yang baik dalam menuntut ilmu dan menemui orang lain. Nabi bersabda, yang artinya: Sebaik-baik pakaian yang kalian kenakan untuk berziarah kepada Allah di kuburan kalian dan masjid-masjid kalian adalah yang berwarna putih.” Dan Ibnu Abdissalam berkata: “Tidak mengapa mengenakan pakaian yang menjadi ciri seorang ulama, supaya dikenal orang dan ditanyai. Karena saya dahulu sewaktu sedang melaksanakan ihram, saya pernah menegur sekelompok orang yang tidak kenal pada saya, yang juga sedang ihram, karena kesalahan mereka dalam adab tawaf, namun mereka tidak memedulikan teguran saya tersebut. Kemudian ketika saya mengenakan pakaian fukaha, saya kembali menegur mereka, dan ternyata mereka mau mendengarkan dan menuruti saya.” Apabila seseorang mengenakan pakaian tersebut untuk hal seperti itu, maka dia akan memperoleh pahala. Karena dia menjadi sebab diturutinya perintah Allah dan dijauhinya larangan-Nya. Ulama berkata: “Dimakruhkan mengenakan pakaian yang kasar tanpa ada tujuan yang dibolehkan oleh syariat.” Konon Alhasan pernah mencopot pakaian yang dikenakan oleh Farqad, seraya berkata kepadanya: “Hei Farqad, bakti itu bukan dengan mengenakan pakaian seperti ini, tetapi apa yang ada di dalam dada dan dibuktikan oleh amal perbuatan.” (Hattaa jalasa) maksudnya, ia datang lalu duduk di dekat Nabi . (Ilan Nabiyyi ) adapun sebab tidak dikatakan baina yadaihi adalah konon karena keadaannya menunjukkan bahwa dia datang bukan untuk belajar, melainkan untuk mengajar. (Fa asnada rukbataihi ilaa rukbataihi) Jelasnya, ia duduk di hadapan Nabi , sebab kalau ia duduk di samping Baginda Nabi tentu ia tidak mungkin dapat menyandarkan kedua lututnya ke lutut Baginda Nabi. Namun ini bukan duduk seperti duduknya seorang murid di hadapan gurunya untuk belajar. Jibril melakukan itu hanyalah untuk memperingatkan apa yang seharusnya dimiliki oleh seorang penanya berupa kekuatan batin dan tidak malu dalam mengajukan pertanyaan sekalipun orang yang ditanyanya itu adalah orang yang dihormati dan diseganinya. Juga sikap apa yang harus dimiliki oleh orang yang ditanya berupa sifat rendah hati dan pemaaf terhadap si penanya sekalipun si penanya kurang memperhatikan sikap hormat dan etika dalam mengajukan pertanyaan. (Wa wadha'a kaffaihi 'alaa fakhidzaihi) maksudnya, laki-laki itu meletakkan kedua tangannya di kedua paha Nabi . Dia melakukan itu adalah untuk menunjukkan keakraban, karena pada prinsipnya antara keduanya telah terjalin hubungan yang erat pada saat disampaikannya wahyu. Hal ini telah dinyatakan dengan jelas dalam hadis yang diriwayatkan oleh An Nasaai dari sahabat Abu Hurairah dan Abu Dzarr , yang artinya: hingga dia meletakkan kedua tangannya di atas lutut Nabi . (Wa gaala yaa Muhammad) Di sini Jibril memanggil Baginda dengan menyebutkan namanya saja sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang-orang Baduwi (orang Arab pedalaman) padahal ini hukumnya haram. Itu tidak lain adalah karena keadaannya menunjukkan kepada keakraban, dia datang bukan untuk belajar namun untuk mengajar, seperti yang telah kami kemukakan di muka, atau boleh jadi itu dilakukan sebelum adanya pengharaman. (Akhbirnii Qanil islaam) yakni tentang hakikatnya. (Faqaala rasulullah ) menjawab pertanyaan tersebut. (Al Islaamu an tasyhada al-laa ilaaha illallaah) yakni, engkau tahu bahwa tidak ada Tuhan yang pantas untuk disembah dengan benar di dalam alam ini selain hanya Allah yang wajib ada-Nya. (wa anna muhammadar rasuulullaah) yakni, dan engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan engkau membenarkan yang demikian itu. (wa tuqiimash shalaata) yakni, engkau dirikan salat itu dengan melengkapi rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, dan engkau lakukan secara teratur pada waktu-waktunya. (wa tu'tiyaz zakaata) yakni, engkau tunaikan sesuai dengan apa yang disyariatkan. (wa tashuumu ramadhaana) dinamakan ramadhaana karena udara pada saat itu sangat panas. Dari sabda Beliau yang hanya menyebutkan ramadhaana tanpa didahului oleh kata syahru dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak makruh menyebutkan ramadhaan saja tanpa syahru. (wa tahujjul baita) yakni, pergi ke Baitullah untuk melaksanakan manasik haji dengan cara- cara yang tertentu. (inis-tatha'ta ilaihi sabiilaa) yang dimaksud dengan mampu di sini adalah adanya bekal dan kendaraan serta lain-lain yang diperlukan dalam perjalanan haji tersebut. Adapun sebab hanya ibadat haji saja yang dikaitkan dengan kemampuan, sedang ibadatibadat lain sebelumnya tidak disyaratkan yang demikian itu, padahal ibadat-ibadat lain juga disyaratkan dalam haji adalah karena terdapatnya kesulitan yang besar di dalamnya yang tidak dijumpai dalam ibadat-ibadat yang lain. Peringatan: Lahir hadis ini menunjukkan bahwa seseorang disebut sebagai orang Islam adalah jika ia mengucapkan dua kalimat syahadat hingga kalau dia menyingkat hanya mengucapkan satu kalimat saja, itu masih belum cukup. Dan sebab mengucapkan dua kalimat syahadat ini disebut lebih dahulu dari yang lain adalah karena dengan keduanya itu dapat diperoleh iman, yang merupakan pokok. Semua ibadat dibangun di atasnya dan disyaratkan harus beriman, serta dengan iman pula akan diperoleh keselamatan dunia akhirat. Kemudian salat, karena ia merupakan tiang agama, dan juga salat itu menjadi pembeda antara seorang mukmin dan kafir, dan karena salat itu sangat dibutuhkan, serta karena salat itu dikerjakan berulang-ulang lima kali dalam sehari. Kemudian zakat, karena ia merupakan pasangan salat di dalam kebanyakan ayat Alquran, dan karena kewajiban zakat itu pada harta orang yang mukallaf dan lainnya menurut sebagian besar ulama. Kemudian puasa di bulan Ramadan, karena berulang-ulang dalam setiap tahunnya serta banyaknya orang yang melakukannya, berbeda dengan ibadat haji. Kemudian ibadat haji, karena adanya ancaman terhadap orang mampu yang tidak melakukannya, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah yang artinya: Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. 3: 97) Dan seperti sabda Nabi , yang artinya: Maka ia boleh memilih mati sebagai orang Yahudi atau sebagai orang Nasrani. Hal ini akan kita bahas lagi secara lebih luas setelah ini. (Qaala) yakni, orang yang bertanya kepada Nabi itu berkata. (Shadaqta) yakni, jawaban yang Tuan berikan itu adalah benar. Sayyidina Umar berkata: (fa 'ajabna minhu yas-aluhu wa yushaddiquhu) yakni, kami heran karena pembenarannya itu, sebab itu menunjukkan bahwa ia telah mengetahui jawaban atas pertanyaan yang diajukannya itu. Padahal ia tidak tahu kecuali dari penjelasan yang diberikan oleh Nabi tersebut. Atau bisa juga dikatakan bahwa, pertanyaannya itu menunjukkan bahwa dia tidak tahu, sedangkan pembenarannya itu menunjukkan bahwa dia sudah tahu. Yang jelas keadaannya itu adalah bahwa sebelumnya memang dia sudah tahu, bukan dari sebab mendengarkan penjelasan Nabi terebut. Keheranan para sahabat tadi akhirnya lenyap setelah diberitahu oleh Nabi bahwa lelaki itu sebenarnya adalah Jibril yang hendak mengajarkan ajaran agama mereka kepada mereka. Dengan demikian jelas, bahwa dia adalah seorang alim yang menyamar sebagai pelajar untuk mengajar dan mengingatkan mereka. (Qaala fa akhbirnii anil iimaani, gaala an tu'minu billaahi) yakni, supaya engkau mempercayai wujud dan sifat-Nya yang tidak sempurna ketuhanan itu kecuali dengannya. Para ulama berkata: “Iman kepada Allah Jalla Jalaaluh itu mengandung dua makna (1) iman kepada Dzat-Nya dan (2) iman kepada wahdaniyah (keesaan)-Nya. Adapun iman kepada Dzat-Nya yang mulia itu adalah bahwa Anda harus tahu dengan yakin bahwa Dzat Allah itu tidak sama dengan dzat-dzat makhluk sebagaimana sifat-Nya juga tidak sama dengan sifat-sifat makhluk. Apa saja yang Anda bayangkan tentang Allah dalam benak Anda maka Allah berbeda dengan semuanya itu. Karena Anda adalah makhluk, dan semua yang Anda bayangkan itu juga adalah makhluk seperti Anda. Sebab Allah Mahasuci dari menyusup pada makhluk atau makhluk menyusup pada-Nya. Anda adalah jisim dan materi sedangkan Allah bukan. Anda memiliki jenis dan bentuk, sedangkan Allah tidak Adapun iman kepada wahdaniyah (keesaan) Allah itu adalah Anda harus tahu dengan yakin bahwa Dia tunggal dalam kekuasaan dan perencanaan, satu dalam Dzat-Nya, satu dalam sifat-Nya, satu dalam perbuatan-Nys dan satu dalam firman- Nya. (Wa malaaikatuhu) malaikat adalah kata jamak dari malak, yaitu makhluk halus yang dapat berganti rupa sesuai dengan kehendaknya. Adapun iman kepada malaikat itu artinya adalah membenarkan keberadaan mercka dan bahwa mereka itu adalah seperti yang digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya, (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. (QS. 21: 26). (Wa kutubihi) makna iman kepada kitab-kitab adalah membenarkan bahwa Kitab-Kitab tersebut merupakan Kalam Allah yang diturunkan kepada rasul-rasul-Nya alaihimus salaatu wassalam dan seluruh isinya adalah benar belaka. (Wa rusulihi) makna iman kepada para rasul itu adalah membenarkan apa yang dibawa oleh para rasul tersebut adalah dari Allah. (Wal yaumil aakhiri) yaitu hari kiamat. Makna iman kepada hari akhir adalah membenarkan akan adanya hari kiamat dengan segala hal yang berkaitan dengannya. Ia disebut hari akhir sebab ia merupakan hari terakhir dari hari-hari dunia dan akhir dari masa yang terbatas. (Wa tu'minu bil qadari khairihi wa syarrihi) makna iman kepada qada dan qadar ini adalah meyakini bahwa Allah telah menakdirkan baik dan buruk sebelum penciptaan makhluk, dan bahwa seluruh alam semesta ini terwujud dengan gada dan qadar-Nya, dan Dia berkehendak untuknya. Keyakinan yang mantap terhadap hal ini telah cukup tanpa harus disertai dengan bukti. Adapun arti takdir baik dan buruk itu adalah bahwa, perbuatan taat dan semua amal salih itu merupakan takdir baik, sedangkan kufur dan seluruh perbuatan maksiat itu merupakan takdir buruk. Ada pula riwayat yang mengatakan bahwa, takdir baik itu adalah semua yang menyenangkan jiwa seperti, makan minum yang enak, badan yang sehat, kawin dan lain-lain. Sedangkan takdir buruk itu adalah semua yang tidak menyenangkan jiwa, seperti penyakit, lapar, dahaga, takut dan lain-lain. (Qaala shadata) maksudnya telah disebutkan di muka. (Qaala fa akhbirnii nil ihsaan) yakni ikhlas. (Qaala an ta'budallaaha ka annaka taroohu fa in lam takun taroohu fa innahu yarooka) ini merupakan kesempurnaan ucapan nabi , karena mencakup maqam musyahadah dan maqam muraqabah. Penjelasannya adalah, bahwa seorang hamba dalam ibadatnya itu mempunyai tiga maqam: (1) ja melakukan ibadat itu dari segi menggugurkan kewajiban yaitu dengan memenuhi syarat-syarat dan rukun-rukunnya, (2) selain memenuhi syarat dan rukun tadi, ia juga tenggelam dalam lautan mukasyafat hingga seolah-olah ia melihat Allah. Ini merupakan maqam Nabi , seperti sabda Beliau yang artinya: Dan dijadikan salat itu sebagai kesenanganku. (3) ia melaksanakan salat seperti tadi, memenuhi syarat dan rukunnya, kemudian ia dikuasai oleh perasaan bahwa Allah menyaksikan salatnya itu. Ini merupakan maqam muraqabah. Sabda beliau sekalipun engkau tidak melihat-Nya turun dari maqam mukasyafat (seolah-olah engkau melihat-Nya) ke maqam muraqabah (sekalipun engkau tidak melihat-Nya, Dia melihatmu), yakni sekalipun engkau menyembah-Nya tidak seperti ahli rukyah (yang merasa melihat-Nya), maka sembahlah Dia dengan keyakinan seolah-olah Dia melihatmu. Ketiga maqam ini semuanya dinamakan ihsan. Karena ihsan yang menjadi syarat sahnya ibadat itu adalah maqam yang pertama, sedangkan kedua maqam yang lainnya itu merupakan sifat orang-orang khas yang kebanyakan orang sulit melakukannya. (Fa akhbirnii “anis saa'ah) yakni tentang waktu kiamat. Dinamakan kiamat karena cepat qiyumnya. Dan dinamakan saa'ah karena di sisi Allah terjadinya itu hanya seperti satu saat saja. Pertanyaan ini sengaja diberikan untuk memberitahukan bahwa kepastian tentang kapan terjadinya hari kiamat itu hanya diketahui oleh Allah, dengan demikian orang-orang tidak akan bertanya-tanya lagi. Sebab pertanyaan tentang kiamat ini sering diajukan orang, seperti firman Allah, yang artinya: (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kiamat, bilakah terjadinya? (QS. 79: 42). Setelah adanya jawaban bahwa yang tahu tentang hari kiamat itu hanya Allah, maka orang-orang pun akhirnya tidak bertanya-tanya lagi. (Mal mas-uulu 'anhaa ) yakni tentang waktu kiamat itu. (Bi a'lama minas saa-ili) yakni engkau tidak mengetahuinya dan aku pun tidak mengetahuinya. Maksud persamaan tidak lebih mengetahui antara keduanya adalah menafikan pengetahuan tentang kapan terjadinya hari kiamat, dan bukan sama-sama mengetahuinya. (Qaala fa akhbirnii an amaaratihaa) yakni tentang tanda-tandanya. Yang dimaksudkan di sini adalah tanda-tanda yang mendahului terjadinya hari kiamat itu, bukan tanda-tanda yang menyertai datangnya hari kiamat, seperti terbit matahari dari barat, dan keluarnya binatang dari perut bumi. (Qaala an talidal amatu robbatahaa) dalam riwayat lain robbahaa, ada beberapa perbedaan pendapat mengenai artinya, yang paling sahih adalah bahwa hadis ini memberitahukan akan banyaknya sahaya-sahaya wanita dan anak-anaknya. Anak yang diperoleh seorang sahaya wanita dari tuannya akhirnya akan menjadi tuannya pula. Sebab harta seseorang itu akan menjadi milik anaknya. Ulama lain mengatakan bahwa, karena banyaknya negeri-negeri orang kafir yang berhasil ditaklukkan kaum muslimin, maka bertambah banyak pula sahaya-sahaya wanita. Dan anak yang diperoleh para sahaya wanita tersebut dari tuannya akhirnya menjadi tuannya pula, karena kemuliaan bapaknya. (Wa an tarol hufaata) yakni orang yang tidak mengenakan sandal di kakinya. (Al “Uraata) yakni orang yang tidak mengenakan pakaian apa pun di badannya. (Al Aalata) yakni orang yang sangat melarat. (ri'aa-asy syaa-i) yakni penggembala kambing. (Yatathaawaluuna fil bun-yaan) yakni, mereka berlomba-lomba membangun rumah mewah. Tujuan dari hadis ini adalah untuk memberitahukan bahwa akan terjadi perubahan yang sangat mencolok di mana orang-orang yang asalnya hina dan melarat akan berhasil menguasai kekayaan yang berlimpah sehingga mereka berlomba-lomba untuk membangun gedung-gedung dan rumah-rumah mewah. Hal ini sesuai pula dengan bunyi hadis lain yang artinya: Kiamat belum akan terjadi sampai tiba suatu masa di mana orang yang paling senang hidupnya di dunia ini adalah lukak bin lukak (orang yang hina dan rendah). Kondisi seperti yang disebutkan dalam hadis ini sekarang sudah menjadi kenyataan. (Tsumman-thalaqo) yakni laki-laki yang bertanya tadi. (Falabitstu) yakni untuk beberapa lama Nabi diam tidak membicarakan masalah ini. (Maliyyan) yakni waktu yang lama. Lama di sini menurut riwayat Abu Daud dan Tirmidzi adalah lebih dari tiga. Dalam riwayat lain, kata labitsa mendapat tambahan ta fail sehingga menjadi labits-tu maka artinya, Umar sendirilah yang memberitahukan tentang hal itu. (Qaala yaa “umaru atadrii manis-saail? Qultu Allaahu wa rasuuluhu a'lamu, qaala fainnahu Jibriilu ataakum ywallimukum diinakum) yakni pokok-pokok agama kamu. Di dalam hadis ini terdapat petunjuk bahwa agama itu mencakup tiga nama: Islam, Iman dan Ihsan. PENUTUP: Ketahuilah bahwa, Jibril adalah malaikat perantara antara Allah dan rasul-Nya. Jibril berasal dari bahasa Suryani artinya Abdullah. Di dalam khabar disebutkan bahwa Allah membentuk rupa para malaikat menurut apa yang dikehendaki-Nya. Jibril pernah datang menemui Nabi. dalam rupa Dahyah Alkalabi. Dan dalam salah satu riwayat disebutkan, yang artinya: Tidaklah Jibril datang kepadaku dalam rupa yang tidak aku kenal, melainkan pada kali ini. Ibnu Adil rahimahullah berkata: “Diriwayatkan bahwa Jibril. turun kepada Adam sebanyak dua belas kali, kepada Idris empat kali, kepada Nuh lima kali, kepada Ibrahim empat puluh dua kali, kepada Musa empat ratus kali, kepada Isa sepuluh kali, dan kepada Nabi Muhammad seribu dua puluh empat kali. “ Malaikat Jibril merupakan sosok makhluk yang sangat kuat. Kekuatannya yang sangat besar itu dibuktikannya ketika ia mengangkat negeri kaum Luth ke langit dengan sayapnya, kemudian dibalikkannya. Juga ketika ia memekik terhadap kaum Tsamud, sehingga mereka semuanya mati terkapar. Dan naik turunnya menemui para nabi hanya dalam tempo sekejap mata. Ia juga dinamakan An Naamus, sebagaimana disebutkan dalam hadis Bukhari dan Muslim. Sebagian ulama menceritakan dalam karangannya, bahwa Allah mewahyukan kepada malaikat Jibril supaya turun ke negeri anu dan balikkan atasnya ke bawah dan bawahnya ke atas, karena, firman Allah, Aku sudah sangat murka kepada mereka. Jibril bertanya: “Mahasuci Engkau Ya Rabb, apa dosa yang telah mereka perbuat?” Allah menjawab: “Pada malam ini telah terjadi tujuh puluh ribu perzinaan.” Maka pergilah Jibril ke negeri itu, di sana terdapat tujuh kota. Kemudian diangkatnya negeri itu seluruhnya dengan sayapnya hingga ke langit, dan hendak dibalikkannya kembali ke bumi. Pada saat itu ada seorang perempuan sedang memasak adonan makanan buat bayinya. Ketika ia sedang memasak, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayinya karena terjatuh dari ayunannya. Perempuan itu menjadi bingung hingga tak terasa tangannya menyentuh api tungku hingga terbakar, lalu ia berkata kepada bayinya: “Hai anakku, Tuhanku di antara kemurahan-Nya adalah Dia Maha Penyantun, Dia tidak akan menyegerakan azab kepada orang yang durhaka kepada-Nya.” Ketika perempuan itu mengatakan hal itu, maka menjadi redalah kemurkaan Allah, lalu Dia berfirman kepada Jibril: “Letakkan kembali negeri itu di tempatnya, sebab kemurkaan-Ku telah hilang karena perkataan perempuan itu kepada anaknya. Aku Maha Penyantun, dan tidak akan menyegerakan siksa kepada orang yang durhaka kepada-Ku.” Maka bayi itu menjadi sebab syafaat bagi orang-orang yang sudah sepantasnya mendapatkan azab, sedang mereka tidak mengetahuinya. Ya Allah, ridailah kami dan janganlah Engkau murka kepada kami. Amin...amin Ya Arhamar raahimiin. Walhamdu lillaahi rabbil “aalamun. Wa shallallaahu alaa sayyidinaa muhammadin wa 'alaa aalihi wa shahbihi ajma'iin. MAJELIS KETIGA HADIS KE-3 Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Khattab ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah bersabda: Artinya: Agama Islam dibangun atas lima perkara: pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, mengeluarkan zakat, naik haji ke Baitullah dan berpuasa di bulan Ramadan, Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. PENJELASAN: Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah memberi taufik kepadaku dan kepada kalian untuk berbuat taat kepada-Nya, bahwa hadis ini merupakan hadis yang agung. Imam Bukhari meriwayatkannya di dalam Iman dan Tafsir, dan Imam Muslim di dalam Iman dan Haji. Hadis ini berisikan rukun-rukun Islam yang merupakan pokok-pokok agama yang besar. (Buniyal Islaam) yakni didirikan atas. Kata buniya berasal dari kata bina yang artinya bangunan, yang menunjukkan kepada sesuatu yang bisa dirasakan (kongkret). Penggunaan kata ini untuk sesuatu yang bersifat makna (abstrak) adalah dari sisi majas. Hal ini merupakan suatu susunan kalimat yang sangat indah dalam ilmu balaghah, karena telah menjadikan agama Islam mempunyai pokok-pokok yang dapat dirasakan, dan menjadikannya berdiri di atasnya. (Alaa khomsin) yakni lima kerangka atau fondasi. (Syahandati an Ian ilaaha illallaah wa anna muhammadan rasuulullah) ini adalah rukun pertama dari rukun-rukun Islam yang lima. Karena iman merupakan pembenaran dalam hati yang tidak bisa diketahui dari luar, maka Allah lalu mewajibkan mengucapkan dua kalimat syahadat, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, yang artinya: Katakanlah (hai orang-orang mukmin): “Kami beriman kepada Allah...(QS.2: 136) Dan sabda Nabi yang artinya: Aku diperintahkan supaya memerangi manusia hingga mereka mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah (HR. Bukhari dan Muslim). (Wa iqaamish shalaati) Ini adalah rukun kedua dari rukun-rukun Islam. Salat menurut bahasa artinya doa memohon kebaikan, sedangkan menurut syariat artinya perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan ditutup dengan salam serta dengan syarat-syarat yang khusus. Ada lima kali salat dalam sehari semalam yang diketahui dari ajaran agama sebagai suatu keharusan. Adapun kewajiban salat lima waktu itu didasarkan atas firman Allah yang artinya: Dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu adalah fardu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. 4: 103) Dan sabda Nabi 85 yang artinya: Allah telah memfardukan atas umatku pada malam Isra lima puluh kali salat, kemudian aku terus meminta keringanan kepada-Nya hingga akhirnya ditetapkan-Nya lima kali salat dalam sehari semalam. Konon salat Subuh adalah salat Nabi Adam : salat Zhuhur adalah salat Nabi Daud : salat Asar adalah salat Nabi Sulaiman : salat Magrib adalah salat Nabi Yakgub : dan salat Isyak adalah salat Nabi Yunus . Ini didasarkan pada riwayat khabar. Kemudian dikumpulkan Allah semua salat tadi untuk Nabi kita Muhammad dan umatnya, sebagai penghormatan kepada Beliau. Di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam sahihnya dari sahabat Abdullah bin Umar marfu, disebutkan bahwa, apabila seorang hamba berdiri untuk mengerjakan salat, maka dosa-dosanya diletakkan di atas kepalanya dan pundaknya. Kemudian setiap kali dia rukuk atau sujud maka berguguranlah dosa-dosanya tersebut hingga akhirnya habis tidak tersisa sama sekali. (Wa itaaiz zakaati) Ini adalah rukun ketiga dari rukun-rukun Islam. Zakat menurut bahasa artinya tumbuh, berkat dan bertambahnya kebaikan. Sedangkan menurut syara” adalah nama tertentu dari harta tertentu yang dinafkahkan untuk golongan-golongan tertentu dan dengan syarat-syarat tertentu. Adapun sebab ia dinamakan zakat adalah karena dengan berkat mengeluarkan zakat itu harta seseorang menjadi berkembang, juga karena doa orang yang menerima zakat itu dan juga karena zakat itu menyucikan orang yang mengeluarkannya dari segala dosa. Kewajiban zakat itu didasarkan pada firman Allah , yang artinya: Tunaikanlah zakat (QS.2:43, 83, 110: 4:76: 22: 78: 24: 56, 58: 13 dan 73:20), dan firman Allah , yang artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka..(QS. 9:103). Dan juga didasarkan pada hadis yang sangat banyak jumlahnya. Orang yang tidak mau membayar zakat boleh diperangi dan diambil zakat darinya dengan paksa sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Sayyidina Abubakar Assiddiq. . Zakat mulai diwajibkan pada tahun kedua Hijriah sesudah zakat fitrah. Zakat wajib atas delapan macam harta, yaitu: unta, sapi, kambing, emas, perak, hasil pertanian (makanan pokok), kurma dan anggur. Adapun penjelasannya telah disebutkan secara rinci di dalam kitab-kitab fikih. (Wa hajjil baiti ) Ini adalah rukun keempat dari rukun-rukun Islam. Haji menurut bahasa artinya adalah maksud atau tujuan, sedangkan menurut syara” artinya pergi menuju ke Kakbah untuk melaksanakan ibadat. Hukum naik haji adalah fardhu atas orang yang mampu. Hal ini didasarkan pada firman Allah yang artinya: Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah....(QS. 3:97). Dan juga didasarkan pada hadis-hadis Nabi di antaranya adalah: Naik hajilah kalian sebelum kalian tidak bisa naik haji..... (alhadis). Kewajiban haji ini telah diketahui hukumnya dengan jelas dalam agama sehingga orang yang mengingkarinya dianggap telah kafir, kecuali jika ia baru saja masuk Islam atau tinggal di pelosok yang jauh dari ulama. Ibadat haji ini sudah disyariatkan sejak dahulu kala, pada umat- umat para rasul sebelum Nabi Muhammad . Diriwayatkan bahwa ketika Nabi Adam naik haji, malaikat Jibril berkata kepadanya: “Dahulu para malaikat melakukan tawaf mengelilingi Baitullah sebelum Tuan selama tujuh ribu tahun.” Pengarang kitab Ta'jiz mengatakan bahwa, orang yang pertama-tama naik haji adalah Nabi Adam . Beliau naik haji selama empat puluh tahun dari India dengan berjalan kaki. Konon, tidak ada seorang nabi pun, melainkan ia naik haji. Dan Abu Ishak berkata: “Allah tidak mengutus seorang nabi pun sesudah Nabi Ibrahim , melainkan semuanya naik haji. Para ulama berselisih pendapat mengenai waktu mula-mula diwajibkannya ibadat haji ini. Ada yang mengatakan pada tahun kelima Hijriah, ada pula yang mengatakan pada tahun keenam, ketujuh, kedelapan dan kesembilan Hijriah. Pada tahun kesepuluh Hijriah Rasulullah melakukan haji wada' dan dinamakan haji Islam. Setelah hijrah, Rasulullah tidak pernah melaksanakan ibadat haji selain dari haji wada' tersebut. Adapun sebelum hijrah dan sesudah Beliau diangkat menjadi Nabi, Beliau pernah melakukan beberapa kali ibadat haji yang jumlah tepatnya tidak diketahui dengan pasti. Dan sesudah hijrah, Beliau melaksanakan umrah sebanyak empat kali. Menurut syara”, ibadat haji itu hanya wajib dikerjakan satu kali saja seumur hidup. Karena Nabi tidak melaksanakan ibadat haji sesudah ia diwajibkan kecuali hanya satu kali saja, yaitu pada haji wada” seperti yang telah kami sebutkan di atas. Dan juga didasarkan pada hadis Muslim yang artinya: “Para sahabat bertanya, “Haji kita ini khusus untuk tahun ini saja atau untuk selama-lamanya?" Beliau menjawab, “Untuk selama-lamanya.'” Adapun yang dikemukakan dalam hadis Baihagi yang menyatakan bahwa diperintahkan naik haji setiap lima tahun sekali, boleh jadi maksudnya adalah sunnah, sesuai dengan sabda Nabi , yang artinya: Barang siapa naik haji satu kali, maka ia telah melaksanakan kewajibannya. Barang siapa naik haji dua kali, ia telah mengutangi Tuhannya. Dan barang siapa nuik haji tiga kali, maka Allah mengharamkan rambut dan kulitnya duri api neraka. Dari Aisyah radiyallaahu anha, bahwa ia berkata: “Ya Rasulullah, apakah wanita juga wajib berjihad?” Beliau menjawab: “Ya, jihad tanpa berperang di dalamnya, yaitu naik haji dan umrah. Tidak wajib sepanjang umur kecuali hanya satu kali.” Keutamaan haji dan umrah ini banyak disebutkan dalam hadis, di antaranya adalah sabda Nabi yang artinya: “Barang siapa keluar dengan niat untuk naik haji dan umrah lalu ia mati, maka Allah akan memberikan baginya pahala haji dan umrah hingga hari kiamat.” Dan sabda Nabi yang artinya: “Sesungguhnya ada beberapa dosa yang tidak bisa dihapus kecuali dengan wukuf di padang Arafah.” Dan sabda Nabi yang artinya: “Orang yang paling besar dosanya ialah orang yang wukuf di Arafah lalu ia menyangka bahwa Allah tidak mengampuninya.” Dan sabda Nabi yang artinya: “Barang siapa naik haji ke Baitullah tanpa mengucapkan perkataan keji dan tidak melakukan perbuatan durhaka maka ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti saat ia dilahirkan oleh ibunya.” “Dari satu umrah ke umrah berikutnya merupakan penebus dosa- dosa yang terjadi antara keduanya, dan haji mabrur itu tidak ada ganjarannya kecuali surga.” “Umrah yang dikerjakan di bulan Ramadan menyamai haji.” Diceritakan, bahwa Muhammad bin Munkadar telah melaksanakan ibadat haji sebanyak tiga puluh tiga kali. Pada hajinya yang terakhir, ia berdiri di Arafat seraya berdoa: “Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku telah berdiri di tempat ini sebanyak tiga puluh tiga kali , yang satu adalah untuk kewajiban hajiku, yang kedua adalah untuk ayahku, dan yang ketiga untuk ibuku. Aku saksikan kepada-Mu oh Tuhanku, sisanya yang tiga puluh kali itu aku berikan kepada orang yang berdiri di tempatku ini tetapi amalnya tidak diterima.” Ketika beliau meninggalkan Arafah, tiba-tiba terdengar suara yang berseru kepadanya: “Hai Ibnu Munkadar, engkau sok dermawan kepada Sang Pencipta sifat dermawan dan murah hati. Demi keperkasaan dan keagungan-Ku, Aku telah mengampuni orang yang berdiri di Arafah sebelum Aku menciptakan Arafah itu sendiri selama seribu tahun.” (Wa shaumi ramadhaan) ini merupakan rukun kelima dari yukun-rukun Islam. Dalam riwayat lain, puasa Ramadan ini didahulukan menyebutkannya dari haji. Shaum menurut bahasa artinya Imsaak (menahan diri), sebagaimana bunyi firman Allah yang berkaitan dengan cerita Siti Maryam, yang artinya: (Siti Maryam berkata), “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah...” Yakni, menahan diri tidak berbicara. Sedangkan arti shaum menurut syara' adalah menahan diri dari apa-apa yang membatalkan secara khusus disertai dengan niat. Adapun kewajiban puasa ini didasarkan pada firman Allah, yang artinya: Ilai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah 2: 183). Dan sabda Nabi , yang artinya: Islam didirikan atas lima dasar ............ dan berpuasa di bulan Ramadan. Puasa Ramadan mulai diwajibkan pada tahun kedua Hijriyah. Rukun puasa ada tiga: 1. Orang yang berpuasa. 2. Niat. 3. Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa di siang hari. Kewajiban puasa mulai berlaku dengan dua perkara: (1) menggenapkan bulan Syakban tiga puluh hari, atau (2) melihat bulan sabit. Orang yang menentang kewajiban puasa ini, ia menjadi kafir, kecuali bila ia baru masuk Islam atau tinggal jauh dari ulama. Sedangkan orang yang tidak mau berpuasa tetapi tidak menentang kewajibannya, dan tanpa uzur yang membolehkan tidak puasa seperti sakit atau dalam perjalanan jauh, misalnya ia berkata: “Puasa itu memang wajib, tetapi saya tidak mau berpuasa.” Maka orang tersebut dimasukkan dalam tahanan serta dicegah dari makan dan minum sepanjang hari itu, supaya dengan begitu diperoleh gambaran puasa. Banyak hadis yang mengemukakan keutamaan puasa itu, di antaranya adalah sabda Nabi , yang artinya: Barang siapa yang mengetahui akan keberuntungan dan keberkatan yang ada dalam puasa itu, niscaya mereka akan mengharap semoga satu tahun penuh itu adalah puasa. Dan sabda Beliau pula, yang artinya: Barang siapa berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap ganjaran, niscaya akan diampuni segala dosanya yang telah lalu. (dalam riwayat lain: dan yang akan datang). Dan sabdanya: Orang yang berpuasa itu memperoleh dua kegembiraan, gembira ketika berbuka dan gembira ketika berjumpa Tuhannya. Dan banyak lagi yang lainnya. Adapun sebab diringkaskannya rukun Islam itu hanya lima rukun seperti yang disebutkan dalam hadis di atas adalah karena ibadat itu ada yang gauliah (berupa ucapan) seperti mengucapkan dua kalimat syahadat, dan ada pula yang bukan gauliah. Yang bukan gauliah ini ada yang berupa 'meninggalkan' yaitu puasa, dan ada pula yang “mengerjakan”, dan yang “mengerjakan” ini juga ada yang berupa badani (dengan fisik) yaitu salat, dan ada pula yang maali (dengan harta) yaitu zakat, dan ada pula yang mencakup keduanya, yaitu haji. Apabila ditanyakan, mengapa jihad itu tidak dimasukkan ke dalam bagian dari rukun Islam? Jawab: jihad itu fardhunya adalah fardhu kifayah, sedangkan kelima rukun tersebut adalah fardhu ain. Maka hanya inilah yang menjadi rukun Islam. PENUTUP: Dalam salah satu hadis disebutkan bahwa, Nabi bersabda, yang artinya: Jika Allah menghendaki kebaikan pada diri seseorang hamba-Nya, maka Dia akan menanamkan ke dalam hati si hamba tersebut keyakinan dan tasdiq: dan jika Dia menghendaki keburukan bagi hamba- Nya, maka Dia akan menanamkan ke dalam hatinya keraguan. Sebagaimana firman Allah : “Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit. (QS. Al An'am 6: 125) Para ulama ahli sunnah, baik dari kalangan ahli hadis, ahli fikih maupun ahli kalam, telah sepakat bahwa seorang mukmin yang dihukumi sebagai ahli kiblat dan tidak kekal di dalam neraka itu adalah orang yang meyakini agama Islam dalam hatinya dengan keyakinan yang mantap tanpa dicampuri keraguan sedikit pun, serta mengucapkan dua kalimat syahadat, yaitu kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah. Dihikayatkan dari Abdulwahid bin Zaid, katanya: “Saya pernah melewati seorang laki-laki di sebuah gunung, matanya buta, telinganya fuli, kedua tangan dan kakinya terpotong, ditimpa oleh kelumpuhan dan setiap waktu tak sadarkan diri, serangga-serangga menggigitinya dan ulat-ulat berjatuhan dari kedua sisi badannya. Walaupun keadaan Orang itu demikian menyedihkan, namun kudengar ia mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari cobaan yang menimpa kebanyakan makhluk-Nya.' Mendengar ucapannya itu, saya lalu mendekatinya seraya berkata kepadanya: “Hai sobat, apa yang telah diselamatkan Allah dari dirimu itu? Sebab kulihat semua bencana itu telah menimpamu,' Orang itu mengangkat kepalanya lalu memandang saya dengan tajam sambil berkata: “Hai orang yang mengecilkan nikmat Allah, menyingkurlah dariku. Dia benar-benar telah menyejahterakan aku, dijadikannya lisanku untuk mengesakan-Nya, hatiku mengenal-Nya dan setiap saat mengingat- Nya.'” Ya Allah, tutuplah usia kami dengan kebaikan dari-Mu dalam kesejahteraan tanpa disertai cobaan. Amin wal hamdu lillaahi rabbil aalmiin, MAJELIS KEEMPAT HADIS KE-4 Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Masud ,ia berkata: Artinya: Rasulullah telah mengatakan kepada kami, sedang Beliau adalah orang yang selalu benar dan dibenarkan, ”Sesungguhnya tiap-tiap orang di antara kamu dikumpulkan pembentukan (kejadian)nya di dalam rahim ibunya dalam 40 hari berupa nutfah (sperma). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula (40 hari), lalu menjadi gumpalan seperti sekerat daging, selama itu pula. Setelah itu (selewat 120 hari) diutuslah kepadanya satu malaikat, maka malaikat itu meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan (ditetapkan) dengan empat perkara: (1) rezekinya, (2) ajalnya, (3) amalnya, (4) celaka atau bahagia. Maka demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya ada di antara kamu orang yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada antara dia dan surga itu kecuali hanya tinggal sehasta lagi, maka mendahuluilah atasnya ketentuan (takdir) Tuhan, lalu ia mengerjakan amalan ahli neraka maka akhirnya ia pun masuk neraka. Dan sesungguhnya ada di antara kamu orang yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada di antara dia dan neraka kecuali hanya tinggal sejengkal lagi, maka mendahuluilah atasnya ketentuan (takdir) Tuhan, lalu ia mengerjakan amalan ahli Surga, maka akhirnya ia pun masuk surga. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. PENJELASAN: Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah menunjuki aku dan kalian kepada ketaatan, bahwasanya hadis ini merupakan hadis yang agung yang keluar dari bibir Nabi . Ibnu Mas'ud berkata: (haddatsanaa rasuulullah shallallaahu alaihi wasallam) yakni, Rasulullah mengatakan kepada kami suatu berita yang baru. (wa huwash shaadiqu) yakni, dalam apa yang disampaikannya. (al mashduuqu) yakni, selalu dibenarkan atau dipercayai orang lain. Beliau adalah orang yang selalu benar ucapan dan wahyu yang disampaikannya. Karena Allah sendirilah yang membenarkan Beliau dalam apa-apa yang dijanjikannya. (inna ahadakum) yakni, seseorang di antara kamu. (yujma'u) yakni, dikumpulkan. (kholquhu fii bathni ummihi arba'iina yauman authfatan) yakni, disimpan dan dipelihara air penciptaannya, yaitu air yang dengannya ia diciptakan, selama masa tersebut. (tsumma yakuunu) yakni, sesudah ia dahulu berupa nuthfah (sperma). (alagotan) yaitu segumpal darah yang beku. (tsumma yakuunu mudhghatan) yakni sekerat daging yang kecil. (mitslu dzaalika) yakni, seperti waktu yang sudah disebutkan (yaitu 40 hari). Dan pada masa ini pula Allah membentuk rupanya, dan menjadikan padanya mulut, telinga, mata, usus dan seluruh organ tubuh lainnya. Kemudian setelah genap berusia 120 hari, maka.... (yursalu ilaihil malaku) diutuslah satu malaikat, yaitu malaikat penjaga rahim, seperti yang disebutkan dalam hadis Anas. Catatan: Ibnu Yunus memfatwakan bahwa, seorang perempuan tidak halal menggunakan obat anti hamil. Demikian disebutkan dalam kitab Al Ajjaalah. (fayanfakhu fiihir ruuha) mayoritas ulama ahli kalam menyatakan bahwa, ruh adalah jisim halus yang menempel di badan seperti menempelnya air pada kayu yang hijau. Dan sebagian lainnya mengatakan bahwa, ruh itu adalah kehidupan yang dengan adanya ruh itu badan menjadi hidup. Dan menurut ahli sunnah, ruh itu kekal, tidak binasa. (wa yu'maru) dan malaikat itu diperintahkan supaya mencatatkan. (bi arba'i kalimaatin) yakni, mencatatkan empat perkara. Lantas Beliau menjelaskan tentang keempat perkara tersebut. (bi katbi) yakni, ditentukan. (rizqihi) yaitu semua yang diperoleh manusia dari perkara makanan, pakaian dan lain- lain, sedikit atau banyak, halal atau haram. (wa ajalihi) yaitu saat di mana dalam ilmu Allah orang itu harus mati di situ, atau lama hidupnya. (wa amalihi) yakni, amal baik atau buruknya. (wa syaqiyyun) karena durhaka kepada Allah. (au sa'iidun) karena taat kepada-Nya. Diperintahkannya malaikat untuk mencatatkan keempat perkara tersebut adalah disebabkan oleh pertanyaan yang diajukan oleh malaikat tersebut, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud dan Ibnu Umar , dari Nabi bahwasanya apabila nuthfah itu telah berada di dalam rahim seorang wanita, maka malaikat mengambilnya dengan telapak tangannya seraya berkata: “Ya Rabb, apakah ia laki-laki atau perempuan? Celaka atau bahagia? Bagaimana ajalnya? Di mana matinya?” Lantas dikatakan kepadanya: “Pergilah ke Lauh Mahfuz.” Maka malaikat itu menemukan di sana catatan hidup orang itu dengan lengkap. Dan apabila ajal orang itu telah tiba, maka ruhnya akan dicabut dan dikuburkan di tempat yang telah ditentukan untuknya. Dalam salah satu hadis, Nabi bersabda, yang artinya: Apabila Allah telah menentukan seseorang mati di suatu daerah, maka dijadikannya orang itu memerlukan datang ke daerah tersebut. Atturmidzi dan Alhakim meriwayatkan dalam kitab Nawaadirul Ushuul, dari Abu Hurairah katanya: “Kami keluar bersama-sama Rasulullah mengelilingi kota, hingga akhirnya tiba di tepi kota Madinah. Tampak sebuah kuburan sedang digali. Kemudian Beliau mendekati kuburan itu dan berhenti di sana seraya bertanya kepada orang yang ada di situ: “Kuburan siapa ini? Dijawab: “Kuburan seorang lelaki dari Etiopia.” Beliau mengucap Laa Ilaaha Illallah, seraya berkata: "Orang ' ini telah digiring dari bumi dan langitnya hingga akhirnya dikebumikan di tanah tempat asal ia diciptakan.” Konon, pada suatu hari malaikat maut masuk ke tempat Nabi Sulaiman , kemudian ia memelototi seorang laki-laki, sahabat Nabi Sulaiman , Setelah itu ia keluar kembali. Orang itu menjadi ketakutan, lalu ia bertanya kepada Nabi Sulaiman: “Baginda, siapakah orang itu tadi?” Nabi Sulaiman menjawab: “Dia adalah malaikat maut.” Orang itu berkata pula: “Wahai Nabiyallah, saya lihat tadi dia memelototi saya, saya khawatir dia mau mencabut nyawa saya. Tolong Baginda selamatkan saya darinya.” “Bagaimana saya menolongmu?” Tanya Nabi Sulaiman. Orang itu menjawab: “Tolong Baginda perintahkan kepada angin supaya membawa saya ke negeri India. Mudah-mudahan dia kehilangan jejak saya dan tidak menemukan saya.” Maka Nabi Sulaiman lalu memerintahkan kepada angin agar membawa orang itu ke ncgeri India. Pada saat itu juga angin membawa orang itu ke India. Begitu sampai di India, malaikat maut pun lalu mencabut nyawanya. Setelah itu, malaikat maut kembali ke tempat Nabi Sulaiman Nabi Sulaiman lalu bertanya kepadanya: “Apa sebab engkau memelototi orang itu?” Malaikat itu menjawab: “Saya heran melihat orang itu. Karena saya diperintahkan mencabut nyawanya di negeri India, padahal letaknya sangat jauh dari sini. Hingga akhirnya ia dibawa terbang oleh angin ke sana sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah . Maka saya pun mencabut nyawanya di sana. b (fawallahilladzii laa ilaaha ghoiruhu inna ahadakum laya' malu bi 'amali ahlil jannati) yakni, dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. (hattaa maa yakuuna bainahu wa bainahaa illaa dziroo'un) ini merupakan penggambaran betapa sangat dekatnya dengan surga itu. (fayasbiqu 'alaihil kitaabu) yakni, ketetapan Allah yang dicatatkan baginya ketika ia masih di dalam rahim ibunya, atau di Lauh Mahfuz, berdasarkan ilmu-Nya yang qadim. (faya'malu bi “amali ahlin naari) yakni, dengan melakukan perbuatan maksiat. (fayadkhuluhaa. Wa inna ahadakum laya'malu bi 'amali ahlin naari hattaa maa yakuuna bainahu wa bainahaa illaa dziroo'un, fayasbiqu :laihil kitaabu faya'malu bi “amali ahlil jannati, fayadkhuluhaa) dengan ketetapan takdir yang berlaku atasnya. Jadi, barang siapa yang telah ditetapkan oleh Allah akan berbahagia maka Allah akan mencondongkan hatinya untuk berbuat kebaikan, dan barang siapa yang telah ditetapkan celaka, kita berlindung kepada Allah dari padanya, maka sebaliknya. Ada beberapa riwayat lainnya yang berkaitan dengan hadis di atas, antara lain: Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada penutupnya. Beramallah kalian, sesungguhnya setiap orang itu akan dimudahkan melakukan apa yang telah ditetapkan baginya. Jika ia termasuk golongan ahli bahagia, ia akan dimudahkan melakukan amalan ahli bahagia. Dan jika ia termasuk ke dalam golongan ahli celaka, maka ia akan dimudahkan melakukan amalan ahli celaka. Kita patut bersyukur, bahwa karena kelembutan Allah, jarang ada orang yang berbalik dari baik menjadi jahat, yang banyak adalah kebalikannya. Mukallaf (orang yang dibebani kewajiban) itu terbagi empat macam: 1. Golongan yang diciptakan Allah untuk berbakti kepada-Nya dan mendapatkan surga-Nya. Mereka adalah para anbia dan aulia, serta orang-orang mukmin dan orang-orang salih. 2. Golongan yang diciptakan Allah untuk mendapatkan surga-Nya dan tidak untuk berbakti kepada-Nya. Mereka adalah orang-orang yang selama hidupnya dalam keadaan kafir lalu mati dalam keadaan beriman. Atau, orang yang sepanjang hidupnya bergelimpangan maksiat, kemudian Allah memberinya tobat di saat menjelang ajalnya hingga ia mati dalam keadaan husnul khatimah, seperti golongan tukang-tukang sihir Firaun. 3. Golongan yang diciptakan Allah tidak untuk berbakti kepada-Nya dan tidak pula untuk mendapatkan surga-Nya. Mereka adalah orang-orang kafir dan mati dalam keadaan tetap kafir, sehingga mereka tidak pernah merasakan kemanisan iman selama di dunia dan kelak di akhirat akan disiksa dalam keadaan terhina. 4. Golongan yang diciptakan Allah hanya untuk berbakti kepada-Nya tetapi tidak untuk mendapatkan surga-Nya. Mereka adalah orang-orang yang pada mulanya rajin berbuat bakti kepada Allah, kemudian berbalik menjadi durhaka, sehingga akhirnya terusir dari pintu rahmat Allah dan mati dalam keadaan kafir. Dahulu, Sufyan Ats Tsauri sering menangis dan ketakutan, lalu ada yang berkata kepadanya, “Wahai Aba Abdillah, berharaplah kepada Allah, karena ampunan-Nya lcbih besar dari dosa Anda.” Beliau menjawab: “Apakah saya menangisi dosa-dosaku? Andaikata aku tahu bahwa aku kelak mati dalam tauhid, aku tidak akan peduli dengan dosa-dosaku.” PENUTUP: Sebagai penutup majlis ini, berikut ini akan dikemukakan sebuah kisah nyata tentang seorang abid di masa Bani Israil dahulu, yang akhirnya mati kafir. Dengan tujuan supaya kisah ini dapat dijadikan ibrah. Pada zaman dahulu, hidup seorang abid di kalangan Bani Israil, namanya Barshisha. Ia mempunyai enam puluh ribu murid, yang semuanya bisa terbang di awang-awang. Pada mulanya Barshisha adalah seorang abid yang rajin beribadat sehingga para malaikat merasa kagum dengan ibadatnya itu. Kemudian Allah berfirman kepada malaikatNya: “Kalian jangan kagum dulu kepadanya, karena Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Dalam ilmu-Ku yang qadim, ia akan mati kafir dan kekal dalam neraka.” Firman Allah tersebut terdengar oleh Iblis. Maka tahulah ia bahwa kebinasaan Barshisha itu ada di tangannya. Maka ia pun mendatangi biara tempat Barshisha beribadat dengan menyamar sebagai seorang abid.. Setelah bertemu dengan Barhisha, Barshisha bertanya kepadanya: “Siapa Anda, dan ada perlu apa?” Iblis menjawab: “Saya seorang abid. Saya ingin membantu Tuan beribadat kepada Allah.” Barshisha berkata: “Barang siapa mau beribadat kepada Allah, ia tidak perlu kawan.” Kemudian Iblis tinggal bersama Barshisha di biara itu. Selama tiga hari tiga malam, Iblis tidak makan, tidak minum dan tidak tidur, kerjanya hanya beribadat. Maka Barshisha pun menjadi heran kepadanya, lalu ia berkata: “Saya sudah beribadat kepada Allah selama dua ratus dua puluh tahun, namun saya tidak bisa meninggalkan makan dan minum seperti Anda. Bagaimana caranya supaya saya bisa menjadi seperti Anda?” Iblis menjawab: “Lakukanlah maksiat lalu bertobatlah, karena Dia Maha Penyayang. Dengan demikian Tuan akan merasakan manisnya ibadat.” Barshisha berkata: “Bagaimana mungkin saya akan berbuat maksiat kepada-Nya, sedangkan saya sudah melakukan ibadat selama sekian-sekian tahun?!” Iblis menjawab: “Manusia jika berbuat dosa, ia membutuhkan pengampunan.” “Dosa apa yang Anda sarankan saya melakukannya?” Tanya Barshisha. Iblis menjawab: “Berbuat zina.” “Tidak, saya tidak akan melakukannya,” kata Barshisha. “Membunuh orang mukmin,” kata Iblis pula. “Tidak, saya tidak akan melakukannya!” jawab Barshisha dengan tegas. Iblis berkata: “Bagaimana kalau minum arak?. Ini lebih ringan bagi Tuan, dan yang Tuan hadapi hanya Allah sendiri.” Barshisha menyetujui, lalu ia bertanya: “Di mana saya bisa memperolehnya?” “Di desa anu.” Jawab Iblis. Maka pergilah Barshisha menuju ke desa tersebut. Di sana ia bertemu dengan seorang wanita cantik, pedagang minuman keras itu. Lalu Barshisha membeli minuman keras dari wanita tersebut dan meminumnya hingga mabuk. Kemudian ia memperkosa wanita itu. Ketika suami wanita itu datang, maka lelaki itu pun dibunuhnya. Dalam waktu hampir bersamaan, ia telah melakukan tiga dosa besar sekaligus. Kemudian Iblis menyamar sebagai polisi, lalu Barshisha ditangkapnya dan dibawanya menghadap raja. Maka Barshisha pun dijatuhi hukuman cambuk delapan puluh kali untuk minuman keras, dan seratus kali cambuk untuk perbuatan zina, serta hukum mati untuk pembunuhan yang dilakukannya. Ketika Barshisha disalib, maka Iblis datang menemuinya dalam rupa orang abid dahulu. Lalu ia berkata kepada Barshisha: “Bagaimana keadaanmu sekarang?” Barshisha menjawab: “Barang siapa menuruti teman jahat, maka beginilah keadaannya.” Iblis berkata pula: “Dahulu, engkau telah beribadat selama dua ratus dua puluh tahun, lalu sekarang engkau di salib. Kalau kau mau, aku bisa melepaskanmu.” Barshisha berkata: “Kalau kau bisa melepaskanku, aku akan memberikan apa yang kau minta.” Iblis berkata: “Sujudlah kepadaku satu kali saja.” “Bagaimana saya bisa sujud dalam keadaan terikat di palang kayu ini?” kata Barshisha. “Tundukkan saja kepalamu,” jawab Iblis. Maka Barshisha pun menundukkan kepalanya sebagai tanda sujud kepada Iblis, sehingga menjadi kafirlah ia. Semoga Allah melindungi kita semua dari hal demikian. Setelah Barshisha kafir, Iblis lalu berkata: “Aku berlepas diri darimu, aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam.” MAJELIS KELIMA HADIS KE-5 Dari Ummul mukminin Ummu Abdillah Aisyah radiyallaahu anha, katanya: “Rasulullah bersabda: Artinya: Barang siapa mengada-adakan sesuatu yang baru (bid'ah)dalam urusan (agama) kami ini, yang tidak kami perintahkan, maka hal itu ditolak. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Dan dalam riwayat Imam Muslim, berbunyi: Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak cocok dengan syariat kami, maka ia ditolak. PENJELASAN: Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua untuk berbuat taat kepada-Nya, bahwasanya hadis ini merupakan salah satu pokok agama Islam yang terbesar. Dan menjadi ciri sabda Nabi $ yang singkat padat namun memiliki makna yang luas. Hadis ini dengan jelas menolak bid'ah dan segala hal yang baru diadakan dalam urusan agama. Sudah selayaknya hadis ini dihafalkan dan digunakan dalam membasmi segala bentuk kemungkaran. Ia termasuk hadis-hadis yang menjadi poros agama Islam. Sebelum kita melanjutkan pembahasan kita tentang hadis ini, ada baiknya kita mengupas sedikit tentang riwayat Siti Aisyah radiyallaahu anha dan keutamaannya, supaya memperoleh berkat dengannya. Aisyah radiyallaahu anha adalah seorang wanita siddigah putri dari seorang laki-laki siddig (yaitu Abubakar Assiddiq. ). Dan ia adalah ibu dari seluruh kaum muslimin, dari segi penghormatan dan pengagungan, bukan dari segi muhrim. Begitu pula dengan semua istri Nabi . Ia dijuluki dengan Ummu Abdillah. Inilah julukan yang diberikan Nabi kepadanya ketika ia minta dijuluki dengan putera saudara perempuannya Asma, yaitu Abdullah bin Zubeir. Menurut riwayat yang paling sahih, ja tidak mempunyai anak. Ada pula riwayat yang mengatakan bahwa, ia pernah hamil, tetapi keguguran. Tetapi riwayat ini tidak pasti. Ia dinikahi oleh Nabi sebelum hijrah. Diriwayatkan bahwa, ketika Rasulullah hendak melamarnya dari ayahnya Abubakar, Abubakar berkata: “Ya Rasulullah, sebenarnya ia belum begitu baik buat Baginda karena masih terlalu kecil. Namun saya akan menyuruhnya menemui Baginda, kalau Baginda anggap baik buat Baginda, maka itu merupakan kebahagiaan yang sempurna.” Rasulullah menjawab: “Jibril datang menemuiku dengan membawa gambarnya yang terlukis di atas daun dari dalam surga, Jibril berkata, “Allah telah menikahkan Tuan dengan wanita ini.” Abubakar pulang ke rumahnya lalu mengisi sebuah talam dengan buah kurma dan ditutupnya dengan kain. Kemudian Abubakar memanggil Aisyah dan berkata kepadanya: “Ya Aisyah, pergilah ke rumah Rasulullah dan serahkan ini kepada Beliau dan katakana, “Ya Rasulullah, inilah yang Baginda sebutkan pada ayahku, kalau Baginda anggap baik, maka semoga Allah memberikan berkat-Nya kepada Baginda.” Ketika itu usia Aisyah adalah enam tahun. Maka pergilah Aisyah sambil membawa talam itu ke rumah Rasulullah . Ia menyangka bahwa yang dimaksudkan oleh Abubakar itu adalah tentang kurma tersebut. Aisyah bercerita: “Maka saya pun pergi menemui Rasulullah dan menyampaikan pesan ayah saya tersebut kepada Beliau. Lalu Beliau menjawab: “Aku terima wahai Aisyah.” Kemudian saya pulang dan menceritakan jawaban Rasulullah itu kepada ayah saya. Ayah saya berkata: “Engkau beruntung wahai anakku, karena Allah telah menikahkan engkau dengan Beliau di atas tujuh petala langit, dan aku telah menikahkan engkau dengan Beliau di bumi.” Aisyah melanjutkan: “Saya tidak pernah gembira melebihi ketika mendengar perkataan ayahku “aku telah menikahkan engkau dengan Rasulullah' tersebut.” Aisyah radiyallaahu anha adalah satu-satunya istri Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Beliau , yaitu sebanyak 1210 hadis. Mari kita lanjutkan pembicaraan tentang hadis ini: (Qaala rasuulullaahi shallallaahu 'alaihi wasallam man ahdatsa) yakni, mengada-adakan sesuatu yang baru dalam urusan agama, yang belum pernah ada pada zaman Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam, yaitu yang dinamakan bid'ah. (fii amrinaa) yakni, dalam urusan agama dan syariat kami. (haadzaa) yakni, isyarat kepada apa yang telah disebutkan, yaitu agama Nabi (maa laisa minhu) yakni, yang tidak disandarkan pada dalil-dalil syara'. (fahuwa roddun) yakni, tertolak. Artinya, hal tersebut batil. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dan dalam riwayat Muslim disebutkan: (man 'amila amalan) yakni, mengada-adakan sesuatu yang baru, baik oleh dirinya sendiri ataupun orang lain. (laisa “alaihi amrunaa) yakni, tidak didasarkan pada dalil-dalil syariat kami. , (fahuwa roddun) yakni, maka ia tertolak. Dalam riwayat ini terkandung bantahan terhadap orang yang melakukan bid'ah yang beralasan bahwa bukan dia yang mengadakan bid'ah tersebut, tetapi orang lain sebelumnya. Hadis ini dengan jelas menerangkan bahwa tidak ada perbedaan antara perbuatan bid'ah yang diada- adakannya sendiri atau diada-adakan oleh orang lain sebelumnya, karena semua perbuatan yang tidak diperintahkan syara' maka pelakunya berdosa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi yang artinya: “Barang siapa mengada-adakan sesuatu yang baru atau mendukung ahli bid'ah, maka laknat Allah tertimpa kepadanya.” Masuk ke dalam hadis ini semua akad yang rusak, atau menetapkan hukum atas dasar kebodohan dan kezaliman, dan sebagainya, yang tidak sesuai dengan syariat. Ibnu Abdissalam membagi bid'ah itu ke dalam lima hukum: 1. Wajib. Yaitu seperti mempelajari ilmu nahu, ilmu Alquran dan Assunnah yang pelik-pelik, yang dapat membantu dalam pemahaman ilmu syariat. 2. Haram. Seperti mazhab Qadariah, Jabbariah, dan Mujassamah. 3. Sunnah. Seperti mendirikan pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah. 4. Makruh. Seperti menghias masjid-masjid dan mushaf-mushaf. 5. Mubah. Seperti berjabatan tangan sesudah salat Subuh dan Asar. Ketahuilah bahwa, hadis ini menganjurkan agar kita mengikuti sunnah Nabi dan memperingatkan bahaya bid'ah yang tidak sesuai dengan syariat. Konon, Allah mewahyukan kepada Nabi Musa : “Jangan bergaul dengan pengikut hawa nafsu agar mereka tidak menanamkan ke dalam hatimu hal-hal baru ke dalam hatimu sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada.” Sahl bin Abdullah berkata: “Barang siapa mengambil muka kepada para ahli bid'ah, maka Allah akan mencabut manisnya sunnah dari dirinya.” Addaqqaq berkata: “Barang siapa meremehkan salah satu etika Islam, maka ia akan dihukum dengan tidak mendapatkan sunnah. Dan barang siapa meninggalkan sunnah maka ia akan dihukum dengan tidak mendapatkan fardu. Dan barang siapa meremehkan fardhu, maka Allah akan mendatangkan padanya tukang bid'ah yang akan mengatakan kepadanya hal-hal yang batil, sehingga akan muncul di dalam hatinya kesangsian.” Dalam hadis disebutkan, yang artinya: Barang siapa mencintai sunnahku berarti ia cinta kepadaku, dan barang siapa cinta kepadaku maka ia akan bersama aku di dalam surga.” Dan berkaitan dengan tafsir firman Allah , yang artinya: Dan Dia mengajarkan kepada mereka Alkitab dan Alhikmah. Yang dimaksud dengan Alhikmah adalah Asunnah. HIKAYAT: Dihikayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal , beliau berkata: “Dahulu, suatu hari saya bersama kawan-kawan ke tempat pemandian. Mereka semua mandi dengan telanjang, sedangkan saya tidak telanjang karena mengamalkan hadis Rasulullah , yang artinya: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari kiamat, muka hendaklah ia tidak masuk ke tempat pemandian kecuali dengan mengenakan kuin. Malamnya saya bermimpi ada yang berkata kepada saya, “Bergembiralah hai Ahmad, Allah telah mengampunimu karena engkau telah mengamalkan sunnah.' Saya bertanya, “Anda siapa?” Jawab, “Saya Jibril. Allah telah menjadikan engkau sebagai imam yang diikuti orang.” Dan dihikayatkan pula dari ulama lainnya, ia berkata: “Saya bermimpi Nabi , lalu saya berkata kepada Beliau, “Ya Rasulullah, semoga Baginda memberikan syafaat untuk saya.' Beliau menjawab: “Sudah aku berikan.” Saya bertanya, “Kapan?' Beliau menjawab, “Di hari engkau hidupkan sunnahku di kala ia sudah dimatikan orang.” Ibnu Abbas berkata: “Tidaklah datang suatu tahun baru kepada manusia kecuali di dalamnya diadakan orang bid'ah dan dimatikan sunnah hingga akhirnya bid'ah itu menjadi hidup dan sunnah mati.” Dan dalam salah satu hadis disebutkan, yang artinya: Barang siapa berjalan kepada ahli bid'ah maka ia telah membantu merobohkan Islam. Karenanya, wajib atas setiap orang Islam untuk menjauhi jalan tukang bid'ah dan berpegang teguh pada Al-Quran, Asunnah dan ijmak.” PENUTUP: Almaliqi menceritakan di dalam kitab Syarah-nya, bahwa Harun Arrasyid (khalifah Abbasiah di kala itu) meminta izin kepada Imam Syafii radiyallahu anhu agar ia diperkenankan menikahi jariyah (sahaya perempuan) yang ditinggalkan oleh saudaranya Musa Alhadi. Dahulu, saudaranya itu telah meminta ia bersumpah, jika jabatan khalifah itu jatuh ke tangannya, ia tidak akan mendekati sahaya itu. Maka Harun Arrasyid pun bersumpah dengan berbagai sumpah, di antaranya, kalau ia sampai melanggar sumpahnya maka ia akan berjalan ke tanah suci Mekah dengan berjalan kaki tanpa alas kaki. Kisah ini cukup terkenal di kalangan para ahli sejarah. Ketika Musa Alhadi meninggal dunia, maka Harun Arrasyid minta izin kepada Imam Syafii supaya dapat menikahi sahaya tersebut. Namun Imam Syafii tidak mengizinkannya. Maka Harun lalu mengancam beliau. Imam Syafii pulang dengan hati yang gundah. Malam itu beliau salat terus hingga akhirnya tertidur di tempat salatnya. Dalam tidur itu, beliau bermimpi seakan-akan berada di hadirat Allah , lalu terdengar seruan: “Ya Muhammad (Imam Syafii), tetaplah pada agama Muhammad, dan jangan sekali-kali menyimpang darinya yang akibatnya engkau akan menjadi sesat dan menyesatkan orang banyak. Bukankah engkau seorang imam yang memimpin umat. Jangan takut darinya (Harun Arrasyid). Bacalah: innaa ja'alnaa fii 'naagihim aghlaalan fahiya ilal adzgaani fahum mugmahuun.” Imam Syafii berkata: “Maka saya pun terbangun dari tidur sambil membaca ayat tersebut. Ketika masuk salat Subuh, saya kerjakan salat fardu Subuh. Usai salat saya merasakan agak malas hingga akhirnya saya tidur-tiduran. Antara sadar dan tidak, saya dengar suara mengatakan: “Harun Arrasyid menyuruh orang untuk menjemputmu maka engkau jangan takut. Jika engkau dalam perjalanan menemuinya, bacalah dalam hatimu doa orang takut, niscaya engkau tidak akan menjumpai kecuali hal-hal yang baik saja. Kemudian saya terjaga, lalu saya pun membaca doa tersebut: Allaahumma innii asykuu ilaika dha'fa quwwatii wa qillata hiilatii wa hawaanii alan naas, yaa arhamar raahimiin. Anta rabbal mustadh'afiina wa anta rabbi, ilaa man takilunii a-ilaa aduwwin ba'iidin yatajahhamunii am ilaa shadiigin gariibin mallaktahu amrii, in lam yakun alayya ghadhabun famaaa ubaalii, walaakin 'aafryaatuka ausa'ulii. A'uudzu binuuri wajhikal ladzii ayragat bihizh zhulmaatu wa shaluha “alaihi amrud dunyaa wal aakhirati min an yanzila bii ghadhabuka au yahilla “alayya sakhathuka, lakal hamdu hattaa tardhaa, walaa haula walaa guwwata illaa bika.” Imam Syafii melanjutkan: “Baru saja saya selesai membaca doa itu, tiba-tiba ada orang mengetuk pintu. Ketika pintu saya buka, saya lihat Rabi, perdana menteri Harun Arrasyid, berdiri di sana. Ia berkata: “Tuan, khalifah meminta tuan datang menemuinya.” Maka saya pun pergi bersamanya menemui khalifah. Ketika kami sampai di hadapan khalifah, ia bangkit dari tempat duduknya menyambut saya sambil tersenyum ia berkata, “Anda memang seorang muslim yang baik dan imam teladan. Orang seperti Anda ini tidak takut akan celaan orang dalam menegakkan agama Allah. Ketahuilah wahai fakih, tadi malam saya mendapat teguran berkaitan dengan dirimu. Maka pulanglah dalam keadaan terpelihara.” Kemudian Harun Arrasyid memberi beliau hadiah uang sebanyak 10 ribu dinar. Lalu uang tersebut dibagi-bagikan oleh Imam Syafii di hadapan khalifah, kemudian beliau pulang. Semoga Allah merahmati dan meridai beliau, amin. Ini semua adalah berkat berpegang teguh pada sunnah penghulu para rasul . Mudah-mudahan Allah mewafatkan kita atas sunnah tersebut. Segala puji hanya untuk Allah Tuhan semesta alam. MAJELIS KEENAM - HADIS KE-6 Dari Abi Abdillah Nu'man bin Basyir. Ia berkata: " Saya mendengar Rasulullah. Bersabda: Artinya: Sesungguhnya halal itu jelas dan haram itu jelas dan di antara keduanya ada perkara yang syubhat (tidak jelas), yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Maka barang siapa menjaga dirinya dari perkara syubhat itu berarti ia telah membersihkan agama dan kehormatannya, dan barang siapa jatuh ke dalam perkara syubhat itu berarti ia telah terjatuh ke dalam perkara yang haram. Seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan (halaman orang), lambat laun ia akan masuk ke dalamnya. Ingatlah, bahwa tiap-tiup raja itu ada larangannya. Ingatlah bahwa larangan Allah itu adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada sekerat daging, jika ia baik maka baiklah jasad itu seluruhnya, dan jika ia rusak maka rusaklah jasad itu seluruhnya. Ingatlah, itu adalah hati. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. PENJELASAN Ketahuilah wahai saudaraku, semoga Allah menunjuki kita untuk taat kepada-Nya, bahwa hadis ini merupakan hadis yang agung. Ia termasuk salah satu hadis yang menjadi poros agama Islam. Sebagian ulama mengatakan bahwa hadis ini merupakan sepertiga Islam. Karena Islam itu berputar padanya dan pada hadis innamal a'maal bin niyaat dan hadis min husni islaamil mar-i tarkuhu maa laa ya'niihi. (Alhalaalu bayyinun) yakni, halal itu tampak jelas, tidak terdapat pada zatnya sifat-sifat barang yang diharamkan. Menurut Imam Syafii, halal itu ialah segala sesuatu yang tidak ada dalil yang meriwayatkan keharamannya, yaitu apa-apa yang tidak dilarang oleh syariat, baik diriwayatkan dalil tentang kehalalannya atau didiamkan. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi seperti disebutkan dalam hadis tsalaatsiin, yang artinya: Dan Allah mendiamkan mengenai hukum beberapa perkara sebagai rahmat untuk kalian, bukan karena Dia lupa, maka janganlah kalian membuhasnya. Karena kalau hal itu haram, tentu akan dijelaskan-Nya. (Wa innal haraama) yakni, ada dalil yang melarangnya, demikian menurut Mazhab Imam Syafii, sedangkan menurut Mazhab Imam Hanafi, tidak ada dalil mengenai halalnya. (Bayyinun) yakni, diketahui oleh setiap orang akan keharamannya, karena tidak hilang sifat haramnya dari zatnya, yaitu semua yang dilarang oleh syariat secara muttafagun alaih, baik yang nyata pada zatnya, seperti racun dan candu dan sebagainya, atau tidak nyata, seperti haramnya sebagian binatang: maupun karena ada cacat dalam keharamannya, seperti barang rampasan, menipu dalam jual beli, dan riba. (Wa bainahumaa umuurun musytabihaat, laa ya "lamuhunna batin minan naas) yakni, karena tersembunyi hukumnya atas mereka., sedangkan ulama mengetahui hukumnya dengan nas atau kias atau istish-hab atau yang serupa dengan itu (Famanit-taqaa) yakni, barang siapa meninggalkan. (Asysyubuhaati) yakni, kata jamak dari syubhat. (faqad istabra-a) yakni, ia telah membersihkan. (lidiinihi) yakni, dari celaan syara”. (wa'irdhihi) yakni, dijaganya dari omongan orang. Maksudnya adalah nafsu, karena ia merupakan tempat celaan dan pujian. Dalam salah satu atsar disebutkan: "Barang siapa berada di suatu tempat yang mencurigakan, maka ia tidak boleh menyalahkan orang yang berburuk sangka kepadanya,” Para ulama berbeda pendapat mengenai maksud syubhat yang disebutkan dalam hadis di atas. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa hal itu haram, didasarkan pada sabda Nabi barang siapa menjaga dirinya dari syubhat maka berarti ia teluh membersihkan agama dan kehormatannya. Dan sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa syubhat itu halal, mereka mendasarkan pendapat tersebut pada sabda Nabi seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan (halaman orang lain), lambat laun ia akan masuk ke dalamnya. Ini menunjukkan bahwa hal itu adalah haram, dan bawa meninggalkan perbuatan itu termasuk warak. Inilah yang benar. (Wa man waqa'a fisy syubuhaati) yakni, tidak meninggalkan perbuatan syubhat tersebut. (Waqaa fil haraam) yakni, haram murni atau yang mendekati haram. Maksudnya, barang siapa sering melakukan sesuatu yang syubhat maka ia akan terjerumus kepada hal yang haram, meskipun tidak disengajanya. Terkadang ia berdosa dengan perbuatan tersebut, jika ja menggampangkan hukumnya. Orang yang suka menggampangkan dan berani melakukan perbuatan syubhat, kemudian melakukan syubhat yang lebih berat dan lebih berat, demikian seterusnya, sehingga akhirnya ia melakukan perbuatan haram dengan sengaja. Dalam banyak hadis telah disebutkan bahwa, perbuatan maksiat itu bisa menyeret kepada kekafiran. Semoga Allah melindungi kita darinya. (Kar-ras'i yar'aa haulal himaa, yuusyaku an yaga'u fiihi), yakni, ibarat seorang pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar daerah larangan, seperti halaman orang, dikawatirkan ternaknya akhirnya memakan rumput dari daerah yang terlarang tadi, (Alaa wa inna likulli malikin himaan) yakni, apa-apa yang diberi pagar untuk menggembalakan ternaknya sendiri, seperti kuda atau lainnya, dan terlarang untuk orang lain menggembalakan ternaknya di situ. (Alaa wa inna himallaahi mahaarimuhu) yakni, ini merupakan perumpamaan yang dapat dirasakan, supaya jiwa yang cerdas dapat menangkap maksudnya sehingga ia dapat beradab kepada Allah seperti beradabnya kepada para pembesar itu. Karena setiap raja itu mempunyai daerah terlarang yang orang lain tidak boleh memasukinya, kalau dilanggar maka akan mendapat hukuman dari sang raja. Begitu juga Allah , mempunyai larangan-larangan. Dan larangan Allah adalah semua yang diharamkannya. (Alaa wa inna fil jasadi mudhghatan idzaa shaluhat shaluhal jasadu kulluhu wa idzaa fasadat fasadal jasadu kulluhu, alaa wa hiyal qalbu). Ketahuilah, semoga Allah memberi petunjuk kepada kita, bahwa kalbu itu merupakan organ batin di dalam jasad manusia, dan padanyalah poros manusia, dan di dalamnya terdapat akal yang merupakan organ manusia yang paling mulia. Ia dinamakan kalbu (dalam bahasa Arab artinya berbolak balik) adalah karena cepatnya ia berbolak-balik (berubah-ubah). Sebagaimana dikatakan oleh penyair: Tidaklah manusia dinamakan manusia, kecuali karena ia suka lupa, Dan tidaklah kalbu dinamakan kalbu, kecuali karena ia suka berubah-ubah. Adapun sebab kebaikan dan kerusakan jasad itu tergantung kepada kebaikan dan kerusakan kalbu adalah karena ia merupakan permulaan gerakan badan dan kemauan jiwa. Jika muncul dari kalbu itu keinginan yang baik karena ia selamat dari penyakit-penyakit batin seperti, dengki, kikir, dendam, sombong dan lain-lain, atau muncul keinginan yang merusak karena ia tidak selamat dari penyakit-penyakit batin tadi, maka akan bergeraklah badan mengikuti gerakan kalbu tersebut. Kalbu itu laksana seorang raja sedangkan badan dan seluruh anggotanya adalah rakyat, ia akan baik dengan baiknya sang raja dan menjadi rusak dengan rusaknya sang raja. TANBIH Konon, kebaikan kalbu itu dalam enam perkara: (1) membaca Al-Quran dengan merenungkan maknanya, (2) perut kosong, (3) bangun malam, (4) berdoa dengan khusyuk di waktu sahur, (5) bersahabat dengan orang-orang salih, (6) makan dari barang yang halal, dan ini (makan halal) adalah pokoknya. Ulama mengatakan, makanan itu adalah benih perbuatan, kalau masuk barang halal maka keluarnya juga halal, kalau masuk barang haram maka keluarnya juga haram, dan kalau masuknya barang syubhat maka keluarnya juga syubhat. Salah seorang ulama berkata: “Saya pernah minta minum kepada seorang tentara, kemudian watak kerasnya itu menetap di kalbu saya selama empat puluh hari.” Ketahuilah bahwa, hadis ini juga merupakan landasan sifat warak, yaitu meninggalkan segala barang yang syubhat dan beralih ke lainnya yang halal. Hasan Albashri rahimahullah berkata: “Kami jumpai satu kaum yang meninggalkan tujuh puluh pintu yang halal, karena takut jatuh ke dalam yang haram.” Suatu hari Abubakar Assiddiq. makan sesuatu yang di dalamnya ada syubhat, sedang beliau tidak mengetahuinya. Ketika beliau tahu barang yang dimakannya itu syubhat, maka beliau lalu memasukkan tangannya ke dalam mulutnya lalu memuntahkan makanan tersebut. Ibrahim bin Adham rahimahullah pernah ditanya, mengapa Anda tidak minum dari air zamzam itu? Beliau menjawab, kalau saya punya timba tentu saya akan meminumnya. Sebagai isyarat bahwa timba itu dari uang sultan, sedangkan uang sultan itu syubhat. Zaid bin Tsabit berkata: “Tidak ada yang lebih gampang melakukannya dibandingkan sifat warak. Jika ada sesuatu yang meragukan Anda maka tinggalkan, dan ini gampang bagi orang yang dimudahkan oleh Allah dan berat bagi kebanyakan manusia lebih berat daripada gunung.” Di antara keistimewaan hadis ini pula adalah: bahwa ia menganjurkan kepada yang halal dan menjauhi yang haram, menahan diri dari barang yang syubhat, menjaga agama dan kehormatan serta tidak melakukan halhal yang akan menimbulkan kecurigaan orang dan jatuh kepada perbuatan yang dilarang. Dan di antaranya pula adalah, pengagungan kalbu dan usaha untuk memperbaikinya. Dan di dalam hadis ini juga terkandung beberapa perumpamaan bagi makna- makna syariat, dan bahwa amal-amal yang berkaitan dengan kalbu itu lebih utama daripada yang berikatan dengan badan. Sebab badan tidak akan baik kecuali dengan kalbu. PENUTUP Sebagai penutup majelis ini, baiklah kita kupas firman Allah yang artinya: Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah...... (QS. Alhadiid 57:16) Ibnu Mas'ud berkata: “Kami ditegur Allah dengan ayat ini sesudah kami masuk Islam selama tujuh tahun.” Diriwayatkan bahwa ada sebagian orang ditimpa rasa lemah dalam hati mereka, maka Allah lalu menurunkan ayat ini. Sebagian ahli Ma'ani mengatakan bahwa, firman Allah ini merupakan teguran terhadap sifat lengah seseorang. Maksud ayat ini adalah: Bukankah telah tiba waktunya untuk khusyuk? Bukankah telah tiba waktunya untuk kembali? Bukankah telah tiba waktunya bagi orang yang melampaui batas untuk mencucurkan air mata? Bukankah ini waktu untuk menghinakan dan merendahkan diri? Disinggungnya kata iman di awal ayat ini adalah untuk menganalkan karunia Allah (sebab iman merupakan karunia Allah yang paling besar), dan mengingatkan lambatnya muncul buah dari iman itu. Dan buahnya iman itu adalah an takhsya'a guluubukum (tunduknya hati kamu dengan iman tersebut, dan buah iman itu juga adalah an tabkuu 'alaa maa salafa min dzunuubikum (kamu tangisi dosa-dosamu yang telah lampau). Rasulullah bersabda, yang artinya: Sesungguhnya Allah mempunyai bejana-bejana, yaitu kalbu-kalbu. Kalbu-kalbu yang paling dekat dengan Allah adalah kalbu yang lembut, bersih dan kuat. Abu Abdillah Atturmidzi berkata: “Kalbu yang lembut itu adalah kalbu yang takut kepada Allah , yang bersih itu adalah untuk sahabat di jalan Allah, dan yang kuat itu adalah dalam memegang agama Allah. Dikatakan, kalbu itu mirip bejana, kalbu orang kafir ibarat bejana yang pecah dan terbalik sehingga tidak bisa dimasuki kebaikan sama sekali: kalbu orang munafik ibarat bejana yang bocor, apa saja yang masuk dari atas maka segera keluar dari bawahnya, dan kalbu orang mukmin itu ibarat bejana yang bagus, jika diisi kebaikan ia akan tersimpan di dalamnya. Konon, kalbu itu menjadi keras adalah karena penyimpangannya dari muraqabah kepada Tuhan. Dan ada pula yang mengatakan, kalbu itu menjadi keras karena ia mengikuti dorongan- dorongan hawa nafsu. Sebab syahwat (dorongan hawa nafsu) dan shafwah (kebersihan hati) itu tidak bisa bersatu. Pertama-tama yang muncul dalam kalbu itu adalah sifat lalai, kalau tidak disadarkan Allah maka ia akan menjadi bisikan hati. Kalau bisikan hati ini tidak ditolak Allah maka ia akan menjadi pikiran buruk. Jika pikiran buruk ini tidak dipalingkan Allah maka ia akan menjadi keinginan kuat untuk melakukan perbuatan buruk. Kalau keinginan buruk ini tidak dibendung Allah maka ia akan jatuh ke dalam perbuatan maksiat. Jika perbuatan maksiat itu tidak diselamatkan Allah dengan tobat maka ia akan menjadi keras. Jika kekerasan kalbu itu tidak dilembutkan Allah maka ia akan menjadi watak dan titik hitam dalam kalbu. Allah berfirman di dalam Al-Quran, yang artinya: Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. (OS. 83: 14) Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata: “Kalbu orang mukmin itu ibarat cermin yang bersih, jika setan datang ia akan kelihatan. Kalau pemilik kalbu itu melakukan dosa maka di dalam kalbunya akan muncul sebuah titik hitam. Jika ia bertobat, maka titik hitam itu akan hilang. Jika ia kembali melakukan dosa dan tidak bertobat, dan titik hitam itu akan bertambah terus hingga akhirnya kalbunya menjadi hitam pekat. Kalau sudah demikian, maka tidak ada lagi nasihat yang mempan terhadapnya. Hasan Albashri rahimahullah berkata: “Dosa di atas dosa akan menggelapkan kalbu hingga akhirnya ia menjadi hitam pekat.” Atturmidzi rahimahullah berkata: “Hidupnya kalbu itu adalah karena iman, matinya adalah karena kufur, sehatnya adalah karena taat, sakitnya adalah karena terus menerus berbuat maksiat, sadarnya adalah karena zikir, dan tidurnya adalah karena lalai. Dalam salah satu khabar disebutkan: Jangan banyak berbicara selain dengan sikrullah, supaya kalbumu tidak menjadi keras. MAJELIS KETUJUH HADIS KE-7 Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Addaari , ia berkata: “Nabi bersabda: Artinya: Agama itu adalah nasihat. Kami bertanya: Untuk siapa ya Rasulullah? Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan masyarakat muslimin umumnya. Diriwayatkan oleh Imam Muslim. PENJELASAN Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, semoga Allah menunjuki kita untuk taat kepada-Nya, bahwa hadis ini merupakan hadis yang agung, yang juga menjadi porosnya agama Islam, disebabkan oleh luasnya makna yang terkandung di dalamnya. (Ad-diinu) yakni, seperti yang telah disebutkan dalam hadis Jibril , bahwa ia mencakup tiga unsur yaitu, Islam, Iman dan Ihsan. Dan sebagian ulama mengatakan bahwa, Addiin itu adalah hukum-hukum yang telah disyariatkan oleh Allah buat hamba-hamba-Nya. (An-nashiihatu) ini mirip dengan perkataan ulama al-hajju “araafah. (Qulnaa liman? Qaala lillaahi) dalam arti bahwa, iman dan taat kepada Allah dengan kalbu dan badan dan lain-lain seperti yang telah disebutkan di atas pada hakikatnya adalah kembali kepada hamba itu sendiri. Karena Allah tidak membutuhkan semuanya itu. (Wa likitaabihi) yakni, dengan mengagungkannya, percaya kepadanya dan mengamalkan isinya, dan yang serupa dengan itu. (Wa lirasuulihi) yakni, membenarkan apa-apa yang diajarkannya, menolongnya dalam menegakkan perintah Tuhannya, dengan ucapan, perbuatan dan keyakikan. (Wa li-aimmatil muslimiin) yakni, para pemimpin mereka, yaitu dengan jalan mematuhi mereka, memperingatkan mereka dengan apa yang bisa membuat mereka baik, serta mendoakan mereka agar diberi taufik. Ada juga yang mengatakan bahwa maksudnya di sini adalah para ulama, yaitu dengan jalan menerima apa yang mereka riwayatkan dan mengikuti mereka dalam hukum agama, serta berbaik sangka terhadap mereka. (Wa 'aammatihim) yakni, dengan jalan menyukai buat mereka apa-apa yang ia sukai buat dirinya sendiri, dan tidak suka buat mereka apa yang tidak disukainya buat dirinya sendiri. CATATAN Asnawi rahimahullah berkata di dalam sebagian kitabnya berkaitan dengan hadis ini: “Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba maka Dia akan mengirimkan kepadanya orang yang akan mengingatkannya bila ia lalai: dan jika Dia menghendaki keburukan pada seorang hamba maka Dia akan mengirimkan kepadanya teman jahat yang akan melarangnya mendengarkan nasihat.” Ketika Harun Arrasyid memegang tampuk pemerintahan, maka Ia mengadakan sidang umum untuk orang banyak. Kemudian datang Bahlul Almajnun seraya berkata: “Wahai amirilmukminin, hati-hati terhadap teman jahat dan bersahabatlah dengan teman yang salih, yang akan mengingatkan Tuan dengan akhlaknya yang baik jika Tuan lalai dan dengan memandang mereka jika Tuan lengah. Karena ini lebih bermanfaat bagi Tuan dan orang banyak serta lebih besar ganjarannya dibandingkan dengan puasa sunnah, salat sunnah, membaca Al- Quran dan haji sunnah. Karena jika seseorang menyampaikan suatu perkataan yang tidak baik kepada sultan lalu dikerjakan oleh sultan itu, maka akan meratalah kerusakan di muka bumi ini. Nabi sallallaahu alaihi waallam bersabda, yang artinya: Sesungguhnya seorang laki-laki akan dijebloskan ke dalam neraka selama tujuh puluh tahun akibat perkataannya yang tidak berguna. Dan janganlah Tuan, wahai amirilmukminin, menjadi seperti orang yang disinggung Allah dalam firman-Nya, Dan apabila dikatakan kepadanya, “bertakwalah kepada Allah.' bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah balasannya neraka Jahannam. Dan sesungguhnya neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (QS. 2: 206) Kemudian Harun Arrasyid berkata: “Tambahlah nasihatmu!” Bahlul menjawab: “Wahai amirilmukminin, sesungguhnya Allah telah menundukkan orang banyak buatmu dan menjadikan perintah Tuan harus ditaati oleh mereka, itu tidak lain agar Tuan membawa mereka kepada menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, memberikan dari harta ini kepada anak-anak yatim, janda-janda, dan orang-orang tua yang tak berdaya serta para musafir kelana. Wahai amirilmukminin, fulan bin fulan telah memberitahukan kepada saya, dari Rasulullah , bahwa Beliau bersabda, yang artinya: Jika hari kiamat telah bangkit dan Allah telah mengumpulkan seluruh umat manusia di suatu tanah lapang yang luas, maka didatangkanlah para raja dan para pemimpin orang banyak, kemudian Allah berfirman kepada mereka: “Bukankah Aku telah memberikan kekuasaan kepada kamu di negeriku dan menjadikan hamba-hamba-Ku patuh kepada kamu, itu bukan supaya kamu mengumpulkan harta dan pasukan, tetapi supaya kamu mengumpulkan mereka agar taat kepada-Ku dan menerapkan pada mereka perintah dan larangan-Ku, memuliakan para wali-Ku dan menghinakan para musuh-Ku, serta menolong orang-orang yang teraniaya dari penindasan orang-orang yang alim. Wahai Harun, pikirkanlah, apa jawaban yang akan Tuan berikan atas semua pertanyaan tentang hamba-hamba Allah yang akan diajukan kepada Tuan kelak di tempat tersebut, pada saat Tuan dihadirkan dalam keadaan kedua tangan Tuan terikat dengan rantai di leher Tuan, neraka Jahannam ada di depan Tuan, dan malaikat Zabaniah mengelilingi Tuan, sambil menunggu apa yang akan diperintahkan terhadap Tuan?!” Harun pun menangis dengan terisak-isak. Sebagian orang yang hadir berkata kepada Bahlul: “Anda telah merusak suasana sidang ini!” Lalu Harun berkata kepada mereka: “Celaka kalian, orang yang tertipu itu ialah orang yang kalian tipu, dan orang yang beruntung ialah orang yang jauh dari kalian.” Kemudian Bahlul pergi meninggalkan tempat tersebut. Perhatikan saudara, betapa agungnya nasihat ini. Dahulu, Rasulullah sering memberikan wasiat dan nasihat kepada para sahabat Beliau yang bermanfaat buat mereka dan buat orang-orang sesudah mereka. Di antara nasihat-nasihat Beliau itu adalah seperti yang diriwayatkan oleh sahabat Anas radiyallahu anhu, katanya: “Rasulullah telah memberikan wasiat kepadaku, Baginda bersabda kepadaku, “Sempurnakanlah wudu maka itu akan menambah umurmu, berilah salam kepada orang yang engkau jumpai maka akan menjadi banyaklah kebaikanmu, jika engkau masuk ke rumahmu ucapkanlah salam kepada keluargamu maka akan menjadi banyaklah kebaikan rumahmu: kerjakanlah salat Dhuhaa karena ia merupakan salat orang-orang yang awwab sebelummu: serta sayangi orang yang lebih muda dan hormati orang yang lebih tua maka engkau akan menjadi temanku di hari kiamat kelak.” Di antara nasihat Rasulullah kepada sebagian keluarga Beliau: Janganlah engkau menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun sekalipun engkau dipotong dan dicincang, dan jangan meninggalkan salat fardu dengan sengaja, sebab orang yang meninggalkan salat fardu dengan sengaja itu terlepas dari jaminan Allah, serta jauhilah maksiat, sebab maksiat bisa mendatangkan murka Allah. Wasiat dan nasihat Rasulullah tak terhingga banyaknya. PENUTUP Dari Umar bin Khattab berkata kepada sebagian saudaranya: “Aku wasiatkan engkau dengan enam perkara: (1) Jika engkau ingin mencela seseorang maka celalah dirimu lebih dahulu, karena engkau tidak tahu orang yang lebih banyak aibnya darinya, (2) Jika engkau hendak memusuhi seseorang maka musuhilah perutmu, karena tidak ada musuh yang lebih besar bagimu darinya, (3) Jika engkau hendak memuji seseorang maka pujilah Allah lebih dahulu, karena tidak ada yang lebih banyak karunia dan kelembutannya kepadamu melebihi Dia, (4) Jika engkau hendak meninggalkan sesuatu maka tinggalkanlah dunia, karena jika engkau meninggalkannya maka engkau akan terpuji, kalau tidak engkau akan ditinggalkannya sedang engkau tercela, (5) Jika engkau hendak bersiap-siap untuk sesuatu maka bersiap-siaplah untuk mati, karena jika engkau tidak bersiap-siap untuknya maka engkau akan merugi dan menyesal, (6) Jika engkau hendak menuntut sesuatu maka tuntutlah akhirat, karena engkau tidak akan mendapatkannya kecuali jika engkau menuntutnya. Kiranya cukup sampai di sini, semoga Allah memberi kita afiat dan inayah-Nya. Amin, walhamdu lillaahi rabbil “aalamiin.
One Comment