Hadits

Terjemahan Kitab Majalisus Saniyyah

MAJELIS KELIMA HADIS KE-5

Dari Ummul mukminin Ummu Abdillah Aisyah radiyallaahu anha, katanya: “Rasulullah bersabda:

Artinya:

Barang siapa mengada-adakan sesuatu yang baru (bid’ah)dalam urusan (agama) kami ini, yang tidak kami perintahkan, maka hal itu ditolak.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Dan dalam riwayat Imam Muslim, berbunyi: Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak cocok dengan syariat kami, maka ia ditolak.

PENJELASAN:

Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua untuk berbuat taat kepada-Nya, bahwasanya hadis ini merupakan salah satu pokok agama Islam yang terbesar. Dan menjadi ciri sabda Nabi $ yang singkat padat namun memiliki makna yang luas. Hadis ini dengan jelas menolak bid’ah dan segala hal yang baru diadakan dalam urusan agama. Sudah selayaknya hadis ini dihafalkan dan digunakan dalam membasmi segala bentuk kemungkaran. Ia termasuk hadis-hadis yang menjadi poros agama Islam.

Sebelum kita melanjutkan pembahasan kita tentang hadis ini, ada baiknya kita mengupas sedikit tentang riwayat Siti Aisyah radiyallaahu anha dan keutamaannya, supaya memperoleh berkat dengannya.

Aisyah radiyallaahu anha adalah seorang wanita siddigah putri dari seorang laki-laki siddig (yaitu Abubakar Assiddiq.     ). Dan ia adalah ibu dari seluruh kaum muslimin, dari segi penghormatan dan pengagungan, bukan dari segi muhrim. Begitu pula dengan semua istri Nabi

. Ia dijuluki dengan Ummu Abdillah. Inilah julukan yang diberikan Nabi kepadanya ketika ia minta dijuluki dengan putera saudara perempuannya Asma, yaitu Abdullah bin Zubeir. Menurut riwayat yang paling sahih, ja tidak mempunyai anak. Ada pula riwayat yang mengatakan bahwa, ia pernah hamil, tetapi keguguran. Tetapi riwayat ini tidak pasti.

Ia dinikahi oleh Nabi   sebelum hijrah. Diriwayatkan bahwa, ketika Rasulullah hendak melamarnya dari ayahnya Abubakar, Abubakar berkata: “Ya Rasulullah, sebenarnya ia belum begitu baik buat Baginda karena masih terlalu kecil. Namun saya akan menyuruhnya menemui

Baginda, kalau Baginda anggap baik buat Baginda, maka itu merupakan kebahagiaan yang sempurna.” Rasulullah menjawab: “Jibril datang menemuiku dengan membawa gambarnya yang terlukis di atas daun dari dalam surga, Jibril berkata, “Allah telah menikahkan Tuan dengan wanita ini.”

Abubakar pulang ke rumahnya lalu mengisi sebuah talam dengan buah kurma dan ditutupnya dengan kain. Kemudian Abubakar memanggil Aisyah dan berkata kepadanya: “Ya Aisyah, pergilah ke rumah Rasulullah dan serahkan ini kepada Beliau dan katakana, “Ya Rasulullah, inilah yang Baginda sebutkan pada ayahku, kalau Baginda anggap baik, maka semoga Allah memberikan berkat-Nya kepada Baginda.”

Ketika itu usia Aisyah adalah enam tahun.

Maka pergilah Aisyah sambil membawa talam itu ke rumah Rasulullah . Ia menyangka bahwa yang dimaksudkan oleh Abubakar itu adalah tentang kurma tersebut. Aisyah bercerita: “Maka saya pun pergi menemui Rasulullah   dan menyampaikan pesan ayah saya tersebut kepada Beliau. Lalu Beliau menjawab: “Aku terima wahai Aisyah.” Kemudian saya pulang dan menceritakan jawaban Rasulullah itu kepada ayah saya. Ayah saya berkata: “Engkau beruntung wahai anakku, karena Allah telah menikahkan engkau dengan Beliau di atas tujuh petala langit, dan aku telah menikahkan engkau dengan Beliau di bumi.”

Aisyah melanjutkan: “Saya tidak pernah gembira melebihi ketika mendengar perkataan ayahku

“aku telah menikahkan engkau dengan Rasulullah’ tersebut.”

Aisyah radiyallaahu anha adalah satu-satunya istri Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Beliau , yaitu sebanyak 1210 hadis.

Mari kita lanjutkan pembicaraan tentang hadis ini:

(Qaala rasuulullaahi shallallaahu ‘alaihi wasallam man ahdatsa) yakni, mengada-adakan sesuatu yang baru dalam urusan agama, yang belum pernah ada pada zaman Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam, yaitu yang dinamakan bid’ah.

(fii amrinaa) yakni, dalam urusan agama dan syariat kami.

(haadzaa) yakni, isyarat kepada apa yang telah disebutkan, yaitu agama Nabi

(maa laisa minhu) yakni, yang tidak disandarkan pada dalil-dalil syara’. (fahuwa roddun) yakni, tertolak. Artinya, hal tersebut batil.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Dan dalam riwayat Muslim disebutkan:

(man ‘amila amalan) yakni, mengada-adakan sesuatu yang baru, baik oleh dirinya sendiri ataupun orang lain.

(laisa “alaihi amrunaa) yakni, tidak didasarkan pada dalil-dalil syariat kami.

, (fahuwa roddun) yakni, maka ia tertolak.

Dalam riwayat ini terkandung bantahan terhadap orang yang melakukan bid’ah yang beralasan bahwa bukan dia yang mengadakan bid’ah tersebut, tetapi orang lain sebelumnya. Hadis ini dengan jelas menerangkan bahwa tidak ada perbedaan antara perbuatan bid’ah yang diada- adakannya sendiri atau diada-adakan oleh orang lain sebelumnya, karena semua perbuatan yang tidak diperintahkan syara’ maka pelakunya berdosa. Hal ini berdasarkan sabda Nabi yang artinya: “Barang siapa mengada-adakan sesuatu yang baru atau mendukung ahli bid’ah, maka laknat Allah tertimpa kepadanya.” Masuk ke dalam hadis ini semua akad yang rusak, atau menetapkan hukum atas dasar kebodohan dan kezaliman, dan sebagainya, yang tidak sesuai dengan syariat.

Ibnu Abdissalam membagi bid’ah itu ke dalam lima hukum:

1. Wajib.

Yaitu seperti mempelajari ilmu nahu, ilmu Alquran dan Assunnah yang pelik-pelik, yang dapat membantu dalam pemahaman ilmu syariat.

2. Haram.

Seperti mazhab Qadariah, Jabbariah, dan Mujassamah.

3. Sunnah.

Seperti mendirikan pesantren-pesantren dan madrasah-madrasah.

4. Makruh.

Seperti menghias masjid-masjid dan mushaf-mushaf.

5. Mubah.

Seperti berjabatan tangan sesudah salat Subuh dan Asar.

Ketahuilah bahwa, hadis ini menganjurkan agar kita mengikuti sunnah Nabi   dan memperingatkan bahaya bid’ah yang tidak sesuai dengan syariat. Konon, Allah mewahyukan kepada Nabi Musa : “Jangan bergaul dengan pengikut hawa nafsu agar mereka tidak menanamkan ke dalam hatimu hal-hal baru ke dalam hatimu sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada.”

Sahl bin Abdullah berkata: “Barang siapa mengambil muka kepada para ahli bid’ah, maka

Allah akan mencabut manisnya sunnah dari dirinya.”

Addaqqaq berkata: “Barang siapa meremehkan salah satu etika Islam, maka ia akan dihukum dengan tidak mendapatkan sunnah. Dan barang siapa meninggalkan sunnah maka ia akan dihukum dengan tidak mendapatkan fardu. Dan barang siapa meremehkan fardhu, maka Allah akan mendatangkan padanya tukang bid’ah yang akan mengatakan kepadanya hal-hal yang batil, sehingga akan muncul di dalam hatinya kesangsian.”

Dalam hadis disebutkan, yang artinya: Barang siapa mencintai sunnahku berarti ia cinta kepadaku, dan barang siapa cinta kepadaku maka ia akan bersama aku di dalam surga.” Dan berkaitan dengan tafsir firman Allah , yang artinya: Dan Dia mengajarkan kepada mereka Alkitab dan Alhikmah. Yang dimaksud dengan Alhikmah adalah Asunnah.

HIKAYAT:

Dihikayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal , beliau berkata: “Dahulu, suatu hari saya bersama kawan-kawan ke tempat pemandian. Mereka semua mandi dengan telanjang, sedangkan saya tidak telanjang karena mengamalkan hadis Rasulullah , yang artinya: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari kiamat, muka hendaklah ia tidak masuk ke tempat pemandian kecuali dengan mengenakan kuin. Malamnya saya bermimpi ada yang berkata kepada saya, “Bergembiralah hai Ahmad, Allah  telah mengampunimu karena engkau telah mengamalkan

sunnah.’ Saya bertanya, “Anda siapa?” Jawab, “Saya Jibril. Allah telah menjadikan engkau sebagai imam yang diikuti orang.”

Dan dihikayatkan pula dari ulama lainnya, ia berkata: “Saya bermimpi Nabi , lalu saya berkata kepada Beliau, “Ya Rasulullah, semoga Baginda memberikan syafaat untuk saya.’ Beliau menjawab: “Sudah aku berikan.” Saya bertanya, “Kapan?’ Beliau menjawab, “Di hari engkau hidupkan sunnahku di kala ia sudah dimatikan orang.”

Ibnu Abbas   berkata: “Tidaklah datang suatu tahun baru kepada manusia kecuali di dalamnya diadakan orang bid’ah dan dimatikan sunnah hingga akhirnya bid’ah itu menjadi hidup dan sunnah mati.” Dan dalam salah satu hadis disebutkan, yang artinya: Barang siapa berjalan kepada ahli bid’ah maka ia telah membantu merobohkan Islam. Karenanya, wajib atas setiap orang Islam untuk menjauhi jalan tukang bid’ah dan berpegang teguh pada Al-Quran, Asunnah dan ijmak.”

PENUTUP:

Almaliqi menceritakan di dalam kitab Syarah-nya, bahwa Harun Arrasyid (khalifah Abbasiah di kala itu) meminta izin kepada Imam Syafii radiyallahu anhu agar ia diperkenankan menikahi jariyah (sahaya perempuan) yang ditinggalkan oleh saudaranya Musa Alhadi. Dahulu, saudaranya itu telah meminta ia bersumpah, jika jabatan khalifah itu jatuh ke tangannya, ia tidak akan mendekati sahaya itu. Maka Harun Arrasyid pun bersumpah dengan berbagai sumpah, di antaranya, kalau ia sampai melanggar sumpahnya maka ia akan berjalan ke tanah suci Mekah dengan berjalan kaki tanpa alas kaki. Kisah ini cukup terkenal di kalangan para ahli sejarah.

Ketika Musa Alhadi meninggal dunia, maka Harun Arrasyid minta izin kepada Imam Syafii supaya dapat menikahi sahaya tersebut. Namun Imam Syafii tidak mengizinkannya. Maka Harun lalu mengancam beliau. Imam Syafii pulang dengan hati yang gundah. Malam itu beliau salat terus hingga akhirnya tertidur di tempat salatnya. Dalam tidur itu, beliau bermimpi seakan-akan berada di hadirat Allah , lalu terdengar seruan: “Ya Muhammad (Imam Syafii), tetaplah pada agama Muhammad, dan jangan sekali-kali menyimpang darinya yang akibatnya engkau akan menjadi sesat dan menyesatkan orang banyak. Bukankah engkau seorang imam yang memimpin umat. Jangan takut darinya (Harun Arrasyid). Bacalah: innaa ja’alnaa fii

‘naagihim aghlaalan fahiya ilal adzgaani fahum mugmahuun.”

Imam Syafii berkata: “Maka saya pun terbangun dari tidur sambil membaca ayat tersebut. Ketika masuk salat Subuh, saya kerjakan salat fardu Subuh. Usai salat saya merasakan agak malas hingga akhirnya saya tidur-tiduran. Antara sadar dan tidak, saya dengar suara mengatakan: “Harun Arrasyid menyuruh orang untuk menjemputmu maka engkau jangan takut. Jika engkau dalam perjalanan menemuinya, bacalah dalam hatimu doa orang takut, niscaya engkau tidak akan menjumpai kecuali hal-hal yang baik saja. Kemudian saya terjaga, lalu saya pun membaca doa tersebut: Allaahumma innii asykuu ilaika dha’fa quwwatii wa qillata hiilatii wa hawaanii alan naas, yaa arhamar raahimiin. Anta rabbal mustadh’afiina wa anta rabbi, ilaa man takilunii a-ilaa aduwwin ba’iidin yatajahhamunii am ilaa shadiigin gariibin mallaktahu amrii, in lam yakun alayya ghadhabun famaaa ubaalii, walaakin ‘aafryaatuka ausa’ulii. A’uudzu binuuri wajhikal ladzii ayragat bihizh zhulmaatu wa shaluha “alaihi amrud dunyaa wal aakhirati min an yanzila bii ghadhabuka au yahilla “alayya sakhathuka, lakal hamdu hattaa tardhaa, walaa haula walaa guwwata illaa bika.”

Imam Syafii melanjutkan: “Baru saja saya selesai membaca doa itu, tiba-tiba ada orang mengetuk pintu. Ketika pintu saya buka, saya lihat Rabi, perdana menteri Harun Arrasyid, berdiri di sana. Ia berkata: “Tuan, khalifah meminta tuan datang menemuinya.” Maka saya pun pergi bersamanya menemui khalifah. Ketika kami sampai di hadapan khalifah, ia bangkit dari tempat duduknya menyambut saya sambil tersenyum ia berkata, “Anda memang seorang muslim yang baik dan imam teladan. Orang seperti Anda ini tidak takut akan celaan orang dalam menegakkan agama Allah. Ketahuilah wahai fakih, tadi malam saya mendapat teguran berkaitan dengan dirimu. Maka pulanglah dalam keadaan terpelihara.”

Kemudian Harun Arrasyid memberi beliau hadiah uang sebanyak 10 ribu dinar. Lalu uang tersebut dibagi-bagikan oleh Imam Syafii di hadapan khalifah, kemudian beliau pulang. Semoga Allah merahmati dan meridai beliau, amin.

Ini semua adalah berkat berpegang teguh pada sunnah penghulu para rasul . Mudah-mudahan Allah mewafatkan kita atas sunnah tersebut. Segala puji hanya untuk Allah Tuhan semesta alam.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker