Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Ayyuhal Walad

Kedelapan, Saya melihat kepada setiap orang, la menggantungkan dirinya kepada sesama makhluk.  Sebagian diri mereka  ada yang menggantungkan  dirinya pada  yang dinar dan dirham, sebagian yang lain pada harta dan hak milik, sebagian lagi ada yang bergantung dengan pekerjaan dan kerajinan pertukangan, dan sebagian pula ada yang bergantung kepada sesama manusia. Maka kembali saya perhatikan dengan sungguh-sungguh firman Allah SWT:

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Ath Thalaq: 3)

Oleh karena itu saya bertawakal kepada Allah. Sebab hanya Dia-lah yang dapat mencukupi segala kebutuhanku. Hanya Allah-lah sebaik-baik pelindung.

Setelah mendengar keterangan Hatim, maka Syaqiq berkata: “Semoga Allah memberimu Taufiq. Saya telah memeriksa Taurat, Zabur, Injil, dan Al-qur’an. Ternyata, keempat kitab itu, berisi delapan faedah ini. Maka mereka yang mengamalkannya, ia telah mengamalkan keempat kitab suci ini.”

Wahai anakku, telah engkau ketahui dari dua macam hikayat di atas, bahwa engkau tidak perlu terlalu memperbanyak ilmu pengetahuan. Dan sekarang, saya akan menerangkan kepadamu tentang hal-hal yang wajib bagi orang yang menempuh jalan kebenaran.

Ketahuilah, bahwa orang yang akan menempuh jalan kebenaran harus mempunyai pembimbing yang mampu mendidik dirinya untuk memiliki akhlak yang mulia.

Pendidikan dan mendidik itu adalah bagaikan mengerjakan pertanian, yaitu bahwa petani itu selalu mencabut kayu yang berduri dan mengeluarkan tumbuh-tumbuhan yang lain yang tumbuh disela-sela tanaman yang ditanam, supaya tanamannya bertambah baik dan hasil pertaniannya bertambah sempurna.

Orang yang hendak menempuh jalan kebenaran harus mempunyai guru yang dapat membimbingnya ke jalan Allah. Allah telah mengutus rasul untuk menuntun hamba-Nya ke jalan yang lurus. Setelah Rasulullah Saw meninggal, beliau digantikan oleh generasi di belakangnya yang membimbing hamba-Nya ke jalan Allah.

Adapun persyaratan seorang pendidik, ia hendaknya alim. Tetapi, tidak setiap orang alim pantas menjadi khafilah. Inilah tanda-tanda orang alim itu, Ia adalah orang yang berpaling dari cinta  dunia  dan  cinta  kedudukan:  ia  telah  mengikuti  seseorang  yang  bijaksana,  dan

keteladanannya berurutan hingga dengan Rasulullah Saw la selalu mengusahakan perbaikan dalam melatih diri, sedikit makan, sedikit tidur, sedikit bicara, banyak shalat, banyak sedekah, banyak berpuasa. Lantaran mengikuti guru yang waspada ia selalu melakukan akhlak-akhlak yang mulia, seperti sabar, syukur, tawakal, Yaqin, dermawan, tenang hati, penyantun, rendah diri, jujur, malu, setia, tenang, tidak terburu-buru dan sebagainya, sebagai tingkah laku kehidupannya.

Orang yang telah mempunyai sifat-sifat tersebut berarti telah memiliki sebagian nur Muhammad Saw Ia patut dijadikan pembimbing. Namun, orang seperti ini amat sulit ditemukan, bahkan lebih sulit daripada mencari mutiara di dasar samudera.

Ketahuilah, bahwa tasawwuf itu mempunyai dua sifat, yakni istigamah dan bersifat tenang terhadap manusia. Maka, barangsiapa yang beristiqamah dan berbaik budi terhadap orang- orang dan memperlakukan mereka dengan bijaksana, maka ia seorang sufi.

Yang dimaksudkan dengan istigamah ialah menebus hak-hak pribadi dan berakhlakul karimah dengan sesama makhluknya. Sedangkan yang dimaksud dengan berakhlakul karimah ialah tidak memaksa kehendaknya sendiri, tetapi memaksakan diri untuk mengikuti segala yang diperintahkan oleh syara’ (al-Qur’an dan Hadits)

Ketahuilah, bahwa engkau juga bertanya kepadaku tentang ubudiyah, apakah sebenarnya?

Ubudiyah itu ada tiga macam, yaitu,

1. Selalu menjaga perintah Allah,

2. Rela atas qadla’, taqdir dan pembagian dari Allah,

3. Meninggalkan kesenangan hati untuk mencari ridla Tuhan.

Engkau juga bertanya kepadaku tentang tawakkal apakah sebenarnya?

Adapun pengertian tawakkal adalah sebagai berikut: “Menguatkan keyakinan terhadap janji Allah. Yakni, keyakinan bahwa apa yang ditakdirkan kepadamu akan sampai secara pasti. Apa yang tidak di tulis tidak akan sampai kepadamu, meskipun semua orang membantumu.”

Ketahuilah, lawan kata ikhlas adalah riya’. Riya’ timbul karena dari pengagungan oleh manusia kepada seseorang.. Obat penangkal riya adalah dengan berasumsi bahwa seluruh makhluk itu berada di bawah kekuasaan-Nya. Sepanjang kamu masih mempunyai perasaan dan pengertian bahwa ada dzat yang lebih tinggi di atasmu, maka selama itu kamu dapat terhindar dari sifat riya’.

Wahai anakku, sebagian dari pertanyaan-pertanyaanmu yang tersisa, tertulis di dalam karangan-karanganku. Maka carilah sebagian yang tersisa di sana dan menulis sebagiannya adalah haram. Amalkanlah ilmumu! Supaya engkau akan diberi pengetahuan yang engkau belum mengerti.

Wahai anakku, setelah hari ini, engkau jangan bertanya kepada saya dari hal-hal yang masih sukar bagimu kecuali dengan lisan hatimu, berdasarkan firman Allah SWT: “Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat: 5)

Dan terimalah pula nasehat Nabi Khidir ini, ketika ia berkata: Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.” (Al-Kahfi:70)

Janganlah engkau tergesa-gesa. Bersabarlah sampai datang kepadamu suatu pengertian yang jelas. “Manusia telah dijadikan bertabi’at tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu meminta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.” (Al-Anbiya’:37)

Janganlah kamu bertanya kepadaku sebelum waktunya tiba. Yakinkanlah, kamu tidak akan sampai kecuali dengan mengikuti firman Allah: “Dan apakah mereka berjalan dimuka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang- orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka. Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Fathir: 44)

Wahai anakku, demi Allah, manakala engkau mau berjalan engkau akan mengetahui keajaiban-keajaiban pada tiap-tiap tempat. Serahkanlah jiwamu (rohmu) ! Sebab pokok perkara ini (tasawwuf) adalah menyerahkan jiwa (roh). Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Dzinnun Al Mishri kepada seorang muridnya: “Jika engkau mampu mengorbankan rohani, maka kemarilah. Bila tidak, jangan sibukkan dirimu dengan kebatilan-kebatilan shufiyah.”

Wahai anakku, saya akan memberi nasehat kepadamu dengan delapan macam tingkah laku, maka terimalah nasihat-nasihat itu dari saya supaya amal perbuatanmu kelak tidak menjadi lawan di hari kiamat.

Yang empat supaya kamu amalkan, dan yang empat lagi supaya kamu tinggalkan.

Adapun empat tingkah laku yang supaya engkau tinggalkan adalah:

1.   Janganlah kamu mendebat dengan siapa pun tentang sesuatu masalah yang kamu tidak mampu menjawabnya, karena banyak cela didalamnya. Dampak negatifnya lebih besar daripada manfaatnya. Sebab perbuatan tersebut merupakan sumber pekerti yang tercela seperti riya’, hasud (dengki), sombong, bermusuhan, bermenang- menangan, dan lain sebagainya. Bila terjadi permasalahan antara kamu dengan orang lain, dan kamu bermaksud ingin menunjukkan kebenarannya kepada mereka, maka hal itu diperbolehkan. Namun ada dua hal yang harus diperhatikan:

a.   Engkau tidak membeda-bedakan antara kebenaran itu keluar dari lisanmu atau keluar dari lisan orang lain.

b.   Membicarakan masalah tersebut dalam keadaan sepi, lebih engkau senangi dari pada dikerumuni masyarakat.

Dengarkanlah, akan kujelaskan padamu suatu faedah, ketahuilah bahwa menanyakan perkara yang musykil (persoalan yang belum jelas) itu ibarat memeriksakan sakitnya hati kepada tabib, sedang menjawab permasalahan itu seperti usaha menyembuhkan penyakit. Ketahuilah, bahwa orang-orang bodoh yang sakit hatinya, dan para ulama’ yang menyembuhkan, orang alim yang belum sempurna yang tidak mau diobati, dan orang alim

yang sempurna itu tidak bisa mengobati setiap orang yang sakit, bahkan yang dapat disembuhkan yaitu orang yang mengharapkan menerima diobati dan diperbaiki.

Dan apabila keadaan penyakit itu lumpuh atau mandul yang tidak bisa diobati, maka dokter yang pandai pasti berkata: “Penyakit ini tidak bisa lagi diobati, Maka janganlah engkau bersusah payah mengobatinya. Sebab, hal itu akan menyia-nyiakan umur belaka.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker