Wahai anakku, intisari ilmu ialah engkau mengerti ta’at dan ibadah, apakah sebenarnya? Ketahuilah, bahwa keta’atan dan ibadah adalah mengikuti Asy Syari’ (pembuat syara’: Allah) dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Hendaklah setiap perkataan, perbuatan, dan apa saja yang kamu tinggalkan sesuai dengan hukum syara’. Misalnya, bila kamu melakukan puasa di hari raya atau hari tasyriq, maka itu berarti durhaka. Atau bila kamu melakukan shalat dengan memakai pakaian hasil rampokan, sekalipun itu ibadah tapi itu sudah merupakan bentuk perbuatan dosa.
Wahai anakku, ucapan dan perbuatan harus sesuai dengan syara’. Sebab ilmu pengetahuan tanpa mengikuti pembuat syara’ adalah sesat. Janganlah terkecoh dengan omongan tak bermakna, dan kebatilan kaum sufi. Sebab menempuh jalan ini (ilmu thariqah) adalah dengan melawan nafsu mematahkan dan mematikannya dengan latihan hati bukan dengan ucapan yang menggetarkan hati dan kebatilan-kebatilan.
Ketahuilah, lidah yang berucap dan hati yang bertutup oleh kelalaian dan nafsu yang rendah merupakan tanda-tanda kemalangan yang besar. Jika nafsu tidak kamu tundukkan dengan kesungguhan jihad, maka hatimu tidak akan bercahaya, ma’rifat kepada Allah.
Ketahuilah, bahwa sebagian pertanyaanmu yang engkau tanyakan tidak bisa dijawab dengan tulisan dan perkataan. Jika engkau sampai pada keadaan itu, engkau telah mengetahui hakikatnya. Namun bila engkau belum sampai pada keadaan tersebut, maka mengetahui hal itu adalah mustahil. Sebab, apa yang engkau tanyakan itu termasuk yang berhubungan dengan indra perasa, sedangkan hal-hal yang berhubungan dengan indra perasa ini tidak tepat bila disifati dengan perkataan. Misalnya manisnya gula dan pahitnya jamu, tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata. Rasa manis dan pahit itu hanya diketahui dengan mencoba memakan gula dan meminum jamu.
Dalam sebuah riwayat diceritakan ada seorang yang impoten. Pada suatu hari ia menulis surat kepada sahabatnya. Ia bertanya kepada sahabatnya dan minta diterangkan tentang lezatnya bersetubuh. Surat itu dibalas sahabatnya dengan jawaban: “Wahai sahabatku, semula aku menyangka engkau hanyalah seorang impoten saja. Sekarang barulah aku tahu, bahwa engkau adalah seorang impoten dan dungu. Kelezatan itu harus dirasakan. Jika engkau telah merasakan, barulah engkau mengetahuinya. Kalau tidak, maka hal itu tidak bisa dijawab dengan lisan dan tulisan”,
Wahai anakku, sebagian pertanyaanmu itu ada kaitannya dengan indra perasa. Pertanyaan yang tidak tepat dijawab dengan perkataan dan tulisan itu sudah saya buat dalam kitab “IHYA ULUMIDDIN” dan lainnya dari karangan-karanganku beserta penjelasannya, maka carilah di sana.
Dan di sini akan saya sebutkan sebagiannya saja, serta akan saya isyarat sebagai berikut: “Wajib atas orang yang akan menempuh jalan yang benar melakukan empat macam perkara:
1) itikad yang benar yang tidak dicampur dengan bid’ah
2) Taubat yang sungguh-sungguh, dengan mengunci mati semua kemungkinan kemaksiatan,
3) Meminta keridlaan dari semua lawan dan musuh, sehingga tidak ada lagi beban yang ditanggung terhadap hak-hak orang lain, dan
4) Mempelajari ilmu dunia dengan tujuan haknya untuk memperlancar perintah Allah, dan mempelajari ilmu akhirat yang dapat menyelamatkan dirimu dari mara bahaya dan siksa api neraka.
Asy Syibli berkata: “Saya telah berkhidmat kepada empat ratus orang guru, dan saya telah membaca empat ribu hadits Nabi, kemudian saya memilih satu buah hadits saja, hadits tersebut saya amalkan dan selain itu saya tinggalkan. Mengapa demikian? Ialah karena saya berpikir-pikir, kemudian saya dapati bahwa keselamatan saya adalah lantaran mengamalkan hadits tersebut Pengetahuan ulama dahulu dan sekarang sudah cukup di dalamnya. Oleh karena itu cukuplah bagi saya mengambil dan mengamalkan hadits tersebut.”
Hadits itu ialah bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda kepada sebagian sahabatnya demikian: “Beramallah untuk duniamu selama engkau tinggal di situ: dan beramallah untuk akhiratmu sebanyak masa tinggalmu. Beramallah bagi Allah sekedar kebutuhan padaNya, dan beramallah bagi neraka, sekedar kesabaranmu menghadapinya.”
Wahai anakku, setelah engkau mengerti hadits tersebut maka tak perlu bagimu mencari ilmu yang banyak. Perhatikanlah hikayat yang lain, yaitu bahwa Hatim Al Ashom; salah seorang murid dari Syaikh Syaqiq Al Balkhiy pada suatu hari ia ditanya oleh gurunya sebagai berikut: “Wahai Hatim, sudah tiga puluh tahun kita bersahabat. Apa yang telah kamu peroleh selama ini?”
Hatim menjawab: “Telah aku peroleh delapan ilmu pengetahuan yang sangat berfaidah. Inilah yang mencukupi diriku untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Aku berharap keselamatan dan kebahagiaan itu berada di dalamnya”. Syaqiq bertanya: “Apa itu, wahai sahabatku?” Maka Hatim menjawab:
Pertama, Aku melihat kepada manusia. Maka aku melihat setiap orang dari mereka mempunyai kekasih yang dicintainya. Sebagian dari kekasih itu ada yang menemaninya hingga saat menderita penyakit yang menyebabkan kematian. Sebagian lainnya ada yang menemaninya hingga sampai ke tepi kubur. Kemudian semuanya kembali dan meninggalkannya sendirian tidak ada yang ikut masuk bersamanya di dalam kuburnya.
Lantas saya berfikir dan berkata dala hati: “Sebaik-baik kekasih adalah yang mengikuti masuk ke dalam kubur dan memberi ketenangan di dalamnya. Hal itu tidak saya jumpai selain amal
perbuatan yang baik (amal shaleh).” Maka amal shaleh saya jadikan kekasih supaya menjadi pelita dalam kuburku, memberi ketenangan, dan tidak meninggalkan sang kekasih, kekasih ini yang akan menemani pada saat sakit hingga saya sendirian.
Kedua, Kulihat kebanyakan manusia hanya mengikuti dan memperturutkan kehendak nafsunya saja untuk memenuhi segala keinginannya. Maka saya memperhatikan firman Allah: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal (nya).” (An Naazi’at: 40-41)
Ketiga, Manusia suka mengumpulkan kesenangan duniawi, menahan, dan mencengkeramnya. Maka aku gantungkan pikiran dan hatiku pada firman Allah: “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (An Nahl: 96)
Oleh karena itu, aku segera keluarkan harta simpananku selama ini untuk mencari ridla Allah. Dan aku bagi-bagikan kepada orang-orang miskin, supaya harta itu kelak menjadi simpananku di sisi Allah.
Keempat, Sebagian orang merasa bangga, bahwa kemuliaannya terletak pada banyaknya golongan dan keluarga. Sebagian beranggapan bahwa kemuliaan itu terletak pada banyaknya harta dan anak, lalu mereka pun membanggakannya. Sebagian yang lain beranggapan bahwa kemuliaan dan ketinggian martabat berada dalam perilaku yang lazim, keserakahan, dan pertumpahan darah sesama manusia. Bahkan ada pula yang berkeyakinan bahwa kemuliaan dan ketinggian martabat terletak pada keborosan, pesta pora, dan menghambur-hamburkan harta benda. Maka saya berangan-angan dan merenungkan firman Allah SWT: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al- Hujurat:13)
Maka saya memilih takwa dan saya berkeyakinan bahwa Al-qur’an adalah betul, sedangkan dugaan mereka adalah salah dan akan lenyap.
Kelima, Saya melihat sebagian orang mencela sebagian yang lainnya. Mereka pun saling mempergunjingkan satu dengan lainnya pula. Hal yang demikian itu ternyata adalah sifat iri hati dalam harta, kedudukan, dan ilmu Maka aku berangan-angan dan memperhatikan firman Allah SWT: “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (Az Zukhruf: 32)
Maka saya mengerti bahwa pembagian kehidupan itu ketentuan dari Allah Ta’ala sejak zaman azaliy. Akhirnya saya tak mau hasud kepada seseorang, saya telah rela dengan pembagian kehidupan dari Allah SWT.
Keenam, Saya melihat manusia saling bermusuhan karena berbagai sebab dan tujuan. Maka saya renungkan firman Allah SWT: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu anggaplah ia musuh (mu).” (Faathir : 6)
Maka saya mengerti bahwa bermusuhan itu tidak diperbolehkan kecuali dengan syaitan.
Ketujuh, Banyak manusia yang bekerja keras memburu harta. Hingga mereka terjerumus pada perbuatan haram ataupun syubhat. Mereka telah menghinakan dirinya. saya berfikir dan memperhatikan firman Allah SWT: “Dan tidak ada suatu binatang melatapun dibumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya.” (Huud:6)
Maka mengertilah saya, bahwa rezki itu berada pada kekuasaan Allah Semata. Masalah rezeki, Dialah menanggung. Karena itu saya bangkit memelihara ibadah kepada-Nya dan saya buang jauh-jauh rasa loba dan tamak.









One Comment