Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Ayyuhal Walad

Ketahuilah bahwa sakit yang berupa kebodohan terbagi menjadi 4, salah satunya menerima diobati dan yang lainnya tidak bisa diobati, Sedangkan sakit bodoh yang tidak bisa diobati yaitu :

Pertama, Orang yang bertanya karena benci dan dengki, ketika pertanyaannya engkau jawab dengan jawaban yang baik, fasih dan jelas, justru hal itu semakin menambah benci, permusuhan dan kedengkian padamu. Maka cara yang terbaik yaitu tidak merepotkan dirimu dengan menjawabnya. Sungguh tepat perkataan Ulama’ : “Sungguh setiap permusuhan bisa diharapkan hilangnya, kecuali permusuhannya orang yang memusuhimu karena dengki”,

Maka sebaiknya kamu berpaling darinya, dan membiarkan dia dengan penyakit bodohnya, tidak perlu ditanggapi. Allah SWT berfirman: “Maka berpalinglah dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi.” (An Najm: 29)

Seorang yang banyak hasudnya itu, dalam segala perkataan dan perbuatannya selalu menyalakan api terhadap amal perbuatannya, seperti apa yang telah disabdakan oleh Nabi Saw. : “Hasud akan melahap amal kebajikan sebagaimana api melahap kayu bakar,”

Kedua, Jika penyakitnya hamagoh (kedunguan). Dia juga seperti orang yang berpenyakit hasud, dalam pengertian ini tidak dapat diobati. Sebagaimana yang telah diterangkan oleh Nabi Isa a.s “Sesungguhnya bukannya aku tidak mampu menghidupkan orang yang telah mati. Tetapi aku tidak mampu mengobati orang yang dungu.”

Orang dungu adalah orang yang menuntut ilmu dalam waktu singkat dan belajar sedikit dari ilmu agli dan syar’iy. lalu dengan sebab kedunguannya ia bertanya pada seorang alim yang

agung yang menghabiskan umurnya dalam waktu yang lama untuk mempelajari ilmu-ilmu akal dan syari’at, dan orang dungu itu tidak tahu dan menyangka bahwa permasalahan yang musykil baginya juga musykil bagi seorang alim yang agung. Ketika ia tidak mengetahui tingkatannya, maka pertanyaan sebab kedunguannya, maka sebaiknya dirimu tidak merepotkan diri dengan menjawabnya.

Ketiga, Seorang yang bertanya karena meminta petunjuk, dan setiap ada ucapan orang alim yang tidak bisa difahami ia merasa karena sempitnya kefahamannya, kemudian ia bertanya untuk berfaedah pada dirinya, namun ia seorang yang sangat bodoh yang tidak mampu memahami hakikat suatu masalah. Maka sebaiknya kamu tidak merepotkan diri dengan menjawabnya sebagaimana sabda Nabi : “Kami golongan para Nabi, dianjurkan berbicara kepada manusia, menurut kadar akal mereka.”

Adapun penyakit yang bisa diobati, adalah mereka yang meminta petunjuk, berakal dan mengerti. Mereka tidak dikuasai oleh sifat dengki, marah, cinta syahwat, kedudukan dan harta. Ia mencari jalan yang lurus, pertanyaan serta sanggahannya tidak timbul karena dengki. Atau hanya ingin sekedar menjajahi saja. Untuk itu, jawablah pertanyaan-pertanyaan dari mereka.

Sebagian yang harus engkau tinggalkan yaitu takut sebagai wa’izh dan mudzakkir (orang yang memberi pitutur dan mengingatkan perkara akhirot) Berhati-hatilah dan jagalah dirimu! Sebab apa? karena bahayanya sangat banyak. Kecuali bila engkau telah mengamalkan apa yang engkau katakan lebih dahulu, kemudian engkau nasihati orang-orang dengannya.

Renungkanlah dan pikirlah apa yang telah dikatakan oleh Nabi Isa s.a putra Maryam : “Hai putra Maryam nasihatilah dirimu. Jika engkau menerima nasihat, maka nasihatilah mereka. Bila tidak, maka malulah pada Tuhanmu”.

Bila engkau terpaksa jadi penasihat, maka berhati-hatilah terhadap dua hal ini:

Pertama, Takalluf (mempersulit dan melakukan hal yang tidak perlu) di dalam ucapan dengan ungkapan, isyaroh, penghias kata, baitbait dan syair-syair, karena Allah benci dengan orang yang takalluf.

Orang takalluf yang melampaui batas menunjukkan kekosongan batin dan lupanya hati. Sedang maknanya tadzkir yaitu orang yang mengingatkan neraka, kecerobohan (sembrono)nya diri dalam mengabdi pada Allah, memikirkan umur yang berlalu hanya untuk perkara yang tidak berguna, memikirkan banyaknya ‘agobah (jalan terjal dan sulit) yang berupa tidak selamatnya iman di akhir hidup, keadaan diri ketika malaikat maut mencabut roh, dan apakah mampu menjawab pertanyaan malaikat mungkar dan nakir, memperihatinkan diri di hari qiyamat dan padang mahsyarnya, apakah bisa melewati shirothol mustagim dalam keadaan selamat atau justru terjatuh pada jurang neraka, selalu mengingat hal-hal tersebut dalam hatinya, kemudian mendidihnya neraka dan memilukannya musibah-musibah tersebut, semuanya dinamakan tadzkir.

Memberitahu manusia pada hal-hal tersebut/masalah akhirat, mengingatkan mereka akan kecerobohan diri dalam mengabdi kepada Allah, memperlihatkan celanya diri yang bisa menyebabkan tersentuh api neraka serta memprihatinkan musibah-musibah akhirat supaya bisa menyusuli umur yang telah lewat sesuai kemampuan, merasa kesalahan hatinya atas hari-hari yang telah berlalu yang tidak untuk taat untuk Allah, semua itu dinamakan wa’zhu. Dalam melakukan wa’zhu tidak boleh takalluf dalam ucapan, hal ini seperti kamu melihat banjir yang melanda rumah yang pemilik dan keluarganya ada di dalamnya, maka kamu mengatakan : “Bahaya ! bahaya ! Larilah kalian dari banjir”. Apakah dalam situasi seperti ini hatimu ingin memberi kabar dengan takalluf dalam ucapan, faidah dan isyaroh.

Kedua : Apabila tujuanmu dalam memberi mau’izhoh tidak untuk membuat benci manusia pada majlismu atau supaya mereka menampakkan rasa senang, supaya diucapkan padamu : “Sebaik-baiknya majlis adalah tempat ini”.

Karena tujuan seperti itu termasuk condongnya hati pada dunia yang penyebabnya adalah lupa dari Allah. Bahkan seharusnya dalam memberi nasehat engkau menyengaja dan bertujuan mengajak manusia-manusia (dari hanya)

Memikirkan dunia pada masalah akhirat, dari maksiat pada taat, dari lupa pada sadar, dari terbujuk pada takwa, dan membuat mereka senang pada masalah akhirat serta mendidik

mereka ilmu ibadah dan taat dan tidak membuat mereka terbujuk dengan sifat karoh dan rohmatnya Allah (pemurah dan asihnya Allah), karena kebanyakan wataknya manusia itu mengajak menyimpang dari jalan yang telah digariskan syari’at, dan melakukan perbuatan yang tidak diridhoi Allah, serta terpeleset dengan melakukan akhlag yang tidak terpuji. Maka karena itu tancapkanlah pada hati mereka serta ingatkan dan buatlah mereka takut akan kekhawatiran masa-masa di akhirat dengan barapan semoga hatinya berubah, amal zhohirnya berganti dengan yang baik, sehingga mereka menampakkan senang dan cinta mengabdi pada Allah dan tidak mengulangi melakukan ma’siat.

Semua yang telah disebutkan merupakan metodhe memberikan mau’izhoh dan nasehat. Setiap mau’izhoh yang dilakukan oleh seorang yang tidak disertai tujuan seperti di atas justru akan menjadi malapetaka bagi yang berkata dan yang mendengar, bahkan dikatakan oleh sebagian Ulama’ : “Hal itu seperti hantu dan setan yang mengajak manusia menyimpang dari jalan yang benar dan merusak manusia”,

Maka wajib bagi orang yang mendengar lari darinya karena akan menimbulkan kerusakan pada agama orang-orang yang mendengar yang tidak bisa ditandingi oleh setan. Barang siapa yang memiliki kemampuan dan kekuasaan wajib menurunkan dari mimbar mau’izhoh karena hal itu termasuk bagian dari amal makruf nahi mungkar.

Sebagian dari perkara yang harus ditinggalkan yaitu apabila dirimu tidak mukholathoh (bergaul erat) dengan para pejabat dan penguasa dan tidak melihatnya, karena melihat, berkawan duduk dan bergaul erat dengan mereka terdapat bahaya yang sangat besar.

Jika dirimu terpaksa harus bergaul dengan mereka, maka tinggalkanlah kebiasaan memuji dan menyanjung mereka. Allah tidak ridla jika orang-orang fasik dan zalim dipuji dan disanjung namanya. Termasuk mendoakan mereka agar lama kekuasaannya. Barangsiapa mendoakan lamanya berkuasa kepada mereka berarti ia senang dan suka terhadap perbuatan maksiat kepada Allah SWT dimuka bumi ini.

Jauhilah hadiah-hadiah dan pemberian yang diberikan para penguasa dan pejabat, sekalipun dirimu  mengetahui  bahwa  pemberian  itu  berasal  dari  sumber  yang  halal.  Hidup  yang

bergantung pada uluran tangan penguasa, berarti merusak agama. Dan hal itu bisa menimbulkan sikap menjilat, mengutamakan dan menyetujui kedzaliman mereka. Bila engkau menerima pemberian mereka, dan mengambil manfaat darinya, maka engkau pun akan mencintainya. Mencintai seseorang tentulah mengharapkan umur panjang.

Dalam rasa senang dan langsungnya orang zalim, berarti juga menghendaki kezaliman terhadap sekalian hamba-hamba Allah dan menghendaki kehancuran alam.

Maka perbuatan yang lebih membahayakan agama lebih menjadi bencana selain dari perbuatan ini? Semoga kita dianugerahi keselamatan dunia dan akhirat. Berhati-hatilah! Jangan sampai kamu terpedaya bujuk rayu setan dan perkataan orang yang akan mengajakmu untuk mengambil harta benda dari tangan penguasa.

Para penguasa umumnya menghambur-hamburkan hartanya hanya untuk perbuatan maksiat dan kedurhakaan. Daripada bergaul dengan penguasa, lebih baik kamu bergaul dengan fakir miskin. Pola hidup yang dipakai oleh fakir miskin lebih baik daripada pola hidup penguasa. Hati-hatilah! Setan yang terkutuk telah banyak menebas batang leher manusia dengan bujuk rayu dan bisikan yang menggairahkan. Setan mengajak kita untuk mendambakan para penguasa.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker