Ikhlas
أَخْلِصْ وَذَا أَنْ لَا تُرِيْدَ بِطَاعَةٍ ۞ إلَّا التَّقَرُّبَ مِنْ إِلَهِكَ ذِي الْكَلَا
ikhlaslah , dan ikhlas adalah hendaknya engakau tidak mengharpkan dengan taat kecuali mendekat kepada tuhanmu yang memiliki padang rumput
لَا تَقْصِدَنْ مَعَهُ إِلَى غَرَضِ الدُّنَا ۞ كَثَنَائِهِمْ أَوْ نَحْوِ ذَاكَ تَوَصُّلَا
jangan engkau tuju bersamanya pada tujuan dunia, seperti pujian manusia atau sepadannya
وَاحْذَرْ رِيَاءً مُحْبِطاً لِعِبَادَةٍ ۞ فَانْظُرْ إِلَى نَظْرِ العَلِيْمِ فَتَكْمُلَا
dan hindarilah riya yang menghilangkan ibada, maka lihatlah pada pandangan orang yang pintar maka kau akan sempurna
لَا تُظْهِرَنَّ فَضِيْلَةً كَي تُعْتَقَدَ ۞ لَا تُبْرِزَنَّ لِيُنْكِرُوْكَ رَذَائِلاَ
jangan engkau perlihatkan keutamaan agar engkau di anggap, jangan engkau perlihatkan kejelekan agar manusia menginkarimu
إِيْمَانُ مَرْءٍ لَا يَكُوْنُ تَكَامَلاَ ۞ حَتَّى يَرَى نَاساً بِإِبْلٍ مُثِّلَا
iman seorang tidak sempurna sampai ia melihat manusia sama dengan unta
فَيَكُوْنُ مَدْحُهُمْ وَذَمُّهُمْ سَوَى ۞ لَمْ يَخْشَ لَوْمَةَ لَائِمٍ فِي ذِي الْعُلَا
maka pujian dan hinaan mereka sama, tidak takut hinaan orang yang menghina dalam (menuju) tuhan yang melikiki keluhuran
عَمَلٌ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ تَرْكُهُ ۞ لِلنَّاسِ ذَاكَ هُوَ الرِّيَاءُ سَبَهْلَلاَ
amal karena manusia adalah syirik, dan menignggalkan amal karena manusia adalah riya
لَا تَطْلُبَنْ عِنْدَ المُهَيْمِنِ مَنْزِلاً ۞ إِنْ كُنْتَ تَطْلُبُ عِنْدَ نَاسٍ مَنْزِلاً
jangan engkau cari kedudukan di sisi tuhan yang kuasa, jika engak mencari kedudukan di sisi manusia
Menyendiri
لَا تَصْحَبَنْ مَنْ كَانَ أَهْلَ بَطَالَةٍ ۞ وَتَسَاهُلٍ فِي الدِّيْنِ ذَاكَ هُوَ البَلاَ
jangan engkau menemani orang yang biasa pengangguran dan meremehkan agama, hal tersebut adalah cobaan
وَالعُزْلَةُ الأَوْلَى إِذَا فَسَدَ الزَّمَنُ ۞ أَوْ خَافَ مِنْ فِتَنٍ بِدِيْنٍ مُبْتَلَا
dan uzlah itu baik jika zaman sudah rusak, atau takut fitnah akan agama
وَكَذَا إِذَا خَافَ الْوُقُوْعَ بِشُبْهَةٍ ۞ أَوْ فِي حَرَامٍ أَوْ لِذَاكَ مُمَاثِلاً
begitu juga jika ia takut terjerumus dalam syubhat atau dalam haram, atau yang menyamia hal tersebut
وَالاخْتِلَاط بِنَاسِناً فِي جُمْعِهِمْ ۞ وَجَمَاعَةٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ فُضِّلاَ
dan berkumpul dengan manusa dalam perkumpulan mereka dan dalam sholat jamaat atau sesamanya itu diutamakan
هَذَا لِمَنْ بِالْعُرْفِ يَقْدِرُ يَأْمُرُ ۞ وَعَنِ الْمَنَاكِرِ قَدْ نَهَى مُتَحَمِّلاً
ini bagi orang yang mampu amar makruf dan nahi munkar
صَبْراً عَلَى كُلِّ الأَذَى لَا يَغْلِبُ ۞ فِي ظَنِّهِ عِصْيَانُهُ بِمَحَافِلاً
sabar terhadap setiap penganiayaan, tidak bermaksian dalam perkumpulan
لَكِنْ يَقُوْلُ الْبَعْضُ مِنْ مُتَأَخِّري الْـ ۞ ـفُضَلَاءِ عُزْلَةُ ذِي الزَّمَانِ مُفَضَّلاً
tetapi sebagian ulama akhir berkata: uzlah pada zaman ini di utamakan
إذْ نَادِرٌ حَقًّا خُلُوُّ مَحَافِلٍ ۞ عَنْ حَوْبَةٍ فَانْظُرْ لِنَفْسِكَ عَاقِلاً
karena jarang sekali perkumpulan sunyi dari kemaksiatan, maka lihatlah dirimu seraya berakal
كُلُّ المَعَاصِي كَالرِّبَا وَكَغِيْبَةٍ ۞ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ بِاخْتِلَاطِكَ حُصِّلَا
setiap maksiat seperti riba dan ghibah atau sesamanya dapat dihasilkan sebeb perkumpulan









One Comment