BAB V:YANG KE LIMA MENERANGKAN TENTANG DZIKIR DAN ATSARNYA DI DALAM PENDIDIKAN ROHANI
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ketahuilah olehmu, bahwa thoregat Guru kita r.a. adalah thoregat dzikir saja, dan bukan thoregat lain.
Thoregat dzikir itu terdiri dari dzikir dengan lidah dan dzikir dengan hati.
Dengan dzikir itu, tercapai kemenangan, tercapai permohonan dan tercapai segala apa yang dikehendaki.
Dzikir itu daripada Allah dan kembali kepada Allah dan bersama dengan Allah segala sesuatu yang dihadapi.
Apabila ada kemauan tentang urusan kamu ke sesuatu yang lain, membawa lupa kepada Allah SWT, tinggalkan hal itu dan cepat kembali berdzikir, karena disitu terdapat asma yang menjulang sampai ke langit.
Hatimu bersih beserta Tuhanmu dan Tuhanmu beserta engkau, tidak jauh daripadamu, Ia mendekati engkau dan mengenal engkau.
Barang siapa mengenal Allah, ia akan mengenal hikmah. Allah berfirman di dalam Al-Qur’an :
“Kami ini tidaklah menghilangkan pahala orang yang berbuat baik sesuatu amal”
Tuan Syeikh melihat, bahwa wirid dan hijab baru dibuka kepada seseorang, daripada pancaran bekas dzikir mereka terhadap Allah.
Terlebih utama hendaklah murid-murid itu melakukan suluk kepada Allah melalui dzikirnya yang khusus, karena akarnya kukuh di bumi dan cabangnya di langit.
Kemudian, sampailah dzikir itu yang diatur secara perseorangan dengan kaifiat dan bilangan-bilangan yang sudah ditentukan dalam Thoregat Sufi. Di sana ada juga dzikir jama’ah (bersama-sama) pada waktu-waktu yang tertentu dan dzikir semacam ini lebih kuat berbekas, lebih kuat bekasnya dalam menyingkap hijab dari hati yang gilaukan oleh sendiri-sendiri.
Dalam dzikir jama’ah, tiap-tiap orang yang berdzikir, dzikirnya itu kembali untuk dirinya, serta orang yang mendengarkan dzikirnya itupun mendapat pahala. Bukankah Allah SWT, telah memerintahkan hambaNya dengan bertolong-tolong atas kebajikan dan tagwa ? :
Dzikir jama’ah itu termasuk dalam lingkaran ini, yang dimaksudkan bahwa dzikir kepada Allah Ta’ala dan mengingatnya, sehingga seorang Mukmin dapat menjauhkan dirinya daripada ghoflah (kealpaan) daripada Allah Ta’ala, karena ghoflah itu dapat membawa manusia kepada maksiat, dan dengan dzikir itu dapat memberikan bantuan untuk meninggalkan maksiat itu.
Adapun arti Tasawwuf, akan membawa manusia-manusia untuk membersihkan hatinya daripada sifat-sifat kerendahan, dan mengisinya dengan segala keutamaan. Dan tatkala itu beryakinlah hatinya dengan NUR ALLAH yang suci, sehingga orang itu tunduk kepada Allah. Maka kemudian ia mengutamakan INGAT pada ALLAH daripada mengikuti hawa nafsunya dan dari segala sesuatu selain Allah, karena bahwasanya Allah Ta’ala Yang Maha Agung dan Perkasa adalah suatu sesembahan yang dicari, digemari dan dicintai. DaripadaNyalah kita terjadi dan kepadaNyalah kita kembali pulang sebagai kesudahan kita.
Allah SWT menjadikan dunia ini sebagai tempat pengamalan segala perintah dan menjauhi segala larangan, sedang Ia menjadikan akhirat, tempat hasil bekas amalnya yang mencapai kemuliaan dan keagungan.
Tidak sekali-kali diberatkan hidup kita di dunia ini melainkan kita harus menyatakan seseorang diri dengan penuh . tanggung jawab, berani mengendalikan (mujahadah) dhohir dan bathin agar dapat membedakan di dunia ini (dengan adanya mujahadah itu) apa yang keji daripada apa yang baik. “
Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman : (O.S. Az Zalzalah : 7 – 8).
“Barang siapa beramal sebesar biji sawi sesuatu kebajikan, akan dilihat dan ditimbang. Dan barang siapa beramal sebesar biji sawi akan sesuatu kejahatan, ia pasti melihat balasannya”
Adapun Tuhan SWT, maka Ia tidak memerlukan bantuan dari yang lain. Tidak kembali bagiNya manfa’at dari orang yang berbuat ta’at dan tidak pula menjadi madarat baginya dari orang yang berbuat maksiat. Manfa’at dan madarat itu kembali kepada hamba sekaliannya.
Dan diadakan percobaan untuk menguji orang yang mukmin, bahwa baginya ada nafsu-ammarah bissu’ (nafsu yang membawa jahat) yang dapat menggerakkan syahwat yang ada pada tabi’atnya yang sangat menawan dia, tetapi Allah menyuruhnya menahan diri dari padanya dan takut berbuat yang tidak baik itu.
Maka dalam perjalanannya ia berada dalam perjalanan yang sulit. Apabila ia menyukai mengikuti syahwat nafsunya maka ia membuat amarah Tuhannya dan apabila ia menyukai perintah Tuhannya, niscaya ia membuat benci kepada nafsunya. Tak ada pilihan yang ketiga baginya daripada ini untuk bisa memilih selainnya.
Selama illat-illat (penyakit hati) itu tidak kelihatan dengan mata tetapi dapat ditangkap dengan hati —tidak dapat tidak—harus ada Nur yang tersembunyi daripada penglihatan mata dan dapat ditangkap dengan hati, untuk menandingi illat-illar tersebut, maka keluarlah mereka yang berbuat dan menuruti syahwat dari gelap-gulita kepada Nur yang terang-benderang dengan izin Tuhannya. ‘ Dan sudah ditunjukkan latihan-latihan amaliyah yang sudah diamalkan oleh tuan-tuan Syeikh Arifin, bahwa dzikrullah itu dapat menghasilkan cahaya Nur dan keistimewaankeistimewaan dan rahasia-rahasia yang dapat menyembuhkan penyakit hati kaum mu’min.
Hal ini adalah berdasarkan atas firman Allah Ta’ala (O.S. Al-Bagoroh 152) :
“Sebutlah akan daku, niscaya aku menyebut pula dirimu. Apabila engkau mengingat dan menyebut Tuhan, terbukalah padamu tutup kealpaan, maka engkau lalu menjadi orang yang berdzikir sesungguhnya, ” : dan yang bersyukur sesungguhnya”
Dalam Al-Qur’an, Tuhan memperingatkan :
“Bersyukurlah kamu kepadaKu dan janganlah engkau kufur kepadaKu”
“Dan dengan demikian, engkau beroleh rahmat yang berlimpah-limpah dan penuh keberkahan, terjauhkan engkau daripada kejahatan, dan bertambah-tambah banyaklah pahala yang dianugrahkan Tuhan kepadamu seperti firmanNya : (O.S. Al-Ahzab 35): . .
“Adapun orang laki-laki yang banyak dzikir kepada Allah, begitu juga orang-orang wanita, disediakan Allah baginya ampunan dan pahala yang besar”
Jangan kamu lupa bahwa Allah itu memberi ra ‘rif (definisi) terhadap mereka yang mempunyai hati. Ia memberikan kepada mereka yang hatinya mengingat Allah sambil berdiri, sambil duduk, sambil berbaring dan sebagainya.
Ulama-ulama yang ‘arif berkata bahwa rizki Tuhan yang dhohir yang dikaruniakan buat manusia, ialah bahwa manusia itu harus menggerakkan badan jasmaninya, tetapi rizki yang bathin jalah dengan menggerakkan hatinya manusia itu. Al-Qur’an menyatakan: “Bahwasanya dzikir itu adalah obat untuk mengobati hati dan jalan untuk menenangkan hati”.
Maka Allah Ta’ala berfirman : (O.S. Al-Ra’du 28) :
“Bahwa mereka yang beriman dan tenang hatinya, adalah dengan mengingat Allah. Bukankah dengan mengingat Allah Ta’ala itu dapat menenangkan hati ?”
Karena sesungguhnya maksud daripada dzikir itu ialah kekal hadir hati dengan Allah Ta’ala, maka lalu ja mengadakan sholat dan sholatnya itupun berisi dzikir, mengeluarkan zakat pun dzikir, berpuasa dzikir, haji dzikir, belajar ilmu figih untuk agama dzikir, memberi fatwa dalam hukum Tuhan dzikir, membaca Qur’an itupun dzikir, bersalawat kepada Nabi SAW juga dzikir, dan amar ma’ruf nahi munkar tidak lain daripada dzikir dan sebagainya. :
Adapun amal ibadat itu bermacam-macam, tetapi yang diingat didalamnya adalah satu : “Allah SWT” Tidak ada yang diperintahkan Allah segala amal ibadat dan ta’at, kecuali untuk berdzikir kepadaNya.
Adapun kita ini apabila kita katakan bahwa segala tuantuan Syeikh yang arif dan mengenal Tuhan, mendidik muridmuridnya dengan thoregat-dzikir, sekali-kali tidaklah kita maksudkan bahwa tuan-tuan Syeikh itu melarang untuk mengajarkan lain-lain ibadat selain dzikir, tetapi yang kita maksud, bahwasanya tuan-tuan Syeikh itu membersihkan ruh pada sisi Allah secara Sufi, dalam berdzikir secara berjama’ah dan secara sendiri-sendiri. Dan yang demikian itu terjadi di samping ibadat yang diperintahkan Tuhan secara fardhu dan secara sunat dan secara mandut mandut, karena yang demikian itu asa yang kuat dapat memupuk segala kesempurnaan pendidikan rohani.
Dan tidaklah syak-wasangka lagi bawa orang yang berdzikir terhadap Allah, ia menempuh jalan sufi ini, seperti ditunjukkan oleh latihan amaliyah yang sahih, ia merasakan daripada kemanisan ibadat dan ta’at, apa yang tidak dirasakan oleh seseorang yang acapkali lupa kepada Allah pada kebanyakan waktunya, sebagaimana bahwa orang yang berdzikir itu merasakan makna-makna Qur’an yang mulia dan Sunnah yang suci yang tidak pernah juga dirasakan oleh orang-orang lainnya.
Adapun Ulama-ulama Sufi yang terkemuka, membiasakan murid-muridnya pertama-tama dengan berdzikir dengan lidah yang meningkat secara teratur daripada dzikir hati, dengan cara disengajakan kemudian membawa kepada dzikir hati, secara kebiasaan, kemudian kepada dzikir Sirri. Dan tanda-tanda dzikir Sirri itu adalah bahwa apabila kamu meninggalkan ucapan dzikir, maka dzikir Sirri itu tidak akan meninggalkanmu, bahwa dzikir Sirri itu sendiri menyampaikan kamu dari ghoibah kepada hudur.
Dan berkatalah tuan hamba Syekh Ibn Athoilah As Sakandari r.a.: “Setengah daripada alamatnya bahwa tidak padam apinya dan tentu tidak hilang Nurnya.”
Adapun Syeikh yang arif membantu muridnya yang sedang dalam keadaan salik untuk menundukkan hawanya dan mengalahkan nafsunya, di antara lain bahwa nafsu itu pada awal martabatnya, adalah ia nafsu yang mendorong pada kejahatan, kebanyakan perintah nafsu itu kepada kesenangan pribadi dan syahwat nalurinya.
Maka dzikir itu menerangi nafsu amarah yang lebih terang sebagaimana sebuah pelita menerangi sebuah kamar yang gelap, kemudian meningkatkan dari pada jihad jahat kepada jiwa yang lunak.
Maka pada waktu itu menyesallah seseorang dalam melakukan dosa dan berkehendak memperbaiki tingkahnya dalam hubungan beribadat kepada Tuhannya. Ia tidak rela untuk berada lagi dalam kelupaan dan kemaksiatan, ia bertobat dan minta ampun dan mendekati petunjuk Tuhannya.
Apabila orang itu bersungguh-sungguh dalam melakukan suluknya dan mengikuti petunjuk-petunjuk yang bijaksana daripada Syeikhnya, sedang mereka selalu dalam dzikir kepada Tuhannya, lenyaplah dari hatinya itu dengan kekuatan dzikir kegelapan yang melupakan dan kemaksiatan, sedikit demi sedikit. Nafsu terlepas daripada segala sifat kerendahan dan terisi dengan segala sifat-sifat keutamaan, lalu dapatlah ia mencapai “Anwarul Haq”, Nur yang penuh dengan kebenaran tetap pada Tuhan. Lalu tenanglah ia sujud kepada Tuhannya dan tetap pada Tuhannya. Ia cinta kepada Tuhan dan Tuhan cinta kepadanya
Maka nyatalah bagi kita daripada apa yang sudah disebutkan terdahulu, bahwa dzikrullah itu dapat mengangkat seorang hamba yang mu’min “dari bumi syahwat ke langit ma’rifat. Inilah pula apa yang pernah diucapkan oleh Tuanku Syeikh yang arif mengenal Tuhan kepada murid-muridnya, dalam Suatu ucapan yang indah: “Dalam asma’ yang tertinggi, orang dapat meningkat ke langit (mencapai martabat yang tinggi)”.
Kemudian Syeikh r.a. berkata setelah itu: “Hatimu sekarang bersama Tuhanmu dan Tuhanmu bersama engkau, tidak jauh dari engkau, Ia mendekatkan engkau kepadaNya, dan mengenalkan engkau denganNya”.
Adapun yang disebut dengan dzikir, artinya apa yang pernah diterangkan dalam sebuah Hadiths yang sahih, yang diriwayatkan oleh Bukhari, dengan sanadnya daripada Nabi SAW bahwa ia berkata : “Firman Allah Ta’ala : “Aku ini sebagaimana yang disangka oleh hambaKu dengan Daku, dan Aku bersama dia apabila ia ingat kepadaKu, apabila ia ingat kepadaKu dalam dirinya, Aku pun ingat untuknya dalam diriKu, dan apabila ia ingat kepadaKu dalam ruang yang luas, aku pun ingat untuknya dalam ruang yang lebih baik daripadanya”.
Adapun kejauhan seorang hamba dari Tuhannya dan kedekatannya, bukanlah berarti kejauhan jangka dan jarak, tetapi sesungguhnya kejauhan itu semata-mata karena lupa hati terhadap Allah dan kedekatan itu adalah sebab hadirnya hati bersama Allah.
Kejauhan itu adalah hijab (tertutup) dan
Kedekatan itu yaitu terbuka hijabnya (kasyaf)
Hijab itu gelap dan Kasyaaf itu Nur
Gelap itu jahil dan Nur itu Ma’rifat
Dan ukuran Ma’rifat orang mu’min tidak lain daripada berhubungan dengan Tuhan. Tidaklah perhubungan itu dimaksudkan perhubungan zat dengan zat Allah Maha Tinggi Allah daripada kedekatan yang demikian.
Adapun hubungan itu, dengan hubungan iman dengan Allah dan yakin di dalamnya, cinta bagiNya memegang sungguhsungguh padanya dan tunduk padaNya, hadir hati bersamaNya dan menuntut keridhaan serta kemurahan bukan daripada selain Tuhan Yang Maha Suci, tidak ada Tuhan melainkan Dialah yang hidup dan menciptakan.
Maka berkatalah Tuanku Abu Sa’id Al-Harraz r.a.: “Apabila Allah Ta’ala akan mengangkat seorang hambanya menjadi Wali daripada hamba-hambanya yang lain, ia membuka kepadanya pintu dzikir, maka apabila ia merasa lezat berdzikir, dibuka kepadanya “Babul Qurb”, kemudian diangkatkan ke “Majlisul Uns” (tenang bathin), kemudian ditempatkan dia di atas kursi tauhid, kemudian diangkat daripadanya hijab (penutup) dan lalu dimasukkan dia ke dalam “darul fardaniyyah” dan dibukakanlah kepadanya “hijabul jalali wal ‘uzmati”.
Apabila jatuh pandangannya kepada jalal dan uzmah kekallah ia berpandangan dengan tidak ada lagi, hanya Huwa (dia) Allah, maka tatkala itu pandangan seorang hamba berada dalam masa fana. Maka kuatlah dalam pemeliharaannya dan selamatlah ia daripada ajakan nafsunya.
Aku sebutkan akan pandangannya yang tertulis dalam. Kitab dan Sunnah. Ia melihat bahwa keduanya garis pokok daripada harus adanya Dzikir, bahwa dzikir yang banyak itu dengan lisan dan dengan hati.
Dzikir lisan akan menyampaikan dan menolongnya kepada @zikir hati.
Dan berkatalah Tuanku Abulhasan Asy-Syagzili r.a.: Biji sawi dan amal hati, sama besarnya, laksana gunung daripada amal anggota.
Hendaklah murid-murid itu merasa takut daripada gerakan syaitan, karena ia menutup manusia daripada berdzikir, membikin was-was hingga melindih dalam hatinya, bahwa kamu berdzikir dengan lidahmu tetapi tidak ada hudur dalam bathinmu. Apakah faedahnya dzikir semacam ini ?
Dzikir semacam ini meskipun diucapkan seperti tidak ada apa-apa, tidak ada berfaedah, tidak ada buah dan akibatnya, jauhkan dirimu daripadanya (was-was tersebut).
Hendaklah murid-murid mengerti bahwa ghoflah dengan meninggalkan dzikir itu, lebih jelek daripada ghoflah di dalam berdzikir.
Dan apabila ia berkehendak mengusahakan hudur, hendaklah ia duduk bersama Syeikh-nya, dan ikhwannya yang sungguh-sungguh, yang telah memperoleh uns (tenteram bathin) dalam menempuh jalan kepada Allah.
Sesungguhnya roh itu mempengaruhi setengahnya kepada setengah yang lain, sebagaimana saya dengar yang demikian itu daripada Tuanku Syeikh sendiri, dan telah kudapati kebenarannya keterangan Tuan Syeikh itu dengan latihan amal yang menunjukan bahwa kelupaan selalu ada pada orang yang pelupa, dan hudur selalu ada pada orang yang ahli hudur.
Adapun dzikir kepada Allah yang khusus, dikehendaki dengan dzikir kepada Tuhan itu dengan dzikir lidah dan hati secara ramai-ramai (berjama’ah) dan secara perorangan, yakni dzikir keras (jahar) dan dzikir khofi.
Yang demikian itu adalah keutamaan amal dan hasilnya dekat sekali sebagaimana yang telah dibuktikan oleh latihan amaliyah.
Adapun yang meneliti akan tajribah amaliyah, ialah orangorang sufi masa dan selalu silih berganti, supaya kebiasaan latihan Itu dapat diusahakan oleh seorang mu’ min menumbuhkan cinta kepada Allah akan cinta yang murni. Firman Allah dalam AlQur’an Surat Al-Bagarah ayat 165 :
“Dan mereka yang beriman itu sangatlah cinta kepada Allah”
Cinta kepada Allah, memberi bekas kepadanya lebih dari cintanya kepada yang selain Allah, sebagaimana bekas yang pernah didapati oleh Sahabat-sahabat Rasulullah SAW.
Segera Allah memberi bekas kepada mereka itu dalam bermacam-macam anugerah, diantaranya seperti firman Allah Ta’ala (QS. An-Nur : 36).
“Dalam rumah-rumah yang diizinkan Allah untuk dipergunakan dan menyebutkan akan namaNya, mempersucikan nama Tuhan dalam rumah suci, baik pagi maupun sore”
Dalam Kitab “Al-Fathur Robbani” karangan Penghulu kita Tuan Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani q.s.a ia berkata ” Wahai kaumku, jauhkanlah syaitanmu itu dengan ikhlas dengan mengucapkan : “LAA ILAAHA ILLALLAAH”, tidak hanya dengan dilisankan saja”.
Kemudian sabda Nabi SAW. :
“Jauhkan Syaitanmu itu dengan ucapan LAA ILAHA ILLALLAAH, MUHAMMADUR ROSULULLOH, karena syaitan itu kesakitan dengan ucapan kalimat tersebut, sebagaimana kesakitan unta salah seorang kamu sebab banyaknya penunggang dan banjirnya muatan di atasnya.
Dan sabda Nabi SAW. dalam sebuah Hadist yang masyhur :
“Tidak ada seorangpun yang sunyi berdampingan dengan Syaitan,” Kata sahabat : “Engkaupun tidak diiringi oleh Syaitan ya Rasulullah ?” Sabda Rasulullah : “Aku pun tidak sunyi dengan keadaan demikian, kecuali bahwa Allah Ta’ala Yang Maha Tinggi dan Agung menolong aku daripada keadaan sekarang, maka selamatlah aku”









One Comment