Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Miftahus Shudur

Kita datang kedunia tidak hanya untuk makan dan minum dan untuk melepaskan hawa nafsu yang cemar, sedang Nabimu mananti kedatanganmu ke alam baga dengan bermuram durja.

Nabi SAW bersabda :

Dukacita karena umatku yang pada akhir zaman akan terpecah-pecah menjadi 73 golongan.

Dari Abdullah bin Zaid, dari Abdullah bin Umar diterangkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda : “Bani Isra ‘il akan pecah dalam 71 golongan, Nasrani akan pecah dalam 72 golongan dan umatku akan pecah dalam 73 golongan. Semuanya masuk kedalam neraka , kecuali satu golongan. Orang bertanya : Manakah yang satu golongan itu?”. Rasulullah SAW berkata : “Ialah yang seperjalanan dengan daku dan sahabatku.”

Allah berfirman :

Ada diantara umat yang kami jadikan itu mendapat petunjuk sepanjang yang hak dan oleh karena itu mereka berbuat adil (QS. Al-A’raf : 181)

Tuhan berfirman pula :

Aku tidak jadikan jin dan manusia itu, kecuali untuk menyembah daku (QS. Az-Zurriyat : 56)

Maksud ayat ini, manusia dan jin itu dijadikan agar mereka menyembah Tuhan. Penyembahan ini dinamakan “ma’rifat”, dan ja dapat diperoleh hanya dengan terbuka hijab nafsunya dari cermin hati dengan segala kesuciannya. Maka orang yang dikarunia demikian itu melihat keindahan perbendaharaan yang tersembunyi dalam rahasia lubuk hatinya seperti yang pernah di firmankan Allah SWT. dalam sebuah Hadist-Oudsi :

Aku ini adalah perbendaharaan yang tersembunyi.

Aku ingin diketahui. Aku jadikan makhluk supaya

Aku diketahui dan dikenal

Dari Hadist jelas bahwa Allah menjadikan manusia untuk kepentingan ma’rifat, yaitu mengenal-Nya dengan sebaikbaiknya.

Mar’rifat itu ada 2 (dua) macam :

  1. Ma’rifarsifat Allah. – 2. Ma’rifat zat Allah.

Ma’rifat sifat merupakan keutamaan badan dalam dua negara, yaitu dunia dan akhirat. Sedangkan ma’rifat zat merupakan keutamaan roh yang suci di akhirat.

Tuhan berfirman :

Bahwa manusia-manusia itu pada hari kemudian akan melihat Tuhan (QS. Al-Oiyamah : 23)

Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW. selalu memperingatkan (menTalqinkan) Kalimat Thoyyibah kepada sahabatsahabatnya guna :

  1. Membersihkan hatinya :
  2. Membersihkan jiwanya :
  3. Menyatakan hubungan dengan Tuhannya :
  4. Mencapai kebahagiaan yang suci.

Sebuah hadist dari Ali bin Abi Thalib k.w. berbunyi : “Bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW. menceritakan . bahwa Jibril berkata demikian : Belum pernah aku turun membawa kalimat yang lebih agung dari kalimat LAA ILAAHA ILALALLAAH, karena dengan kalimat itulah tegaknya langit dan bumi, gunung dan tumbuh-tumbuhan, laut dan daratan. Itulah kalimat ikhlas, kalimat Islam, kalimat kedekatan dengan Tuhan, kalimat tagwa kalimat kemenangan, dan kalimat angkasaperkasa”.

Dalam hadist yang lain disebut : “itulah kalimat tauhid, itulah kalimat ikhlas, itulah kalimat tagwa, itulah kalimat thoyyibah, itulah kalimat da’watulhag, itulah kalimat urwatul wusgo dan itulah kalimat tsamma ‘ul jannah (harga dan pembeli syurga)”.

Bersabda pula Nabi Muhammad SAW :

Perbaharuilah iman kamu. Sahabat bertanya : “Bagaimana kami memperbaharui iman kami ya Rasulullah?” Jawab Nabi, dengan memperbanyak ucapan LAA ILAAHA ILLALLAAH.

Dan Nabi SAW. bersabda pula : “Barang siapa memperbanyak dzikrullah, ia terlepas dari munafig”.

Dan sabdanya pula : “Dzikrullah itu adalah ciri iman, kemerdekaan, membebaskan diri dari munafig, benteng pertahanan dari serangan syetan dan tameng dari panasnya api neraka”.

Tuhan berfirman :

Tidaklah kamu lihat Allah mengadakan kalimat thoyyibah seperti menegakkan pohon thoyyibah yang urat akarnya teguh dan cabangnya berkembang di langit, diberi(didatangi) makanan tiap waktu dengan izin Tuhannya. Demikian contoh yang diberikan Allah kepada manusia, agar mereka ingat (QS. Ibrahim : 24).

Penegakan ini Tuhan kurniakan kedalam hati hambahamba yang dicintai-Nya, dengan firman-Nya : “Ditetapkan Allah mereka yang beriman dengan kata-kata yang tetap dan tegak dalam kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim dan ia berbuat Sekehendaknya” (QS. Ibrahim 27).

Dengan fitrah ini hendaknya dijelaskan bahwa Allah menegakkan tauhid yang urat tunggangnya terhunjam di bumi yang ketujuh dan cabang-cabangnya di langit ‘arasy, kemudian ditaburkan bibit tauhid di atas tanah persemaian hati agar tumbuh dari dalam pohon tauhid yang urat tunggangnya di dalam angkasa rahasia dan berbuat tauhid untuk keridhaan Tuhan, sebagai tujuan amal shaleh, maka hiduplah hakikat insani yang dinamakan tiflul ma’ani (pengertian-pengertian yang pelik).

Maka firman Tuhan :

Kepadanya naik gubahan kata-kata yang indah, yakni LAA ILAAHA ILLALLAAH , dan kepadanya terangkat amal yang shaleh (QS. Al-Fathir : 10)

Dalam firman yang lainnya pula :

Barang siapa ingin berjumpa dengan Tuhannya hendaklah ia beramal shaleh dan tidak menyekutukan Tuhannya itu dengan apapun juga dalam ibadat penyembahannya. (QS. Al-Kahfi : 110)

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker