Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Miftahus Shudur

BAB II : DZIKIR JAHAR

Cara melakukan dzikir jahar (dzikir dengan suara yang keras) ialah bahwa orang yang berdzikir itu memulai dengan ucapan LAA dari bawah pusat dan diangkatnya sampai ke otak dalam kepala, sesudah iru diucapkan ILAAHA dari otak dengan menurunkanrnya perlahan-lahan bahu kanan. Lalu memulai lagi mengucapkan ILLALLAAH dari bahu kanan dengan menurunkan kepala kepada pangkal dada di sebelah kiri dan berkesudahan pada hati sanubari di bawah tulang rusuk lambung dengan menghernbuskan lapadz nama Allah sekuar mungkin sehingga terasa geraknya pada . seluruh badan seakanakan di seluruh bagian badan amal yang rusak itu terbakar dan memancarkan Nur Tuhan. Getaran itu meliputi seluruh bidang larifah sehingga dengan demikian tercapai makna tahlil yang artinya : “tidak ada yang dimaksudkan melainkan Allah ”. Kalimar nafi melenyapkan seluruh wujud sesuatu yang baru dari pada pandangan dan ibarat, lalu berubah menjadi pandangan fana dari kalimat isbar diregakkanlah dengan tegak dalam hari dan – kepada dzar yang Maha Besar, lalu memandang wujud dzat Allah dengan pandangan yang baga.

Setelah selesai dzikir dengan bilangan ganjil, dapatlah kita pada akhirnya membaca :

SAYYIDUNA MUHAMMADUR RASULULLAH

SHOLLALLOHU ‘ALAIHI WASALLAM

Diantara syarat-syaratnya, yaitu bahwa orang yang berdzikir itu :

  1. Dalam wadhu yang sempurna:
  2. Berdzikir dengan pukulan gema yang kuat ,
  3. Suara keras yang dapat menghasilkan NUR DZIKIR dalam rongga bathin mereka yang berdzikir, sehingga hati mereka itu hidup dengan Nur Hidup yang abadi yang bersifat keakhiratan, seperti firman Allah dalam Al-Qur’an :

Mereka tidak merasakan mati kecuali yang pertama dan terpelihara dari adzab neraka (QS. Ad-Dukhan:56)

Rasulullah SAW. berkata mengenai persoalan ini : “Orangorang yang mu min itu sebernarnya tidak mati, tetapi mereka berpindah dari daerah fana kepada kampung yang baga”.

Dan beliau bersabda pula : “Hendaklah engkau mencapai mati sebelum mati. Barang siapa yang ingin melihat mayat berjalan di atas muka bumi , hendaklah ia melihat kepada sahabat Abubakar r.a.”.

Nabi berkata pula : “Orang yang mu’min itu dengan Nurullah yang ia jadikan daripadanya.

Sayyidina Umar r.a. berkata : “Hariku melihat Tuhan dengan Nur Tuhan”.

Ru’yatullah atau melihat Tuhan itu tidak dapat dicapai didunia, tetapi yang dapat dicapai ialah melihar sifat Allah dalam kaca cermin hati.

Hati itu merupakan batu dan jika demikian tidak dapat dicapai apa-apa seperi firman Tuhan :

Kemudian maka keraslah hatimu, jadi batu atau lebih keras dari batu (QS. Al-Bagarah : 74)

Oleh karena itu sebagaimana batu tidak dapat dipecahkan dengan kekuatan luar biasa, maka demikian pula dzikir tidak akan berbekas pada seluruh kekusutan hati, kecuali dengan kekuatan yang luar biasa pula, yaitu dengan dzikir jahar.

Pada tempat lain Allah berfirman dalam kitab suci-Nya :

Kalau sekiranya mereka lurus di atas jalan yang benar, niscaya Kami turunkan kepada mereka air hujan yang lebat. (QS. Al-Jin : 16)

Maka berkatalah Syeikhul Kamil Ibrahim Al-Mathuli r.a. : “Angkatlah suaramu dikala engkau berdzikir sampai mencapai kumpulnya kekuatan bathin (Jam’iyat), seperti orang-orang Arifin. Jam’iyat itu kumpulnya fikiran dan perasaan “Tawajjuh” (menghadap Tuhan), selalu cenderung kepadaNya putus dari segala pikiran dan perasaan lainnya”.

Ulama-ulama sufi berkata : “Apabila murid-murid melakukan dzikir ucapan LAA ILAAHA ILLALLAAH dengan memusatkan perhatiannya yang bukan padanya, maka cepat terbuka segala tingkatan ajaran Thorekat, kadang-kadang terasa dalam tempo satu jam yang tidak dapat dihasilkan dengan ucapan kalimat lain dalam tempo satu bulan, atau lebih dari satu bulan”.

Berkata Syeikh Abdul Mawahib Asy-Syazili r.a. : “Ulamaulama berlainan pendapat tentang dzikir, katanya : “Manakah yang lebih utama, apakah dzikir jahar atau sir?” Disitu aku berkata : “Tentang dzikir jahar sangat utama agar menambahkan bulatnya tekad, teguhnya bathin tauhid kepada Allah, kuat dari segala pengaruh makhluk untuk tingkatan manusia yang baru belajar”.

Begitu pula tentang dzikir sir, memang itupun utama untuk manusia-manusia yang sudah mencapai tingkatan kuatnya tauhid kepada Allah SWT. dan teguhnya bathin dari segala godaan syetan dan bujukan nafsu.

Imam Bukhori r.a. berkata dalam kitab shahihnya dalam Bab Dzikir sesudah Shalat Fardhu : “Diceritakan dari Ishak bin Abdurrahman dari Jura’id dari Amir, bahwa Ma ‘bud Ibnu Abbas meriwayatkan” :

Bahwa mengangkat suara dalam dzikir dikala manusia sesudah selesai mengerjakan shalat fardhu, betul-betul terjadi dalam masa Nabi SAW.

Kemudian Ibnu Abbas r.a. berkata lagi : “Aku betul-betul mengetahui dan mendengarkan angkatan suara keras dalam dzikir itu”.

Syekh Ahmad Al-Kosasin r.a. menambahkan : “Keadaan ‘ini menjadi dalil kelebihan atau keutamaan mengeraskan ucapan dzikir, sehingga didengar oleh orang lain, yang dinamakan dzikir Jahar.

Nabi pernah bertanya kepada sahabat-sahabatnya : “Belum pernahkah kutunjukan kepadamu sesuatu perkara yang merupakan kebajikan di dunia dan akhirat ? Jawab mereka : “Belum”. Nabi berkata pula :

Hadirlah majelis dzikir jika engkau sendiri gerakkan lidahmu bersuara dengan berdzikirullah

Tuhan berfirman :

Sabarlah engkau bersama-sama orang yang menyeru mengingat kepada Tuhannya pagi dan petang dalam keadaan mereka menghendaki keridhaan Allah (QS. Al-Kahfi:28)

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker