BAB IV :KEWAJIBAN MENYEBUT SANNAD THOREKAT
Ketahuilah, bahwa barang siapa yang tidak mengenal ayah dan nenek moyangnya dalam Thoregat, ia ditolak, tidak diakui. Perkataannya merupakan suatu keterangan yang tidak diterima, bahkan ia dianggap bukan keturunan ayahnya, sehingga ia termasuk kedalam sabda Rasulullah SAW : .
Dilaknat oleh Allah barang siapa yang berketurunan tidak dari ayahnya.
Berkata Syekh Sya’rani r.a. dalam kitab Al-Anwarul Qudsiyah : “Telah sepakat Ulama-ulama Thorekat tentang wajibnya mengambil seorang manusia menjadi Syekhnya, yang memberi petunjuk kepadanya mengenai usaha menghilangkan segala sifat-sifat yang mencegah dia dekat kepada Tuhannya dengan hatinya, agar sah sholatnya. Perkara ini termasuk dalam pokok aturan hukum “Sesuatu yang tidak sempurna wajib melainkan dengan dia, maka sesuatu itu wajib hukumnya”. Sesuatu perkara yang tidak ragu-ragu bahwa mengobati penyakit bathin itu wajib hukumnya, sebagaimana yang tersebut keterangannya dalam banyak Hadits dan firman Tuhan, diantaranya seperti tersebut dibawah ini”.
Firman Allah swt.
Orang-orang yang kafir itu dalam hatinya ada penyakit. Allah menambah-nambah punya penyakit itu lagi, dan bagi mereka disediakan azab yang maha pedih karena kedustaannya (QS. Al-Baqarah : 10)
Dalam firman yang lain Allah SWT berfirman :
Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit (syak wasangka), maka bertambah kotor diatas kotorannya, serta mereka meninggal dunia dalam kekafirannya (QS. At-Taubah : 125)
Pada firman yang lain Allah SWT berfirman :
Oleh karena itu hapuslah dosa yang lahir maupun yang bathin
Maka ketahuilah olehmu, bahwa tiap-tiap orang yang tidak mempunyai Syekh (Mursyid) yang memberi petunjuk kepada jalan keluar dari sifat-sifat tersebut maka dia dianggap ma’siat bagi Allah dan Rasulnya, karena ia tidak dapat petunjuk mengenai jalan mengobatinya. Meskipun ia mengerjakan segala perkara yang bersifat taglief tidaklah bermanfa’at dengan tidak ada guru atau Syekh, sebagaimana ia tidak beroleh manfa’at kalau ia menghapal seribu buku.
Orang Salaf yang hidup dalam kurun Nabi, Sahabat dan Tabi’in semuanya sependapat bahwa orang yang demikian itu tidak termasuk perhitungan golongannya, tidak boleh memberikan Talqin dzikir dan tidak boleh menerangkan sesuatu tentang thoregat karena dalam thoregat itu ada rahasianya, hakikatnya yaitu mengikat hati setengah sahabat dengan sahabat yang lain sampai kepada Rasulullah SAW, sampai pelajaran itu kepada Allah Jalla Jalalluhu.
Barang siapa yang tidak ada hubungan silsilahnya dengan Nabi SAW, dianggap terputus kelimpahan cahaya dan tidak menjadi waris dari Rasulullah SAW. Orang yang demikian itu tidak diambil bai ‘at dan tidak diberi ijazah, karena thoregat atau jalan kepada Tuhan itu dzahir dan bathin. Yang dzahir itu ialah Syari ‘at dan yang bathin ialah Hakikat.
Syari’at itu terkait dengan hakikat dan hakikat itu terikat dengan Syari’at. Tiap-tiap Syari’at yang tidak dikuatkan dengan hakikat, tidak diterima. Dan tiap-tiap hakikat yang tidak dibuktikan dengan Syari at pun tidak diterima pula.
Syari’at itu mempersembahkan ibadat kepada Tuhan dan hakikat itu memperoleh musyahadah daripada-Nya.
Ahli dzahir adalah ahli syari’at dan ahli bathin adalah ahli hakikat. Jika terpilih kedua-duanya merupakan hakikat yang sebenarnya.
Sabda Nabi SAW : “Syari ‘at itu ucapan, Thorekar itu perbuatan, hakikat itu keadaan dan Ma ‘rifat itu modal pokok”, (Jami’ul Usul 53).
Maka ketahuilah bahwa Allah SWT menjadikan bagi hambanya sebab-sebab banyaknya jiwa manusia yang semuanya itu berhubungan dengan dia, Tuhan yang bersifat Rabbaniyyah.
Hubungan itu dapat dicapai dengan Talqin dan ra’lim daripada Syekh yang sudah mempunyai ijazah yang sah yang menjadi dasar atau sannad sampai kepada yang mempunyai Thoregat pertama. yaitu Junjungan Kita Nabi Muhammada SAW.
Maka oleh karena itu ajaran dzikir ridak akan memberi Jaedah yang sempurna melainkan dengan Talqin.
Telah berkata penghulu Kita Tuan Syekh Abdul Qadir AlJaelani yang telah disucikan Allah sirnya : “Kerahuilah wahai anak-anakku, mudah-mudahan Tuhan men-taufig-kan kami dan engkau dan semua orang Islam. Aku wasiatkan kepada kamu bahwa engkau tetap menjalankan syari’at dan memelihara batas-barasnya. Ketahuilah wahai anak-anakku , bahwa Thoregat kami ini didasarkan atas kitab dan sunnah, dan bahwa dasar-dasar Thoregar ada lima :
- Tinggi cita-cita,
- Memelihara kehormatan,
- Memperbaiki khidmat,
- Melaksanakan cita-cita,
- Membesarkan nikmat,
Barang siapa yang tinggi cita-citanya, menjadi tinggilah martabatnya.
Barang siapa yang memelihara kehormatan Allah, Allah akan memelihara kehormatannya.
Barang siapa memperbaiki khidmat, kepadanya wajib memperoleh rahmat.
Barang siapa yang mengusahakan berusaha mencapai tujuannya, selalu memperoleh hidayah.
Barang siapa membesarkan nikmat Allah berarti bersyukur kepadaNya. Barang siapa bersyukur kepadaNya akan memperoleh tambahan nikmat yang dijanjikan Allah itu.
Maka berkatalah Syekh Sya’rani r.a. Jauhkanlah dirimu menyebut “thoregat” jika engkau tidak menjalankan isi kitab dan sunnah, karena hal yang demikian itu kufur. Semua Thoregat Sufi itu mengenai akhlak Nabi Muhammad SAW dan perjalanannya serta Sunnah Tuhan.
Kemudian ketahuilah pula, bahwa riyadhah dan latihan tidak akan memberi faedah, bahwa tidak akan mendekatkan dirimu kepada Allah selama perbuatanmu tidak sesuai dengan
Syari’at dan sejalan dengan Sunnah.
Dan dalam pada itu berkatalah Syekh Junaid Al Baghdadi r.a. yang suci Sirnya : “Semua Thoregat itu tersumbat kepada makluk, kecuali kepada mereka yang mengikuti jejak Rasulullah SAW”.
Nabi pun berkata :
Aku tinggalkan padamu dua perkara yang merupakan pedoman agar kamu tidak sesat yaitu : Kitabullah dan Sunnahku.
Dalam Hadist disebutkan : “Ulama itu adalah ahli waris Nabi-nabi”. Dan Nabi berkata pula : “Hendaknya engkau selalu beserta Allah dan jika engkau tidak beserta Allah, hendaklah engkau beserta orang yang beserta Allah agar engkau disampaikannya kepadaNya
Maka ujar Nabi pula : “Sahabat-sahabat itu seperti bintang. Yang manapun engkau ikut, engkau pasti mendapat petunjuk”.
Pada tempat yang lainnya, Rasulullah SAW bersabda -: “Berbahagialah mereka yang melihat daku dan ingat kepadaku. Berbahagialah mereka yang melihat orang yang melihat dan yang percaya kepadaku. Dan berbahagialah semua hubaya-hubaya, baiklah jalan pulang baginya”.
Syekh Abdullah As-Salmi r.a. yang murni sirnya telah berkata : “Ucapan Rasulullah tentang kebahagiaan orang yang yang melihatnya dan melihat orang yang melihatnya itu berarti berkah dan berarti ‘musyahadah, sebagaimana musyahadah mereka dengan sahabat”.
Demikian dari zaman ke zaman, pindah berpindah sampai kepada ahli-ahli hikmat dan wali-wali Allah dalam segala zaman, semua memperoleh bekas pandangan yang penuh hikmah dan penuh musyahadah, semua berasal dari Junjungan kita Nabi Muhammad SAW sampai kepada sahabatnya dalam segala perbedaan zaman, semua satu corak, semua satu hal keadaan, dan dengan demikian berjalanlah bekas-bekas pandangan ini daripada guru kepada murid-murid sampai akhir masa, karena sandaran atau isnad sama dengan isnad hukum dan silsilah sama dengan pelaksanaan guru-guru ilmu ketuhanan itu merupakan pancaran cahaya, merupakan seluruh hikmat daripada lautan Muhammad dan pandangan rahasia malaikat yang suci pandangan kenyataan Tuhan, yang merupakan tangga murid-murid, jenjang orang-orang salik, yang ingin mendaki ke tingkat alam malaikat, ke alam jabarut, ke dalam alam lahut, sambung menyambung dengan arwah dari Syekh-syekh yang masih hidup kepada Rasulullah SAW dan kepada ke Hadirat Allah SWT Peningkatan silsilah ini menghamburkan berbagai rahasia tajaliyat dan berkat yang ditunjukan dengan tawajjuh kepadaNya, dengan niat yang bulat dan kehendak yang satu tunggal untuk menyampaikannya.
Maka guru-guru atau Syekh itulah yang merupakan Thoregat atau jalan kepada Allah, petunjuk liku-liku daripada jalan itu. Mereka merupakan pintu terakhir yang akan membawa muridnya masuk menempuh jalan mencapai Tuhan.
Oleh karena itu, tiap murid memerlukan Syekh. Tiap orang yang ingin tidak sesat, memerlukan petunjuk jalan yang benar. Terkecuali mereka yang sudah memperoleh berita dan berlian kata-kata, mereka yang dipilih Allah menjadi hamba yang utama. Kepadanya dianugrahkan pendidikan. Kepadanya diberi ilham untuk menghindarkan diri dari syetan dan pengaruh hawa nafsu, seperti Nabi Ibrahim, Nabi kita Muhammad SAW. dan Uwais Al Oarni dari golongan Aulia-aulia, serta Wali Allah yang telah dikaruniai Tuhan dengan rahmatnya.
Tidak dapat dimungkiri bahwa Nabi kitalah yang merupakan puncak kemenangan, puncak kekayaan, puncak keselamatan dan keidahan.
Semua diambil oleh sahabat, kemudian oleh Tabiin, kemudian oleh Tabi ‘it Tabiin, abad demi abad, masa demi masa. | Selalu ada wali-wali Tuhan, Aulia dan Shadigin serta Abdal. Antara murid dan gurunya, seperti Hasan Al Basri r.a. dengan muridnya “Utbah Al-Ghulam r.a. Sebagaimana tidak lepas antara Siri As Sagati r.a. dan budaknya dan anak saudaranya Abul Oasim Al Junaidi Al-Baghdadi r.a. dan lain-lain yang jika kita bentangkan, tidak akan ada habis-habisnya. Jika kita rentangkan, tidak akan ada ujungnya.
Semuanya berguru dan salin-menyalin ilmunya. Tidak ada Nabi melainkan ada baginya Sahabat yang mengambil daripadanya petunjuk yang menyalin ajarannya dan mengikuti perjalanannya, serta memperoleh petunjuk daripada kelimpahan ilmunya.
Pengikut ini kemudian berdiri pada tempat menyambung, meneruskan butir-butir pendirian yang telah diperoleh daripada gurunya.
Demikianlah Tuhan berfirman dengan tempat berputusputus dalam Kitab Suci seperti firman Allah :
Adapun walimu ialah Allah dan Rasulnya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan sholat dan membayar zakat, yang ruku?” dan sujud. Barang siapa berwali kepada Allah dan Rasulnya dan kepada orang yang beriman, ketahuliah bahwa tentang Allah itu adalah tentang yang selalu menang (QS. Al-Maidah : 55-56)
Selanjutnya firman Allah dalam Al-Qur’an :
“Bukanlah harta bendamu dan bukan pula anak pinakmu yang akan mendekatkan engkau dengan Aku, tetapi mereka yang beriman, mereka yang beramal saleh. Merekalah yang beroleh ganjaran berlipat ganda daripada amalnya. Merekalah yang sesungguhnya beriman dan percaya. (QS. As-Saba : 37)
Dari Abu Hurairah r.a. diceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Tuhan kami heran melihat ada segolongan yang dihalaukan ke syurga dengan berantai-rantai (Silsilah) “.
Maka berkatalah Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani q.s.a. : “Pertama wajib atas manusia berusaha menghidupkan hati untuk akhirat dari ahli Talqin di dunia, sebelum habis waktu karena dunia itu kebun akhirat. Barang siapa tidak menanam dalam kebun itu, ia tidak akan mengetam hasilnya nanti di akhirat”.
Nabi SAW berkata pula : “Pulanglah kamu kepada keluargamu, berikanlah kepada mereka pelajaran”.
Ketahuilah bahwa Talqin itu bagi setengah ahli dunia harus mengambil dari orang-orang yang berilmu, yang mulia dan berusaha, sesuai dengan kehidupan salaf dan mujtahid-mujtahid dalam dunia Thoregat yang berjalan secara suluk dan pendidikan, sebelum meninggalkan dunia mereka menempuh Thoregat secara mengambil berkah.
Orang menamakan Talqin dzikir bagi setengah orang-orang kaya, orang-orang yang berusaha, karyawan, orang laut (nelayan), saudagar-saudagar, gembala-gembala dan yang sejenis dengan yang itu, semuanya mengambil Thoregat secara tabarruk, untuk menghilangkan kelupaan hati kepada Tuhan, untuk mengharapkan terlepas daripada bala kuat dan daya segala gangguan kejahatan dan dendam kesumat, sehingga demikian mereka insaf kembali khusyu’ dan kembali pulang ke kampung yang abadi, meninggalkan daerah yang penuh dengan dosa.
Mereka meningkat setingkat kepada taubat
Syekh-syekh berusaha untuk menghilangkan kepada mereka jiwa yang jahat (yang dapat memutuskan mereka daripada kebajikan dan dari harapan-harapan baik) dan menghilangkan segala kesalahan yang menjadi dosa, agar dapat kembali kepada amal perbuatan yang baik.
Syekh-syekh itu berusaha dengan segala siasat kecerdikannya dan menasehatkan kepada murid-muridnya dengan kebijaksanaan.
Seumpama ada guru yang berkata kepada murid-muridnya, pertama-tama mendahulukan perintah kepadanya. Tinggalkan dan jauhilah olehmu tindakan-tindakan dari segala sesuatu yang membawa kedzaliman. Betulkan olehmu dan segeralah bartaubat dengan sebaik-baiknya. Apabila tidak demikian maka aku tidak akan memberikan Talqin dzikir terhadap dirimu dan tidak akan memberikan petunjuk kepadamu. Kemungkinan murid itu akan lari meninggalkannya dan kadang-kadang putus harapan.
Ini semua adalah kebijaksanaan petunjuk-petunjuk yang diwarisi daripada perbuatan Rasulullah saw. Yang pernah dilakukan terhadap bangsawan-bangsawan, orang-orang besar dan raja-raja.
Berkatalah Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani q.s.a. : “Apabila datang kepadamu seorang fakir, maka jangan kamu mulai dengan dia pembicaraan ilmu pengtahuan, tetapi harus mendahulukan kesayangan kepadanya , karena ilmu pengetahuan itu akan membuat dia takut dan sikapmu yang lunak dan lembut akan membuat dia jinak bergaul denganmu”.
Maka firman Allah SWT : “Serulah manusia-manusia itu kepada jalan Allah dengan kebijaksanaan dan cerita yang baik”. (QS. An-Nahl : 125)
Firman Allah SWT : “Maka dengan rahmat Allah menjadi lunaklah hatimu terhadap mereka, wahai Muhammad. Jika sekiranya engkau, seorang yang jahat budi pekerti, berhari kasar, niscaya larilah mereka itu bercerai-berai daripadamu. Oleh sebab itu, maafkanlah dosa mereka mengenai segala urusan, maka apabila engkau telah mempunyai cita-cita yang tetap, berserah dirilah engkau kepada Allah. Allah mengasihi orangorang yang menyerahkan diri kepadaNya”. (QS. Ali Imran:159)
Akhirnya kami panjatkan bagi Allah segala puji dan tiada limpahan taufig melainkan dari padaNya Allah swt.
Kitab yang bernama “MIFTAHUS SHUDUR’ ini yang artinya “Kunci Pembuka Dada”, dalam menyatakan uraian DZIKIR kepada Allah yang bersifat rahman dan pengampun, yang dikumpulkan dari ucapan-ucapan ulama-ulama besar ahli Tasawwuf dan Thoregat.
Semoga Allah mengampuni kepadanya dan semoga Allah memberi manfa’at kepada kita bersama denga berkatnya, rahasia-Nya dan ilmuilmu-Nya.
Amiin.
Wabillahit Taufiq wal hidayah.









One Comment