Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Miftahus Shudur

Dan berkata pula Nabi SAW.:

“Jikalau tidak bahwa syaitan-syaitan itu menutupi hati anak Adam, sungguh orang-orang yang mu’min itu melihat kepada langit malakut dan buminya”

Demikianlah sehingga disebutkan bahwa Iblis itu adalah mahluk yang dilaknat oleh Allah.

Disebut-sebut dalam Qur’an Yang Maha Agung, yang mana Iblis berkata. (S. Al-Arof 16-17). , –

“Akan kududuki (kuhalang-halangi) jalanMu yang lurus bagi mereka, kemudian akan kudatangi mereka dari depan dan dari belakangnya dan dari sebelah kanannya dan dari kirinya (untuk menggoda mereka) dan tidaklah akan kau jumpai kebanyakan orang mukmin itu akan menjadi orang-orang | yang syukur kepadaMu”

Dan firman Allah Ta’ala : (O.S. Az-Zukharuf 36) :

“Dan barang siapa menjauhkan dari pada dzikrul-rohman, akan dipengaruhi syaitan, yang ia menjadi temannya”

Dan firman Allah : (O.S. An-Nissa’ 60).

“Dan syaitan-syaitan itu berkehendak akan menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya” Demikianlah pula firman Nya (O.S. Al-Ahzab 41).

“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kamu akan Allah, akan dzikir yang banyak dan mengucapkan tasbih kepadaNya, pagi dan sore”

Dan sesungguhnya telah ada petunjuk-petunjuk tentang dzikir-dzikir mereka orang-orang ahli Tasawwuf, baik yang dengan cara-cara tertentu dan dengan bilangan yang dipastikan di dalam Thoregat Sufi, di mana mereka berkata bahwa mengucapkan kalimat “LAA” dimulai pada tengah badan, dari bawah pusat diangkat ke dalam otak dalam kepala.

Dan kalimat “ILAAHA” ke bawah kanan, kemudian perkataan “ILLALLAAH” memukulkan ke bahu kiri.

Begitulah cara penjagaanmu daripada godaan syaitan menurut sabda Nabi SAW. :

“Dzikir kepada Allah SWT, jadi benteng daripada godaan syaitan”

Seutama-utama pertolongan untuk memerangi syaitan dan menolaknya, ialah Kalimatul Ikhlas (LAA ILAAHA ILLALLAAH) dan dzikir seseorang kepada Tuhannya yang Perkasa dan Agung.

Sebagaimana sabda Nabi SAW. menceritakan daripada Tuhannya Yang Perkasa dan Maha Agung, bahwa, ia berkata: : (Hadiths Oudsi).

“LA ILAAHA ILLALLAAH bentengKu. Barang siapa mengucapkannya, masuklah ia ke dalam bentengKu itu. Dan barang siapa masuk ke dalam bentengKu, maka amanlah ia dari pada azabKu”

Dalam pada itu Allah SWT. berfirman :

“Bahwa sesungguhnya mereka, yang tagwa, apabila hendak digoda oleh segolongan daripada syaitan, lalu ia berdzikir, maka tatkala itu lalu sadar memperhatikan”

Allah Yang Maha Perkasa dan Kuasa juga memberi kabar “Bahwa hati yang terang benderang itu tidak dapat dicapai kecuali dengan dzikir kepada Allah”

Karena dengan demikian hilanglah daripada hati itu tabir penutup kegelapan dan royn (kebimbangan) dan ghoflah, dan dengan dzikir itu hilanglah segala gundah-gulana. | Adapun dzikir itu tidak lain daripada kunci tagwa dan wara”. Tagwa itu pintu akhirat, sebagaimana hawa nafsu itu tidak lain daripada pintu dunia.

Berfirman pula Allah Ta’ala :

“Berzikirlah kamu sebagaimana yang diterangkan, mudah“mudahan kamu masuk orang yang taqwa”

Allah Yang Maha Berkah dan Maha Tinggi juga memberi kabar: “Bahwasanya insan itu akan menjadi tagwa dengan dzikir”

Adapun perjuangan melawan syaitan itu adalah bathin, yaitu dengan hati dan jantung dan iman. Maka apabila kamu serang dia, maka penolongnya ialah yang Rahman, dan tempat kamu berpegang pun ialah Allah, yang menunjukan agama dan harapanmu ialah memandang dengan lezat menghadap Tuhan yang penuh Kurnia.

Peperangan kamu terhadap orang kafir adalah peperangan zahir dengan pedang dan tombak, dan pembantumu ialah pimpinan seorang raja dan pembantu-pembantunya.

Harapanmu dengan perjuangan itu ialah masuk syurga, Maka apabila kamu terbunuh dalam perjuangan zahir ini balasanmu ialah abadi dalam “Darul Bag”.

Apabila kamu terbunuh di dalam perjuangan memerangi syaitan dan menentang mereka hingga datangnya ajalmu, adalah balasanmu melihat wajah Tuhan seru sekalian alam tatkala bertemu di hari kemudian.

Jika kamu terbunuh oleh kafir maka kamu syahid hukumnya. Dan apabila kamu nanti terboyong oleh syaitan sebab kamu ikuti dia dan ikuti perbuatannya, maka kamu tertolak dari Si Raja yang Kuasa dan Gagah (Allah SWT.).

Maka perjuangan menyerang secara zahir itu ada kesudahannya. sedangkan menyerang syaitan dan hawa nafsu tidak ada habis-habisnya dan tidak ada kesudahannya.

Nabi SAW. bersabda :

Firman Allah Ta’ala (O.S. Al-Hijr 99) .:

“Sembahlah Tuhanmu sehingga engkau yakin benar-benar”

Yakin sampai mati dan bertemu dengan Tuhan ,

Sabda Nabi SAW., tatkala kembali dari perang-sabil di Tabuk: “Kami kembali daripada jihad kecil kepada jihad besar”

” Rasulullah SAW menghendaki dengan demikian itu menyerang syaitan dan hawa karena kekalnya dan sukar penjagaannya, dan ditakuti daripada Su ‘ul Khatimah.

Penjelasan daripada penghulu kita Syeikh Abdul Godir AlJaelani q.s.a. sbb.: “Wahai Saudara-saudaraku, adapun tauhid itu membakar syaitan-syaitan yang bersifat manusia dan jin , karena tauhid itu api bagi syaitan dan Nur bagi ahli Tauhid.

Tetapi bagaimana engkau mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAAH, sedang dalam hatimu ada berapa banyak yang dipertuhankan ? Tiap-tiap sesuatu kamu berpegang kepadanya dan berpegang kepada selain Allah, maka yang demikian itu Sesung guhrya berhalamu.”

“Tidak akan memberi manfaat kepada kamu dengan tauhid lisan serta hati syirik. Tidak bermanfaat bagimu membersihkan badan sedang hati itu penuh dengan najis”

“Ahli tauhid menyerang syaitannya, sedang ahli musyrik terserang oleh syaitannya “. :

“Adapun ikhlas itu inti ucapan dan perbuatan, karena apabila kosong adalah ia merupakan kulit dengan tidak ada isi. Kulit ada faedahnya melainkan untuk api. Dengarlah ucapannya dan amalkanlah, karena ikhlas dapat menghapuskan api dalam nafsumu dan menghancurkan anak dari syahwatmu “.

“Janganlah kamu hadir pada suatu tempat yang menambah menyala api tabi ‘atmu yang dapat menghancurkan rumah agamamu dan imanmu dengan menyalaan tabi ‘at, hawa dan syaitan yang akhirnya hilanglah agamamu, imanmu dan taqwamu “.

“Janganlah kamu mendengar ucapan mereka daripada golongan munafik, itulah golongan yang suka membuat-buat, mengukir-ukir keindahan karena tabi ‘armu bergantung kepada ucapan semata-mata seperti orang memasak roti tanpa garam, tentu saja perutmu tidak menerima apabila engkau memakannya. Inilah pengertian menghancurkan rumah (Agamamu)”.

Ilmu itu harus diambil dari mulut-mulut Rijal, tidak hanya dari kitab-kitab. Rijal itu laki-laki, ialah ahli hak, yang taqwa, yang mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan, yang menjadi pewaris Nabi yang arif, yang beramal dan ikhlas.

Yang lain itu, bukan tqwa, hanya tipuan dan kebathilan.

Martabat kewalian itu dianugrahkan kepada orang-orang yang taqwa, baik di dunia maupun di akhirat, sedang asas tujuan serta pelaksanaan pembangunannya pun bagi mereka adalah demikian pula untuk bahagia di dunia dan untuk bahagia di akhirat.

Adapun hakikat taubat, yaitu seorang yang bertagwa, yang melaksanakan perintah Allah SWT. dan menjauhi laranganNya dalam segala gerak ahwalnya.

Dan di antara mereka itu ada yang mengucapkan : “Bahwa kebajikan itu seluruhnya terletak dalam dua kalimat”.

Pertama : Mengagungkan dan mengamalkan perintah Allah SWT.

Kedua : Bersikap lemah-lembut dan kasih sayang kepada hamba Allah.

Dan tiap-tiap orang yang tidak mengagungkan dan mengamalkan perintah Allah SWT. dan tidak kasih sayang terhadap sesama manusia, ia pasti jauh daripada Allah SWT.

Begitu firman Allah (O.S. Ali Imran 112) :

Telah dilimpahkan malapetaka kehinaan, kecuali bagi orang – yang menghubungkan diri kepada Allah SWT. khususnya dan menghubungkan diri dengan sesama manusia pada umunya.

Bahwasanya Allah mencintai seseorang hamba ialah : yang tagwa, yang berbuat kebaikan dan sabar. Andaikata ada padamu khatir (lintasan hati) yang sahih (benar) / persangkaan baik niscaya kamu akan mengenal mereka, mencintainya dan bersahabat dengannya. Adapun khatir yang sahih ialah apabila hatimu terang benderang dengan ma’rifatullah yang Maha Perkasa dan Maha Agung.

Jangan hanya kamu terlalu cenderung kepada khatirmu itu sehingga ma’rifat itu sahih (benar) dan tampak jelas bagimu kebajikan dan kebenaran.

Tutupilah penglihatanmu daripada segala yang haram, tahan dirimu dari pada ajakan syahwat, biasakan tubuhmu memakan yang halal, peliharalah bathinmu dengan muragabah bagi Allah dan peliharalah zahirmu dengan mengikuti Sunnah Nabi, maka jadilah khatirmu yang sahih (benar), shahihlah pula bagimu ma’rifat terhadap Allah.

Bahwasanya yang kudidik adalah akal dan hati. Adapun nafsu, tabi’at dan adat, semua itu tidak, sebab tak ada kemuliaan baginya, bilamana akal dan hati tidak terdidik akan ma’rifat yang sebenarnya, yaitu LAA ILAAHA ILLALLAAH.

Adapun orang yang tawajjuh menghadap dengan hatinya selain kepada Allah, terhijablah daripada Allah dan tiap-tiap orang yang dzikir sedang hatinya kepada yang lain dari pada apa . yang harus diingatkan, tertutuplah ia dengan hijab seribu lapis.

| Karena dzikir adalah amal dalam segala keadaan hati, dan rasa yang dapat mendekatkan kepada magam yakin, musyahadah syuhud, martabat terbuka segala yang ghaib yaitu benteng Allah Yang Maha Agung. Barang siapa yang masuk kedalamnya, menjadi amanlah ia dari pada segala dosa zahir dan bathin. (Hadist Oudsi). .

Adapun asal dzikir itu ialah merasakan lezat dan manis, maka apabila ia sudah meresap kepadamu tidak ada lain akibatnya melainkan khusyu’ dan dumu (bercucuran air mata), membakar segala kecelaan dalam hati dan rasa, dan tenggelam (dalam kenikmatan itu).

Yang demikian itu adalah alamat kemenangan.

Dzikir itu dilakukan oleh orang yang berdzikir demikian asyiknya, sehingga ia dapat melihat segala yang ajaib dan yang aneh-aneh dan segala rahasia yang besar dan kaifiat yang agung. Berkatalah Rasulullah SAW. :

“Dzikir La Ilaaha Illallaah tidak ada balasan baginya kecuali dibuka Tuhan hijab hingga dimerdekakan Tuhan kepadanya” Berfirman Allah Ta’ala (O.S Al-An-aam 91) .

“Katakanlah Allah (Ingatlah kepada Allah) kemudian biarkanlah apa mereka yang beramai-ramai sambil bermain-main dalam kesesatan”

Lalu khusu’ tidak disertai menggerakan lidahnya dengan dzikir sampai kekal fikirannya, dan itulah “Magammul Akbar” dan disitulah isinya ‘Kalam”.

Ketahuilah bahwa inilah tawajjuh yang dengan cepat memperoleh kemenangan dan memperbanyak ibadat dan riadhah, dan berkekalan dengan segala macam tawajjuh tetap kepada Allah hingga ia terbakar hatinya dari selain Allah oleh dzikirnya, sehingga sampai pada batasnya (wukuf). ‘

Maka apabila ia disertai riadhah semua itu niscaya ia akan mencapai tempat yang amat sempurna lagi tinggi dengan segera, dengan tidak syak wasangka lagi.

Dan sabda Nabi SAW. :

“Tidak ada seorangpun yang berkata Laa Ilaaha Illallaah secara ikhlas dalam hatinya, kecuali Tuhan membukakan pintu langit sehingga ia bisa meninjau ‘Arasy”

Imam Gazali r.a. mengambil alasan tentang syahnya Thoregat yang Sufi yang secara terjadi (wagi’i) kemudian alasan kepada syahnya secara nagli, maka disebutkannya: “Bahwa ini Thoregat yang dijalankan oleh Sahabat dan Tabi’in dan segala sesuatu yang dikerjakan menunjukkan kepada kehidupan Sahabat, Wali-wali, orang-orang Sufi dan seterusnya “.

Cerita ini tidak akan bermanfaat bagi orang yang tidak percaya selama ia tidak melihat dan mengamalkannya sendiri akan yang demikian itu.

Thoregat Sufi itu mendahulukan mujahadah dan membersihkan sifat-sifat yang tercela dan memutuskan segala pengaruh ikatan hati dari selain Allah dan mengarahkan segala cintanya kepada Allah.

Maka apabila telah berhasil semua itu, maka Allah-lah yang menguasai hati hambaNya dan yang memelihara dengan pemberian cahaya Ilmu.

Begitu pun terpelihara akan hati seseorang, berlimpahlimpahlah kepadanya curahan rahmat dan bersinarlah segala hakikat pekerjaan keTuhanan yang dianugrahkan .

Maka tidak ada bagi hambanya kecuali bersiap untuk menerima kebersihan yang istimewa dan memberikan himmah serta kemauan yang benar dan keinginan memperoleh magam yang tinggi dan tetap dengan hati yang tenang menanti apa yang akan dibukakan Allah Ta’ala dari pada rahmatNya kepadanya.

Adapun Nabinabi, Wali-wali dan orang-orang suci seperti keduanya terbukalah bagi mereka perintah Tuhan dan melimpahkan dalam dadanya Nur , tidak hanya dengan belajar atau menye. lidik, atau melihat kepada kitab-kitab terutama Kitab-kitab Sufi dalam mencari Ilham, tetapi dengan zuhud dan melepaskan diri dari segala pengaruh ikatan duniawi, mengosongkan hati dari kebimbangannya dan mengerahkan segala cintanya kepada Tuhan.

Maka barang siapa Tuhan itu baginya, iapun bagi Tuhan. Demikian ucapan Hujjatul Islam Al-Gazali r.a.

Lebih lanjut ia berkata: “Dan sesungguhnya keistimewaan Thoregat Sufi ini tidak mungkin akan sampai kepada Tuhan dengan belajar semata-mata tetapi dengan zauq (asa), hal, menggantikan sifat dari yang tercela kepada yang terpuji. Sesungguhnya orang-orang Sufi itu merasa yakin bahwa jalan Sufi mereka itu benar. Ia memiliki jalan Allah yang khusus, dan bahwa perjalanan mereka adalah sebaik-baik perjalanan, sedang Thoregat mereka adalah sebenar-benar Thoregat. Akhlak mereka sebersih-bersih akhlak”.

Bahkan jika dikumpulkan semua ahli fikir, semua hikmah ahli tasawwuf, dan ilmu yamg memuncak dari semua ulama, untuk mengubah sesuatu daripada perjalanan mereka, akhlak mereka dan akan digantikanya keadaan dengan yang lebih baik daripada itu, niscaya tidaklah seorang pun akan mendapati jalan sebaik jalan sufi ini.

Adapun segala gerak-geriknya dan diamnya pada zahirnya dan pada bathinnya, semuanya terpetik dari “Misykarun Nubuwwah Nur” dan tidak ada lagi dibelakangnya “Nurun Nubuwwah” di atas muka bumi ini, yaitu Nur yang memberikan sinar gilang-gemilang untuk seluruh alam.

Secara ringkas apakah yang selalu diucapkan orang-orang tentang Thoregat membersihkan diri ? Yaitu pertama-tama syaratnya : membersihkan hati seluruhnya daripada selain Allah. Dan itulah kuncinya. Hal ini berjalan seperti berjalannya tahrim dalam sembahyang, yang seluruh hati tenggelam dalam dzikir kepada Allah.

Dan yang penghabisan, adalah fana seluruhnya dalam Allah (hancur seakan-akan tidak melihat dirinya lagi) adalah seperti tersebut dalam Al-Our’ an Surat Ar-Rahman 26-27 :

“Semua yang ada akan fana binasa, yang kekal adalah Tuhan sendiri yang Maha Besar dan Maha Mulia” (Tiap-tiap sesuatu hancur lebur, kecuali Aliah yang ada sematamata).

Maka berkatalah pula Al-Bazari r.a. : “Bahwasanya hati itu itu ada padanya sifat “Al-Latrifah, Ar-Rabbaniyyah, ArRohaniyyah” (lemah-lembut, ke-Tuhan-an dan bersifat jiwa dan roh), yang bersangkutan dengan tubuh manusia. Itulah hakikat insan dan itulah yang dapat mencapai arif tempat Nur yang disuruh Tuhan padanya.

Maka dengan demikian, seseorang lalu mencapai Kkasyafar (terbuka) dari pada segala macam hakikat.”

Orang-orang materialistis memandang bahwa jalan ma ‘rifatitu ialah panca indera yang lima, diantaranya akal.

Adapun pendapat Imam Gazali, bahwa ma’rifat itu diatas semua jalan dan wasilah yang paling penting serta besar. Yang demikian itu ialah wasilah “al-kasyafful al-batini” atau wasilah “Giham ar-ruhi”, yang membawa manusia itu mempunyai sifatsifat baik pada dirinya, dan membersihkan hati dan menjauhkan diri dari daripada cara berpikir orang-orang marerialistis.

Dan dimaksudkan dengan ini bahwa ma’rifat itu tidak dapat dicapai, melainkan dengan jalan hati yang sempurna, yang bersih yang tidak terpengaruh perhubungan dengan kesibukan duniawi…

Dan demikian, adalah yang memiliki hati-hati yang suci itu adalah mereka yang tetap, yang berdzikir, yang membersihkan diri, dan menyelam kedalam lautan ma’rifat yang hakikat sebagaimana yang diberikan faham oleh Hujjatul Islam mam Gazalir.a). Ka

Adapun hati itu tidak lain dari pada kunci yang akan menyampaikan kepada ma’arif yang bersifat agama yang terdiri dari bahwa manusia itu apabila menyelam kedalam dirinya dan terus kembali kepada hatinya, terpancarlah baginya mata air ilmu yang dinamakan ‘”ilmu-Laduniyyah” dan “Al-Ma ‘arifatul Oudsiyyah “

Dari pada Nabi SAW. diriwayatkan berkata :

“Bahwasanya hati itu kotor seperti besi berkarat danpembersihnya adalah Dzikrullah”

Dan berkatalah Tuan Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani q.s.a:

Adapun hati itu tempat Ilmu Hakikat karena “Latifattur Robbaniyah” yang mengatur bagi sekalian anggota badan. Yaitu alat penembus kepada hakikat yang telah dimaklumi, seperti halnya dalam kaca ada bentuk rupa yang bemacam-macam. Itulah gambaran yang terisi dalam kaca, yang serupa dengan bentuknya.

Demikian pula setiap yang dimaklumi tentang hakikat, itupun bentuk yang mengisi dalam hati, sedang hati itu kotor (banyak kesalahan), maka apabila seseorang mendapati apa yang ditunjukan oleh Nabi SAW, maka ia berhasil mendapat hakikat itu. Dan jika tidak, ia berpindah kepada sifat yang hitam, yang akan membawa manusia terjauh daripada terang benderang Nur.

Hitam karena cinta dunia dan yang berlainan dari pada itu, ialah karena tidak ada wara’, karena barang siapa teguh dalam hatinya hanya cinta dunia, hilanglah wara’nya, maka bercampuraduklah keadaan dari halal dan haram, hilang perbedaan seluruhnya, hilang malunya daripada Tuhannya dan hilang pula muragabahrnrya.

Wahai teman-temanku, terimalah apa yang disampaikan Nabimu dan terangilah kedalam hatimu dengan obat yang telah ditunjukan oleh Nabi kepadamu.

Jikalau ada seseorang sakit dan sudah diberikan obat oleh dokter kepadanya, akan selamatiah hidupnya hingga sehat kembali. |

Ber-muragabah-lah kamu dengan Tuhanmu yang Maha Perkasa dan Maha Tinggi, baik dalam khalwat-mu maupun diluar khalwat-mu (keramaian), dan jadikan pandangan matamu hingga kamu seakan-akan melihat-Nya, maka apabila kamu tidak melihat, maka Ia-lah yang melihat kamu.

Barang siapa yang berdzikir kepada Allah dengan hatinya, maka ia dinamakan ahli dzikir. Tetapi barang siapa yang tidak mengucapkan dzikir dengan hatinya, maka ia tidak termasuk orang yang berdzikir.

Lisan itu alat hati dan yang mengikuti dan tetap hati itu tempat memperhatikan nasihat-nasihat. Baliwasanya hati itu apabila terjauh (tidak memperhatikan) nasihat, butalah mata hatinya.

Berkata Nabi SAW: 

“Bahwa dalam badan anak Adam itu ada segumpal darah. Apabila darah itu baik, maka baiklah seluruh badan anak Adam itu semuanya. Apabila gumpalan darah itu rusak, maka rusaklah seluruh badan anak Adam itu. Perhatikan, bahwa yang dimaksudkan itu ialah hati ”

Dan berkata pula Nabi SAW. :

Bahwa Allah itu tidak melihat kepada rupamu, tetapi melihat kepada bathirnmu.”

Allah pun berfirman (O.S. Az-Zumar 17-18)

“Adapun mereka yang menjauhkan dirinya dari pada godaan Iblis untuk disembahnya, kemudian mereka kembali kepada Allah (dzikrullah), bagi mereka bergembira. Maka berikanlah berita yang menggembirakan itu kepada hambaKu”

Yang mendengar dan yang mengikuti ucapan-ucapan yang baik. Mereka inilah yang diberi petunjuk oleh Allah dan mereka inilah orang yang mempunyai hati (memperhatikan bahtin).

Dan adalah junjungan kita Nabi Muhamad SAW. mengajarkan “kalimat Thoyyibah” Gnengucapkan Dzikir LAA ILAAHA ILLALLAH) kepada sahabat-sahabatnya r.a. untuk membersihkan hatinya dan mensucikan dirinya dan mendekatkan mereka kepada hadirat Allah dan mendapat kebahagiaan yang suci. – .

Setengah orang bertanya tentang ‘Tasawwuf. Maka dijawabnya : “Membersihkan hati daripada apa yang digemari manusia dan menjauhkan diri dari pada tabi’at yang jelek dan menggemari sifat-sifat peri kemanusiaan, menjauhkan perSelisihan-perselisihan yang dipengaruhi hawa nafsu, kemudian menempatkan sifat-sifatnya kepada sifat-sifat rohaniyah, tunduk kepada Ilmu Hakikarnya kemudian mengikuti seluruh syari’at Rasulullah SAW”.

Ujar Imam Al-Gazali r.a. : “Diantara syi’ar-syi’ar orang sufi adalah : Barang siapa mengambil syari’at saja tetapi tidak mau tahu tentang hakikatnya, orang itu fasik”.

“Dan barang siapa mengambil hakikat saja, tetapi tidak melakukan syari’at, maka dia itulah merupakan kafir zindig”.

Sedangkan yang melakukan syari’at dan mengamalkan tasawwuf, inilah orang yang dinamakan ahli hakikat yang sebenarnya.

Sudah kita sebut dahulu, bahwa martabat WUSUL (sampai kepada Allah) adalah TIGA perjalanan :

Pertama : ISLAM

Kedua : IMAN

Ketiga : IKHSAN |

Adapun seseorang hamba Allah, jika ia kekal sibuk dalam ibadah, berada dalam magam ISLAM atau magam SYARI’AT.

Apabila amal itu berpindah kepada hati dengan kebersihan dan sunyi daripada kejahatan, berisi dengan kebajikan sempurna Ikhlas, maka orang itu berada dalam magam IMAN atau magam THOREQAT.

Apabila manusia itu sampai kepada martabat Ibadat untuk Allah semata-mata, seakan-akan Allah melihatnya, maka ia berada dalam magam IKHSAN atau magam HAKIKAT. .

Oleh karena itu diungkapkan orang : “Adapun SYARI’AT itu ialah bahwa kamu inenyembah Allah”.

THOREOAT itu ialah bahwa kamu menuju kepada Allah, dan HAKIKAT itu ialah bahwa kamu bermusyahadah benarbenar menyaksikan Allah yang Maha Pencipta.”

Berkata pula Tuan Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelanri gsa. : “Tidak lain tujuan ahli Tasawwuf, melainkan hanya untuk membersihkan bathinnya manusia dengan NUR TAUHID dan MA’RIFAT”.

Adapun orang Sufi yang benar dalam ‘TTasawwufnya, membersihkan hatinya dari pada sesuatu selain Allah dan cintanya kepada Allah. Melaksanakan bersungguh-sungguh dan menjalankan perintah Allah yang dapat mengangkat dirinya, mengosongkan hatinya selain dari pada Allah, dan menghiasinya dengan dzikrullah Yang Maha Kuasa dan Agung.

Sabda Nabi SAW. :

” Alamat mencintai Allah ialah mencintai dzikrullah, sedang alamat kemarahan Allah, adalah enggan kepada dzikrullah”. ‘ Seorang hamba yang mencintai Allah, tidak “merasa memiliki sesuatu, ia serahkan segala apa yang ada kepada yang dicintainya, yaitu Allah. . Kemudian begitu pula Tuan kita Syeikh Abdul Qadir Al. Jaelani gsa. menasehatkan : “Adapun yang wajib atas menusia, ialah mencari kehidupan hati untuk di akhirat , di dunia ini dari ahli Talqin sebelum berakhir waktu hidupnya”, karena firman Allah Ta’ala (O.S. An-Nahl : 43).

“Bertanyalah kamu kepada ahli dzikir (Bai ‘at), Jika kamu tidak mengetahuinya.

Mengambil bai ‘at dari Tuan Syeikh Arif Billah, adalah perkara yang penting dalam Tasawwuf untuk mengusahakan yakin.

Dalam sebuah Hadist Yang Mulia, diriwayatkan : “Pelajarilah olehmu akan pembawaan yakin” artinya : perbanyaklah duduk bersama dengan ahli yakin.

Bai ‘at yang terdapat sesudah wafat Nabi, ialah meneruskan bai’at yang dilaksanakan oleh Nabi SAW sendiri, dan Ulamaulama yang Arif Billah adalah penerus Nabi kita dalam mengajarkan kepada manusia adab-adab agama yang zahir dan yang bathin.

Adapun adab bathin, lebih sukar untuk kita karena untuk mengamankan adab yang zahir. Dan juga oleh sebab ia menghendaki peperangan “khofi” (halus) antara seorang manusia dengan hawa nafsu dan syaitannya dan godaan dunia yang menipu dan penyakit-penyakit hati seperti : hasad, ujub, ria, munafig, dan lain-lain. 

Barang siapa mengikuti Thoregat Tasawwuf dengan tidak mengikuti imamnya yang Arif Billah ( Bai’at ), ia tersesat pada permulaan melangkah, padahal cukup mulia untuk kita bersama bagi Thoregat ahli Tasawwuf yang Nurani.

Diceritakan bahwa Nabi Musa a.s, yaitu daripada Rasulrasul yang termasuk Rasul-rasul “Ulul Azmi” pernah menanyakan tentang ilmu hakikat kepada Nabi Khadir a.s. Laluia berkata : ,

“Berkatalah Musa kepadanya, apakah boleh aku mengikuti engkau supaya engkau mengajar akan daku ilmu pengetahuan yang telah diajarkan kepada engkau sebagai petunjuk”.

Dengan adanya ini adalah dalil yang kuat atas kewajiban mengikuti Tasawwuf, yaitu Ilmu Adab Hati dari pada yang ahli.

Dan untuk ini dibayangkan yang demikian itu oleh Guruku Arif Billah, Tuanku Syeikh Ali Agal r.a dengan ucapannya : Apabila tak ada guru rohani,

Yang memberi petunjuk itu dan ini, Putuslah jalan wahai insani, Jalan mencapai Tuhan Rabanni, Tidak melihat laut yang luas, Tidaklah pandai tidaklah puas, Dungu didalam laut yang luas, Bertumpuk garam mata tak awas, | Jika tidak kontak listrik, . Padapangkalnya iaterdidik, Salah tujuan salahlah selidik, Yang tampak ombak, bukan nur pelik, Akhirnya Tuhan Allah yang dapat menolong pada tiap waktu yang tepat waktu bantuan LAA ILAAHA ILLALLAAH, Raja yang hag dan nyata

Tuhanku, jadikanlah kami ini dari pada orang yang mu’ min dan yang yakin.

Kami pohonkan kepadaMu, akan engkau jadikan ilmu kami ini bermanfa’at, dosa kami ini terampuni dari mula sampai terakhir dengan syafa ‘at Rasulullah SAW. , Penghulu segala Nabi dan Rasul serta dengan karamah Wali-wali, terutama Tuanku Syeikh Abdul Qadir Al Jaelani gsa., Raja dari segala ‘ Arifin dan pokok pikiran dari semua orang yang asyik kepada Tuhan dan Guru-guru daripada ahli Hakikat, begitu juga dengan berkah orang-orang Islam dan orang-orang yang mu’min sekaliannya tidak ada kecuali.

Segala puji bagi Allah seru sekalian alam, perkenankanlah wahai Tuhan yang menampung segala do’a mereka yang mengharapkan limpahan kurnia-Mu.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker