Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Miftahus Shudur

BAB III : TALQIN DAN BAI’AT

Talqin itu peringatan guru kepada murid, sedang bai’at yang juga dinamakan ‘ahad-adalah sanggup dan setia murid dihadapan gurunya untuk mengamalkan dan mengerjakan segala kebajikan yang diperintahkannya.

Banyak hadist yang menerangkan kejadian Nabi mengambil ‘ahad pada waktu membai ‘atkan sahabat-sahabatnya.

Diriwayatkan oleh Ahmad r.a. dan Tabrani r.a. bahwa Rasulullah SAW. pernah menTalqinkan sahabat-sahabatnya secara berombongan atau perseorangan.

Talqin berombongan pernah diceritakan oleh Syaddad bin ‘Aus r.a. : “Pada suatu ketika kami berada dekat Nabi SAW, Nabi SAW berkata” :

Apakah ada diantaramu orang asing ? Maka jawab saya : “Tidak ada”

Lalu Rasulullah menyuruh menutup pintu dan berkata : “Angkat tanganmu dan ucapkan LAA IILAAHA ILLALLAAH’”, seterusnya beliau berkata : “Segala puji bagi Allah wahai Tuhanku, Engkau telah mengutus aku dengan kalimat ini dan Engkau menjadikan dengan ucapannya kurnia syurga kepadaku dan bahwa engkau tidak sekali-kali menyalahi janji”. Kemudian beliau berkata pula : “Belumkah aku memberikan kabar gembira kepadamu bahwa Allah telah mengampuni bagimu semua?”.

Maka bersabdalah Rasulullah SAW :

Tidak ada segolongan manusia pun yang berkumpul dan melakukan dzikrullah dengan tidak ada niat lain melainkan untuk Tuhan semata-mata, kecuali nanti akan datang suara dari langit. Bangkitlah kamu semua, kamu sudah diampuni dosamu dan sudah ditukar kejahatannya yang lampau dengan kebajikan.

Oleh karena itu Tuhan berfirman :

Maka bergembiralah kamu dengan bai’atmu, yang telah kamu lakukan itu adalah kejayaan yang agung (QS. At-Taubah : III)

Tentang bai ‘at perseorangan pernah diceritakan oleh Yusuf Al-Kurani r.a. dan teman-temannya dengan sannad yang syah : “Bahwa Sayyidina ‘Ali k.w. bertanya kepada Nabi : “Ya Rasulullah tunjukilah aku jalan yang sependek-pendeknya kepada Allah dan yang semudah-mudahnya dan yang paling utama dapat ditempuh oleh hambanya pada sisi Allah ?”. Maka bersabdalah Rasulullah : “Hendaknya kamu lakukan dzikrullah yang kekal (dzikir dawam) dan ucapan yang paling utama pernah kulakukan dan dilakukan oleh Nabi-nabi sebelum aku, yaitu LAA ILAAHA ILLALLAAH. Jika ditimbang tujuh petala langit dan bumi dalam satu daun timbangan, dan kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH dalam satu timbangan yang lainnya, maka akan lebih berat kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH dalam daun timbangan yang lain”.

Kemudian ia berkata : “Wahai ‘Ali, tidak akan datang kiamat jika di atas muka bumi ini masih ada orang yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAAH. Sayyidina ‘Ali berkata : Bagaimana caranya aku berdzikir itu ya Rasulullah?”

Nabi menjawab : “Pejamkan kedua matamu dan dengar aku mengucapkan tiga kali, kemudian engkau mengucapkan tiga kali pula, sedangkan aku mendengarkannya. Maka berkatalah Rasulullah LAA ILAAHA ILLALLAAH tiga kali, sedangkan kedua matanya dipejamkan, dan suaranya dikeraskan, serta ‘Ali mendengarkannya. Kemudian Ali mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAAH tiga kali, dan Nabi mendengarkannya.

Demikian cara Talqin dzikir yang disampaikan oleh “Ali bin Abi Thalib k.w. yang kemudian diterangkan, bahwa Talqin dzikirhati yang bersifat bathiniyah, dilakukan dengan isbat tidak dengan nafi, yaitu dengan lafadz isim zat seperti yang difirmankan oleh Allah dalam Al-Qur’an :

Katakanlah “Allah”, kemudian tinggalkan sifat mereka bermain-main didalam kesesatan (QS. AlAn’aam : 91)

Nabi memperingatkan Sayyidina ‘Ali k.w. : “Wahai ‘Ali pejamkan kedua matamu, katupkan bibirmu dan lipatkan lidahmu, lalu sebutkan : “Allah, Allah”.

Inilah cara yang pernah dipelajari dan diambil oleh Sayyidina Abu Bakar r.a. secara rahasia (mengisi perasaan) daripada Nabi, dan inilah dzikir yang boleh terhunjam teguh sampai kedalam hati.

Karena inilah Nabi memuji Sayyidina Abu Bakar r.a, bukan karena banyak puasa dan shalat, tetapi karena sesuatu yang terhunjam dalam hatinya.

Firman Allah dalam Al-Qur’an :

Dan mereka yang mempunyai iman yang teguh serta tetap tenang hatinya dengan dzikrullah, bukankah dzikrullah itu menenangkan dan mententramkan hati ? (QS. Ar-Ra’du : 28)

Jalan atau thoregat yang kedua macam ini tentang dzikir Jahar dan khofi adalah pokok daripada seluruh THOREQAT, kemudian tersiarlah dalam periciannya dengan kurnia Tuhan Yang Maha Murah.

Sesungguhnya dzikir itu adalah menjadi sebab wusulnya manusia kepada Allah SWT, dan menjadi sebab pula manusia dapat mahabbah kepada-Nya.

Oleh karena itu, manusia tidak akan dapat menghindari apa yang menjadi kesalahan dan apa yang menjadi kekerasan hati dan begitu pula apa yang menimbulkan segala amarah, melainkan manusia yang mengharapkan Rahmat Allah dengan mengamalkan dzikir. Dan apabila telah berhasil, mereka akan kembali menjadi manusia yang baik, sebagaimana Allah berfirman dalam Hadist Oudsi :

Aku dekat sekali kepada orang yang hatinya dapat menyingkirkan kesalahan Selanjutnya dijelaskan bahwa :

  1. Kemudian dzikirnya tetap dengan latifah “Qolbi” (kehalusan jantung), yang tempatnya di bawah susu kiri, kira-kira duajari dari susu kiri. Maka setelah terasa dzikir didalamnya, keluarlah cahaya yang menyinari ke bawah bahunya menuju ke atas, atau didalamnya itu terasa getaran yang kuat.
  1. Lalu diTalqinkan oleh gurunya dengan latifah “Ruhi” yang tempatnya di bawah susu kanan, kira-kira dua jari dari susu kanan. Dan setelah melakukan dzikir bersama-sama, dzikir didalam hati seperti orang melihat kedua jurusan (kanan-kiri), disatukan pandangan bathinnya menjadi satu jurusan. Setelah terasa didalamnya gerak dan teguhnya dzikir,
  1. Lalu diTalqinkan lagi oleh gurunya dengan larifah “Sirri”. Latifah “Sirri” ini, tempatnya diatas susu kiri, kira-kira dua jari. Dan dzikirnya harus merasa tetap.
  1. Kemudian diTalqinkan lagi oleh gurunya dengan larifah “Khofi” yang tempatnya di atas susu kanan, kira-kira duajari.
  1. Kemudian diTalqinkan lagi dengan latifah “Akhfa” yang tempatnya di tengah-tengah dada, dan terus diteguhkan dzikir seperti di latifah-latifah lainnya.
  1. Setelah itu diralginkan lagi dengan latifah “Nafsi” yang tempatnya diantara mata dan keningnya. Disini diisi dengan teguh hatinya penuh dzikir di seluruh latifahnya.
  1. Kemudian sampai ke larifah “Jasad” (atifatul Qolab) yang berarti kehalusan seluruh badan yang penuh dengan dzikir, setelah menyeluruh dzikirnya di tiap-tiap bahagian anggotanya, sehingga menembus keseluruh akar-akar bulunya iman dengan getaran rasa yang lemas dan atau merasa menyelusup-kan dzikir nampak di seluruh badan.

Maka dari itu keadaan seperti gerakan dzikir dalam hati itu dari bawah sampai keatas diberi nama oleh ahli Tasawwuf “Sulthonud dzikir” (rajanya dzikir).

Tuhan telah berfirman :

Dan seungguhnya dzikir kepada Allah sangat berfaedah

Seterusnya Tuhan berfirman pula :

Ingatlah kepada Tuhanmu dengan segala kerendahan diri dan khofi, tidak dengan suara keras, senantiasa pagi dan petang dan janganlah kamu menjadi orang yang lupa kepada Tuhan (QS. Al-A’raf : 205)

Disinilah letaknya keistimewaan Khalifah Pertama Abubakar r.a. Nabi SAW bersabda tentang pendidikannya : “Tidak ada sesuatupun yang dicurahkan Allah kedalam dadaku, melainkan aku curahkan kembali ke dalam dada Abubakar”.

Dan Nabi SAW berkata seterusnya : “Allah tidak melihat pada wajahmu, tetapi Ia melihat kepada isi bathinmu.

Dan Nabi berkata selanjutnya : “Tiap-tiap sesuatu ada wadahnya, dan wadah tagwa itu adalah hati orang ‘Arifin”. Nabi SAW bersabda : “Barang siapa yang mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAAH tetapi tidak diamalkan sebagaimana yang diperintahkan, maka Tuhan mengecamnya : Wahai hambaku, engkau ini dusta, engkau ucapkan apa yang tidak engkau kerjakan”.

Jika tidak tahu, tanyakan pada guru, sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an :

Tanyakanlah kepada ahli dzikir (ilmu) jika kamu tidak mengetahuinya (QS. An-Nahl : 43)

Banyak firman-firman Tuhan yang memperingatkan mereka yang lupa kepada Tuhan itu, antara lain firmannya :

Barang siapa yang tidak senang memperhatikan peringatan-Ku, bagi orang itu akan disebabkan penghidupan yang sempit, kemudian kami himpunkan dia pada hari kiamat dengan keadaan buta (QS.Thaha : 124)

Pada firman yang lainnya, Allah SWT berfirman :

Barang siapa di dunia ini sudah buta, maka di akhiratnya akan lebih buta dan sesatjalannya (QS. Bani Israil : 72)

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memperingatkan pula :

Jika disebut buta, bukanlah buta matanya, tetapi buta hatinya, yang terletak didalam dada (QS. Al-Haj : 46)

Maka dari itu marilah kita perhatikan sabda Penghulu kita Syekh Abdul Oodir Al-Jaelani q.s.a. : “Sebab-sebab yang membutakan hari itu adalah diantaranya jahil, atau tidak sefaham tentang hakikat perintah ketuhanan. Sebab jahil ialah bahwa jika jiwa sudah dikuasai oleh sifat jiwa zalim, seperti : takabur, irihati, dengki, kikir, melihat diri lebih utama, suka membuka rahasia orang lain, suka membawa berita adu domba, bohong, dusta dan semacam dari itu pada sifat-sifat tercela, yang acap kali menjatuhkan manusia kedalam lembah kehancuran dan kehinaan”.

Bagaimana membuangsifat-sifat yang buruk ini ?

Cara untuk membuang sifat-sifat yang tercela itu adalah dengan jalan membersihkan cermin hati itu dengan membersihkan tauhid, ilmu, amal dan mujahadah yang sungguhsungguh lahir bathin, sehingga hati yang mati itu hidup kembali dengan Nur-Tauhid.

Telah bersabda Nabi SAW : “Bagi tiap-tiap sesuatu ada alat pembersih, dan alat pembersih hati yaitu “DZIKRULLAH’”. Ketahuilah bahwa membersihkan jiwa dan menolak kehendak hawa nafsu yang keji itu fardhu? ain hukumnya, membutuhkan perjuangan yang besar dan daya usaha yang amat sangat”.

Allah SWT berfiman dalam Al-Qur’an :

Barang siapa yang berjuang atau mujahadah, sebenarnya berjuang untuk dirinya.

Firman Allah pula dalam Al-Qur’an :

Adapun orang yang takut kepada Tuhan dan mencegah dirinya daripada hawa nafsu yang keji, balasan dan tempatnya itu adalah syurga. (QS. An-Nazi’at : 40-41)

Maka firman Tuhan dalam sejarah Nabi Yusuf a.s.: “Tidak dapat saya melepaskan hawa nafsu saya, karena hawa nafsu saya itu selalu menyuruh saya berbuat kejahatan, kecuali disayangi oleh Tuhan akan saya ini” (QS. Yusuf : 53)

‘Dan berkata pula Rasulullah SAW : “Yang saya takuti daripada segala ketakutan umat saya, ialah mengikuti hawa nafsu dan berpanjang-panjang cita dan angan-angan kosong. Adapun mengikuti hawa nafsu itu akhirnya mencegah manusia sampai kepada yang hak, sedangkan berpanjang cita dan anganangan kosong, akan melupakan dia ke akhirat”.

Rasulullah SAW bersabda pula :

Jihad yang terutama, ialah jihad seseorang untuk dirinya dan hawa nafsunya (HR. Bukhori Muslim)

Pada sabda yang lainnya junjungan kita Nabi SAW mengingatkan : “Yang dinamakan orang kuat bukanlah orang yang gagah perkasa dalam menyerang, tetapi orang yang gagah perkasa itu adalah orang yang dapat menguasai dirinya dikala ia marah” (HR.Bukhori-Muslim).

Sabda Nabi SAW selanjutnya : “Musuhmu yang paling berbahaya adalah nafsumu yang terletak diantara dua lambungmu”.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

Pasti jaya yang membersihkan dirinya, dan pasti celaka orang yang mensia-siakan dirinya (QS. Asy-Syamsi:9-10)

Yang disebut diatas itulah jiwa yang tercela yang selalu terdapat pada tiap pribadi, pada setiap masa dan zaman.

Semua Agama dan aliran sepakat menamakan dia jiwa yang tercela dan menyatakan cemas untuk membencikannya, untuk menjaga jangan tertipu dan untuk mencegah jangan sampai pribadi kita condong kepada tipu daya nafsu. Oleh karena itu pekerjaan ulama-ulama Thoregat yang pertama dan utama, ialah mendidik murid untuk dapat menguasai dirinya, ialah melakukan riyadhah dan latihan-latihan, sanggup menentang hawa nafsunya, sedia mengubah kebiasaan-kebiasaan dan syahwatnya.

Guru-guru Thorekat itu memperingatkan agar muridmurid meniggalkan sifat-sifat tersebut dan tidak menyukai membiasakan mereka membuat perhitungan laba-rugi.

Nabi SAW berkata : “Perhitungkanlah dirimu sebelum engkau menghadapi perhitungan Tuhan”.

Ulama-ulama “ Arifin ( Tasawwuf) setengahnya berkata : “Tidak mengapa mengikuti syahwat yang diperkenankan untuk diri kita, apabila ternyata dapat menguatkan ibadat, seperti : tidak mengapa memakai pakaian yang megah untuk melahirkan nikmat Tuhan. Tidak mengapa makan dan minum yang sedapsedap untuk kepentingan kesehatan anggota badan bersyukur dan menjadi kuat panca indera, sebagaimana yang pernah diperkenakan oleh ulama-ulama Sufi dan Thoregat Syaziliyyah “.

Ahli ma’rifat Syekh Syaziti r.a. pernah berkata kepada teman-temannya : “Makan dan minumlah kamu daripada makanan yang baik-baik, munumlah minuman yang sedap, tidurlah di atas tempat yang empuk, berpakaian lah dengan pakaian yang halus, terapi perbanyaklah dzikir kepada Tuhanmu”.

Firman Allah :

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah agar pengaruh harta bendamu dan anak pinakmu tidak merusakkan kamu daripada dzikrullah. Barang siapa berbuat demikian, pasti mereka akan rugi (QS. Al-Munafiqun : 9)

Firman Tuhan pula : |

Makan dan minumlah kamu daripada rizki yang dikaruniakan Allah, dan janganlah kamu berlomba-lomba berbuat kerusakan di atas bumi ini (QS. Al-Bagarah:60)

Apabila hamba Allah merasakan yang demikian itu berkata “Alhamdulillah”, maka tiap-tiap anggota badannya bersyukur pula untuk Allah. Sebaliknya, bilamana manusia yang tidak demikian, ia hanya mengucapkan syukur, padahal dalam hatinya tidak, bahkan berani mengingkari takdir Tuhan.

Syekh Ali Al-Qadir r.a. berkata : “Hendaklah berbanggabangga di dunia orang Sufi, tidur di atas tikar yang tenang, Tuhan mermasukanrnya kedalam syurga yang tinggi “.

Keterangan yang diatas ini menjadi dalil, banyak raja-raja dan pangeran-pangeran ahli dunia, yang kebesaran dan kemewahannya tidak mencegah mereka daripada dzikrullah.

Maka diberi pahala dan ganjaran, dan Tuhan memasukan mereka itu dengan rahmat-Nya ke dalam syurga yang tinggi

Contoh ini ditiru oleh ulama-ulama Sufi dalam Thorekat Nagsyabandiyyah, Syaziliyyah dan Kubrawiyyah.

Dalam kitab “Ar-Rasyikhar” telah berkata Tuan Syekh Bahaudin Nagsyabandi r.a. : “Tiap macam makanan harus baik, beribadat pun harus baik pula”.

Beberapa kalimat ini cukup untuk menunjukan buat “Arif Budiman, bahwa tidak semua kesenangan didunia disingkirkan oleh orang-orang Sufi.

Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani q.s.a. berkata : “Harta bendamu itu adalah khadammu dan engkau adalah khadam Allah. Maka hidupmu di dunia ini harus menjadi manusia “tauladan” dan hidupmu di akhirat kelak menjadi orang yang mulia”.

Nabi SAW berkata : “Bukanlah orang yang baik jika engkau tinggalkan dunia untuk akhirat, atau sebaliknya meninggalkan akhirat untuk dunia, tetapi hendaklah mencapai kedua-duanya, karena dunia itu jalan ke akhirat dan jangan kamu bergantung kepada manusia”. (Ibn As-Sakir)

Firman Tuhan dalam Al-Qur’an :

Kejarlah apa yang diberikan Tuhan untuk akhirat, tetapi Janganlah engkau lupa akan nasibmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Tuhan berbuat baik kepadamu, Janganlah bercita-cita berbuat kerusakan di atas muka bumi ini, karena Allah tidak menyukai mereka yang berbuat kerusakan (QS. Al-Qosos : 77)

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker