Kitab Tasauf

Terjemah Akhlak Lil Banin Juz 2

9. KISAH-KISAH NYATA

  1. Sayyidina Ismail putra Nabi Ibrahim as adalah seorang yang berbakti kepada ibu bapaknya.

Ketika umurnya mencapai 13 tahun, ayahnya berkata kepadanya, “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu.”

la menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar” (Ash-Shaffaat: 102).

Nabi Ibrahim mematuhi perintah Tuhannya dan ingin menyembelih putranya. Di saat yang menakutkan ini sayyidina Ismail teringat akan ibunya. Maka ia berkata kepada ayahnya, “Hai ayahku ikatlah aku erat-erat agar aku tidak goyah dan tanggalkanlah bajuku agar tidak terkena darahku. Karena jika ibuku melihatnya, semakin bertambah kesedihannya. Sampaikan salam kepada ibuku. Jika ayah ingin mengembalikan bajuku kepadanya, maka lakukanlah. Karena hal itu akan menghibur hatinya dan menimbulkan kenangan terhadap anaknya.”

Kemudian Nabi Ibrahim menelungkupkan Ismail dan meletakkan pisau pada tenggorokannya, tetapi tidak berpengaruh padanya dengan kekuasaan Allah Ta’ala. Maka Allah menebusnya dengan seekor domba dari surga. Kemudian Nabi Ibrahim menyembelihnya. Lihatlah wahai anak tercinta, bagaimana sayyidina Ismail berbakti dan bersabar dan bagaimana nabi Ibrahim mematuhi perintah Tuhannya serta tabah dalam menerima cobaan yang nyata ini.

  1. Sayyidina Ali Zainal Abidin r.a. adalah seorang yang banyak berbakti kepada ibunya, hingga seorang sahabatnya berkata, “Anda adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu. Mengapa kami tidak melihatmu makan bersamanya?” la menjawab, “Ya, karena saya khawatir tanganku mendahuluinya mengambil suatu makanan yang telah dipandangnya dan ingin dimakannya, jika demikian, maka aku pun telah mendurhakainya.”
  1. Datanglah seorang laki-laki berkata kepada Rasululah SAW., “Ya Rasulullah, di sana ada seorang pemuda yang hampir meninggal, ia disuruh mengucapkan : Laa ilaha illallah, namun tidak dapat mengucapkannya.” Nabi SAW. berkata, “Bukankah ia telah mengucapkannya di masa hidupnya ?” Orang-orang pun berkata, “Ya.” Nabi SAW. berkata, “Apa yang menghalanginya mengucapkan itu menjelang wafatnya?” Kemudian Rasulullah SAW. bangkit dan kami bangkit bersamanya hingga kami datangi pemuda itu. Nabi SAW. berkata, “Hai anak, ucapkanlah: Laa ilaha illallah.” Pemuda itu menjawab, “Aku tidak bisa mengucapkannya.” Nabi SAW. bertanya, “Mengapa?” Pemuda itu menjawab, “Karena mendurhakai ibuku.” Nabi SAW. bertanya, ”Apakah ia masih hidup?” Pemuda itu menjawab, “Ya.” Nabi SAW. berkata, “Datangkan dia.” Kemudian ibu pemuda itu datang. Nabi SAW. berkata, “Bagaimana seandainya dinyalakan api, lalu dikatakan kepadamu, jika engkau tidak memberi syafa’at baginya, maka kami lemparkan dia ke dalam api?” Perempuan itu menjawab, “Kalau begitu, aku beri syafa’at baginya.” Nabi SAW. berkata, “Maka jadikan kami sebagai saksi bahwa engkau meridhainya.” Perempuan itu berkata, “Ya Allah, aku jadikan Engkau dan Rasul-Mu sebagai saksi bahwa aku telah ridha kepada putraku.” Kemudian Nabi SAW. berkata, “Hai anak, ucapkan-lah: Laa ilaha illallah.” Maka anak itu mengucapkan: “Laa ilaha illallah.” Maka Rasulullah SAW. berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka.”

Hai anak tercinta! renungkanlah kisah ini agar engkau tahu bahwa durhaka kepada orang tua menyebabkan kesudahan yang buruk. Semoga Allah melindungi kita darinya.

Dalam hadits: “Tiga macam perbuatan dosa yang tidak berguna amalan lain di sampingnya, yaitu: menyekutukan Allah, mendurhakai ibu bapak dan lari dari peperangan.”

  1. Ada seorang, anak Yahudi yang melayani Nabi SAW. pada suatu hari ia sakit dan Nabi SAW. datang menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya. Kemudian Nabi SAW. berkata, “Masuklah agama ke dalam Islam.” Anak itu pun memandang kepada bapaknya yang berada di situ. Bapaknya berkata, “Taatilah Abal Qasim (Nabi).” Kemudian anak itu masuk Islam. Kemudian Nabi SAW. keluar dari rumah itu seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka.”

Lihatlah bagaimana anak ini berbakti kepada ayahnya hingga menjelang wafatnya. Dengan itu Allah memberinya taufiq untuk masuk Islam di saat terakhir dari umurnya. Maka ja pun menjadi penghuni surga. Dari kisah ini engkau dapat mengetahui bahwa berbakti kepada ibu bapak menyebabkan kesudahan yang baik.

  1. Haiwah bin Syuraih adalah seorang yang berbakti kepada ibunya. Ia tidak pernah menentang perkataannya. la termasuk ulama besar dan mempunyai murid yang banyak. Pada suatu hari ibunya datang: kepadanya ketika ia sedang mengajar. Kemudian ibunya berkata, “Berdirilah wahai Haiwah, berikan gandum kepada ayam-ayam.” la pun tidak merasa berat dan tidak berlambat-lambat. Akan tetapi ia tinggalkan mengajar, dan segera mematuhi perintahnya.
  1. Di antara orang-orang yang berbakti juga adalah Dzar bin Umar Al-Hamdani. Termasuk salah satu baktinya kepada ayahnya adalah bahwa ia tidak pernah berjalan bersama ayahnya di siang hari, kecuali ia berjalan di belakangnya. Dan tidaklah ia berjalan bersamanya di malam hari, melainkan ia berjalan di depannya untuk menghadapi bahaya di depannya. Dan tidaklah ia menaiki atap ketika ayahnya berada di bawahnya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker