13. ABU THALHAH AL-ANSHARY DAN PARA KERABATNYA
Disebutkan dalam hadits sahih bahwa Abu Thalhah Al-Anshary r.a. adalah seorang Anshar yang paling banyak hartanya yaitu berupa pohon kurma di Madinah. Harta yang paling dicintainya adalah biruha’ (sebidang kebun kurma) dan ia menghadap masjid.
Adalah Rasulullah SAW. memasukinya dan minum dari airnya yang segar. Tatkala turun ayat: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” (Ali Imran: 92). Datang Abu Thalhah kepada Rasulullah SAW., lalu berkata, “Ya Rasulullah, Allah Ta’ala telah menurunkan kepadamu: “Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai,” dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Biruha’ dan ia adalah sedekah karena Allah Ta’ala yang aku harapkan sebagai kebaktian dan simpanan di sisi Allah Ta’ala. Maka pergunakanlah ya Rasulullah, sesuai dengan yang ditunjukkan Allah kepadamu.” Maka Rasulullah SAW. berkata, “Bagus, itulah harta yang beruntung, itulah harta yang beruntung. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku berpendapat agar engkau membagikannya bagi para kerabat.” Maka Abu Thalhah berkata, “Aku lakukan ya Rasulullah.” Kemudian Abu Thalhah membagikannya kepada para kerabatnya dan putra-putra pamannya.
“CERITA LAIN’
Di saat para sahabat r.a. duduk di dekat Nabi SAW., tiba-tiba beliau berkata, “Janganlah duduk bersama kami seorang yang memutus hubungan kekeluargaan.” Kemudian seorang pemuda berdiri dari majelis itu dan mendatangi bibinya. Sebelumnya kedua orang itu berselisih. Maka ia pun meminta maaf kepadanya, kemudian kembali ke majelis. Maka Rasulullah SAW berkata, “Sesungguhnya rahmat itu tidak turun kepada suatu kaum dimana terdapat seorang pemutus hubungan kekeluargaan.”
14. APA KEWAJIBANMU TERHADAP PELAYANMU ?
- Engkau wajib memperlakukan pelayanmu secara baik dengan berbicara kepadanya dengan lemah lembut apabila engkau menginginkan sesuatu darinya. Dan janganlah engkau menyakitinya dengan kata-kata yang kasar dan jangan pula membentaknya atau bersikap sombong terhadapnya. Hendaklah engkau menunjukkan kesalahannya jika ia bersalah dengan lembut dan lunak, kemudian memaafkannya.
Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW., “Berapa kali kita memberi maaf kepada pelayan ya Rasulullah ?” Beliau menjawab, “Maafkanlah dia setiap hari 70 kali.”
- Apabila engkau memanggil pelayanmu sedangkan ia tidak segera menjawabmu, atau engkau menyuruhnya melakukan sesuatu, lalu ia berlambat-lambat, maka jangan terburu-buru menegurnya. Mungkin saja ia tidak mendengar suaramu atau sibuk. Hendaklah engkau suka memaafkan. dan bersabar atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan para pelayan, karena mereka biasanya tidak terdidik. Apabila mereka melayanimu dengan baik, maka janganlah engkau lupa berterima kasih kepada mereka atas kebaikan mereka dan memberi mereka imbalan atas hal itu.
Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan” (Ar Rahmaan: 60).
- Janganlah menunjukkan kepada pelayan rahasia rahasia ayahmu agar tidak ada keinginan padanya untuk mencuri, dan jangan mengandalkannya dalam setiap keadaan. Hendaklah engkau berhati-hati terhadapnya. Jangan duduk bersamanya untuk bergurau dan berbicara yang tak berguna agar engkay tidak mengikuti tabiatnya dan tidak jatuh derajatmu di sisinya, dan agar ia tidak berani terhadapmu serta tidak berkurang adabnya terhadap dirimu. Janganlah menganiaya pelayan dengan membebaninya pekerjaan yang melebihi tenaganya atau tidak memberikan upahnya atau menunda-nundanya atau mengurangi upah yang berhak diperolehnya.
Dalam hadits: “Menzhalimi (-berbuat aniaya) pelayan mengenai upahnya termasuk dosa besar.”
Janganlah memukulnya tanpa hak. Dalam hadits: “Barang siapa memukul dengan cambuk secara aniaya, ia akan dibalas atas perbuatan itu pada hari kiamat.”









One Comment