Fiqh

Terjemahan Kitab Sulam Munajat

Termasuk sifat yang wajib diketahui secara rinci adalah:

  1. Satu sifat nafsiyah, yaitu wujud (ada).
  1. Lima sifat salabiyah, yaitu gidam (dahulu), baga’ (kekal), mukhalafah lil hawadits (berbeda dengan makhluk) dan giyam binafsih (berdiri sendiri).
  1. Tujuh sifat ma’ani, yaitu qudrah (kuasa), iradah (berkehendak), ilmu (mengetahui), hayat (hidup), sama’ (mendengar), bashar (melihat) dan kalam (berfirman).
  1. Tujuh sifat ma’nawiyah, yaitu qadiran (yang kuasa), muridan (yang berkehendak), aliman (yang mengetahui), sami’an (yang mendengar), bashiran (yang melihat), mutakalliman (yang berfirman) dan hayyan (yang hidup).

Dan bahwa Allah suci dari segala kekurangan. Kekurangan bagi Allah mustahil, sebab sesuatu yang kurang itu membutuhkan seseorang yang menyempurnakannya dengan menjauhkan kekurangan darinya.

Dikisahkan, bahwa Asiyah suatu saat berkata kepada Fir’aun: “Saya ingin bermain denganmu dan siapa yang kalah, dia harus keluar dengan telanjang ke pintu istana.” Fir’aun setuju, kemudian Asiyah mengalah-kan raja kejam itu dan

Asiyah berkata: “Penuhilah janjimu dan keluarlah dengan telanjang.” Fir’aun berkata: “Maafkan aku dan kamu aku beri lemari dari mutiara.” Asiyah berkata: “Jika kamu tuhan, penuhilah janjimu, sebab memenuhi janji termasuk syarat tuhan.” Maka Fir’aun melepaskan pakaiannya dan keluar ke pintu istana dengan telanjang. Ketika para pelayan perempuan melihat Fir’aun, mereka kafir kepada raja itu dan beriman kepada Allah. Sebelumnya Asiyah telah berdakwah kepada mereka agar beriman kepada Allah, namun mereka menolak.

Dan bahwa Allah suci dari segala hal yang terbersit dalam hati. Apapun yang ada dalam khayalanmu, Allah bukanlah benda itu, baik benda itu terlihat dari alam atas dan alam bawah, baik benda itu pernah kita dengar, misalnya Arasy, surga, sungai surga, pepohonan surga, baik benda itu hanya khayalan saja seperti bendera dari yakut dan laut dari air raksa. Semua benda tersebut baru atau tidak ada, sedangkan Allah tidak demikian. Jika setan berkata kepadamu: “Jika Allah tidak di tempat anu dan di arah anu, lalu di mana Dia? Jika Allah tidak berbentuk demikian dan tidak bersifat demikian, lalu bagaimana Dia?” Jawablah, bahwa yang mengenal Allah hanya Allah sendiri.

Hendaknya orang yang normal akalnya tahu, bahwa segala sesuatu yang dibersitkan oleh setan dalam akalnya, itu termasuk alam, sedangkan Allah tidak termasuk alam. Hal itu bukan berarti Allah tidak ada, sebab kita tidak mampu tahu hakekat dzat Allah dan sifat-Nya, sebab sudah ada bukti bahwa Allah itu ada, yaitu tindakan Allah pada makhluk ini sebagaimana Dia kehendaki, yaitu membuat maupun meniadakan, menghidupkan maupun mematikan, melapangkan dan menyempitkan rezeki. Allah tidak membebani kita untuk mengetahui hakekat dzat-Nya dan sifatNya, sebab kita tidak akan mampu. Yang tahu hakekat dzat Allah dan sifat-Nya hanyalah Allah sendiri.

Ash Shiddiq berkata: “Tidak mampu tahu adalah tahu.” Maksudnya orang yang ilmunya lengkap mengenai apa yang wajib (pasti) bagi Allah, yang mustahil dan yang mungkin bagi Allah, lalu dia tahu bahwa hakekat dzat Allah terhalang dan bahwa akal pikiran tidak mampu untuk tahu hakekat dzat-Nya, dialah orang yang makrifat. Seorang ulama berkata dengan bahar thawil:

Ingat, tahu hakekat Allah adalah mustahil Tahu ketidak mampuan adalah kebenaran Sebagaimana dikatakan Ash Shiddiq pertama Dengan fikiran yang benar dan bersih Yang lain berkata dengan bahar basith:

Yang tahu Allah hanya Allah semata Agama ada dua: iman dan syirik Akal ada batas yang tidak bisa dilaluinya Tidak mampu untuk tahu adalah tahu Allah tidak mempunyai istri maupun anak, maka tidak seorangpun berjasa kepada-Nya dan Isa as bukanlah anak Allah.

Allah menciptakan Isa as. tanpa ayah. Allah pasti ada dan Dia tidak membutuhkan orang lain dan Dia sempurna dengan dzatNya. Allah tidak menyerupai apapun dalam dzat, sifat maupun perbuatan-Nya. Seorang ulama ditanya tentang Allah, lalu menjawab: “Jika yang kamu tanyakan adalah nama-nama Allah, maka firman Allah:

“Dan Allah memiliki asma’ul husna.” (OS. Al A’raf: 180) Jika yang kamu tanyakan sifat-sifat-Nya, maka firman Allah:

“Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (OS. Al Ikhlas: 1-4)

Jika yang kamu tanyakan firman-Nya, maka firman Al| lah:

“Sesungguhnya firman Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu.” (OS. An Nahl: 40)

Jika yang kamu tanyakan sifat-Nya, maka firman Allah:

“Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin: dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (OS. Al Hadid: 3)

Jika yang kamu tanyakan dzat-Nya, maka firman Allah:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (OS. Asy Syura: 11)

Diriwayatkan, bahwa Nabi saw. bersabda:

“Berfikirlah kalian mengenai makhluk dan janganlah kalian berfikir mengenai Sang Pencipta.”

Makna ”  ” adalah aku tahu dengan pasti, meyakini dengan hati dan menjelaskan kepada orang lain, bahwa junjungan kita Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf yang berasal dari suku Ouraisy adalah hamba Allah dan rasul-Nya kepada seluruh makhluk. Karena hamba, maka Nabi Muhammad tunduk dan taat kepada Allah dan dialah utusan yang tiada tandingannya, sebab dia diutus kepada seluruh makhluk. Kulit Nabi putih bercampur kemerahan. Dengan demikian, Nabi Muhammad diutus secara nyata kepada orang yang hidup pada masanya sampai hari kiamat di dunia. Dan secara hukum beliau diutus kepada orang yang ada sebelumnya sampai beliau lahir. Nabi Muhammad juga diutus secara nyata di akhirat saat seluruh makhluk berada di bawah benderanya. Nabi Muhammad adalah penutup para nabi dan rasul, sebagaimana diisyaratkan oleh ‘mim’ dari kata ” ” yang makhrajnya merupakan makhraj terakhir. .

Dan bahwa Nabi Muhammad benar dalam segala hal yang dia beritahukan, meskipun hal yang bisa terjadi, misalnya Nabi bersabda:

“Aku telah makan, Fulan datang pada hari anu.”

Nabi Muhammad mustahil dusta dalam hal tersebut, sebab beliau pasti ma’shum (dijaga dari dosa). Hal yang diberitakan Nabi saw. harus kita yakini, misalnya tanda-tanda kiamat, pertanyaan di dalam kubur, nikmat kubur, siksa kubur, padang Mahsyar, menimbang amal perbuatan, telaga, syafaat, surga, neraka, pahala dan siksa.

Semua orang harus mempercayai Nabi Muhammad saw. dengan hati dalam segala hal yang beliau bawa jika diketahui tanpa berpikir, yakni orang pandai dan orang awam sama-sama mengetahuinya, baik yang ada dalilnya atau tidak. Baik secara rinci, misalnya kitab suci yang ada empat, yaitu: Taurat, Injil, AlOur’an dan Zabur, para nabi yang disebutkan dalam Al-Qur’an yang berjumlah dua puluh lima dan empat orang malaikat, yaitu, Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail, atau gelobal, seperti kitab suci selain empat, nabi selain dua puluh lima dan malaikat selain empat.

Mereka juga harus mengikuti Nabi Muhammad saw. dalam perbuatan dan ucapan serta keputusan, selama perbuatan itu bukan merupakan watak, misalnya berdiri, duduk dan berjalan dan bukan merupakan prioritas khusus beliau, misalnya beristri merdeka lebih dari empat orang, berdiam diri di masjid dalam keadaan junub dan boleh menghadap maupun membelakangi kiblat saat buang air. Allah berfirman:

“Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya, (yaitu) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk.” (OS. Al A’raf: 158)

Yakni ikutilah dia pada apa yang dia perintahkan dan dia larang agar kalian benar dalam mengikutinya. Umi adalah orang yang tidak bisa menulis dan kalimat-kalimat Allah adalah Al-Qur’an atau seluruh kitab suci.

Haram bagi mereka mendustakan Nabi Muhammad saw. dan melanggar perintah atau larangannya. Barangsiapa mendustakan berita yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., dia menganiaya dirinya sendiri dan kafir, tidak beriman dan dia menjadi musuh Allah. Adapun mukmin yang tetap bertauhid, dia tidak akan menjadi musuh Allah, meskipun melakukan seluruh dosa. Berdusta kepada Nabi Muhammad saw. hukumnya haram dan tidak membuat kafir. Barangsiapa yang melanggar perintah atau larangan Nabi Muhammad saw., dia durhaka dan tidak taat kepada Allah serta Rasulullah dan merugi. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk mengikuti Nabi Muhammad saw. secara lahir batin dan membuat kita berpegangan dengan sunnahnya, menjadikan kita termasuk orang yang menghidupkan syariatnya. Semoga di dunia ini kita dapat berziarah kepada beliau dan di akhirat memperoleh syafaat beliau. Semoga Allah mematikan kita di atas agamanya, memasukkan kita ke dalam kelompoknya, demikian juga orang tua kita, anak kita, saudara kita dan orang terkasih kita serta seluruh kaum muslimin, baik yang meninggal dunia maupun yang masih hidup. Amin (Ya Allah kabulkanlah doa kami).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker