11. SUNAT WUDLU
Wudlu, shalat dan mandi mempunyai sunat yang sangat banyak. Barangsiapa ingin hatinya hidup dan beruntung disisi Tuhannya, hendaknya dia mempelajarinya dan mengamalkannya. Yang tidak melakukannya hanya orang yang meremehkan agama Islam atau orang yang berpaling dari Islam atau orang yang lupa fadlilah sunat itu. Nabi saw. bersabda:
“Tidak sempurna shalat salah satu dari kalian sampai ia menyempurnakan wudlu.”
Di antara sunat wudlu dan mandi adalah sebagai berikut:
- Membaca Bismillah bersamaan dengan niat.
- Melanggengkan niat.
- Menggosok.
- Mengulangi tiga kali.
- Tidak mengibaskan.
- Tidak meminta tolong.
- Tidak berbicara kecuali karena terpaksa.
- Menghadap kiblat.
- Berturut-turut.
- Dzikirsetelahnya bila tidak ada waktu lama antara wudhu mandi dan dzikir.
Contoh dzikir tersebut adalah:
“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwasanya Muhammad hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang banyak bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bersesuci. Maha Suci Engkau ya Allah, ampunilah untukku dosaku, luaskanlah untukku di rumahku, berkahilah aku dalam rezekiku dan janganlah Engkau memfitnah aku dalam hal yang Engkau jauhkan dariku.”
Sunat air untuk wudlu tidak kurang dari satu mud danair mandi tidak kurang dari satu sha’ apabila tinggi badan orang yang bersangkutan mirip dengan tinggi badan Nabi saw. dan halusnya. Bila tidak demikian, maka sunat menambah dan mengurangi air sesuai dengan badannya.
12. SUNAT SHALAT
Sunat shalat ada dua macam, yaitu ab’adl dan haiat. Sunat ab’adl shalat adalah sebagaimana berikut:
- Tasyahhud awal dan hal terakhir.
- Ounut dan hal terakhir pada i’tidal rakaat kedua Shubuh dan i’tidal akhir rakaat witir Ramadlan pada setengah bulan kedua.
Sedangkan sunat haiat adalah segala hal yang diperintahkan dalam shalat selain rukun, syarat dan ab’adl.
13. DZIKIR SHALAT
Termasuk hal yang sangat dianjurkan untuk diketahui adalah mengerti dzikir shalat dan mengerti maknanya agar makna itu dihadirkan dalam hati, meskipun secara gelobal agar orang yang bersangkutan memperoleh nikmat-nikmat yang besar. Para ulama besar berkata: “Seseorang tidak diberi pahala atas dzikir, kecuali apabila ia mengerti maknanya dan menghadirkannya, meskipun secara gelobal, kecuali Al-Qur’an dan shalawat Nabi saw., sebagaimana dijelaskan oleh Muhammad Asy Syabawi.”
Di sini kami menuturkan dzikir tersebut dengan singkat.
Hendaknya orang yang akan shalat setelah berdiri tegak sunat mengucapkan dengan lidahnya:
“Aku shalat Zhuhur empat rakaat ada’ menghadap kiblat makmum karena Allah Ta’ala. Allahu Akbar.”
Gantilah kata ” ” dengan shalat lainnya. Jumlah rakaat shalat hendaknya disebutkan agar berbeda dengan shalat lainnya. Namun apabila jumlah rakaat salah dengan sengaja, maka shalat batal sebab yang diniati bukan yang terjadi. Menyebutkan jumlah rakaat dalam hati hukumnya sunat, sebagaimana sunatnya menuturkan ada’ dan gadla, meskipun dalam shalat sunat, agar shalat itu berbeda dengan lainnya. Demikian juga sunat menuturkan ” ” dan ” ” untuk menyatakan ikhlas dan karena ada ulama yang mewajibkannya.
Bila menjadi imam, gantilah kata ” ” dengan” “. Bila shalat sendirian, janganlah mengucapkan satupun dari keduanya. Setelah takbiratul ihram dan setelah diam sebentar, bacalah dengan pelan, baik shalatnya fardlu maupun sunat:
“Saya menghadapkan muka saya kepada Tuhan pencipta langit dan bumi dengan rendah hati dan sejujur-jujurnya sebagai seorang muslim, bukan sebagai seorang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. Tiada sekutu bagi-Nya. Begitulah saya diperintah, dan saya sebagian dari orang Islam.”
Setelah diam sebentar, ucapkan dengan pelan:
“Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” . Kemudian setelah diam sebentar, ucapkan:
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
‘ Dengan nama Allah’ yakni dengan dzat Allah atau dengan pertolongan Allah, Raja Agung satu-satunya yang kita sembah, dengan taufik-Nya dan berkah nama-Nya. ‘Yang Maha Pengasih’ yakni yang penciptaan dan pertolongan-Nya merata pada seluruh makhluk. ‘Maha Pemurah’ yakni yang memberikan ridla-Nya hanya kepada mereka yang mencintaiNya dari makhluk.
‘Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam’ yakni Raja seluruh makhluk.
‘Maha Pemurah’ yakni memberikan nikmat kepada seluruh hamba. ‘Lagi Maha Penyayang’ yang memberikan surga hanya kepada para wali-Nya.
‘Yang menguasai hari pembalasan’ “. ” dengan alif artinya Penguasa seluruh urusan pada hari kiamat. ” ” tanpa alif artinya yang memberikan perintah dan larangan pada hari kiamat tanpa penghalang maupun sekutu. Penyebab kelima Asma disebutkan adalah seakan-akan Allah berfirman: “Pertama kali Aku menciptakanmu, maka Aku-lah Allah. Kemudian Aku mendidikmu dengan nikmat, maka Allah Tuhan. Kemudian kamu durhaka, lalu Aku menutupi dosamu, maka Aku-lah Maha Pemurah. Kemudian Aku menerima taubatmu, maka Aku-lah Maha Penyayang. Kemudian Aku pasti membalasmu, maka Aku-lah Penguasa hari pembalasan.”
‘Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan’ kami hanya menyembah Engkau dengan meyakini keesaan-Mu, menaatiMu dengan anggota badan kami dan kami hanya meminta pertolongan-Mu untuk beribadah dan lainnya.
‘Tunjukilah kami jalan yang lurus’ tambahkanlah petunjuk kepada kami menuju agama yang benar dan jadikanlah kami selalu mendapat petunjuk terhadapnya. ‘ Yaitu) jalan orangorayng yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka’ berupa hidayah, yaitu para nabi, shiddig, syahid dan orang saleh. ‘Bukan (jalan) mereka yang dimurkai’ yakni kaum Yahudi, sebab Allah berfirman:
“Katakanlah (Muhammad), “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang fasik) disisi Allah? Yaitu, orang yang dilaknat dan dimurkai Allah, diantara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah Tagut.” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” (OS Al Maidah: 60)
‘Dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat’ yakni kaum Nasrani, sebab Allah berfirman:
“Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti keinginan orangorang yang telah tersesat dahulu dan (telah) menyesatkan banyak (manusia), dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus.” (OS Al Maidah: 77)
Dan karena Nabi saw. bersabda:
“Sesungguhnya orang-orang yang dimurkai adalah Yahudi dan sesungguhnya orang-orang yang sesat adalah kaum Nasrani.” (HR. Ibnu Hibban)









One Comment