Menghentikan zikir bila ada gangguan
Di antaranya:
1. Apabila ada orang memberi salam, maka dijawab salamnya, kemudian berzikir lagi.
2. Jika ada orang bersin, diucapkan ”yarhamukallah”, lalu berzikir kembali.
3. Ketika khatib berkhutbah.
4. Ketika mendengar suara muazin, dijawab dengan kalimat-kalimat azan dan ikamah, dan kembali berzikir.
5. Bila ada kemungkaran, ia mencegahnya atau menunjukkan jalan kebaikan, kemudian berzikir lagi.
6. Ketika ngantuk. Dan sebagainya.
Ketahuilah, zikir-zikir yang ditetapkan dalam solat dan lainnya, baik wajib maupun sunnah, tidaklah diperhitungkan sedikitpun dan tidak dianggap sampai diucapkan sehingga dirinya bisa mendengar jika pendengarannya baik.
Ketahuilah, sejumlah imam telah mengarang kitab-kitab berharga mengenai amalan pagi dan petang. Mereka meriwayatkan dengan sanadsanad yang bersambung dan mereka tuliskan jalan-jalannya. Di antaranya adalah karya Imam Abi Abdurrahman An-Nasz’. Yang lebih banyak, baik dan bermutu adalah yang ditulis oleh Imam Abu Bakar bin Muhammad bin Ishaq As-Sunni.
Saya telah mendengar seluruh kitab Ibnu Sunni dari guru kami, AlImam Al-Hafidh Abi
Al-Baqo’ Khalid bin Yusuf bin Saad bin Hasan. Ia berkata:
Diberitakan kepada kami oleh Al-Imam Al-Allamah Abu Al-Yaman Zaid ibn Al-Hasan bin Zaid ibn Al-Hasan Al-Kindi pada tahun 602 yang berkata:
Diberitakan kepada kami oleh As-Syekh Al-Imam Abu Al-Hasan Sadu Al-Khair
Muhammad bin Sahl Al-Anshari yang berkata:
Diberitakan kepada kami oleh As-Syekh Al-Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin
Saad bin Ahmad ibn Al-Hasan Ad-Duni yang berkata:
Diberitakan kepada kami oleh Al-Qadhi Abu Nashr Ahmad ibn AlHusein bin
Muhammad ibn Al-Kassar Ad-Dainuri yang berkata:
Diberikan kepada kami oleh As-Syekh Al-Imam Abu Abu Bakar Ahmad bin
Muhammad bin Ishaq As-Sunni .
Sesungguhnya disebutkan ini di sini, karena akan dikutip beberapa riwayat dari kitab Ibnu Sunni. Dari itu didahulukan snadnya. Hal ini disetujui oleh imam-imam hadis dan selain mereka.
Saya mengkhususkan penyebutan isnad kitab itu, karena itu adalah kitab yang paling lengkap dalam bidangnya. Hadis yang saya sebutkan adalah riwayat-riwayat Sahih yang saya dapatkan dengan pendengaran yang bersambung, kecuali hanya sebagian kecil saja. Saya mengutip dari kitab-kitab yang merupakan sumber-sumber Islam, yaitu Saksh Bukhari dan Muslim, Sunan Abu Daud, Tirmizi dan Nasz’i. Juga dari kitab- kitab Masanid’ dan Sunan, seperti, Al-Muwaththa’ oleh Imam Malik, Musnad Imam
Ahmad bin Hanbal dan Abi Uwanah, Sunan Ibnu Majah, Daruguthni, Baihaqi dan lainnya.
Ketahuilah, hadis-hadis yang ada dalam kitab ini saya hubungkan dengan kitab-kitab yang masyhur, dan lainnya. Kecuali Sahih Bukhari dan Muslim atau salah satu dari keduanya, saya cukupkan rujukan pada kedua kitab itu karena tujuannya telah tercapai, yaitu keabsahannya.
Perlu diketahui bahwa, Sunan Abu Daud termasuk kitab terbesar yang saya kutip. Abu Daud berkata: Saya sebutkan hadis Sahih dan yang serupa serta yang mendekatinya. Yang tidak saya sebutkan sedikitpun, maka berarti hasan (baik), dan sebagiannya lebih Sahih dari yang lain. Yang diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunannya. dan tidak disebutkan kelemahannya, maka menurut dia berarti Sahih atau hasan, dan keduanya dijadikan hujjah dalam berbagai hukum, apalagi dalam amalan-amalan utama.
Apabila sudah ditetapkan demikian, maka bilamana ada riwayat Abu Daud yang tidak ada komentar mengenai kelemahannya, berarti ia tidak melemahkannya.
Saya mendahulukan sebuah bab mengenai keutamaan berzikir. Saya sebutkan kalimat pengantar bagi yang sesudahnya, kemudian saya sebutkan maksud kitab ini dalam bab-babnya. Akhir kitab ini mengenai istighfar (mohon ampunan), dengan berharap bahwa Allah akan mengakhiri umur kita dengannya. Allahlah yang memberi taufik, kepadanya kita beriman, bertawakkal dan menyandarkan diri.









One Comment