Terjemahan Kitab Kuning | Terjemahan Kitab Al Adzkar Karya Imam Nawawi Daftar IsishowPENDAHULUANSuruhan berikhlas diri dan berniat baik dalam seluruh amalan yang nampak dan yang samarMenghentikan zikir bila ada gangguanKeutamaan zikir tanpa terikat dengan waktuUcapan ketika bangun tidurUcapan ketika memakai pakaianUcapan ketika memakai baju baru, sandal dan semisalnyaUcapan bila teman memakai baju baruCara memakai baju dan sandalUcapan ketika menanggalkan pakaian untuk mandi, tidur dan sebagainyaUcapan ketika keluar dan masuk rumahUcapan ketika bangun di waktu malam dan keluar dari rumahUcapan akan masuk kamar kecilLarangan berzikir dan berbicara di kamar kecilLarangan mengucapkan salam kepada orang yang sedang buang airUcapan ketika keluar dari kamar kecil PENDAHULUAN Segala puji bagi Allah yang Tunggal dan Maha Kuasa, yang Maha Perkasa lagi Pengampun, yang menakdirkan dan mengatur segala sesuatu, yang menetapkan malam sesudah siang, agar direnungkan oleh orang-orang yang berakal dan berpenglihatan, yang menyadarkan di antara makhluknya orang yang dipilihnya kemudian dimasukkannya dalam golongan orang-orang yang baik. Dia memberi taufik kepada hamba pilihannya, kemudian menjadikannya sebagai orang-orang yang tajarrub dan salihin serta menyadarkan siapa yang dicintainya, kemudian menjadikan mereka sebagai orang yang zahid di dunia ini. Mereka pun berijtihad untuk memperoleh keridaannya, bersiap-siap untuk kehidupan yang kekal dan menjauhi hal-hal yang menimbulkan kemarahannya. Mereka takut akan siksa neraka sehingga berijtihad untuk melakukan ketaatan kepadanya. Mereka selalu mengingatnya pada pagi dan petang, malam dan siang, dalam segala keadaan, sehingga bersinarlah hati mereka dengan cahaya yang cemerlang. Kucurahkan puji atas segala nikmatnya dan kumohon tambahan keutamaan dan karunianya. Saya! bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, yang Maha Besar dan Tunggal, tempat tujuan, yang Maha Perkasa lagi Bijaksana. Aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasulnya, kecintaan dan kekasihnya, makhluk terutama dan termulia di antara orang-orang yang terdahulu dan akan datang. Salawat dan salamnya tercurah atasnya dan nabi-nabi yang lain beserta keluarganya dan orang-orang salihin lainnya. Amma ba'du. Allah yang Maha Agung, Perkasa dan Bijaksana telah berfirman: "Maka ingatlah kalian kepadaKu, Aku pun akan ingat kepadamu ....” (Q.S. Al-Baqarah: 152) Dalam firman yang lain: ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah Ku.” (Q.S. Az-Zaariyat: 56) Dengan ini telah diketahui bahwa keadaan hamba yang paling utama adalah saat di mana ia mengingat Tuhan sekalian alam (Robbul Alamin) dan menyibukkan diri dengan zikir-zikir yang diriwayatkan dari Rasulullah pemimpin para Rasul. Para ulama telah menulis mengenai amalan siang dan malam, doa-doa dan zikir-zikir dalam kitab- kitab yang banyak diketahui oleh pembaca. Akan tetapi karena sanad dan pengulangannya terlalu banyak, maka menyebabkan berkurangnya semangat untuk mempelajarinya. Saya bermaksud memudahkan hal itu untuk para pembaca yang berkeinginan. Maka saya mulai dan susun dalam kitab ini secara ringkas. Saya tinggalkan sanad-sanad pada sebagian besarnya guna peringkasannya. Insyaallah akan saya sebutkan sesuatu yang lebih penting dari itu sebagai ganti sanad, yaitu penyebutan hadis sahih, hasan, dhaif, dan munkar. Hal itu perlu diketahui oleh semua orang, kecuali sedikit saja dari para muhaddisin. Bagian ini amat penting untuk diperhatikan, diyakini dan patut diandalkan oleh pelajar dari pihak ahli hafal yang teliti dan para imam yang pandai. Akan saya tambahkan sejumlah masalah berharga dari ilmu hadis, seluk-beluk fiqh, kaidah-kaidah penting, latihan-latihan rohani serta tata cara yang harus diketahui oleh orang yang menjalaninya. Saya sebutkan semuanya secara jelas, sehingga mudah dipahami bagi orang awam dan orang yang mempelajarinya. Telah diriwayatkan dalam Sahih Muslim, dari Abu Hurairah , bahwa Rasulullah bersabda: "Barangsiapa mengajak kepada kebenaran, diapun mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tidak kurang sedikitpun dari pahala mereka (pahala yang ia dapatkan tidak mengurangi pahala mereka).” Maka, saya ingin menolong orang yang menyukai kebaikan dengan memudahkan jalannya, memberi isyarat kepadanya dan menjelaskannya. Dalam permulaan kitab, saya sebutkan pasal-pasal penting yang diperlukan oleh pengkaji kitab ini dan pembaca-pembaca lainnya. Apabila dalam periwayatan ada sahabat yang tidak masyhur bagi orang yang tidak mengetahuinya, maka saya katakan: Kami riwayatkan dari Fulan, As-Sahabi, agar tidak diragukan persahabatannya. Saya utamakan kitab ini dengan hadis-hadis yang bersumber dari lima kitab yang masyhur, yaitu: Sahih Bukhari dan Muslim, Sunan Abu Daud, Tirmizi dan Nasz'i. terkadang saya meriwayatkan dari kitab masyhur lainnya. Adapun jilid-jilid dan sanad-sanad, maka tidak saya sebutkan, kecuali pada tempat yang jarang. Juga jarang saya sebutkan hadis yang dhaif dan masyhur. Saya hanya mengutamakan hadis yang sahih. Oleh karena itu, saya harap kitab ini akan menjadi sumber yang bisa diandalkan. Dalam suatu masalah, saya hanya menyebutkan hadis-hadis yang dilalah (penunjukan)nya jelas dalam masalah itu. Kepada Allah yang Maha Pemurah saya memohon taufik, tobat, dan pertolongan. Saya juga memohon petunjuk, penjagaan dan pemudahan kebaikan-kebaikan yang saya tuju. Akhirnya, saya berharap untuk memperoleh kemuliaan yang kekal, yang bisa mengumpulkan diri saya dengan para kekasihnya di surga, serta macam kesenangan lainnya. Cukuplah Allah bagiku dan Dia sebaik-baik tempat berserah diri, Tiada kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah yang Maha Perkasa dan Bijaksana. Saya berserah diri dan berlindung kepadanya. Saya mohon pertolongan dan menyerahkan urusan saya kepadanya. Kutitipkan agama dan diriku, kedua orang tua dan saudara-saudaraku, para kekasih, semua orang yang berbuat baik kepadaku dan seluruh orang muslim dan semua kenikmatan yang diberikan untukku dan untuknya berupa urusan dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah jika dititipi sesuatu, pastilah Dia menjaganya, dan Dia adalah sebaik-baiknya penjaga. Abdullah itu adalah sebaik-baiknya orang. Suruhan berikhlas diri dan berniat baik dalam seluruh amalan yang nampak dan yang samar Allah berfirman: ”Dan mereka tidak diperintah melainkan supaya mereka menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus...” (Q.S. Al- Bayyinah:5) Dalam firman yang lain: "Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah tetapi yang sampai kepadaNya adalah ketakwaan tahan...” (Q.S. Al-Hajj:37) Ibnu Abbas berkata: Maknanya adalah: "Akan tetapi, niatlah yang mendapatkannya.” Melalui Umar bin Khattab, Muslim meriwayatkan bahwa Rasul bersabda: "Sesungguhnya setiap amalan itu harus dengan niat, dan perbuatan setiap orang itu berlangsung menurut apa yang diniatkannya. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya akan sampai karena Allah dan Rasulnya. Barangsiapa berlujrah karena kesenangan dunia atau perempuan yang ingin dinikahi, maka hijrahnya sebatas pada apa yang dintatkannya.” Hadis ini disepakati kesahihan, kebesaran dan keagungannya. Ini adalah salah satu hadis yang merupakan inti agama Islam. Ulama salaf dan para pengikutnya menyukai pembukaan karangan dengan hadis ini, untuk mengingatkan niat pengkajinya (orang yang membaca) dan perhatiannya akan hal tersebut. Imam Abi Said Abdurrahman bin Mahdi menganjurkan: Barangsiapa ingin mengarang kitab, hendaklah ia memulai dengan hadis ini. Imam Abu Sulaiman Al-Khattabi mengatakan: Guru-guru kami yang terdahulu menyukai pendahuluan hadis "amalan dengan niat” di depan segala sesuatu yang dikarang dan dimulai dalam urusan-urusan agama, karena keumuman keperluan akan hal itu dalam segala macamnya. Telah sampai kepada kami dari Ibnu Abbas bahwasannya dia berkata: Sesungguhnya seseorang itu dipelihara sesuai kadar niatnya. Dan lainnya berkata: Sesungguhnya manusia diberi balasan menurut kadar niatnya. Fudhail bin Iyadh menjelaskan: Meninggalkan amal karena manusia adalah riya' dan beramal karena manusia adalah syirik, sedang keikhlasan berarti Allah membebaskanmu dari keduanya (riya' dan syirik). Imam Haris Al-Muhasibi , menyebutkan: Manusia yang benar adalah yang tidak perduli andaikata keluar setiap yang ditetapkan baginya dalam hati manusia demi kebaikan hatinya, dan tidak menyukai orang mengetahui kebaikan amalannya sedikitpun, serta tidak membenci apabila orang lain mengetahui keburukan amalannya. Hudzaifah Al-Mar'asi mengatakan: Keikhlasan adalah apabila perbuatan manusia menjadi sama antara lahir dan batin. Al-Qusyairi , menyebutkan: Ikhlas itu pengkhususan untuk Allah dalam ketaatan dengan tujuan. Yaitu dengan ketaatannya itu ia ingin mendekatkan diri kepada Allah semata-mata, tanpa berpura-pura kepada makhluk, mengharap kedudukan di kalangan orang-orang, ingin pujian dari manusia, atau hal lain yang bukan pendekatan diri kepadanya. Sahal At-Tastari berkata: Orang-orang bijaksana yang menyelidiki penafsiran ikhlas, maka mereka tidak mendapati selain ini, yaitu: Gerakan dan ketenangannya/diamnya dalam kerahasiaan maupun terang-terangan hanya bagi Allah tidak dicampuri hawa nafsu dan keduniaan. Ali Ad-Daggag mengatakan: Ikhlas ialah menjaga diri dari pengawasan manusia. Kebenaran adalah menjauhkan diri dari ketaatan kepada hawa nafsu. Orang yang muhlis tidak mengenal riya dan orang yang benar tidaklah sombong. Zinnun Al-Misri menjelaskan: Tiga perkara yang merupakan tanda-tanda ikhlas: Kesamaan antara pujian dan celaan dari orang awam, lupanya melihat amal dalam beramal dan menghendaki pahala amal itu di akhirat. Al-Qusyairi juga menyebutkan: Setidaknya, kebenaran itu adalah kesamaan antara kerahasiaan dan perbuatan terang-terangan. Sahal At-Tastari juga berkata: Tidaklah mencium bau kebenaran, manusia yang berpura-pura kepada dirinya dan orang lain. Banyak lagi perkataan mengenai hal ini. Yang telah saya sebutkan, cukuplah kiranya bagi orang yang mengerti. Patut bagi orang yang mengetahui amalan-amalan utama untuk mengamalkannya, walaupun sekali saja, agar ia termasuk fadilah dari ahlinya, dan tidak patut ia meninggalkannya sama sekali. Akan tetapi, hendaklah ia melakukan amalan yang mudah, sesuai sabda Nabi dalam hadis Sahih: "Apabila aku memerintahkan kalian untuk melakukan sesuatu, maka kerjakanlah menurut kemampuanmu.” Para ulama, baik ahli hadis, fugaha dan lainnya berkata: Boleh dan dianjurkan mengamalkan hadis yang dhaif mengenai amalan-amalan utama dan anjuran ibadah serta ancaman dosa, asalkan bukan hadis maudhu' (palsu) atau yang sangat dhaif, seperti yang diriwayatkan oleh seorang pendusta dan tercela. Pengalaman hadis dhaif mempunyai dua syarat, yaitu adanya syahid (persaksian) yang menguatkannya, seperti kedudukannya sebagai kaidah umum dan di saat pengamalannya tidak diyakini ketetapannya melainkan hanya karena berhati-hati. Adapun hukum-hukum mengenai halal dan haram, jual beli, nikah dan talag serta lainnya, maka dalam hal itu tidaklah diamalkan kecuali dengan hadis sahih atau hasan, kecuali untuk berhati-hati dalam hal semacam itu. Seperti, apabila terdapat hadis dhaif yang tidak menyukai sebagian macam jual beli atau nikah, maka dianjurkan untuk menjauhkan diri darinya, akan tetapi tidak wajib. Pasal ini saya sebutkan, karena dalam kitab ini terdapat hadis-hadis yang saya sebutkan sahihnya, hasannya atau dhaifnya. Atau saya diamkan hal itu karena suatu hal. Saya inginkan tetapnya kaidah ini pada pengkaji kitab ini. Ketahuilah, sebagaimana dianjurkan berzikir, maka disunnahkan pula duduk di dalam majelis zikir. Ibnu Umar menyebutkan sabda beliau : "Apabila kamu melewari kebun surga, maka menyebarlah di situ. Para sahabat bertanya: Apakah kebun surga itu ya Rasulullah? Rasulullah menjawab: Majelis zikir. Sesungguhnya Allah mempunyai banyak malaikat yang berkehling mencari majehs zikir. Apabila mereka mendatangi orang-orang yang berzikir, merekapun mengelilingi majelis itu.” Diriwayatkan dalam Sahih Muslim, dari Muawiyah yang berkata: Rasulullah mendatangi kelompok zikir dari para sahabatnya, lalu bersabda: : "Apakah yang menyebabkan kalian duduk? Mereka menjawab: Kami duduk bersikir kepada Allah dan memujinya atas hidayah dan karuntanya yang diberikan kepada kami berupa agama Islam. Behau bertanya: Demi Allah, apakah hanya untuk itu kahan duduk? Sesungguhnya saya tidak menyuruh kahan bersumpah sebagai tuduhan terhadap kalhtan, akan tetapi Jibril mendarangiku dan mengabarkan bahwa Allah membanggakan kalian kepada para malaikat.” Diriwayatkan dalam Sahih Muslim, dari Abi Said Al-Khudri dan Abu Hurairah , bahwa keduanya menyaksikan Rasulullah bersabda: "Tidaklah suatu kaum duduk sambil berzikir kepada Allah melainkan mereka itu dikelilingi para malaikat dan diliputi rahmat. Turunlah ketentraman atas diri mereka. Orang-orang itu disebut Allah di antara malaikat -malaikatnya.” Zikir itu dilakukan di dalam hati dan dengan lidah, sedang yang paling utama ialah dengan hati dan lidah secara bersama-sama. Apabila dilakukan dengan salah satu dari keduanya maka hatilah yang paling utama. Tidak patut zikir dengan lidah dan hati ditinggalkan karena takut lituduh riya. Akan tetapi zikir itu dilakukan bersama-sama dengan keduanya, dan diharapkan keridaan Allah dengan zikirnya. Telah kami kemukakan dari Al-Fudhail bahwa meninggalkan amal karena manusia adalah riya”. Andaikata manusia membuka kesempatan untuk diamati manusia lain dan penjagaan diri terhadap dugaan-dugaan yang batil, niscaya tertutuplah sebagian besar pintu kebaikan. Ia berarti menyia-nyiakan sesuatu yang besar dari tugas-tugas agama atas dirinya, sedang ini bukanlah perilaku orang-orang yang mengerti. Diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim, dari Aisyah yang berkata: Ayat ini turun mengenai doa: ”..Dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam solat dan Janganlah (pula) merendahkannya....” (Q.S. Al-Isra': 110) Said bin Jubair dan ulama lainnya berkata, bahwa keutamaan zikir tidak terbatas dalam tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan semacamnya. Akan tetapi, setiap orang yang beramal karena Allah dk, maka ia pun berzikir kepadanya. Atha' berkata: Majelis zikir adalah majelis halal dan haram. Yaitu, bagaimana kamu membeli dan menjual, bersembahyang dan berpuasa, menikah dan menceraikan, pergi haji, dan sebagainya. Allah berfirman: "Sesungguhnya kaum muslimin dan mushmat... (Hingga firman Allah ) dan orang- orang laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S. Al-Ahzab:35) Diriwayatkan dalam Sahih Muslim, dari Abu Hurairah , bahwa Rasul bersabda: "Telah beruntung orang-orang yang mengEsakan. Para sahabar bertanya: Siapakah orang-orang yang mengEsakan itu, ya Rasulullah?. Behau menjawab: Orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah, baik lakilaki maupun perempuan.” Pemahaman tentang dalil di atas patut diperhatikan oleh pengkaji kitab ini. Telah timbul perbedaan mengenai hal itu. Dengan mengutip pendapat Ibnu Abbas, Al- Wahidi berkata, bahwa yang dimaksud ialah mereka yang berzikir kepada Allah sehabis solat, pagi dan petang, di tempat tidur dan setiap bangun dari tidur dan setiap pergi atau pulang ke rumahnya. Mujahid mengatakan: Tidaklah termasuk orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun perempuan, kecuali ia berzikir kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Atha' menyatakan: Barangsiapa yang mengerjakan solat lima waktu dengan sempurna, maka ia termasuk dalam firman Allah : dan laki-laki yang banyak mengingat Allah dan perempuan-perempuan yang banyak mengingatnya)...” (Q.S. Al-Ahzab:35) Abu Daud, Nasa'i dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abi Said AlKhudri, bahwa Rasul bersabda: "Apabila seorang lelaki membangunkan istrinya di waktu malam, kemudian mendirikan solat dua rakaat bersama-sama, maka keduanya ditulis sebagai orang laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah.” Abu Amr bin Solah ditanya tentang kadar yang menggolongkan agar termasuk golongan orang-orang yang banyak berzikir. Beliau menjawab: Apabila seseorang selalu melakukan berbagai zikir yang nyata dari Rasulullah , yang mana telah diterangkan dalam kitabamalan siang dan malam, pada pagi dan petang, siang dan malam, dan dalam berbagai waktu dan keadaan yang berbeda-beda, maka ia termasuk orang-orang laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah. Para ulama sepakat atas kebolehan berzikir dengan hati dan lisan bagi orang yang berhadas, orang junub, perempuan haid dan nifas. Itu dimaksudkan dalam tasbih, tahlil, tahmid, takbir, dan salawat atas Rasulullah serta doa dan selainnya. Akan tetapi, membaca Al-Quran diharamkan atas orang junub, perempuan yang haid dan nifas, baik ia membaca sedikit atau banyak, ataupun hanya satu ayat. Dibolehkan bagi mereka membaca Al-Qur’an di dalam hati, juga memandang ayat Al-Qur’an dalam mushaf dan merenungkannya. Sahabat-sahabat Imam Nawawi berkata: Boleh bagi orang junub dan perempuan yang haid mengucapkan di waktu mengalami musibah: "Sesungguhnya kita adalah kepunyaan Allah dan kepadaNyalah kita kembali.” Ketika menaiki kendaraan maka mengucapkan?: ”Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasarnya.” Sewaktu berdoa, mengucapkan': ”Wahai Tuhan kami, berikanlah kebaikan di dunia dan akhirat,dan lindungilah kami dari siksa api neraka.” Orang junub dan perempuan yang haid boleh mengucapkannya dengan syarat tidak meniatkan membaca Al-Qur’an. Kedua macam orang itu juga boleh mengucapkan ”Bismillah wal Hamdulillah”, jika keduanya tidak meniatkan membaca Al-Qur’an, baik keduanya bertujuan zikir atau tidak. Dibolehkan bagi keduanya membaca bacaan yang sudah dibatalkan, seperti: "Orang tua laki dan orang tua perempuan apabila berzina, maka rajamlah keduanya.” Apabila keduanya berkata kepada seseorang': "Ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh." atauf: "Masuklah kedalamnya dengan sejahtera dan aman." dan semacam itu, sedang keduanya bukan berniat membaca Al-Qur’an, maka tidaklah haram. Jika keduanya tidak mendapatkan air, hendaklah bertayamum dan keduanya boleh membaca Al-Qur’an. Apabila berhadas sesudah itu, tidaklah haram baginya membaca Al-Qur’an, seperti: Andaikata ia mandi kemudian berhadas. Tidak ada bedanya antara tayamum yang disebabkan ketiadaan air di rumah atau sewaktu bepergian, ia pun boleh membaca Al-Quran sesudahnya walaupun berhadas. Sebagian sahabat Imam Nawawi berkata: Apabila tidak bepergian, ia boleh mengerjakan solat dengannya dan membaca Al-Quran di waktu solat, dan tidak boleh membacanya di luar solat. Yang benar adalah kebolehannya sebagaimana kami kemukakan, karena tayamumnya. adalah sebagai pengganti mandi. Andaikata orang yang junub bertayamum, kemudian melihat air, haruslah ia memakainya, karena haram baginya membaca Al-Qur’an dan segala yang diharamkan bagi orang junub, sehingga dia mandi. Andaikata ia bertayamum, solat dan membaca Al-Qur’an, kemudian ingin bertayamum karena berhadas atau kewajiban yang lain, tidaklah diharamkan baginya membaca Al-Qur’an: Ini adalah mazhab yang benar dan terpilih. Ada pendapat salah seorang sahabat Imam Nawawi yang menyebutkan, bahwa ia diharamkan. Pendapat ini lemah. Bilamana orang yang junub tidak mendapatkan air maupun tanah, maka ia pun mengerjakan solat untuk menghormati waktu menurut keadaannya. Haram baginya membaca Al-Qur’an di luar solat. Haram pula baginya membaca surat di dalam solat lebih dari Al-Fatihah. Timbul pertanyaan: Apakah diharamkan (membaca surat) AlFatihah? Ada dua macam pendapat: Yang paling tepat adalah tidak haram, bahkan wajib, karena solat tidak sah kecuali dengan membaca surat AlFatihah. Sebagaimana dibolehkan solat karena darurat, maka dibolehkan membacanya. Pendapat kedua mengharamkan. Akan tetapi ia boleh mengucapkan zikir-zikir yang boleh diucapkan oleh orang yang tidak mengerti bacaan Al-Qur’an. Furu' ini perlu disebutkan, karena ada kaitannya dengan pembahasan. Maka saya sebutkan secara ringkas atau bisa dilihat secara lengkap di dalam kitab-kitab fiqh dengan dalil-dalilnya. Orang yang berzikir patut berada dalam keadaan yang terbaik. Apabila ia sedang duduk di suatu tempat, maka hendaklah menghadap kiblat dan duduk merendahkan diri dengan khusyuk dan tenang serta penghormatan sambil menundukkan kepala. Andaikata ia berzikir bukan dengan cara yang seperti itu, dibolehkan, dan tidak tercela (makruh) sebagai haknya. Akan tetapi, bilamana tanpa uzur, maka ja meninggalkan sesuatu yang lebih utama. Dalil tiadanya celaan (tidak adanya kemakruhan) adalah firman Allah : "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan perbedaan malam dan siang adalah sebagai tanda bagi orang-orang yang berakal. Yang berzikir kepada Allah sambil berdiri dan duduk maupun berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi....” (Q.S. Ali Imran: 190-191) Diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim, dari Aisyah yang berkata: ”Dulu Rasulullah berpegangan pada pangkuanku sedang aku dalam keadaan haid, dan behau membaca Al-Qur’an.” Dalam suatu rrwayat: "Kepalanya berada di pangkuanku sedang diriku dalam keadaan hard.” Aisyah ag juga berkata: "Sesungguhnya aku membaca hizib (berzikir) sambil berbaring di atas tempat tidur.” Lebih patut untuk melakukan zikir di tempat yang sunyi dan bersih, karena hal itu lebih utama dalam penghormatan kepada Allah. Oleh karena itu, dipujilah zikir yang dilakukan di masjid-masjid dan tempat suci lainnya. Abi Maisaroh berkata: Tidak pantas berzikir kepada Allah melainkan di tempat yang baik. Diusahakan mulutnya dalam keadaan bersih. Apabila berbau kurang sedap, dihilangkan dengan siwak. Apabila ada benda najis, dicucinya dengan air. Jika hal ini tidak dilakukan, maka dihukumi makruh. Ketahuilah, zikir itu disukai dalam segala keadaan, kecuali dalam keadaan-keadaan yang dikecualikan syara”. Di antara hal itu ialah, dihukumi makruh atau dimakruhkan berzikir dalam keadaan duduk ketika membuang hajat, dalam keadaan bersetubuh, ketika mendengar suara khatib berkhutbah, di waktu berdiri dalam solat kecuali bacaannya, dan dalam keadaan mengantuk. Tidaklah dihukum makruh berzikir di jalan maupun di tempat pemandian (sauna). Yang dimaksud berzikir adalah konsentrasi hati. Inilah yang harus menjadi tujuan orang yang berzikir, sehingga memperoleh hasilnya dan merenungkan zikir yang diucapkannya serta memahami maknanya. Renungan di waktu berzikir dituntut sebagaimana dituntut dalam bacaan, karena keduanya bersekutu dalam makna yang dituju. Oleh karena itu, dianjurkan kepada orang yang berzikir untuk memanjangkan perkataan: ”Laa ilaha Illallah”, karena bisa menimbulkan renungan. Pendapat ulama sajaf dan imam-imam dalam hal ini telah masyhur. Bagi orang yang terbiasa berzikir dalam suatu waktu, pada malam atau siang hari, sehabis solat atau dalam suatu keadaan tertentu, kemudian tertinggal, patut untuk menyusulnya (menggadhanya) dan mengerjakannya jika mungkin. Karena, apabila sudah terbiasa melakukannya, tidaklah ia membiarkannya tertinggal. Bila menggampangkan dalam menggadhanya, terasa mudah untuk menyia-nyiakan pada waktunya. Diriwayatkan dalam Sahih Muslim, dari Umar bin Khattab, bahwa Rasulullah bersabda: "Barangsiapa tidur dengan meninggalkan hizib (zikir)nya atau sebagiannya, kemudian membacanya antara solat Subuh dan Zuhur, maka ia pun dianggap seperti membacanya dari malam hari.” Menghentikan zikir bila ada gangguan Di antaranya: 1. Apabila ada orang memberi salam, maka dijawab salamnya, kemudian berzikir lagi. 2. Jika ada orang bersin, diucapkan ”yarhamukallah”, lalu berzikir kembali. 3. Ketika khatib berkhutbah. 4. Ketika mendengar suara muazin, dijawab dengan kalimat-kalimat azan dan ikamah, dan kembali berzikir. 5. Bila ada kemungkaran, ia mencegahnya atau menunjukkan jalan kebaikan, kemudian berzikir lagi. 6. Ketika ngantuk. Dan sebagainya. Ketahuilah, zikir-zikir yang ditetapkan dalam solat dan lainnya, baik wajib maupun sunnah, tidaklah diperhitungkan sedikitpun dan tidak dianggap sampai diucapkan sehingga dirinya bisa mendengar jika pendengarannya baik. Ketahuilah, sejumlah imam telah mengarang kitab-kitab berharga mengenai amalan pagi dan petang. Mereka meriwayatkan dengan sanadsanad yang bersambung dan mereka tuliskan jalan-jalannya. Di antaranya adalah karya Imam Abi Abdurrahman An-Nasz'. Yang lebih banyak, baik dan bermutu adalah yang ditulis oleh Imam Abu Bakar bin Muhammad bin Ishaq As-Sunni. Saya telah mendengar seluruh kitab Ibnu Sunni dari guru kami, AlImam Al-Hafidh Abi Al-Baqo' Khalid bin Yusuf bin Saad bin Hasan. Ia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Al-Imam Al-Allamah Abu Al-Yaman Zaid ibn Al-Hasan bin Zaid ibn Al-Hasan Al-Kindi pada tahun 602 yang berkata: Diberitakan kepada kami oleh As-Syekh Al-Imam Abu Al-Hasan Sadu Al-Khair Muhammad bin Sahl Al-Anshari yang berkata: Diberitakan kepada kami oleh As-Syekh Al-Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Saad bin Ahmad ibn Al-Hasan Ad-Duni yang berkata: Diberitakan kepada kami oleh Al-Qadhi Abu Nashr Ahmad ibn AlHusein bin Muhammad ibn Al-Kassar Ad-Dainuri yang berkata: Diberikan kepada kami oleh As-Syekh Al-Imam Abu Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Ishaq As-Sunni . Sesungguhnya disebutkan ini di sini, karena akan dikutip beberapa riwayat dari kitab Ibnu Sunni. Dari itu didahulukan snadnya. Hal ini disetujui oleh imam-imam hadis dan selain mereka. Saya mengkhususkan penyebutan isnad kitab itu, karena itu adalah kitab yang paling lengkap dalam bidangnya. Hadis yang saya sebutkan adalah riwayat-riwayat Sahih yang saya dapatkan dengan pendengaran yang bersambung, kecuali hanya sebagian kecil saja. Saya mengutip dari kitab-kitab yang merupakan sumber-sumber Islam, yaitu Saksh Bukhari dan Muslim, Sunan Abu Daud, Tirmizi dan Nasz'i. Juga dari kitab- kitab Masanid' dan Sunan, seperti, Al-Muwaththa' oleh Imam Malik, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal dan Abi Uwanah, Sunan Ibnu Majah, Daruguthni, Baihaqi dan lainnya. Ketahuilah, hadis-hadis yang ada dalam kitab ini saya hubungkan dengan kitab-kitab yang masyhur, dan lainnya. Kecuali Sahih Bukhari dan Muslim atau salah satu dari keduanya, saya cukupkan rujukan pada kedua kitab itu karena tujuannya telah tercapai, yaitu keabsahannya. Perlu diketahui bahwa, Sunan Abu Daud termasuk kitab terbesar yang saya kutip. Abu Daud berkata: Saya sebutkan hadis Sahih dan yang serupa serta yang mendekatinya. Yang tidak saya sebutkan sedikitpun, maka berarti hasan (baik), dan sebagiannya lebih Sahih dari yang lain. Yang diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunannya. dan tidak disebutkan kelemahannya, maka menurut dia berarti Sahih atau hasan, dan keduanya dijadikan hujjah dalam berbagai hukum, apalagi dalam amalan-amalan utama. Apabila sudah ditetapkan demikian, maka bilamana ada riwayat Abu Daud yang tidak ada komentar mengenai kelemahannya, berarti ia tidak melemahkannya. Saya mendahulukan sebuah bab mengenai keutamaan berzikir. Saya sebutkan kalimat pengantar bagi yang sesudahnya, kemudian saya sebutkan maksud kitab ini dalam bab-babnya. Akhir kitab ini mengenai istighfar (mohon ampunan), dengan berharap bahwa Allah akan mengakhiri umur kita dengannya. Allahlah yang memberi taufik, kepadanya kita beriman, bertawakkal dan menyandarkan diri. Keutamaan zikir tanpa terikat dengan waktu Allah berfirman: Dan (ketahuilah) mengingat Allah (solat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain)...” (Q.S. Al-Ankabut: 45) Dalam firman yang lain: "Maka ingatlah kalian kepadaKu, Aku akan ingat pada kahan....” (Q.S. Al- Baqarah:152) Dalam surat Ash-Shaffat, ayat 143-144, Allah menerangkan: "Kalau saja ia (Nabi Yunus) tidak termasuk orang yang bertasbih, niscaya za tinggal di perutnya (ikan) hingga hari kiamat.” Allah juga berfirman: "Mereka bertasbih di waktu malam dan siang dengan tiada hentinya.” (Q.S. Al-Anbiya': 20) Diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah bahwa Rasul menyebutkan: ”Dua perkataan yang ringan ucapannya, berat timbangannya dan disenangi oleh Yang Maha Pengasih Subhanallah wa Bihamdihi (Maha Suci Allah dengan segala puji baginya), Subhanallah Al-Adhim (Maha Sud Allah Yang Maha Agung).” Rasulullah bersabda kepada Abu Dzar : "Maukah aku beritahukan kepadamu tentang ucapan yang paling disukai Allah Sesungguhnya wapan yang paling disukai ialah: Subhanallah wa Bihamdih. Dalam satu riwayat: Rasulullah saw. ditanya: Perkataan mana yang paling utama? Behau menjawab: Yang dipilih Allah bagi para malaikat atau hamba-hambanya: Subhanallah wa Bihamdihi.” (H.R. Muslim) Diriwayatkan dalam Sahih Muslim, dari Muslim bin Jundub, bahwa Rasulullah bersabda: "Perkataan yang paling disukai Allah & ada empat: Subhanallah (Maha Suci Allah), wal Hamdhulillah (dan segala puji bagi Allah), wa laa ilaaha Illallah (dan nada Tuhan selam Allah), wallahu Akbar (dan Allah Maha Besar), tidaklah menggangguMu dengan yang mana engkau mulai.” Melalui Malik Al-Asyari , Muslim meriwayatkan sabda beliau : ”Bersuci itu sebagian dari iman, Alhamdulillah itu memenuhi timbangan (di akhirat) dan Subhanallah wal Hamdulillah itu memenuhi timbangan atau memenuhi antara langit dan bumi.” Pada suatu hari, Rasulullah keluar dari rumahnya untuk solat Subuh. Saat itu, Juwairiyah berada di tempat salatnya. Kemudian Nabi pulang setelah solat Duha. Ketika melihat Juwairiyah masih tetap di tempatnya, bersabdalah Rasul : "Engkau masih tetap dalam keadaan ketika aku meninggalkanmu? Juwairiyah menjawab: Ya. Maka, Beliau bersabda: Sejak tadi aku mengucapkan empat perkataan sebanyak tiga kah. Andarkata ditimbang dengan ucapanmu sejak tadi pagi, tentulah ia akan mengimbanginya, yaitu: Subhanallah wa Bihamdihi (Maha Suci Allah dengan segala, puji bagiNya) sebanyak makhlukNya, sebesar keridaanNya, seberat timbangan ArasyNya dan sebanyak rinta kalimat-kahmatNya.” (H.R. Muslim) Dalam suatu riwayat: "Subhanallah (Maha Suci Allah) sebanyak makhluknya, Subhanallah sebesar keridaannya, Subhanallah seberat timbangan ArasyNya, Subhanallah sebanyak tinta kalimat-kalimatnya.” Diriwayatkan oleh Tirmizi, bahwa Rasulullah bersabda kepada Juwairiyah: "Maukah kuajari beberapa perkataan yang perlu engkau ucapkan? Maha Suci Allah sebanyak makhlukNya, tiga kali, Maha Suci Allah sebesar keridaanNya, tiga kali, Maha Suci Allah seberat timbangan ArasyNya, tiga kah, Maha Suci Allah sebanyak tinta kahmat-kahimatNya, tiga kah.” Melalui Abu Hurairah , Muslim meriwayatkan sabda Beliau : "Mengucapkan Subhanallah, wal Hamduhilah wa laa ilaaha Illallah, wallahu Akbar, lebih kusukai daripada tempat naiknya matahari (dunta ini). Abu Ayyub Al-Anshari menyebutkan sabda Rasul : "Barangsiapa mengucapkan: "Tiada Tuhan selain Allah yang tiada sekutu baginya, baginya segala kekuasaan, dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu sepuluh kali, maka seakan-akan ia membebaskan empat orang dari anak Ismail.” (H.R. Bukhari dan Muslim) Dalam Sahih Bukhari dan Muslim, Abu Hurairah yg menyebutkan sabda Rasul : "Barangsiapa mengucapkan: "Tiada Tuhan selam Allah yang nada sekutu bagiNya, baginya segala kekuasaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, dalam sehari seratus kali, maka sama dengan membebaskan sepuluh orang budak. Ditulis baginya seratus kebaikan dan dihapus darinya seratus keburukan (dosa). dia pun terjaga dari setan pada hari itu sehingga tiba waktu sore. Tak seorang pun yang bisa melebihinya, kecuah orang yang melakukan lebih banyak dari itu.” Dalam sabda yang lain: "Barangsiapa mengucapkan: Subhanallah wa Bihamdihi: dalam sehari seratus kali, dihapuskan dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih air laut.” Diriwayatkan dalam kitab Tirmizi dan Ibnu Majah, dari Jabir bin Abdillah yang mendengar sabda beliau : , "Zikir yang paling utama adalah Laa ilaaha Ilallah.” Tirmizi menggolongkan sebagai hadis hasan. Rasul menegaskan: "Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya (berzikir) dan yang tidak mengingat- nya seperti orang hidup dan orang mati.” (H.R. Bukhari dan Muslim) Saad bin Abi Waqqash menceritakan: Seorang dusun datang kepada Nabi, lalu berkata: Ajarilah perkataan yang kuucapkan. Beliau bersabda, katakanlah: "Tiada Tuhan selain Allah yang riada sekutu baginya, Allah Maha Besar sebesar- besarnya, segala puji baginya, Maha Suci Allah Tuhan sekahan alam, tiada daya kekuatan melainkan dengan pertolongannya yang Maha Perkasa dan Bijaksana.” Orang dusun itu berkata: Semua ini untuk Tuhanku, manakah bagianku? Rasulullah mengajarkan: ”Katakanlah, ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah diriku, berilah aku petunjuk dan berilah rezeki kepadaku.” (H.R. Muslim) Saad bin Abi Waqqash juga menceritakan: Kami sedang bersama beliau ketika bersabda: "Tidak sanggupkah seseorang dari kamu menghasilkan seribu kebaikan setiap hari? Salah seorang yang duduk di situ bertanya: "Bagaimana caranya menghasilkan seribu kebaikan? Beliau bersabda: Dengan bertasbih seratus kah, maka ditulis baginya seribu kebaikan atau dihapus darinya seribu dosa.” (H.R. Muslim) Dalam Sahik Muslim, Abu Dzar menyebutkan sabda Rasul : ”Seriap anggota badan dari kamu adalah sedekah, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, serap tahhl adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh berbuat kebaikan adalah sedekah, melarang berbuat kejahatan adalah sedekah, dan semua itu bisa dipenuhi dengan solat Duha dua rakaat.” Diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim, dari Abi Musa AlAsyari bahwa Nabi bersabda: "Maukah kutunjukkan salah satu benda terpendam di surga? Aku katakan: Tentu saja wahai Rasulullah. Beliau bersabda: Katakanlah: Tiada daya kekuatan melamkan dengan pertolongan Allah.” Diriwayatkan dalam Suman Abu Daud dan Tirmizi, bahwa Saad bin Abi Wagash datang bersama Rasulullah kepada seorang perempuan yang sedang bertasbih dengan menggunakan biji kurma atau batu kecil. Saat itu, Rasulullah bersabda: "Maukah kuberitahukan sesuatu yang lebih mudah dan lebih utama? Kemudian beliau mengucapkan: Maha suci Allah sebanyak makhlukNya di langit, Maha Suci Allah sebanyak makhlukNya di bum, Maha Suci Allah sebanyak makhlukNya di antara langit dan bumi, Maha Suci Allah sebanyak makhlukNya. Allah Maha Besar seperti itu, segala puji bagi Allah seperti itu: tiada Tuhan selain Allah seperti itu, nada daya kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah seperti itu.” Tirmizi menggolongkan sebagai hadis hasan Dengan isnad hasan, Abu Daud dan Tirmizi meriwayatkan dari Yusairah (sahabat perempuan dari golongan Muhajirin) bahwa Nabi menyuruh mereka mengucapkan takbir (Allahu Akbar), tagdis (Subhanallah), dan tahhil (Laa Ilaaha Illalah), dan menghitungnya dengan jari, karena jarijari itu akan ditanya dan disuruh bicara. Diriwayatkan dalam Sunan Abu Daud, Tirmizi dan Nasa'i, dengan snad hasan dari Abdullah bin Umar «: ”Aku melihat Rasulullah menghitung tasbih, Dalam suatu riwayat, ada tambahan: "Dengan tangan kanannya.” Diriwayatkan dalam Sunan Abu Daud, dari Abi Said Al-Khudri bahwa Rasul bersabda: "Barangsiapa mengucapkan: ” Aku rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Rasul, wajiblah surga baginya.” Melalui Abdullah bin Busrin (sahabat Nabi), Tirmizi meriwayatkan bahwa seorang lelaki bertanya: "Ya Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam telah banyak bagiku, maka beritahukanlah kepadaku tentang sesuatu yang bisa kupegangi.” Mendengar itu, bersabdalah Rasulullah : "Apabila lidahmu selalu basah karena berzikir kepada Allah Ta'ala.” Tirmizi menggolongkan sebagai hadis hasan. Abi Said Al-Khudri menyebutkan bahwa Nabi ditanya: Ibadah manakah yang derajatnya paling utama di sisi Allah pada hari kiamat? Beliau menjawab: Orang-orang yang banyak berzikir. Abi Said bertanya: "Ya Rasulullah, apakah lebih utama dari orang yang berperang di jalan Allah ” Dijawab: "Seandainya seseorang memukul dengan pedangnya terhadap orang-orang kafir dan musyrik sehingga patah dan berlumuran darah, tentulah orang-orang yang berzikir kepada Allah lebih utama daripadanya.” (HR.Tirmizi) Ibnu Majah meriwayatkan dari Abi Darda bahwa Rasul bersabda: "Maukah kuberitahukan tentang amalmu yang terbaik dan tersuci di sisi Tuhan, yang pahng tinggi derajatnya, yang lebih utama daripada membelanjakan emas dan uang, yang lebih baik daripada berhadapan dengan musuhmu sambil menebas batang leher mereka dan mereka menebas leher kahan! Para sahabat menjawab: Tentu saja. Beliau bersabda: Berzikir kepada Allah .” Al-Hakim menggolongkan sebagai hadis yang Sahih isnadnya. Diriwayatkan dalam kitab Tirmizi, dari Ibnu Mas'ud , bahwa Rasulullah bersabda: "Aku bertemu dengan Ibrahim pada malam Isra", kemudian ia berkata: Ya Muhammad, sampaikan salamku kepada umatMu dan beritahukan mereka bahwa surga itu baik tanahnya, tawar airnya, dan ia merupakan panah datar, dan bekal untuk memasukinya adalah: Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar." Tirmizi menggolongkan sebagai hadis hasan. Melalui Jabir , Tirmizi juga meriwayatkan sabda Nabi : "Barangsiapa mengucapkan: "Maha Suci Allah dengan segala puji baginya.” ditanamkan untuknya sebuah pohon kurma di surga.” Tirmizi menggolongkan sebagai hadis hasan. Tirmizi meriwayatkan pertanyaan Abu Dzar : Ya Rasulullah, perkataan apa yang paling disukai Allah Dijawab: "Yang dipilihkan Allah bagi para malaikatNya, yaitu: Maha Suci Tuhanku dengan segala puji bagiNya, Maha Suci Tuhanku dengan segala puji bagiNya.” Tirmizi menggolongkan sebagai hadis hasan. Ucapan ketika bangun tidur Rasul bersabda: "Jika salah seorang dari kamu tidur, setan mengikat belakang kepala sebanyak tiga ikatan. la memukulkan kepadamu setiap ikatan pada tempatnya dengan ucapan: Malam masih panjang, teruslah tidur: Apabila ia bangun dan berzikir kepada Allah, terlepaslah ikatannya. Apabila ia berwudu, terlepaslah ikatannya. Apabila ia solar, terlepaslah ikatannya semuanya, sehingga ia menjadi giat dan baik jiwanya. Kalau tidak, maha Jiwanya menjadi buruk dan pemalas.” (H.R.Bukhari dan Muslim) Melalui Hudzaifah ibn Al-Yaman dan Abu Dzar, Bukhari meriwayatkan bahwa apabila hendak tidur, Rasulullah mengucapkan: "Ya Allah, dengan namaMu aku hidup dan mati.” Jika bangun dari tidur, maka mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami sesudah mematikannya dan kepadanya kami dibangkitkan.” Dengan isnad sahih, Ibnu Sunni meriwayatkan dari Abu Hurairah , bahwa beliau bersabda: "Jika seseorang di antara kamu bangun dari tidurnya, hendaklah mengucapkan: Segala puji bagi Allah yang mengembalikan jiwaku dan memberikan kesehatan dalam tubuhku dan mengizinkan aku berzikir kepadaNya.” Melalui Aisyah , Ibnu Sunni juga meriwayatkan sabdanya: "Tiada seorang hamba pun yang ketika dikembalikan Allah ruhnya (bangun dari tidur) mengucapkan: Tiada Tuhan selain Allah yang tiada sekutu bagiNya, Ia memiliki segala kekuasaan dan bagiNya segala pujian, sedang ia Maha Kuasa atas segala sesuatu, melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya, walaupun sebanyak buih air laut.” Nabi juga bersabda: "Siapa yang bangun dari tidurnya kemudian berkata: "Segala puji bagi Allah yang menciptakan tidur dan kesadaran, segala puji bagi Allah yang membangkitkan aku dengan selamat dan utuh, aku bersaksi bahwa Allah menghidupkan orang mati dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Maka Allah pun berkata: Benarlah hambaKu.” (H.R.Ibnu Sunni) Aisyah berkata: “Bahwasanya Rasulullah jika bangun di waktu malam, ia bertakbir sepuluh kali, memuji Allah sepuluh kali, mengucapkan Subhanallah wa Bihamdihi sepuluh kah, mengucapkan Subhana Al-Quduus sepuluh kah, dan beristighfar sepuluh kah, serta bertahhi sepuluh kali. Kemudian beliau mengucapkan: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari sempitnya dunia dan sempitnya hari kiamat, sepuluh kah, lalu memulai solat.” (H.R. AbuDaud) Melalui Aisyah Abu Daud meriwayatkan bahwa Rasulullah bangun di waktu malam, ia mengucapkan: "Tiada Tuhan selain Allah. Maha Suci Engkau Ya Allah. Aku mohon ampun kepadaMu atas dosaku dan mohon rahmat kepadaMu. Ya Allah, tambahilah aku ilmu dan jangan sesatkan hatiku sesudah Engkau beri petunjuk. Berilah rahmat dari pihakMu. Sesungguhnya Engkaulah yang memberikan segala sesuatu. Ucapan ketika memakai pakaian Dianjurkan mengucapkan Bismillah. Dalam setiap amalan, juga dianjurkan pengucapan yang sama. Diriwayatkan dalam kitab Ibnu Sunni, dari Abi Said Al-Khudri? , bahwa jika Nabi memakai gamis (baju panjang), selempang atau surban, maka mengucapkan: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu kebaikannya dan kebaikan tubuh yang memakainya. Aku berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan tubuh yang memakannya.” Dalam kitab yang sama, Muadz bin Anas menyebutkan sabda beliau : "Barangsiapa memakai baju baru, lalu berkata: "Segala puji bagi Allah yang memakaikan baju ini kepadaku dan memberikannya sebagai reseki kepadaku tanpa daya dan kekuatan daripadaku, niscaya Allah mengampuni dosanya yang terdahulu.” Ucapan ketika memakai baju baru, sandal dan semisalnya Dianjurkan untuk mengucapkan perkataan seperti tersebut di atas Abu Daud, Tirmizi, dan Nasa'i, meriwayatkan dari Abi Said Al-Khudri bahwa apabila Nabi memakai baju baru, beliau menyebut menurut jenisnya, misalnya surban, gamis atau selempang, kemudian mengucapkan: "Yg Allah, segala puji bagiMu. Engkau memakaikannya kepadaku. Aku memohon kebaikannya dan kebaikan tubuh yang memakainya. Aku berlindung kepadaMu dari keburukannya dan keburukan tubuh yang memakainya.” Tirmizi menggolongkan sebagai hadis hasan. Melalui Umar Tirmizi juga meriwayatkan sabda Nabi : "Barangsiapa memakai baju baru, lalu berkata: "Segala puji bagi Allah yang memakaikan pakaian yang menutupi auratku dan yang kupakai untuk berkas dalam hidupku.” kemudian ia mengambil baju yang lama Jalu bersedekah dengannya, maka ia dalam penjagaan Allah dan dalam nazungannya. Ia pun dijalan Allah, hidup dan mati.” Ucapan bila teman memakai baju baru Diriwayatkan dalam kitab Ibnu Majah dan Ibnu Sunni, dari Ibnu Umar bahwa Nabi melihat Umar memakai sebuah baju, lalu bersabda: "Masih baru atau sudah dicuri (lama)? Umar menjawab: Sudah dicuci. Beliau bersabda: Pakailah yang baru, hiduplah secara terpuji, dan marilah (sebagai) syahid.” Cara memakai baju dan sandal Ketika memakai baju, sandal, celana dan sebagainya, dianjurkan untuk memulai dengan yang kanan, dan menanggalkan yang sebelah kiri kemudian kanan. Demikian pula mamakai celak, bersiwak, menggunting kuku, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak, mencukur rambut kepala, salam dalam solat, memasuki masjid, keluar dari kamar kecil, berwudu, mandi, makan, minum, berjabat tangan, mencium Hajar Aswad, mengambil sesuatu dari orang dan menyerahkannya dan sebagainya, semua itu dimulai melakukannya dengan yang kanan dan sebaliknya dengan yang kiri. Diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim, dari Aisyah yang berkata: "Adalah Rasulullah senang mendahulukan sebelah kanan dalam segala urusannya, dalam bersuci dan memakai sesuatu di kaki.” Dengan isnad sahih, Abu Daud dan lainnya meriwayatkan dari Aisyah yang berkata: "Rasulullah menggunakan tangan kanannya untuk bersuci dan makan, tangan kirinya untuk membuang hajat dan kotoran.” Abu Daud dan Baihaqi meriwayatkan kesaksian Hafsah : "Adalah Rasulullah menggunakan tangan kanannya untuk makan, minum dan berpakaian. Ia menggunakan tangan kirinya untuk yang selain itu.” Melalui Abu Hurairah , Abu Daud, Tirmizi, Ibnu Majah dan Baihaqi menyebutkan sabda beliau : "Jika kamu memakai sesuatu dan jika kamu berwudu, maka mulailah dengan sebelah kanan.” (Hadis Hasan) Ucapan ketika menanggalkan pakaian untuk mandi, tidur dan sebagainya Diriwayatkan oleh Ibnu Sunni, dari Anas bahwa Rasulullah bersabda: ”Tabtr antara mata jin dan aurat anak adam (manusia) ialah, apabila seorang muslim hendak menanggalkan pakatannya, maka mengucapkan: Dengan nama Allah yang rada Tuhan selain dia.” Ucapan ketika keluar dan masuk rumah 1. Ketika keluar rumah Diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmizi, Nasa'i dan Ibnu Majah, dari Ummu Salamah bahwa jika Nabi keluar dan rumah, ia mengucapkan: "Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepadanya. Ya Allah, aku berlindung kepadaMu agar tidak tersesat atau disesatkan, tergelincir atau digelincirkan, menganiaya atau dianiaya, bersifat bodoh atau tidak dihiraukan orang.” Melalui Anas Abu Daud, Tirmizi, Nasa'i dan lainnya juga meriwayatkan sabda beliau : "Barangsiapa ketika keluar rumah mengucapkan: "Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepadanya, dan tiada daya kekuatan melainkan dengan pertolongannya.” maka dikatakan kepadanya: "Engkau telah mendapat petunjuk, telah dilindungi dan dijaga, dan setan pun menyingkir darinya.” Tirmizi menggolongkan sebagai hadis hasan. Dalam riwayatnya, Abu Daud menambahkan: "Maka berkatalah setan yang satu kepada yang lain: Bagaimanakah tindakanmu terhadap orang yang mendapat petunjuk, terjaga dan terlindung?” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Sunni, dari Abu Hurairah , bahwa apabila Nabi keluar dari rumahnya, maka ia mengucapkan: "Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepadanya. Tiada daya kekuatan melainkan dengan pertolonganNya.” 2. Ketika masuk rumah Ketika memasuki rumah, dianjurkan untuk mengucapkan ” Bismillah” dan memperbanyak zikir kepada Allah Ia pun dianjurkan mengucapkan salam, baik di dalam rumah ada orang atau tidak. Firman Allah : ”.. Apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam penuh berkah dan baik di sisi Allah....” (Q.S. An-Nur: 61) Diriwayatkan oleh Tirmizi, bahwa Rasulullah mengajarkan kepada Anas : "Hai anakku, jika engkau masuk ke rumah keluargamu, maka ucapkan salam, mscaya ia akan mendatangkan berkat atas dirimu dan penghuni rumahmu.” Tirmizi menggolongkan sebagai hadis hasan Sahih. Diriwayatkan dalam Sunan Abu daud, dari Abi Malik Asyari bahwa Rasulullah bersabda: "Jika seseorang masuk ke rumahnya, hendaklah mengwcapkan: "Ya Allah, aku mohon kepadaMu kebaikan ketika masuk dan ketika keluar dari rumah. Dengan nama Allah kami masuk, dengan namanya pula kami keluar.” Kepada Allah kami bertawakkal. Kemudian, hendaklah ia mengucapkan salam kepada penghuninya.” Melalui Abu Umamah Al-Bahili? Abu Daud juga meriwayatkan sabda beliau : "Tiga macam orang yang semuanya terjamin di sisi Allah : Orang yang berperang di jalan Allah, maka ia terjamin di sisiNya, sehingga Allah mematikan dan memasukkannya ke dalam surga, atau mengembahkannya dengan mendapat pahala dan rampasan perang. Orang yang pergi ke masjid, maka ia terjamin di sisi Allah hingga Dia memarikannya lalu memasukkannya ke dalam surga, atau memulangkannya dengan membawa pahala dan hasil. Orang yang masuk ke rumahnya dengan mengwcapkan salam, maka ia terjamin di sisi Allah .” Muslim meriwayatkan dari Jabir yang mendengar sabda Nabi : "Apabila seseorang masuk ke rumahnya, lalu berzikir kepada Allah di waktu masuknya dan di waktu makannya, berkatalah setan kepada temannya: Tiada tempat bermalam bagimu dan tiada makanan. Apabila ia masuk tanpa zikir kepada Allah di waktu masuknya, berkatalah setan kepada temannya: Kamu telah mendapatkan tempat bermalam. Apabila ia tidak bersikir kepada Allah di waktu makannya, setan pun berkata: Kamu telah mendaparkan tempat bermalam dan makanan.” Dalam kitab Ibnu Sunni, Amr ibn Al-Ash berkata bahwa ketika Rasul pulang ke rumahnya di waktu siang, beliau mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang menjaga diriku dan memberi rumah kepadaku. Segala puji bagi Allah yang memberi makan dan minum kepadaku. Segala puji bagi Allah yang mengaruniai diriku. Aku mohon perlindungan dari api neraka.” Isnadnya dhaif. Imam Malik menyebutkan dalam kitabnya, Al-Muwaththa', bahwasanya jika masuk rumah yang tidak ditempati, dianjurkan mengucapkan: "Semoga keselamatan atas kami dan hambaNya yang saleh.” Ucapan ketika bangun di waktu malam dan keluar dari rumah Ketika bangun di waktu malam dan keluar dari rumahnya, dianjurkan untuk memandang ke langit dan membaca surat Ali Imran, mulai ayat 190 hingga akhir surat. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, Ibnu Abbas mengatakan bahwa Rasulullah melakukan amalan di atas. Kecuali lafaz "memandang ke langit”, hanya terdapat dalam Sahsh Bukhari. Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa jika bangun di waktu malam, Nabi bertahajud seraya mengucapkan: "ya Allah, segala puji bagiMu Engkau yang mengurusi langit dan bumi serta isinya. Segala puji bagiMu, Engkau yang memiliki kekuasaan atas langit dan bumi serta penghumnya. Segala puji bagiMu, Engkau adalah cahaya langu dan bumi serta penghuninya. Segala puji bagiMu, Engkaulah kebenaran, janjiMu adalah benar, pertemuan denganMu adalah benar, perkataanMu adalah benar, surga adalah benar, api neraka adalah benar, Muhammad adalah benar, hari kiamat adalah benar” "Ya Allah, kepadaMu aku menyerah, kepadaMu aku beriman, kepadaMu aku berserah diri, kepadaMu aku bertobat, demi Engkau aku bertengkar: kepadaMu aku mengadu, maka ampunilah dosa-dosaku yang lampau dan yang akan datang, yang kusembunyikan dan yang kutampakkan, Engkau yang memajukan dan Engkau yang mengakhurkan, nada Tuhan selai Engkau.” Dalam satu riwayat, ada tambahan: "Dan nada daya kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.” Ucapan akan masuk kamar kecil Dalam Sahihain!, Anas menyebutkan bahwa ketika masuk kamar kecil, Rasul mengucapkan: "Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari setan laki-laki dan perempuan.” Dalam sabda yang lain: "Dengan nama Allah. Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari godaan setan laki-laki dan perempuan.” Dalam riwayat Tirmizi, Ali menyebutkan sabda beliau : "Tabir antara mata jin dan aurat anak Adam (manusia) talah, apabila memasuki kamar kecil, mengucapkan Bismillah.” Hadis dhaif. Sahabat-sahabat Imam Nawawi berkata: Zikir itu dianjurkan, baik di dalam bangunan maupun di lapangan. Melalui Umar , Ibnu Sunni dan Thabrani meriwayatkan bahwa, apabila masuk kamar kecil, beliau gp mengucapkan: "Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kotoran yang najis, keji dan menimbulkan kekejian, (dan dari) setan yang terkutuk.” Larangan berzikir dan berbicara di kamar kecil Makruh berzikir dan berbicara di saat buang air, baik di tanah lapangatau di dalam bangunan. Segala zikir dan perkataan adalah sama dalam hal itu, kecuali karena darurat. Sehingga dikatakan: orang bersin tidak perlu mengucapkan- Alhamdulillah dan tidak perlu mendoakan orang bersin, tidak menjawab salam, tidak menjawab orang yang menyerukan azan dan tinggallah orang muslim berkurang haknya karena tidak mendapat jawaban. Semua ucapan ini makruh karohah tansih"?. Apabila ia bersin, lalu mengucapkan Alhamdulillah dalam hatinya dan tidak menggerakkan lidahnya, maka dibolehkan. Demikian pula bila dilakukan di saat bersetubuh. Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar: Seorang lelaki lewat di depan Nabi , sedangkan beliau dalam keadaan buang air kecil. Orang itu mengucapkan salam, maka beliau tidak menjawabnya. Abu Daud, Nasa'i dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Muhajir bin Ounfudz yang berkata: Aku mendatangi Nabi ketika beliau buang air kecil Aku mengucapkan salam, tetapi tidak dijawabnya, hingga beliau berwudu. Setelah itu, Beliau bersabda: "Aku tidak suka berzikir kepada Allah & kecuah sudah dalam keadaan suci" Larangan mengucapkan salam kepada orang yang sedang buang air Sahabat-sahabat Imam Nawawi berkata: Dihukum makruh mengucapkan salam kepada orang yang sedang buang air. Apabila mengucapkan salam, maka tidak perlu dijawab. Pendapat ini sesuai hadis Ibnu Umar dan Muhajir yang tersebut pada bagian sebelumnya. Ucapan ketika keluar dari kamar kecil "Ya Allah, aku mohon ampunanMu. Segala puji bagiMu yang menghilangkan gangguan dariku dan memberikan kesehatan kepadaku.” Dalam riwayat Abu Daud dan Tirmizi, Rasulullah mengucapkan "ghufraanaka”. Sedang Nasa'i dan Ibnu Majah meriwayatkan selebihnya. Ibnu Sunni dan Thabrani meriwayatkan perkataan Ibnu Umar : Apabila keluar dari kamar kecil, Rasulullah mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kelezatan dan memberikan kekuatannya kepadaku serta menyingkirkan gangguannya daripadaku.”
One Comment