Masdar min fi’il tsulasi mujarrad yang berbina’ ajwaz, shahih, mahmuz, atau mudha’af itu ikut wazan مفعل , contoh : مصان – ننصر – مامل dan ممد dan jika ikut wazan مفعل maka dihukumi syadz, contoh: مسجد – مغرب dan مطلع dari lafadz : غرب – سجد – طلع .
Pembahasan:
1. Bina’ adalah bentuk kalimat yang ditinjau dari segi jenis huruf dan tata letaknya serta dari segi hidup dan matinya huruf.
2. Bina ajwaf yaitu tiap-tiap fi’il yang ain fi’ilnya berupa huruf illat. Kalau berubah wawu maka dinamakan ajwaf wawi, kalau berupa ya’ maka dinamakan ajwaf ya’i.
3. Fi’il bina’ ajwaf itu terdapat pada 3 bab saja, yaitu:
a) باع – يبيع : فعل – يفعل
b) قال – يقول : فعل – يفعل
c) خاف – يخاف : فعل – يفعل
4. Bina’ Shahih yaitu tiap-tiap fi’il yang fa’, ain dan lam fi’ilnya tidak berupa huruf illat, hamzah serta ain fi’il dan lam fi’ilnya tidak berubah huruf yang sejenis.
5. Bina’ Shahih ada di semua bab.
6. Bina’ Mahmuz yaitu tiap-tiap fi’il yang salah satu huruf asalnya berupa huruf hamzah. Jika Hamzah berada pada fa’ fi’il, dinamakan Mahmuz fa’, jika berada pada ain fi’il, dinamakan Mahmuz ain dan jika berada pada lam fi’il, dinamakan Mahmuz lam.
7. Bina’ Mahmuz ada di semua bab :
a) Bina’ Mahmuz fa’ terdapat pada 5 bab.
b) Bina’ Mahmuz ain terdapat pada 3 bab.
c) Bina’ Mahmuz lam terdapat pada 5 bab.
8. Bina’ mudha’af tsulasi mujarrad dan mazid yaitu tiap-tiap fi’il yang ain fi’il dan lam fi’ilnya berupa huruf sejenis.
9. Bina’ mudha’af ruba’i mujarrad dan mazid yaitu tiap-tiap fi’il yang fa’ fi’il dan lam fi’il yang pertama berupa huruf yang sejenis, demikian juga ain fi’il dan lam fi’il Yang kedua juga berupa huruf yang sejenis.
10. Bina’ mudha’af ada tiga bab dan tidak terjadi pada bab yang lain kecuali bab فعل – يفعل (fa’ula yaf’ulu) tetapi sedikit, seperti لب ف
هو لبيب.
Begitu juga dengan Isim zaman dan Isim makan ( mengikuti wazan مفعل )
Contoh : مصان – ننصر – مامل dan ممد , kecuali jika dari fi’il mudlari’ yang ain fi’ilnya di kasrah ( يفعل ) maka ikut wazan مفعل , contoh : مسير – مجلس – مادم dan مفر .
Pembahasan:
1. Isim zaman dan makan dari fi’il tsulasi mujarrad mempunyai dua wazan yaitu: مفعل dan مفعل .
2. Wazan مفعل bagi fi’il yang fi’il mudlari’nya mengikuti wazan يفعل dan يفعل .
3. Wazan مفعل bagi fi’il yang fi’il mudlari’nya mengikuti wazan يفعل .
4. Isim zaman terkadang ikut wazan مفعلة untuk menunjukkan arti tempat dan menunjukkan arti banyaknya suatu perkara yang ada di tempat tersebut namun hal tersebut hukumnya sama’i, seperti ماسدة ( tempat yang banyak singanya) dan مسبغة ( tempat yang banyak binatang buas nya).
5. Isim zaman dan makan dari fi’il tsulasi mujarrod hanya dapat ditasrif menjadi tiga bentuk yaitu bentuk Mufrad, tasniyah dan jama’ taksir.
6. Dibedakannya, antara masdar dengan Isim zaman dan makan ketika Ain fi’il mudlari’nya di kasrah, karena agar harakat Ain fi’il Isim zaman dan makan mencocoki dengan ain fi’il mudlari’nya karena keduanya diambil dari fi’il mudlari’. Berbeda dengan masdar, maka ditetapkan fathahnya karena dianggap ringan.
Dan bacalah fathah ( wazan مفعل ) untuk ( mastermind, Isim zaman dan Isim makan) dari fi’il yang berbina’ naqish dan lafif maqrun contoh : مغزو – مسري مغزى – مسرى dan (مشوي-مروي) مشوى-مروى dan baliklah (menjadi مفعل), jika dari fi’il yang berbina’ mu’tal yang seperti fi’il bina’ lafif mafruq (mitsal) contoh: موعد-(موقي) موق
Pembahasan:
1. Masdar mim, Isim zaman dan Isim makan dari fi’il yang berbina’ naqish dan lafif maqrun itu harus mengikuti wazan مفعل, contoh: مغزى-مسرى (مغزو-مسري) dan (مشوي-مروي) مشوى-مروى, sedangkan fi’il yang berbina’ mitsal dan lafif mafruq itu harus ikut wazan مفعل, contoh: موعد dan موق (موقي)
2. Bina’ naqish yaitu tiap-tiap fi’il yang fa’ fi’ilnya berupa huruf illat. Jika berupa wawu, dinamakan naqish wawi dan jika berupa ya’, dinamakan naqish ya’i.
3. Bina’ mitsal yaitu tiap-tiap fi’il fa’ fi’ilnya berupa illat. Jika berupa wawu, dinamakan mitsal wawi, dan jika berupa ya’ dinamakan mitsal ya’i.
4. Hina’ mitsal mudha’af itu hanya ada pada bab علم, seperti: ود.
5. Bina’ lafif maqrun yaitu tiap-tiap fi’il yang ‘ain dan lam fi’ilnya berupa illat.
6. Bina’ lafif mafruq yaitu tiap-tiap fi’il yang fa’ dan lam fi’ilnya berupa huruf illat.
7. Macam-macam bina’ fi’il ada tujuh yang terkumpul dalam:
Fi’il selain tsulasi mujarrad itu, jadikanlah masing-masing (dari masdar mim, isim zaman, isim makan) wazannya menyamai wazan fi’il mudhari’ nya yang dimabnikan majhul (dengan cara mengganti huruf mudharra’ah dengan mim). Begitu pula untuk isim maf’ul dan isim fa’il (wazannya juga menyamai wazan fi’il mudlari’nya yang dimabnikan majhul) dengan membaca kasrah pada ‘ain fi’ilnya dan huruf awalnya menjadi mim untuk seluruhnya. Contoh: مكرم-متناصر-مستغفر (masdar mim, isim zaman, isim makan dan isim maf’ul) مكرم-متناصر-مستغفر (isim fa’il).
Pembahasan:
1. Masdar mim, isim zaman, isim makan, isim maf’ul, dan isim fa’il dari fi’il selain tsulasi mujarrad itu wazannya sama dengan wazan fi’il midhari’nya yang mabni majhul dengan mengganti huruf mudhara’ahnya dengan mim (hanya untuk isim fa’il ‘ain fi’il harus dikasrah). Contoh: مكرم-متناصر-مستغفر (masdar mim, isim zaman, isim makan, isim maf’ul) dan مكرم-متناصر-مستغفر (isim fa’il).
2. Yang dimaksud selain tsulasi mujarrad adalah baik ruba’i mujarrad, mazid/mulhaq, khumasi/sudasi baik dari tsulasi/ruba’i baik bina’ sahih, mahmuz mudla’af/mu’tal baik muta’addi/lazim.Bab Masdar dan Musytaq Darinya
Masdar ada dua macam:
1)Masdar mim, contoh:منصرا – معلما – مضربا berasal dari lafadz: نصر – علم -ضرب .
2) Masdar ghoiru mim, contoh: نصرا -علما – ضربا -مدا berasal dari lafadz ضرب – مد – نصر – علم .
Masdar yang kedua (masdar ghoiru mim) itu dibagi dua (yaitu sama’i dan dan qiyasi). Masdar ghairu mim dari tsulasi mujarrad itu hukumnya sama’i, sedangkan masdar ghoiru mim selain tsulasi mujarrad (masdar dari ruba’i, tsulasi mazid ruba’i, khumasi dan dan sudasi) itu hukumnya qiyasi.
Pembahasan:
1. Masdar adalah: lafadz yang menunjukkan arti pekerjaan yang tidak bersamaan dengan zaman dan memuat huruf fi’il dalam lafadzya.
2. Isim masdar adalah lafadz yang menunjukkan arti pekerjaan yang tidak bersamaan dengan zaman dan tidak memuat semua huruf fi’il dalam lafadz nya.
3. Masdar ada dua:
a) Masdar mim yaitu: masdar yang huruf pertamanya berupa huruf mim tambahan , contoh: منصرا – معلما مضربا berasal dari lafadz نصر – علم – ضرب .
b) Masdar ghairu mim yaitu: masdar yang huruf pertamanya tidak terdiri dari huruf mim , contoh: نصرا – علما – ضربا – مدا berasal dari lafadz : ضرب – مد – نصر – علم .
4. Sama’i artinya: lafadz-lafadznya sudah ditentukan oleh orang Arab dan tidak bisa disamakan dalam satu atau dua wazan atau sukar menentukan dengan wazan-wazan tertentu karena terlalu banyak , contoh: علما – سماعا dari madli: علم – سمع .
5. Qiyasi artinya: lafadznya bisa disamakan dengan wazan tertentu. Contoh: اكراما – ادخالا – اخراجا dari lafadznya اكرم – ادخل – اخرج ، jadi setiap fi’il yang ikut wazan افعل pasti masdarnya ikut wazan افعال .
6. Isim ada dua macam: isim jamid dan isim musytaq.
7. Isim jamid adalah isim yang tidak dikeluarkan dari kalimat lain , seperti: شجر ، بقر ، رجل .
8. Isim musytaq adalah izin yang dikeluarkan dari kalimat lain, seperti: النصر dari نصر .
9. Isim musytaq itu ada tiga macam:
a) Shaghir, yaitu isim yang dikeluarkan dari kalimat lain dengan mencocoki dalam huruf dan urutannya, seperti: العلم dari علم .
b) Kabir, yaitu isim yang dikeluarkan dari kalimat lain tapi cocok dalam lafadznya saja tidak dalam urutannya, seperti: الحمد dari مدح .
c) Akbar, yaitu isim yang dikeluarkan dari kalimat lain dan kebanyakan hurufnya sama dalam makhrajnya, seperti: النهق dari نعق .
10. Menurut ulama Basrah semua kalimat itu dikeluarkan dari masdar, sedangkan menurut ulama Kufah adalah dikeluarkan dari fi’il madli.
11. Masdar ghoiru mim dan tsulasi mujarrad itu hukumnya sama’i (menurut Imam Sibawaih) karena sulitnya untuk didefinisikan. Demikian ini karena sangat banyaknya bab yang mencapai 33 bab lebih, bahkan ada yang mengatakan sampai 41 bab. tapi menurut Imam Zamakhsyari hukumnya qiasi karena banyak berlaku.
12. Sedangkan masdar ghoiru mim selain tsulasi mujarrad (masdar dari ruba’i, tsulasi mazid ruba’i khumasi dan sudasi) itu hukumnya qiyasi.
Masdar min fi’il trulasu mujarrad yang berbina’ ajwaz, shahih, mahmuz, atau mudha’af itu ikut wazan مفعل , contoh : مصان – ننصر – مامل dan ممد dan jika ikut wazan مفعل maka dihukumi syadz, contoh: مسجد – مغرب dan مطلع dari lafadz : غرب – سجد – طلع .
Pembahasan:
1. Bina’ adalah bentuk kalimat yang ditinjau dari segi jenis huruf dan tata letaknya serta dari segi hidup dan matinya huruf.
2. Bina ajwaf yaitu tiap-tiap fi’il yang ain fi’ilnya berupa huruf illat. Kalau berubah wawu maka dinamakan ajwaf wawi, kalau berupa ya’ maka dinamakan ajwaf ya’i.
3. Fi’il bina’ ajwaf itu terdapat pada 3 bab saja, yaitu:
a) باع – يبيع : فعل – يفعل
b) قال – يقول : فعل – يفعل
c) خاف – يخاف : فعل – يفعل
4. Bina’ Shahih yaitu tiap-tiap fi’il yang fa’, ain dan lam fi’ilnya tidak berupa huruf illat, hamzah serta ain fi’il dan lam fi’ilnya tidak berubah huruf yang sejenis.
5. Bina’ Shahih ada di semua bab.
6. Bina’ Mahmuz yaitu tiap-tiap fi’il yang salah satu huruf asalnya berupa huruf hamzah. Jika Hamzah berada pada fa’ fi’il, dinamakan Mahmuz fa’, jika berada pada ain fi’il, dinamakan Mahmuz ain dan jika berada pada lam fi’il, dinamakan Mahmuz lam.
7. Bina’ Mahmuz ada di semua bab :
a) Bina’ Mahmuz fa’ terdapat pada 5 bab.
b) Bina’ Mahmuz ain terdapat pada 3 bab.
c) Bina’ Mahmuz lam terdapat pada 5 bab.
8. Bina’ mudha’af tsulasi mujarrad dan mazid yaitu tiap-tiap fi’il yang ain fi’il dan lam fi’ilnya berupa huruf sejenis.
9. Bina’ mudha’af ruba’i mujarrad dan mazid yaitu tiap-tiap fi’il yang fa’ fi’il dan lam fi’il yang pertama berupa huruf yang sejenis, demikian juga ain fi’il dan lam fi’il Yang kedua juga berupa huruf yang sejenis.
10. Bina’ mudha’af ada tiga bab dan tidak terjadi pada bab yang lain kecuali bab فعل – يفعل (fa’ula yaf’ulu) tetapi sedikit, seperti لب ف
هو لبيب.









One Comment